Sosok  

Biografi Imam Malik 711-795 M, dan Cerita Cinta Penderitaan Hidupnya

Biografi Imam Malik 711-795 M, dan Cerita Cinta Penderitaan Hidupnya
Biografi Imam Malik 711-795 M, dan Cerita Cinta Penderitaan Hidupnya

Surau.co – Imam Malik adalah imam yang kedua dari empat imam pemimpin Islam, namun dari segi usia, Imam Malik lahir 13 tahun setelah Abu Hanifah (Ahmad Asy-Syurbasi, 1993; 71).

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amir bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Asbahi al-Humairi, beliau adalah Imam Al-Hijrah.

Nenek moyang Imam Malik berasal dari Bani Tamim bin Murrah dari suku Quraisy. Malik adalah saudara dari Utsman bin Ubaidillah At-Taimi, saudara dari Talhah bin Ubaidillah. Ia lahir di Madinah pada tahun 93 H, ia berasal dari keturunan ras Himyar, sebuah jajahan Negara Yaman, (Huzaemah Thido Yanggo, 1997; 103).

Juga menurut Huzaemah Thido Yanggo, ayah Imam Malik adalah Anas Ibn Malik Ibn Abi Amir Ibn Abi Al-Haris Ibn Sa’ad Ibn Auf Ibn Ady Ibn Malik Ibn Jazid.

Nama ibunya adalah Siti Aliyah binti Syuraik Ibn Abdul Rahman Ibn Syuraik Al-Azdiyah. Ada cerita yang mengatakan Imam Malik sudah dalam kandungan  selama 2 tahun, ada pula yang mengatakan sampai 3 tahun.

Imam Malik Ibn Anas lahir pada akhir persahabatan Nabi SAW. di Madinah. Tidak berbeda dengan Abu Hanifah, ia juga seorang ulama kontemporer, ia lahir pada zaman Bani Umayyah, tepatnya pada masa  pemerintahan Al-walid Abdul Malik (setelah Umar bin Abdul Aziz) dan meninggal pada masa pemerintahan Al-walid Abdul Malik (setelah Umar bin Abdul Aziz) Bani Abbas yang agung, tepatnya pada masa pemerintahan Al-Rasyud (179H).

Imam Malik menikah dengan seorang hamba dan melahirkan 3 putra (Muhammad, Hammad dan Yahya) dan satu putri (Fatimah, yang dijuluki Umm al-Mu’minin). Menurut Abu Umar, Fatimah adalah salah satu anaknya yang rajin belajar dan menghafal kitab al-Muwatta.

Riwayat Hidup Imam Malik

Setelah ditinggal oleh orang yang menanggung kehidupannya, Imam Malik harus mampu membayar barang daganganya senilai 400 dinar, yang merupakan warisan dari ayahnya, namun menurut Abdur Rahman Asy-Syarqawi, dalam tulisannya yang berjudul “Sejarah 9 Imam Fiqih,” perhatiannya Hanya fokus pada keilmuan saja, dan dirinya tidak menghiraukan bisnisnya tersebut, hingga akhirnya dia harus mengalami kebangkrutan dan menjadikan kehidupan dirinya dan keluarga semakin terpuruk.

Selama studinya, Imam Malik dikenal sangat sabar, tidak heran ia menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ibn Al-Qasyim pernah berkata: “Penderitaan Malik selama studinya begitu parah sehingga dia terpaksa memotong atap rumahnya dan menjualnya di pasar.

Setelah Imam Malik tidak lagi mampu menghidupi keluarganya, Kecuali dengan mengorbankan tekadnya untuk menuntut ilmu, kemudian sang Imam mulai mendeklarasikan seruan kepada penguasa, sehingga para ahli memiliki jaminan untuk meluangkan waktunya untuk belajar.  

Namun tak  seorang pun pengusaha yang menjawab seruan Imam Malik. Karena negara yang berada dibawah kekuasaan Daulah Umayyah sedang sibuk mengkonsolidasikan dan memperkokoh kekuasaannya ada saat itu, dan kala itu, malah menarik simpati ilmuwan tua, bukan dari kalangan muda.

Akhirnya, secara kebetulan, Imam Malik bertemu dengan seorang pemuda dari Mesir yang juga sedang menuntut ilmu, yang bernama Al-Layts Ibn Sa’ad dan keduanya saling mengagumi kecerdasan masing-masing. Hingga lahirlah semangat persaudaraan atas dasar saling menghormati.  

Meskipun Imam Malik selalu menyembunyikan kemiskinan dan penderitaannya dengan selalu berpakaian bagus, rapi, dan  memakai wewangian, Al-Layts bin Sa’ad mengetahui kondisi yang sebenarnya, maka setelah pulang, Al-Layts mengirimkan hadiah uang kepada sang Imam yang berada di Madinah, dan pada saat itu Khalifah yang berkuasa menerima seruan dari Malik bahwa penguasa akan memberikan gaai atau penghasilan bagi para ulama.

Baca Juga: Biografi Mulana Jalaluddin Rumi 1207, Sufi Persia dan Tarian Cinta Ilahiyat

Pendidikan Imam Malik        

Imam Malik mengenyam pendidikan di kota Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Sulaiman Ibn Abdul Malik dari Bani Umayyah, pada saat itu masih terdapat beberapa golongan Muslim, antara lain para Sahabat Ansar dan Muhajirin.

