Zaid bin Khattab, Pembasmi Fitnah Nabi Palsu

  • Bagikan
Zaid bin Khattab, Pembasmi Fitnah Nabi Palsu - Surau.co
Ilustrasi: UMMU HABIBAH

Surau.co – Di antara sederet nama sahabat Rasulullah SAW dari golongan Muhajirin, tercatat nama Zaid bin Khattab. Ia adalah saudara sebapak dengan Umar bin al Khattab. Zaid lebih dulu memeluk Islam dari pada adiknya, Umar. Zaid seorang mujahid yang banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Nama lengkapnya adalah Zaid bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Rayyah bin Abdullah bin Qirth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr al Qurasy Al Adawy. Ia juga dikenal dengan Abu Abdirrahman. Ibunya bernama Asma bintu Wahb bin Abib, dari Bani Asad bin Khuzaimah. Zaid merupakan keturunan Bani ‘Adi, suku Quraisy dari klan Kinanah.

Pada saat ada perintah untuk kaum muslimin supaya hijrah ke Madinah, tanpa pikir panjang Zaid hijrah ke Madinah bersama  Umar, Ayyasy, Abu Rabi’ah, Khunais bin Hadzaqah as-Sahmi, suami Hafshah binti Umar, Sa’id bin Zaid. Dalam rombongan tersebut, ikut pula empat anak Bukair, yakni  Iyas, Aqil, Amir, Khalid, yang merupakan keturunan dari Bani Laits al Kinaniyah.

Ketika sampai di Madinah, Zaid bertemu dengan Rifa’ah bin Abdul Mundzir di Quba, dan kemudian Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Zaid dan Ma’an bin Adi al ‘Ajlani, al Anshari. Jadilah, persaudaraan abadi terjalin karena Islam, jauh dari kepentingan duniawi. Keduanya sama-sama syahid dalam pertempuran Yamamah.

Zaid memiliki postur tubuh tinggi tegap. Keistimewaan bentuk tubuhnya ini membuatnya mudah dikenali meski dari jarak yang jauh. Selain termasuk orang-orang yang paling awal masuk Islam, ia juga termasuk sahabat yang ikut ke medan perang Badar, Uhud, Khandaq, juga mengikuti Bai’atur Ridwan dan mengikuti perjanjian damai di Hudaibiyah. Zaid senantiasa mengikuti peperangan setelahnya, baik bersama Rasulullah SAW ataupun bersama para khalifah setelah Rasulullah SAW.

Penerawangan Rasulullah

Kisah kepahlawanan Zaid yang sangat heroik bermula ketika Rasulullah SAW duduk dikelilingi sejumlah kaum muslimin. Hal yang tak dinyana diungkapkan oleh Rasulullah SAW di tengah pembicaraannya. Saat itu, Rasulullah SAW termangu dan terdiam beberapa saat, kemudian melanjutkan serta mengarahkan bicaranya kepada semua sahabatnya yang duduk di sekelilingnya.

Semua yang hadir tersentak kaget ketika beliau bersabda, “Sesungguhnya, di antara kalian ada seorang laki-laki yang gerahamnya di neraka lebih besar dari gunung Uhud.”

Setelah Rasulullah SAW mengatakan kalimat tersebut, seluruh sahabat diliputi ketakutan, khawatir kalau setelah itu akan melakukan pelanggaran terhadap ajaran agama. Semua sahabat yang hadir merasa takut dan waswas kalau-kalau dirinyalah yang akan mendapatkan su’ul khatimah.

Setelah kejadian tersebut, para sahabat yang hadir dan mendengar langsung apa yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW semakin berhati-hati dan senantiasa mawas diri untuk selalu mengerjakan perintah Islam dan menjauhi larangannya.

Seiring perjalanan waktu, sebagian besar sahabat yang mendengar pembicaraan Rasulullah SAW waktu itu telah menjemput maut. Semua yang lebih dulu menghadap Allah SWT menemui ajalnya dengan husnul khatimah, mati sebagai syuhada di medan perang. Mereka selamat dari ramalan Rasulullah SAW. Dan, tersisa dua orang yang masih hidup, Abu Hurairah dan Rajjal bin Unfuwah. Salah satunya pasti yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.

Ketakutan dan rasa khawatir yang luar biasa terjadi pada Abu Hurairah. Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW ini badannya sering bergetar, matanya susah dipejamkan, pikirannya selalu menerawang mengingat tempat dan ramalan Rasulullah SAW yang diyakininya pasti terjadi, lebih merisaukan lagi karena yang tersisa hanya dirinya dan Rajjal bin Unfuwah.

Suatu ketika Abu Hurairah merasa lega, tabir itu terkuak, sudah jelas siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Rasulullah SAW, orang munafik yang celaka itu. Pasca Rasulullah wafat, saat Abu Bakar menjadi khalifah pengganti Rasulullah SAW, saat terjadi tren nabi palsu, Rajjal keluar dari Islam dan bergabung dengan Musailamah al Kadzdzab dan mengakui kenabiannya. Sekarang sudah jelas siapa yang dikabarkan Rasulullah SAW akan mendapat su’ul khatimah.

