Yazid bin Abu Sufyan, Sahabat yang Berhasil Membebaskan Bumi Syam

  • Bagikan
Yazid bin Abu Sufyan, Sahabat yang Berhasil Membebaskan Bumi Syam - Surau.co
Ilustrasi: Dictio Community

Surau.co – Yazid adalah putra Abu Sufyan dan Zainab binti Naufal. Yazid bin Abu Sufyan adalah saudara Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Ia mendapat julukan Yazid al-Khair. Yazid bin Abu Sufyan masuk Islam pada saat peristiwa Pembebasan Mekkah (Fathu Mekkah) dan ikut dalam Pertempuran Hunain dan mendapatkan harta rampasan perang 100 ekor unta.

Yazid merupakan satu dari empat jenderal muslim yang dikirim oleh Khalifah Abu Bakar untuk menginvasi Suriah Romawi pada tahun 634 M.

Melawan Pasukan Hiraclius

Pada masa umat Islam dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, telah dikirimkan dari Madinah tiga pasukan yang masing-masing dipimpin oleh tiga orang sahabat Rasulullah SAW. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abu Sufyan, dan Syuhrabil bin Hasanah.

Ketiga pasukan itu akan menghadapi pasukan Hiraclius. Sesampainya di daerah sebelah Selatan Syam, pasukan Abu Ubaidah mengambil tempat di Selatan Damaskus, sedangkan Syuhrabil di Selatan Jabiyah, dan Yazid di Balqa atau di Selatan Bashra.

Sementara rombongan pasukan keempat yang dipimpin oleh Amr bin Ash terlambat ketika sampai di Syam. Kemudian pasukan yang dipimpin Amr bin Ash ini memilih berada di Selatan Palestina.

Sebelum terjadinya kontak fisik dalam peperangan melawan pasukan Hiraclius di Syam, Yazid bin Abu Sufyan mengirimkan surat kepada Abu Bakar di Madinah. Yazid bin Abu Sufyan meminta saran dari Khalifah Abu Bakar.

Dikutip dari buku Abu Bakar Ash Shiddiq Pembuka Islam di Tanah Persia yang ditulis oleh Dr. Abdul Aziz bin Abdullah al-Humaidi, berikut ini isi surat-menyurat antara Yazid bin Abu Sufyan dengan Abu Bakar:

“Bismillahirahmanirrahim. Amma ba’du. Raja Romawi, Hiraclius, tatkala mengetahui kedatangan pasukan kami, takut hatinya sehingga dia pergi ke Antakia. Dia tinggalkan menteri-menterinya di Syam untuk menghadang pasukan kita. Mereka telah bersiap-siap menemui kami, ada yang menyerah, karena Hiraclius telah lari dari kerajaannya, mereka datang dalam keadaan cemas dan berselisih. Berikan perintahmu maka akan kami ikuti, insya Allah. Kami memohon pertolongan kepada Allah SWT agar diberi kemenangan dan kesabaran serta penaklukkan, dan kesehatan kepada pasukan. Wassalamualaika warrahmatullahi wabarakatuh.”

Kemudian, Khalifah Abu Bakar membalas surat dari Yazid bin Abu Sufyan tersebut,

“Bismillahirrahmanirrahim. Telah sampai kepadaku suratmu tentang kepergian Raja Romawi menuju Antakia. Kamu sebutkan bahwa Allah SWT telah menebarkan rasa takut di hatinya karena kedatangan pasukan Islam. Sesungguhnya kepada Allah SWT segala puji, kita dulu memang bersama Rasulullah SAW. Kita diberi pertolongan dengan bantuan malaikat. Agama yang ditolong AllahSWT  ini adalah agama yang kita dakwahkan kepada mereka. Demi Allah SWT, Dia tidak akan menjadikan pasukan Islam seperti orang yang berbuat salah, memperlakukan orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah sama dengan orang yang menyembah Tuhan lain atau orang yang menyembah banyak Tuhan. Jika kalian bertemu dengan mereka, maka berdirilah! bunuhlah mereka! Sungguh, Allah SWT tidak akan menghinakan kalian. Sungguh Allah SWT telah memberikan kabar bahwa kelompok kecil akan mampu mengalahkan kelompok besar. Insya Allah, aku akan kirim bantuan pasukan terus-menerus hingga kamu merasa cukup dan tidak merasa kurang, insya Allah. Wasalamualaika warahmatullah.”

Ketika Abdullah bin Qarthi datang, Khalifah Abu Bakar memintanya memberi tahu kabar pasukan Islam. Abdullah bin Qarthi berkata:

“Pasukan Islam dalam keadaan baik-baik. Mereka sudah bisa memasuki Syam dan membuat takut penduduknya. Aku dengar bahwa Romawi telah mengerahkan pasukan raksasanya yang belum pernah kita menghadapi seperti itu. Meski demikian, setiap waktu kita siap menghadapi setiap musuh. Seandainya Syam tidak diperkuat Hiraclius, tentu Syam tidak ada apa-apanya.”

