Utsman bin Thalhah, Pemegang Kunci Ka’bah Selamanya hingga pada Keturunannya

  • Bagikan
Utsman bin Thalhah, Pemegang Kunci Ka’bah Selamanya hingga pada Keturunannya - Surau.co
Ilustrasi: Twitter

Surau.co – Utsman bin Thalhah berasal dari Bani Syaibah, suku yang dipercaya memegang kunci Kabah. Ketika belum memeluk Islam, Utsman pernah menolak keinginan Rasulullah SAW untuk memasuki Ka’bah.

Waktu itu Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Aku ingin masuk dan salat dalam Ka’bah”.

“Tidak,” jawab Utsman.

“Wahai Utsman, tolong biarkan aku salat bersama orang-orang di dalamnya.” pinta Rasulullah SAW

“Tidak!,” tolak Utsman. Utsman tetap menolak memberikan kunci itu kepada Rasulullah SAW.

Sebelum Menjadi Muslim Utsman adalah Orang yang Baik

Suatu ketika, saat masih musyrik, Utsman sedang berada di Tan’im tidak jauh di luar kota Makkah. Ia melihat seorang wanita bersama anaknya mengendarai unta sendirian ke luar kota Makkah. Setelah dekat, Utsman pun bertanya kepada wanita tersebut, yang ternyata adalah Ummu Salamah, “hendak ke manakah engkau, hai anak perempuan Abu Umayyah?”

Ummu Salamah pun menjelaskan jika dirinya dan anaknya akan ke Madinah untuk menemui suaminya. Sudah sekitar satu tahun mereka terpisahkan sejak suaminya hijrah ke Madinah, sedang ia dan anaknya ditahan oleh kerabatnya. Kini mereka dibebaskan dan ingin tinggal bersama suaminya di Madinah. Ummu Salamah berangkat sendirian hanya ditemani Allah SWT. Mendengar penjelasan tersebut, Utsman berkata, “Demi Allah, engkau tidak pantas dibiarkan sendirian begitu saja.”

Setelah itu Utsman bin Thalhah memegang kendali unta Ummu Salamah dan menuntunnya berjalan cepat. Jika tiba waktunya istirahat, ia mendudukkan untanya agar Ummu Salamah bisa turun lalu Utsman menambatkan unta tersebut dan beristirahat di bawah pohon lainnya. Jika akan berangkat lagi, ia mendudukkan unta agar Ummu Salamah mudah untuk menaikinya kemudian menuntunnya berjalan cepat. Begitu berulang-ulang dilakukannya tanpa banyak percakapan.

Setelah beberapa hari perjalanan, mereka akhirnya sampai di pinggiran kota Madinah, yakni di kampung Quba yang didiami Bani Amr bin Auf. Utsman berkata kepada Ummu Salamah, “Suamimu tinggal di kampung itu, masuklah kamu ke dalamnya dengan berkah dari Allah!” Setelah itu ia menyerahkan kendali unta kepada Ummu Salamah lalu ia kembali pulang ke Makkah.

Masuk Islamnya Utsman bin Thalhah

Nama lengkap Utsman bin Thalhal adalah Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah al Adawi. Pada masa jahiliyah, ia adalah penjaga Baitullah sekaligus pemegang kunci Ka’bah. Utsman bin Thalhah memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atas ajakan Khalid bin Walid.

Dalam perjalanan ke Madinah, mereka bertemu dengan Amr bin Ash yang juga memutuskan untuk berbaiat kepada Rasulullah SAW dalam keislaman. Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW menyambut kehadiran mereka dengan riang gembira, bahkan ketika melihat kedatangan ketiganya, Rasulullah SAW bersabda, “Makkah telah melepaskan jantung hatinya!”

Meski ucapan ini lebih ditunjukkan kepada Amr bin Ash dan Khalid bin Walid, tetapi kemuliaan itupun melingkupi diri Utsman bin Thalhah karena berbaiat dalam Islam bersama-sama dengan dua orang yang kelak menjadi pahlawan yang mengharumkan nama Islam ke seantero dunia.

Suatu ketika, Rasulullah SAW hendak berthawaf di Ka’bah setelah kota Makkah berhasil dibebaskan. Sambil berthawaf, Rasulullah SAW menghancurkan patung-patung yang beridri di sekeliling Ka’bah dengan tongkat atau panahnya.

Saat itu, kira-kira ada 360 berhala dan patung yang terdapat di sekitar Ka’bah. Ketika merobohkan berhala-berhala itu, Rasulullah SAW sambil menyerukan QS. Al Isra’ ayat 81 secara berulang-ulang. Seketika itu, berhala dan patung itu hancur berantakan.

“Kebenaran telah datang dan kebatilan telah hancur. Sesungguhnya kebatilan akan musnah selamanya.”

Hal itu kemudian diikuti oleh para sahabat Rasulullah SAW yang ikut serta berada di Ka’bah. Selesai berthawaf, Rasulullah SAW melaksanakan shalat di Maqam Ibrahim. Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan menuju ke sumur zam-zam dan meneguk airnya.

