Sosok  

Tafsir al-Thabari dan Riwayat Hidup Singkat Tentang Sang Mufasir 224 H

Tafsir al-Thabari dan Riwayat Hidup Singkat Tentang Sang Mufasir 224 H
Tafsir al-Thabari dan Riwayat Hidup Singkat Tentang Sang Mufasir 224 H

Surau.co – Berbicara masalah tafsir, atau mufasir, tentu kita tidak bisa lepas dari tokoh ternama yang kita kenal dengan sebutan al-Thabari. Banyak orang yang mengagumi keahliannya dalam menafsirkan Al-Qur’an dan dianggap paling baik sepanjang masa.

Namun demkin, selain keahliannya yang luar biasa dalam menafsirkan ayat-ayat suci, al-Thabari juga merupakan tokoh yang dapat dibilang multi talenta, karena keahliannya tidak hanya meliputi satu bidang saja, melainkan banyak hal.

Biografi

Kisah hidup al-Thabari tidak jauh berbeda dengan para mufasir pada umumnya. Mulai dari pendidikan, intelektual, interpretasi pemetaaan tafsir, hingga bidang politik.

Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Khalid al-Thabari, ada yang mengatakan Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Thabari.

Ia lahir di Amil, ibu kota Tabaristan pada tahun 224 H. Ia adalah salah satu ilmuwan yang begitu sangat dikagumi karena kemampuannya mencapai tingkat tertinggi dalam berbagai bidang termasuk fiqh, sehingga pendapatnya disebut madzhab Al-Jaririyah.

Al-Thabari hidup di lingkungan yang mendukung penuh terhadap karir intelektualnya, tidak mengherankan jika pada usia 7 tahun ia sudah hafal Al-Qur’an. Inilah yang Ia katakan: Saya menghafal Quran pada usia 7 tahun dan menjadi imam sholat pada usia 8 tahun dan mulai menulis hadits nabi pada usia 9 tahun.

Abu Ja’far al-Thabari (gelar Abu Ja’far) bukanlah sebuah penghargaan, seperti dalam budaya Arab ketika mengacu pada nama ayah dengan Abu Fulan.

Abu Ja’far adalah nama yang diberikan kepada al-Thabari karena kebesaran dan kemuliaannya. Ia memulai studinya pada usia 12 tahun, yaitu pada tahun 236 H, di tempat kelahirannya.

Setelah al-Thabari mencari ilmu dari para ulama terkemuka di tempat kelahirannya, seperti yang dilakukan para ulama lain pada saat itu, Ibnu Jarir, untuk mencari ilmu, pergi ke beberapa daerah Muslim.

Dalam bidang sejarah dan fiqh, al-Thabari berangkat ke Bagdad untuk menemui Imam Ahmad bin Hambal, namun diketahui bahwa ia meninggal, sebelum Ia tiba di negeri itu, sehingga perjalanan dialihkan ke Kufah dan di negeri ini ia belajar hadist dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengannya. Kecerdasan dan kemampuannya dalam menghafal telah mencengangkan para sarjana di negeri itu.

Kemudian sang mufasir pergi ke Bagdad untuk belajar di sana ilmu-ilmu Al-Qur’an dan fiqh Imam Syafi’i dari para ulama utama negeri itu, lalu ke Syam untuk mendalami mazhab fiqih dan pemikiran yang ada di sana.

Kota Bagdad, menjadi rumah terakhir al-Thabari, beberapa di antaranya berhasil ia perbanyak dan akhirnya wafat pada hari Senin 27 Syawal 310 H bertepatan dengan 17 Februari 923 M. Kematiannya didoakan oleh orang-orang siang dan malam sampai beberapa waktu setelah kematiannya.

Beliau wafat pada usia 86 tahun, yaitu pada tahun 310 H. Bahkan namanya juga sangat terkenal di Barat, biografinya pertama kali diterbitkan di Laiden pada tahun 1879-1910. Julius Welhousen mengungkapkannya demikian ketika dia berbicara tentang waktu (660-750) dalam buku yang berjudul The Arab Kingdom and its Fall.

Berikutnya, kekaguman terhadap al-Thabari juga disampaikan oleh Ibn Khilikan adalah seorang imam mujtahid dan tidak mematuhi siapa pun. Dan sebelum mencapai tingkat mujtahid, tampaknya dia adalah pengikut mazhab Syafi’i. A1-Khathib mengatakan dia adalah salah satu ilmuwan terkemuka.

Pendapatnya menjadi pendapat hukum dan menjadi acuan karena pengetahuan dan keutamaannya, bahkan dia mengumpulkan pengetahuan yang tak tertandingi pada masanya.

Karir pendidikannya dimulai di kampung halaman Amil, tempat yang cukup menguntungkan untuk dibangunnya struktur dasar awal pendidikan, al-Thabari dibesarkan oleh ayahnya sendiri, kemudian dikirim ke Rayy, Basrah, Kufah, Suriah dan Mesir dalam konteks “perjalanan dalam misi menuntut ilmu” (ar-Rihlah Talab A’jijm) di masa mudanya. Sehingga namanya menjadi semakin populer di  masyarakat karena otoritas keilmuannya.