Sahabat yang Berkhianat

Jauh sebelum Rasulullah SAW meninggal dunia, Rajjal bin Unfuwah menemui Rasulullah SAW untuk berbaiat dan masuk Islam. Namun kebersamaannya dengan Rasulullah SAW hanya sekejap saja, setelah berbaiat dan menyatakan masuk Islam, ia kembali kepada kaumnya. Tidak pernah datang lagi ke Madinah, kecuali setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar menjadi Khalifah.

Sebagai Khalifah, Abu Bakar sudah mendengar kabar bahwa penduduk Yamamah bergabung dengan Musailamah yang mendeklarasikan diri menjadi nabi. Rajjal yang saat itu masih di Madinah menawarkan diri kepada Abu Bakar supaya diutus untuk menyadarkan mereka dan kembali kepada Islam, dan Musailamah adalah Nabi palsu karena tidak ada Nabi dan Rasul setelah Rasulullah SAW. Usul itu diterima oleh Khalifah.

Rajjal segera bertolak ke Yamamah sebagai utusan khalifah. Namun sangat disayangkan, imannya terlalu lemah dan keropos. Ketika ia menyaksikan jumlah pengikut Musailamah sangat banyak, ia menjadi pengecut dan yakin bahwa pasukan Islam tidak akan menang. Sikap pengecut didukung bisikan jiwa khianatnya menyeretnya untuk bergabung dengan barisan Musailamah al Kadzdzab. Saat itu pula dirinya murtad, keluar dari Islam dan bergabung dengan kaum murtad di bawah panji Musailamah, sang Nabi palsu.

Sebagai seorang utusan Khalifah yang membelot, Rajjal jauh lebih berbahaya dari pada Musailamah. Atas nama Khalifah, ia melakukan brainwash atau cuci otak dengan menyebarkan ke banyak orang bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Nabi menjadikan Musailamah bin Habib sebagai rekan.”

Maka, setelah Rasulullah SAW wafat, orang yang paling berhak membawa bendera kenabian ialah Musailamah. Rajjal mengobarkan semangat jihad dengan janji surga. Sehingga mampu merekrut banyak orang yang berani untuk mengorbankan nyawanya melawan pasukan Islam.

Pengikut Musailamah kian bertambah banyak. Kabar Rajjal yang khianat dan murtad sampai ke Madinah dan menyulut kemarahan orang-orang Islam. Gaya brainwash Rajjal sukses menyesatkan banyak orang yang secara otomatis memperluas daerah peperangan yang mau tak mau harus diterjuni kaum mauslimin.

Seorang punggawa pasukan muslim yang paling geram dan ingin sekali berjumpa dengan Rajjal adalah seorang sahabat agung yang namanya terukir indah dalam buku-buku sejarah, yaitu Zaid bin Khattab. Bagi Zaid bin Khattab, Rajjal lebih berbahaya dari Musailamah. Kemurtadannya bukan karena meyakini Musailamah sebagai Nabi, melainkan karena ada keuntungan yang ingin diperolehnya. Oleh sebab inilah, ia menjadi seorang pembohong, munafik, dan oportunis. Zaid sangat membenci kemunafikan dan kebohongan. Sama seperti adiknya, Umar. Kebencian itu akan semakin memuncak ketika kemunafikan yang dilakukan hanya karena ingin mengambil keuntungan semu.

Untuk tujuan-tujuan rendah itulah, Rajjal memainkan peran jahatnya, sehingga jumlah pengikut Musailamah meningkat tajam. Dengan demikian, ia telah mengantarkan mereka pada kematian dan kebinasaan yang hina, mati di medan “Perang Murtad”.

Pada awalnya mereka dicuci otaknya, disesatkan, lalu dibinasakan. Untuk tujuan apa? Ketamakan yang disembunyikan dalam bingkai indah memukau. Bersama pasukan muslim yang lain, untuk menyempurnakan keimanannya, Zaid mempersiapkan diri menumpas kekacauan ini. Sasarannya bukan Musailamah, tetapi yang lebih jahat dan lebih berbahaya dari Musailamah, yaitu Rajjal bin Unfuwah.

Untuk memerangi Musailamah dan pengikutnya, Khalifah Abu Bakar menunjuk Khalid bin Walid sebagai panglima pasukan Islam. Panglima perang yang trengginas, piawai, ahli strategi dan pemberani ini segera mengumpulkan pasukan Islam. Pasukannya dikelompokkan menjadi beberapa regu dengan tugas masing-masing. Khalid menyerahkan bendera pasukan kepada Zaid bin Khattab.