Kemudian Khalifah Abu Bakar menulis surat kepada Yazid bin Abu Sufyan yang isinya seperti cerita di atas. Demikian juga diberitahukan bahwa Khalifah Abu Bakar telah mengirim bantuan kepada Hasyim bin Utbah dan Saíd bin Amir bin Hadzim. Abdullah bin Qarthi lalu membawa surat Khalifah Abu Bakar itu dan menyerahkannya kepada Yazid bin Abu Sufyan. Surat itu lalu dibacakan di depan para pasukan sehingga mereka pun bergembira.

Yazid Menjadi Gubernur Damaskus

Yazid bin Abu Sufyan diangkat sebagai gubernur Damaskus setelah Pengepungan Damaskus pada tahun 634 M. Ia memimpin sayap kiri pasukan muslim pada Pertempuran Yarmuk.

Perang Yarmuk pun berakhir di awal masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dengan kemenangan bagi kubu Islam. Setelah itu, tentara Islam berdiam diri untuk menyusun langkah selanjutnya. Apakah tentara Islam akan melanjutkan misinya ke Damaskus, sebagai kota administratif negeri Syam, ataukah tentara Islam melanjutkan infiltrasi ke Fihl, tempat pasukan Romawi menyusun kekuatan besar. Maka kaum muslimin meminta petunjuk kepada khalifah Umar, kemudian sang khalifah memberikan petunjuk kepada mereka dengan mengirimkan surat yang berisikan:

“Dengan hormat, mulailah kalian dari kota Damaskus, robohkan kota itu, karena kota itu adalah benteng negeri Syam dan kediaman para pemimpinnya. Sibukkanlah penduduk Fihl dengan kuda yang kalian sembelih.”

Maka Abu Ubaidah bin Al Jar’ah sebagai pemimpin kaum muslimin segera melaksanakan titah dari Umar bin Khaththab tersebut dengan bertolak untuk mengepung Damaskus bersama tentaranya. Abu Ubaidah juga menyisakan tentaranya di Yarmuk dan mengirimkan sepasukan untuk menyibukkan Romawi di Fihl.

Setibanya Abu Ubaidah di kota Damaskus, ia langsung melakukan pengepungan. Pada waktu yang sama, ia juga mengirimkan sepasukan menuju arah utara kota Damaskus. Hal itu bertujuan untuk mengecoh kekuatan Romawi agar sibuk sendiri sehingga tidak mampu memberikan bala bantuan untuk Damaskus.

Kota Damaskus dikelilingi oleh tembok dan aliran air di setiap sisinya. Untuk itu, Abu Ubaidah membagi tentara Islam mengelilingi Damaskus dan mulai mengepung kota tersebut dengan gempuran-gempuran selama tujuh puluh hari. Di Damaskus, tentara Islam harus mengalami penderitaan yang berat, karena udara yang sangat dingin, sedangkan mereka hanya berpakaian seadanya. Tentara Islam telah mempersiapkan tangga-tangga dan tali untuk diikatkan ke tembok untuk melakukan penyerangan di waktu yang tepat.

Suatu malam, penduduk Damaskus sibuk dengan sebuah upacara. Kesempatan itu dimanfaatkan benar oleh Khalid bin Al Walid. Ia bersama sekelompok tentara yang pemberani berenang menyeberangi sungai yang dingin, hingga mereka sampai di sisi kota yang tidak banyak dijaga tentara musuh. Khalid dan para tentara lalu menyandarkan tangga di tembok dan menaikinya. Sesampainya di atas, Khalid bertakbir dan diikuti oleh tentara lain yang masih berada diluar. Penduduk Damaskus menjadi tercengang, mereka kaget. Khalid dan tentara yang menyertainya kemudian turun dan berperang dengan pedang-pedang mereka, hingga mereka berhasil membuka pintu gerbang Damaskus untuk masuknya tentara kaum muslimin. Tentara Islam lalu bergerak masuk ke dalam kota. Hal itu membuat para pejabat kota berlari menuju ke pintu lainnya, tetapi pada akhirnya para pejabat itu meminta perdamaian kepada Abu Ubaidah.

Setelah kematian Abu Ubaidah bin al-Jarrah pada tahun 639 M akibat wabah Amawas, Mu’adz bin Jabal diangkat sebagai gubernur Suriah dan setelah kematiannya akibat wabah, maka Yazid bin Abu Sufyan diangkat sebagai gubernur Suriah oleh Khalifah Umar bin Khattab. Yazid bin Abu Sufyan meninggal pada tahun 18 H/639 M tanpa memiliki keturunan.

[wpsm_ads2]

Baca juga: Wasilah bin Iqsa, Sahabat yang Menjunjung Tinggi Nilai Kejujuran

  • Bagikan