Huru-hara Menjelang Wafatnya Utsman bin Affan

  • Bagikan
Huru Hara sebelum Wafatnya Utsman bin Affan - Surau.co
Ilustrasi: ArtStation

Surau.co – Ada beberapa kelompok yang tidak puas dengan kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Mereka ini datang dari Mesir, Kufah, dan Bashrah.

Ketiga kelompok ini berlainan kehendak dan tujuannya. Kelompok dari Bashrah hendak menurunkan Utsman dan menggantikannya dengan Thalhah, kelompok dari Kufah hendak menggantinya dengan Az-Zubair, dan kelompok dari Mesir hendak menggantinya dengan Ali bin Abi Thalib.

Yang datang dari Bashrah datang ke Madinah lalu ke rumah Thalhah, yang datang dari Kufah ke rumah Az-Zubair, dan yang dari Mesir ke rumah Ali.

Ketiga kelompok itu menawarkan khalifah kepada diri mereka masing-masing. Namun, ketiganya menolak dengan sikap yang hormat.

Mereka bertiga tidak hendak meruntuhkan khalifah, tapi hendak memperbaiki kebijakan-kebijakan yang dipandang kurang tepat. Orang Mesir meminta supaya wali di Mesir yang diangkat oleh Utsman diturunkan dari jabatannya, diganti dengan Muhammad bin Abu Bakar.

Permintaan itu telah dikabulkan dan mereka disuruh pulang kembali ke Mesir. Tetapi setelah sampai pada suatu tempat, jarak tiga hari perjalanan dari Madinah, kelihatan dari jauh seorang budak mengendarai unta. Orang itu kemudian dihentikan lajunya dan ditanya hendak ke mana dan siapa yang memberi perintah.

Budak itu menjawab bahwa dia budak Amirul Mukminin Utsman bin Affan, disuruh mengantarkan sepucuk surat ke Mesir. Pasukan Muhammad bin Abu Bakar menjadi kaget, kantong surat itu kemudian dirampas.

Rupanya surat itu dari Utsman kepada Abdullah bin Abu Sarah, wali di Mesir. Sampul itu terus dibuka di hadapan Muhajirin dan Ansar, dan isinya adalah:

Bila sampai Muhammad bin Abu Bakar di Mesir, bersama si fulan dan si fulan, hendaklah terus dibunuh, dan isi surat yang mereka bawa hendaklah dibatalkan, dan hendaklah terus memegang jabatan itu sehingga sampai perintahku yang sah.

Melihat isi surat yang sangat berbahaya itu, semua gentar. Dan, semua anggota kelompok itu memutuskan bahwa mereka harus kembali ke Madinah.

[wpsm_ads2]

Sampai di Madinah, mereka minta bertemu berhadap-hadapan dengan Ali, Thalhah, Az-Zubair, dan Sa’ad. Di hadapan mereka itulah surat itu dibuka kembali dan diceritakan kisah penangkapan budak itu sejelas-jelasnya.

Demi setelah tersiar kabar ini kepada orang banyak, semuanya mencaci dan memaki Utsman. Utsman dituduh sebagai khalifah pengecut.

Sahabat-sahabat Nabi yang utama melihat huru-hara ini, karena tak bisa didamaikan lagi, kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan bingung.

Rumah Utsman dikepung orang dari segala penjuru. Bahkan, air tidak boleh dimasukkan ke rumahnya lagi dan dilarang keluar.

Waktu itulah dengan sedih terdengar perkataan Utsman, “Mengapa kamu menahan air dari orang yang telah pernah membeli sumur?”

Surat itu kemudian mereka bawa kepada Utsman, seraya mereka berkata, “Engkau telah menulis surat begini terhadap kami?”

Utsman menjawab, “Salah satu di antara dua boleh kamu pilih, pertama kalau tak percaya, kami kirim dua utusan untuk menyelidiki, kedua kamu terima sumpah saya di hadapan Allah, bahwa sungguh-sungguh bukan saya yang menulis surat itu”

Dengan sumpah besar Utsman telah menyatakan bahwa surat itu bukanlah dia yang menulis, walaupun di sana terdapat cap stempel cincinnya sendiri.

Menurut Prof Hamka (Buya Hamka) dalam Sejarah Umat Islam, pengakuan Utsman itu harus dipercaya. Sebab, selama ini memang Utsman terkenal sebagai orang yang bertanggung jawab atas perbuatannya.

Yang selalu menjadi perbincangan dalam sejarah, perkara ini adalah juru surat Utsman sendiri yaitu Marwan bin Al Hakam, tetapi bukti pun tidak jelas juga. Sehingga, sampai kiamat riwayat itu akan tetap begitu keadaannya, tidak jelas.

Cuma yang nyata di sana, memang Utsman kurang memperhatikan laci mejanya sendiri. Sehingga, laci itu bisa dibuka orang dan cincinnya bisa dicapkan orang tanpa sepengetahuannya. Dan, dia terpaksa menanggung dampak dari kejadian ini.

Sementara, orang semakin panas. Sebagian besar meminta supaya dia mengundurkan diri sebagai khalifah. Tetapi Utsman menolak.

Dia tak mau menanggalkan jabatan yang diletakkan Allah ke atas pundaknya dan disetujui oleh seluruh kaum Muslimin dengan ba’iat, sampai nyawa terpisah dari badannya, jabatan itu tak akan diserahkan ke orang lain.

Desakan dan kepungan bertambah hebat. Segala nasihat yang diberikan Utsman dari atas rumahnya, kepada orang-orang yang berkumpul dengan hati panas itu, tidak mempan. Apalagi setelah terdengar berita dan bisik desas-desus bahwa ada beberapa tentara dari Syam akan mengepung Madinah dan melepaskan Utsman dari kepungan itu.

Sahabat-sahabat Nabi yang utama yaitu Ali, Thalhah, Az-Zubair, menyuruh anak-anak mereka masing-masing pergi menjaga khalifah di dalam rumahnya sampai menunggu huru-hara ini selesai. Jangan sampai terjadi bahaya yang lebih besar.

[wpsm_ads2]

Tetapi para pemberontak itu sudah bertambah kalap, rumah di samping rumah Utsman, telah mereka naiki. Pintu rumah mereka bakar, mereka masuk ke dalam berduyun-duyun dengan sorak-sorainya.

Anak-anak orang besar Madinah itu tersingkir ke tepi. Seorang pemberontak bernama Al-Ghafiqi telah menikam Utsman, orang tua yang telah ikut menegakkan Islam sejak awal dengan pisaunya. Saat itu, dirinya sedang membaca al-Qur’an dan berpuasa ketika pedang dari para pemberontak menusuk tubuhnya. Namun Utsman hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.

Jari istri Utsman yang bernama Na’ilah, yang hendak membela suaminya itu, mereka potong. Setelah itu mereka tarik jenggot Utsman dan mereka membunuhnya. Sehingga, wafatlah Utsman, sedangkan al-Qur’an bernama Mushaf Utsman itu masih tergenggam di dalam tangannya.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 35 Hijriah, yakni setelah 11 tahun lamanya Utsman memerintah.

Utsman bin Affan wafat pada usia yang mencapai 80 tahun. Jauh sebelum wafat, Utsman telah didoakan Rasulullah SAW agar semua dosanya diampuni oleh Allah SWT. Utsman pun dijamin masuk surga menyusul kedermawanannya selama menemani Rasulullah SAW hingga akhir hayatnya.

Baca juga: Utsman bin Affan, Pembebas Sumur Milik Yahudi untuk Kehidupan Umat Muslim di Madinah

  • Bagikan