Wasilah bin Iqsa, Sahabat yang Menjunjung Tinggi Nilai Kejujuran

  • Bagikan
Bauernfeind, Gustav (1848-1904) - 1887c_ A Street Scene, Damascus (Christie's New York, 2006) - Surau.co
Ilustrasi: Pinterest

Surau.co – Sahabat adalah orang yang pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan Islam.

Terdapat definisi yang lebih ketat yang menganggap bahwa hanya mereka yang berhubungan erat dengan Rasulullah SAW saja yang layak disebut sebagai sahabat Nabi. Dalam kitab “Muqaddimah” karya Ibnu ash-Shalah (w. 643 H/1245 M). Dikatakan kepada Anas, “Engkau adalah sahabat Rasulullah dan yang paling terakhir yang masih hidup”. Anas menjawab, “Kaum Arab (badui) masih tersisa, adapun dari sahabat beliau, maka saya adalah orang yang paling akhir yang masih hidup.”

Tidak mungkin bisa dipastikan mengenai jumlah sahabat Rasulullah SAW secara tepat, karena berbagai faktor seperti perbedaan definisi dan luasnya daerah persebaran mereka selama hidup. Jika merujuk pada jumlah sahabat Rasulullah SAW yang tercatat dalam berbagai buku biografi karangan ulama yang membahas mereka, seperti kitab Thabaqat Al-Kabir karya Ibnu Sa’ad, kitab Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Barr dan Mu’jam as-Shahabah karya Ibnu Qani’, maka kita hanya akan mendapati sekitar 2700-an sahabat laki- laki dan 380-an sahabat perempuan. Sedangkan Imam Al-Qasthalani dalam kitab al-Mawahib nya menyatakan bahwa jumlah sahabat Rasulullah SAW ketika peristiwa Fathu Makkah adalah berjumlah sekitar 7000 orang, lalu dalam peristiwa perang Tabuk bertambah menjadi 70.000, dan yang terakhir pada peristiwa Haji Wada’ jumlah mereka mencapai sekitar 124.000 orang, wallahu a’lam.

Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang mencatat mengenai keutamaan para sahabat karena mereka merupakan orang-orang yang membela Rasulullah SAW, baik dalam keadaan senang maupun susah, bahkan di antara mereka sudah ada yang dijaminkan surga melalui lisan Rasulullah SAW sendiri sewaktu beliau masih hidup.

Sebab seorang sahabat Rasulullah SAW selalu dikenal dengan perilaku dan sifatnya yang bagus, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Para sahabat lebih menjunjung tinggi kejujuran daripada kemewahan dunia. Para sahabat ini terkenal akan kezuhudannya. Mereka selalu menerapkan ajaran Rasulullah SAW baik yang berupa wahyu langsung dari Allah SWT maupun perilaku Rasulullah SAW dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Salah satu sifat yang sangat dijunjung tinggi oleh para sahabat adalah kejujuran.

Kejujuran sendiri merupakan salah satu perilaku mulia sebagai cermin kepribadian diri manusia, dengan menerapkan perilaku jujur hidup ini menjadi damai, tentram. Tetapi apabila sebaliknya alangkah gelisahnya hidup ini. Terdapat kisah menarik seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Wasilah ibn Iqsa.

Kejujuran Wasilah bin Iqsa Menolong Orang Lain

Suatu hari, seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Wasilah bin Iqsa sedang berada di pasar ternak. Tak sengaja ia melihat dua orang tengah tawar-menawar unta. Ketika ia lengah, si pembeli telah resmi membeli unta tersebut seharga 300 dirham dan menuntunnya untuk dibawa pulang.

Wasilah bergegas mencegat si pembeli seraya bertanya, “Apakah unta yang kamu beli itu untuk disembelih atau sebagai tunggangan?” Si pembeli menjawab, “Unta ini untuk dijadikan kendaraan.” Wasilah lalu memberi tahu, unta tersebut tidak akan tahan lama berjalan sebab kakinya berlobang karena cacat. Si pembeli itu pun bergegas kembali ke tengah-tengah pasar menemui si penjual unta dan menggugatnya. Akhirnya, si penjual mengembalikan 100 dirham sebagai kesepakatan harga unta yang baru.

Si penjual merasa jengkel pada Wasilah, ia berkata, “Semoga Allah SWT mengasihimu, jual-beliku telah engkau rusak.” Mendengar teguran tersebut Wasilah menjawab, “Kami sudah berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk berlaku jujur kepada setiap Muslim, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda: ‘Tidak halal bagi siapa pun yang menjual barangnya kecuali dengan menjelaskan cacatnya, dan tiada halal bagi yang mengetahui itu kecuali menjelaskannya’.” (HR Muslim, Hakim, dan Baihaki).

Hikmah Di Balik Kejujuran

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran kepada kita. Pertama, taat dan hormat kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika para sahabat Nabi mendengar sabda beliau yang dibacakan oleh sahabat yang lain, mereka langsung tunduk, patuh dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi SAW.

Kedua, sebagai Muslim yang baik, kita harus saling menasihati sesama saudara seiman karena terkadang seseorang lalai atau berada pada level keimanan yang sangat rendah sehingga membuatnya tergelincir dari jalan yang benar.

Nabi SAW pernah bersabda, Nasihat merupakan barang yang hilang dari seorang mukmin. Sehingga harus dicari.

Ketiga, sebagai pihak yang memberi nasihat kita harus berani menyuarakan kebenaran, hatta kepada orang-orang dekat, teman, saudara atau famili, bahkan terhadap keluarga kita. Namun, sebagai pemberi nasihat kita juga harus memper hatikan waktu dan tempat, kapan dan di mana nasihat itu harus diutarakan.

Keempat, kita harus jujur terhadap siapa pun, lebih-lebih ketika sedang jual-beli, hendaklah kita jujur dengan kondisi barang-barang yang kita miliki, menjelaskan keistimewaan barang-barang tersebut, dan juga menjelaskan kekurangannya jika ada. Di sinilah jujur memerlukan keberanian karena bisa merugikan perniagaan kita. Oleh sebab itu, orang yang berdagang dan berani jujur akan mendapat keberkahan dari Allah SWT

Wasilah bin Iqsa juga meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW, “Janganlah kamu memperlihatkan kegembiraan atas kesusahan yang menimpa saudaramu, bila tidak maka Allah akan mengasihani saudaramu itu dan akan memberi cobaan kepadamu.” (HR. At Turmudzy)

Baca juga: Utsman bin Thalhah, Pemegang Kunci Ka’bah Selamanya hingga pada Keturunannya

  • Bagikan