Zubair bin Awwam, Pembela Setia Rasulullah SAW

  • Bagikan
Zubair bin Awwam, Pembela Setia Rasulullah SAW - Surau.co
Ilustrasi: Pinterest

Surau.co – Zubair bin Awwam adalah salah satu dari sahabat mulia Rasullah SAW yang sudah dijamin masuk surga bahkan sebelum ia meninggal dunia. Zubair bin Awwam merupakan seorang pembela Rasulullah SAW dimana dialah yang menghunuskan pedang pertama kali untuk membela Rasulullah SAW. Zubair juga disebut sebagai hawari-nya Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda : “Setiap Nabi memiliki Hawari (pembela setia), dan Hawari(pembela setia)ku adalah Az Zubair” (Muttafaq ‘alaih)

Zubair adalah keponakan dari istri Rasulullah SAW yang pertama yaitu Siti Khadijah. Karena ayah dari Zubair merupakan saudara laki-laki dari Khadijah. Adapun ibunda Zubair adalah bibi dari Rasulullah SAW, yaitu Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Nasab seorang hawari Rasulullah SAW ini adalah, Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab al-Qurasyi al-Asadi. Zubair dikenal dengan sebutan Abu Abdullah.

Zubair as-Sabiqun al-Awwalun

Zubair bin Awwam dilahirkan 28 tahun sebelum hijriah. Ia memeluk islam ketika berusia 15 tahun melalui perantara Abu Bakar. Zubair termasuk 7 orang yang pertama kali masuk Islam. Ketika Zubair memeluk Islam, banyak terjadi perbincangan di antara kafir Quraisy yang mencela keislaman Zubair ini. Mereka sangat marah pada Zubair terutama kalangan keluarganya. Paman Zubair sangat marah ketika mendengar kabar tersebut. Lalu ia menggulung Zubair dengan tikar lalu dibakar, sambil memaksa Zubair untuk kembali ke agama nenek moyangnya. Tapi, dengan keimanan yang sangat kuat, Zubair berkata : “Aku tidak akan kembali kepada kekufuran selama-lamanya.”

Zubair adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang ikut berhijrah ke Habasyah. Ketika di Habasyah, Zubair menikahi putri dari Abu Bakar yang bernama ‘Asma binti Abu Bakar. Zubair juga turut ikut serta ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Di Madinah Zubair di karuniai seorang putra pertama, yakni Abdullah dan yang kedua adalah Mush’ab. Meskipun terbilang sukses, Zubair hidup dengan keluarganya dalam kesederhanaan.

Sahabat Rasulullah SAW yang sekaligus juga masih kerabat beliau ini adalah seorang pengawal Rasulullah SAW dan dikenal sebagai pahlawan yang gagah berani di medan perang, baik oleh kawan maupun lawan.

Dr Abdurrahman Umairah dalam bukunya Tokoh-tokoh yang Diabadikan dalam Alquran, menjelaskan Zubair  termasuk golongan yang pertama masuk Islam dan salah satu dari enam orang sahabat yang ditunjuk Umar bin Khattab untuk memilih khalifah penggantinya.

Ayah Zubair adalah Awwam bin Khuwailid yang tewas dalam perang Fijar. Sedangkan, ibunya, Shafiyah binti Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdi Manaf, adalah bibi Rasulullah SAW. Istrinya, Asma binti Abu Bakar as-Siddiq, adalah saudari istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

”Maka, demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, mereka tidak merasa berkeberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS Annisaa [4]: 65).

Beberapa ahli tafsir menyatakan, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan sahabat Rasulullah SAW, Zubair bin Awwam. Dalam sejumlah hadits, termasuk yang diriwayatkan Bukhari dengan sanad dari az-Zahri, lalu dari Urwah, diterangkan bahwa ada seorang yang menggugat Zubair karena merebut pengairan kebunnya. Lalu, Rasulullah SAW bersabda, ”Ya, Zubair, siramlah kebunmu, lalu lepaskan air itu untuk kebun tetanggamu!” Lawannya itu kurang puas dan berkata, ”Ya, Rasulullah, meskipun ia anak bibimu!”

Wajah Rasulullah SAW tampak berubah, tapi beliau tetap pada keputusannya, yakni memberikan hak kepada kedua-duanya dengan adil dan merata. Maka, ketika turun ayat tersebut, Zubair berkata, ”Aku yakin ayat itu turun dalam kasus itu.”