Di Rayy al-Thabari belajar dengan Ibn Humaid, Abu Abdallah Muhammad bin Humaid al-Razi, selain itu ia juga belajar dari al-Musanna bin Ibrahim al-Ibili yaitu dalam bidang hadits. Selanjutnya ia menuju Baghdad berekpetasi untuk studi kepada Ahmad bin Hambal (164-241 H / 780- 855 M), ternyata beliau diketahui telah wafat, kemudian segera putar haluan menuju dua kota besar Selatan Baghdad, yakni Basrah dan Kufah, sambil mampir ke Wasit karena satu jalur perjalanan dalam rangka studi dan riset. 

Di Basrah al-Thabari berguru kepada Muhammad bin Abd al-A’la al-Shan’ani (w. 245 H / 859 M), Muhammad bin Musa al-Harasi (w. 248 H / 862 M) dan Abu al-As’as Ahnmad bin al-Miqdam (W. 253 H/867 M), disamping kepada Abu al-Jawza’ Ahmad bin Usman (246/860).

Khusus bidang tafsir al-Thabari berguru kepada seorang Basrah Humaid bin Mas’adah dan Bisr bin Mu’az al-‘Aqadi (w. akhir 245 H / 859-860 M ), meski sebelumnya pemah banyak menyerap pengetahuan tafsir dari seorang Kufah Hannad bin al-Sari (w. 243 H / 857 M ).

Baca Juga: Biografi Imam Malik 711-795 M, dan Cerita Cinta Penderitaan Hidupnya

Karya-Karya

Dalam bidang ilmu pengetahuan, al-Thabari dikenal dengan ketekunannya dalam menggali bidang ilmu yang dimilikinya, serta ketekunannya dalam memperkaya basis pengetahuannya, sehingga dengan demikian, banyak bidang ilmu yang dikuasai.

Selanjutnya, al-Thabari mampu menuangkan ilmu yang telah dikuasainya ke dalam bentuk tulisan. Buku-bukunya mencakup berbagai bidang, seperti: tafsir, hadits, fiqh, tauhid, ushul fiqh dan ilmu bahasa Arab, serta ilmu kedokteran.

Buku-buku al-Thabari, bagaimanapun, tidak ada informasi pasti tentang berapa banyak buku yang dia tulis, karena tidak semua tulisan al-Thabari sampai kepada kita hari ini. Banyak dari tulisannya yang berhubungan dengan hukum dikatakan telah hilang dengan jatuhnya sekolah Jaririyah.

Melalui berbagai tulisannya dan sebagian besar berupa antologi narasi hadis dalam bahasa yang sangat indah, al-Thabari tidak hanya mendapatkan reputasi sebagai ilmuwan besar tetapi juga orang yang disegani, dikagumi oleh pihak lain.

Semua karya ilmiah al-Thabari yang bisa kita nikmati saat ini dapat kita liat dalam beberapa daftar karya berikut, diantara karya-karyanya seperti;

  • Adab al-Manasik,
  • Tarikh al-Umam wa al-Muluk atau kitab Ikhbar ar-Rasul al-Muluk.34
  • Jami‘ al-Bayan An Ta‘wil Ay al-Qur‘an atau dikenal pula dengan Ja>mi‘ al- Bayan An Tafsir Ay al-Qur‘an. Kitab ini dicetak menjadi 30 juz di Kairo pada tahun 1312 H. oleh al-Mathba‘ah al-Maimunah, kemudian dicetak kembali yang lebih bagus oleh al-Mathba‘ah al-Umairiyah antara tahun 1322- 1330 H. sebagaimana  yang diterbitkan oleh Dar  al-Ma‘a>rif Mesir edisi terbayang ditahqiq oleh Muhammad Mahmud Syakir, menjadi 15 jilid.
  • Ikhtilaf Ulama‘ al-Amsar fi Ahkam Syara‘i al-Islam. Manuskrip ini ditemukan diperpustakaan Berlin. Kitab tersebut telah disebarluaskan oleh Doktor Frederick dan dicetak oleh percetakan al-Mausu‘at di Mesir pada tahun 1320 H / 1902 M dengan jusul Ikhtilaf Fuqaha‘. Dan berjumlah 3000 lembar.
  • Tahdzib  al-Asar wa  Tafsil  al-Sabit  an  Rasulillah  min  al-Akbar, yang dinamakan oleh al-Qathi dengan Syarh al-Asar.

Tentu, masih banyak lagi kitab-kitab al-Thabari eliau yang tidak kami sebutkan disini. Selain banyaknya bidang keilmuan yang disentuh, bobot karya-karya al- Tabari sangat dikagumi para ulama dan peneliti.