Pada saat itu, Utsman bin Thalhah telah masuk Islam. Ialah yang memegang kunci Ka’bah. Rasulullah SAW kemudian memanggilnya untuk membuka Ka’bah. Rasulullah SAW meminta kunci itu kepadanya dengan berkata, “Berikanlah kunci itu!”

Utsman kemudian menjawab bahwa kunci Ka’bah berada di tangan ibunya. Ia dengan segera memberitahu ibunya jika Rasulullah SAW menginginkan kunci tersebut.

“Tidak. Aku tidak akan memberikannya kepadamu.” kata ibu Utsman. Sang ibu menyembunyikan kunci itu ke dalam bajunya, sedangkan Rasulullah SAW berdiri di depan rumah pintu Ka’bah menunggu Utsman. Lalu dia berkata kepada Umar, “Wahai Umar, pergi dan kembalilah dengan membawa kunci itu.” Maka Umar pun pergi ke rumah Utsman untuk meminta kunci tersebut.

Mengetahui kedatangan Umar, ibu Utsman langsung mengeluarkan kunci Ka’bah dan menyerahkan kepada Utsman agar disampaikan kepada Umar dan Rasulullah SAW bisa membuka pintu Ka’bah.

Setelah mendapatkan kunci Ka’bah, Rasulullah SAW dan para sahabat pun membuka pintu Ka’bah. Namun Rasulullah SAW tidak langsung masuk ke dalamnya karena masih banyak berhala dan gambar di dalamnya. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan para sahabat untuk membawa keluar berhala dan menghapus gambar yang ada di dinding Ka’bah.

Setelah tidak ada lagi berhala dan gambar di dalamnya, Rasulullah SAW bersama Usamah, Bilal, dan Utsman bin Thalhah masuk ke dalam Ka’bah. Satu riwayat menyebutkan Rasulullah SAW melaksanakan shalat dua rakaat di dalam Ka’bah, sementara riwayat lain menyebut bahwa Rasulullah SAW tidak shalat di dalam Ka’bah.

Perintah dari Rasulullah

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Quran dan Hadits-Hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), setelah keluar dari Ka’bah, Ali bin Abi Thalib meminta kepada Rasulullah SAW agar memberikan kunci Ka’bah kepadanya. Riwayat lain menyebutkan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib lah yang meminta kunci Ka’bah ketika Rasulullah SAW menerima kunci dari Ali bin Abi Thalib di sumur zam-zam.

Pada masa itu, Abbas adalah orang yang bertugas menyediakan air bagi pengunjung Ka’bah. Dengan meminta kunci Ka’bah, Abbas berharap bisa menggabungkan pengurusan Ka’bah dengan tugasnya tersebut. Namun, Rasulullah SAW menolak permintaan Abbas tersebut.

Rasulullah SAW kemudian mencari Utsman bin Thalhah untuk menyerahkan kunci Ka’bah sambil melantunkan Q.S an Nisa ayat 58 yang baru saja beliau terima,

“Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

Pada saat menyerahkan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, Rasulullah SAW berkata, “Ini kuncimu wahai Utsman. Hari ini adalah hari kebajikan dan kesetiaan, ambillah ini (wahai Utsman beserta keturunanmu) selamanya sepanjang masa. Tidak ada yang merebutnya dari kalian kecuali dzalim lagi aniaya.”

Demikian sikap tegas Rasulullah SAW tentang siapa yang berhak menjaga kunci Ka’bah. Rasulullah SAW tetap meberikan kepada pihak yang berhak, meski ada kerabat dekatnya sendiri yang meminta kunci Ka’bah tersebut.

Dalam buku Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim dijelaskan, dahulu suku Quraisy membagi tiga jabatan untuk memperbaiki pengelolaan kota Makkah.

Pertama, al Siqayah; posisi ini bertugas untuk menyiapkan air dan kebutuhan pokok lainnya untuk mereka yang berziarah ke Ka’bah.

Kedua, al Rafadah; mereka bertugas untuk menyediakan akomodasi dan konsumsi bagi para jamaah yang datang ke Ka’bah.

Ketiga, al Sadanah; jabatan ini bertanggungjawab untuk mempersiapkan dan menjaga kunci Ka’bah.

Qushay bin Kilab adalah orang yang ditugaskan untuk mengisi posisi ini ketika itu. Qushay kemudian menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya, Abdu al Dar. Kemudian Abdu al Dar menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya. Dan begitupun cucu-cucunya selalu menyerahkan kunci Ka’bah kepada anak pertamanya.

Pada zaman Rasulullah SAW, yang bertugas merawat Ka’bah dan memegang kuncinya adalah Utsman bin Thalhah. Utsman bin Thalhah lalu mewariskan kunci Ka’bah tersebut kepada saudaranya, Syaibah.

Hingga hari ini, kunci Ka’bah dipegang oleh anak cucu keturunan Bani Syaibah. Sampai haru ini, anak cucu keturunan dari Bani Syaibah bertanggungjawab untuk merawat Ka’bah termasuk membuka dan menutupnya pintu Ka’bah hingga membersihkan dan mencuci tirai Ka’bah serta merawat Kiswah atau kelongsorannya.

Baca juga: Huru-hara Menjelang Wafatnya Utsman bin Affan

  • Bagikan