Zubair Pedagang Sukses

Selain dijuluki sebagai Hawari Rasulullah SAW, Zubair dalam kesehariannya adalah seorang pedagang yang sukses. Zubair bin Awwam salah satu sahabat yang kaya dan dermawan, gemar bersedekah, dan gemar membagikan seluruh hartanya kepada orang-orang fakir, sehingga ia tidak meninggalkan sedikitpun dari hartanya itu untuk dirinya sendiri.

Bahkan dia mencurahkan jiwa dan hartanya di jalan Allah SWT. Ka’ab berkata tentangnya Zubair bin Awwam, “Az-Zubair memiliki 1000 macam kekayaan yang dikeluarkan untuk perjuangan, dan tidak ada satu dirhampun yang masuk ke dalam rumah (disedekahkan seluruhnya), beliau mensedekahkan seluruh hartanya. Zubair tidak pernah khawatir akan kemiskinan. Ia tidak pernah ragu dalam bersedekah karena keimanaan yang sangat kokoh yang di miliki oleh hawari Rasulullah ini.”

Peperangan yang Diikuti Zubair

Zubair bin Awwam merupakan salah seorang dari para pahlawan di setiap medan tempur. Ia selalu hadir dan berada di garis depan untuk membela Rasulullah SAW. Ia menyertai semua peperangan bersama Rasulullah SAW tanpa ada satu pun yang absen. Semua perang itu menghasilkan luka pada tubuhnya. Tak sedikit dari luka-luka itu berbekas setelah sembuh menandakan bagaimana kepahlawanan dan keperkasaan Zubair.

Salah seorang sahabat Zubair pernah meriwayatkan cerita tentang luka-luka ini. Sang sahabat yang tak disebutkan namanya mengaku kaget ketika melihat luka di tubuh Zubair. Ia belum pernah menyaksikan luka pada tubuh manusia seperti halnya yang dialami Zubair.

“Aku pernah menemani Zubair bin Awwam dan menyaksikan tubuhnya. Aku melihat banyak luka goresan pedang, dan di dadanya terdapat bekas luka tusukan lembing dan anak panah,” ungkap sahabat Zubair yang dikutip dalam buku Muhammad Khalid.

Zubair juga ikut berperan dalam perang Uhud. Zubair dan Abu Bakar diutus Rasulullah SAW untuk menghalau tentara Quraisy setelah perang Uhud selesai. Rasulullah SAW ingin kedua sahabatnya itu memimpin pasukan agar menunjukkan seolah kaum muslimin masih punya kekuatan. Dengan siasat itu, diharapkan Quraisy tak berpikir kembali lagi ke Madinah untuk melanjutkan pertempuran.

Setidaknya 70 pasukan bergerak bersama Zubair dan Abu Bakar. Mereka tak gentar walau sebenarnya berusaha menghalau pasukan Quraisy yang tengah dilanda euforia kemenangan di perang Uhud.

Tapi siasat itu terbukti ampuh dan membuat pasukan Quraisy berpikir pasukan Zubair hanya sekedar pasukan pembuka. Pasukan Quraisy dibuat berpikir bahwa masih ada pasukan lain yang datang jadi bala bantuan pasukan Zubair. Akhirnya pasukan Quraisy malah mempercepat langkahnya pulang ke Mekkah karena takut digulung pasukan kaum muslimin.

Zubair meninggal ketika terjadi perang Jamal. Yaitu ketika ada perselisihan diantara para sahabat mengenai hukuman untuk pelaku pembunuhan Utsman bin Affan. Pada saat itu, Zubair dan juga Thalhah berada di sisi yang berseberangan dengan Sang Khalifah Ali bin Abu Thalib. Zubair terbunuh ketika sedang melaksanakan solat selepas meninggalkan medan perang.

Sebelum Zubair meninggal sebagai seorang syuhada, Zubair bin Awwam bersungguh-sungguh dalam menyisihkan uangnya untuk melunasi utang-utangnya. Ketika ia meninggal dunia, sebagian dari tanah yang dimilikinya digunakan untuk melunasi utang-utangnya terlebih dahulu dan kemudian sisanya dibagikan kepada ahli waris.

Baca juga: Zaid bin Khattab, Pembasmi Fitnah Nabi Palsu

  • Bagikan