Keberanian Zaid, Salah Satu Pemicu Kemenangan Umat Islam

Dua pasukan saling berhadapan, siap menyabung nyawa. Dengan pekik kalimat takbir dan teriakan membahana menyebut nama Rasulullah SAW. Pasukan Islam dengan semangat tinggi menyerbu bagai gelombang pasang. Bani Hanifah, pengikut Musailamah menyambut pasukan Islam dan berperang mati-matian. Pasukan Islam keteteran dan banyak yang gugur sebagai syahid. Zaid yang membawa bendera pasukan melihat mental dan semangat juang pasukan Islam mulai menurun. Segera ia mendaki sebuah tempat yang agak tinggi, dengan suara nyaring berseru kepada pasukannya,

“Wahai tentara Allah, jangan gentar! Gempur musuh! Serang mereka habis-habisan! Demi Allah, aku tidak akan bicara lagi sebelum mereka dibinasakan Allah atau aku menemui-Nya dan menyampaikan alasan-alasanku.”

Setelah itu, Zaid pun turun. Pedangnya digenggam erat-erat, gerahamnya gemeretak, kedua bibirnya terkatup tidak menggerakkan lidahnya untuk mengucapkan satu katapun. Ia berniat memburu Rajjal, karena menurutnya, kunci peperangan ini ada pada sosok orang munafik tersebut. Dengan membawa beberapa tentara Islam, bagai lesatan anak panah, ia menerobos barisan musuh, mencari Rajjal. Hingga akhirnya, ia melihatnya.

Sayangnya, kecamuk perang yang melibatkan ribuan tentara, membuatnya mengalami kesulitan untuk mendekati Rajjal yang berada di tengah-tengah tentaranya tersebut. Rajjal sendiri justru berlindung dibalik tentara Musailamah yang sedang bertarung melawan pasukan Islam. Setiap kali Zaid berusaha mendekatinya, sebanyak itu pula ia kehilangan Rajjal ditelan oleh lautan manusia. Namun Zaid bukanlah tipe seorang tentara yang mudah menyerah. Dengan keahilan olah senjata yang dimilikinya, ia terus merangsek membelah kepungan musuh, pasukan musuh yang berani mendekati dan menghalanginya terkapar menemui kematiannya yang sia-sia.

Pada akhirnya, Zaid berhasil mendekati Rajjal. Pertarungan satu lawan satu terjadi antara Zaid dan Rajjal. Namun Zaid bukan tandingannya, baru beberapa saat perang tanding itu berlangsung, Zaid berhasil mematahkan perlawanan Rajjal. Sosok murtad dan munafik yang penuh kesombongan, kebohongan, dan kebusukan akhirnya roboh bersimbah darah dengan luka menganga di lehernya bekas pedang Zaid.

Tewasnya Rajjal membawa akibat buruk bagi pasukan Musailamah, bendera pasukannya mulai berjatuhan. Musailamah cemas, bingung dan gentar. Begitu juga Muhkam bin Thufail dan seluruh pasukannya.

Sebelumnya, Musailamah telah menjanjikan kemenangan yang nyata dan bersama Rajjal bin Unfuwah serta Muhkan bin Thufail akan membawa mereka ke masa depan gemilang dengan menyebarkan agama serta membangun pemerintahan mereka. Sekarang, Rajjal telah mati. Berarti kenabian Musailamah adalah bohong. Besok giliran Muhkam yang tewas dan lusa giliran Musailamah. Demikianlah, Zaid bin Khattab telah menyebabkan kehancuran dahsyat di barisan Musailamah.

Berbeda dengan pasukan musuh, ketika mengetahui tewasnya Rajjal, moral dan semangat tempur pasukan Islam makin meningkat berkali lipat sampai yang terluka pun bangkit lagi dengan pedangnya tanpa mempedulikan darah yang menetes dari tubuhnya. Bahkan, mereka yang telah berada di bibir maut, yang tidak ada tanda-tanda hidup lagi kecuali isyarat mata, sewaktu berita gembira itu sampai ke telinga mereka, mereka merasakannya seperti mimpi indah. Mereka ingin sekali diberi kekuatan untuk kembali berperang dan menyaksikan kemenangan yang mengagumkan di akhir hayat mereka.

Zaid bin Khattab menengadahkan kedua tangannya ke langit, mengagungkan Tuhannya, dan bersyukur atas nikmat-Nya. Setelah itu, ia kembali pada pedangnya dan sikap diamnya, karena ia telah bersumpah tidak akan berbicara sampai kemenangan benar-benar tercapai atau ia sendiri menjadi syahid.

Pasukan Islam berada di atas angin. Kemenangan sudah sangat dekat. Di saat itulah, Zaid berharap Allah SWT memberinya kesyahidan di Perang Yamamah ini. Sebuah akhir hidup yang begitu bahagia, yang selama ini dicarinya. Harum wangi surga dirasakannya, membuatnya semakin rindu dan tekadnya semakin membara. Tanpa merasa lelah dan tak kenal takut, ia terus menerjang ke barisan musuh, menebaskan pedangnya mencari cita-cita agungnya. Dan, akhirnya pahlawan Islam yang gagah berani itu gugur sebagai syahid.

Baca juga: Zaid bin Haritsah, Dari Budak hingga Menjadi Orang yang Mulia

  • Bagikan