Seperti halnya, Al-Hasan ibn Ali al-Ahwazi, ulama  qira‘at,  menyatakan, Abu Ja`far  (Al-Thabari) adalah seorang ulama fiqih, hadits, tafsir, nahwu, bahasa dan `arudh.  Dan dalam semua bidang tersebut dia melahirkan karya bernilai tinggi yang mengungguli karya para pengarang lain.

Sejarah Tafsir (Jami‘ al-Bayan An Ta‘wil Ay al-Qur‘an)

Kitab tafsir al-Thabari adalah Jami al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an adalah nama yang lebih terkenal, sedangkan nama yang disematkan kepadanya adalah Jami al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al- Al-Qur’an, ditulis pada akhir abad ke-3 M dan mulai mengajarkan kitab ini dari kitab sucinya kepada murid-muridnya dari tahun 283 M hingga 290, Hijriah.

Tafsir ini terdiri dari 30 jilid, masing-masing jilid tebal dan masif, kitab karya al-Thabari ini kemudian dicetak  pertama kali pada usia 60 tahun (284H/899 M). Dengan terbitnya tafsir at-Tabari ini, khazanah ilmu tafsir semakin terbuka.

Disebutkan juga bahwa tafsir Ibnu Jarir al-Thabari adalah kitab tafsir pertama dari sekian banyak kitab tafsir pada abad pertama, selain itu juga kondisi kitab-kitab tafsir pada saat itu diketahui telah hilang.

Syekh al-Islam Taqi ad-Din Ahmad bin Taimiyah pernah ditanya, tafsir mana yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah? Dia menjawab bahwa dari semua penjelasan yang kami miliki, komentar dari Muhammad bin Jarir al-Thabari adalah yang paling shahih.

Bahkan seorang pemikir kontemporer Al-Jazair M. Arkoun dalam bukunya Different Readings of the Quran mengatakan bahwa interpretasi al-Thabari telah menerima otoritas yang tak tertandingi di antara Muslim dan maupun kalangan mufasir.

Al-Thabari berhasil menyusun kitab dalam sebuah karya besar yang terdiri dari tiga puluh volume atau jilid, jumlah Akhbar yang mengesankan (bersama dengan berita, cerita, tradisi dan informasi) yang mencakup Timur Tengah Muslim selama tiga abad abad hijriah.

Dokumen  penting  sejarah ini belum menjadi subjek monografi yang akhirnya menggambarkannya sebagai seorang mufasir yang “serakah secara objektif” dengan ketidakpedulian terhadap konten berita yang dia ceritakan atau riwayatkan.

Bentuk dan corak Penafsiran al-Thabari

Tafsir al-Thabari, dikenal sebagai tafsir bi al-ma‘sur, yang  mendasarkan penafsirannya pada riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi saw. para sahabat, tabi‘in, dan tabi‘ al-tabi‘in.

Bahkan  al-Tabri dalam tafsirnya telah mengkompromikan antara riwayat dan dirayat, yang artinya dalam periwayatan ia biasanya tidak memeriksa rantai periwayatannya, meskipun kerap memberikan kritik sanad dengan melakukan ta‘dil dan tarjih tentang hadis-hadis itu sendiri tanpa memberikan paksaan apapun kepada pembaca.

Meski demikian, untuk menentukan makna yang paling tepat terhadap sebuah lafadz, al-Thabari juga menggunakan ra‘yu. Itulah sebabnya, kenapa tafsir-tafsinya dianggap sebagai tafsir Al-Qur’an yang paling otentik oleh sebagian ulama.

Metode Tafsir al-Thabari

Adapun metode yang dipakai oleh al-Thabari untuk menyusun tafsirnya adalah dengan cara berikut;

  • metode tahlili, adalah cara tafsir yang dilakukan secara runtut, kemudian al-Thabari membeberkan makna-makna kata dalam terminologi bahasa Arab disertai struktur linguistiknya, dan (I‘rab) kalau diperlukan.
  • Pada saat tidak menemukan rujukan riwayat dari hadis, ia akan melakukan pemaknaan terhadap kalimat, dan ia kuatkan dengan untaian bait syair dan prosa kuno yang berfungsi sebagai syawahid dan alat penyelidik bagi ketepatan pemahamannya.
  • Dengan langkah- langkah ini, proses tafsir (takwil) pun terjadi. Berhadapan dengan ayat-ayat yang saling berhubungan (munasabah) mau tidak mau al-Thabari harus menggunakan logika (mantiq).

Itu dia riwayat hidup singkat al-Thabari dan juga metode tafsir yang digunakan dalam menafsirkan sebuah ayat atau hadist Nabi.

Berikutnya, dari cara al-Thabari menafsirkan ayat-ayat suci, kita dapat memperoleh inspirasi yang nantinya bisa memompa semangat kita dalam menuntut ilmu. Karena bukan tidak mungkin kita akan menjadi mufasir berikutnya. Wallahua’lam!