Pelajaran pertama yang diterimanya adalah Al-Qur’an, cara membacanya, memahami makna dan interpretasinya. Dia juga hafal Al-Qur’an. Selain itu, ia juga mempelajari Hadits Nabi SAW, sehingga ia dinobatkan sebagai ahli hadis.

Sejak usia dini, Imam Malik memperoleh ketenaran sebagai ulama dan guru Islam. Kakeknya, dinamai menurut namanya, adalah seorang ulama hadits terkenal dan dianggap sebagai pendongeng hadits yang hidup sampai 10 tahun darinya. Dan pada saat itu, sang Imam sudah mulai bersekolah, dan setelah dewasa, ia terus belajar.

Imam Malik mempelajari berbagai bidang ilmu  seperti ilmu Hadits, Fatwa Al-Rad al-Ahlil Ahwa, para sahabat dan ahli fiqih Ra’yu (pemikiran). Selain itu, sejak usia dini, ia juga  hafal Al-Qur’an. Ia mampu melakukan ini karena ia selalu mendapat dorongan dari ibunya untuk tetap giat belajar.

Dalam menuntut ilmu, Imam Malik memiliki banyak guru. Dalam kitab Tahdzibul Asma wa Lughat disebutkan bahwa Malik berguru kepada 900 syekh, 300 syekh dari kelompok tabi’in dan 600 lainnya dari kelompok tabi’it tabi’in.

Guru Imam Malik adalah orang-orang yang dia pilih, dan pilihan Imam didasarkan pada ketaatan agamanya, pengetahuannya tentang fikih, dongeng, hal-hal yang bercerita dan ini adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Imam Malik meninggalkan perawi dalam hutang dan berdamai tanpa mengetahui narasi mereka.

Adz-Dzahabi berkata, “Malik pertama kali menuntut ilmu pada tahun 120 Hijriah, yaitu tahun wafatnya Hasan Al-Basri. Malik mengambil hadis dari nafi’ yaitu yang tidak bisa dia tinggalkan dalam riwayatnya.

Pendiri Mazhab Maliki

Mazhab Maliki adalah mazhab kedua dari empat fikih atau mazhab Islam Sunni.

Didirikan oleh Imam Malik bin Annas, Mazhab Maliki diterima oleh sebagian besar umat Islam mayoritas yang tinggal di wilayah Hijaz, terutama Madinah, yang merupakan bagian dari Arab Saudi.

Sekolah ini juga menyebar ke Afrika Utara dan Eropa. Salah satu faktor yang turut mengembangkan mazhab Maliki di Afrika adalah kepemimpinan Al Muid ibn Badis dari Ifrikiya, yang sekarang menjadi bagian dari Tunisia.

Saat itu, Muizz memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mazhab Maliki. Sementara itu, siswa dari Mesir juga telah diminta untuk kembali ke negara asalnya untuk menyebarkan Madzhab Maliki.

Guru-Guru yang Imam Malik

1. Abu Radih Nafi Bin Abd Al-Rahaman

Dalam bidang al-Qur’an, Imam Malik belajar membaca dan mengghafal al-Qur’an sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu tajwid yang baku dari ulma yang terkenal, Abu Radih Nafi Bin Abd Al-Rahaman yang sangat terkenal dalam bidang ini hingga masa sekarang.

2. Nafi’

Nafi’ merupakan seorang ulam hadts yang besar pada masa awal kehidupan ima malik. Nafi’ mempelajari ini dari gurunya yang mashur ( Abdullah ibn Umar) karena Nafi” pada mulanya adalah seorang budak yang dimerdekakannya setelah 30 tahun melayaninya. Orang yang mengetahui kedudukan Abdullah ibn Umar dalam khasanah hadts niscaya akan memahami betapa beruntungnya Nafi’ dapat belajar dari tokoh yang sedemikian besar.

3. Rabiah bin Abdul Rahman (Rabiah al-Ray)

Beliau berguru kepadanya ketika masah kecil. Imam Malik banyak mendengarkan hadits-hadits nabi dari belau. Selain itu beliau juga merupakan gurunya dalam bidang hukum islam.

4. Muhammad bin yahya al-Anshari

Belaiu merupakan guru Imam Malik yang lain. Termasuk juga kedalam kelompok tabi’in dia biasa mengajar di masjid Nabawi Madinah.

Sedangkan guru-guru belaiau yang lain adalah ja’far ash-Shadiq, Abu Hazim Salmah bin Nidar, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa’id dan lain-lain.

Murid-Murid Imam Malik

Imam Malik memiliki banyak santri yang cendekiawan, Qodhi Ilyad menyebutkan bahwa lebih dari 1000 ulama terkenal adalah murid sang ulama ternama itu, di antaranya: Muhammad bin Nuskim al-Auhri, Rabi’ah bin Abdurrahman, Yahya bin zsaid al-Anshori, Muhammad bin Ajlal, Salim bin Abi Umayah, Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Ziab, Abdul Malik bin Juraih, Muhammad bin Ishaq dan Sulaiman bin Mahram al-Amasi.  

Imam Malik terkenal karena ketaatannya yang  kuat terhadap As-Sunnah, praktik penduduk Madinah, al-Mashali al-Mursalah, pendapat para sahabatnya (qaul sahabi) apakah sanad itu sah  dan al-istihsan. Beberapa santrinya berasal dari Mesir, Afrika Utara dan Spanyol. Tujuh orang paling terkenal di Mesri adalah:

1. Abu Abdullah, Abdurrahman ibnuk Qasim (meninggal di mesir pada tahun 191 H)

Dia belajar ilmu fiqih dari Imam Malik selama 20 tahun dan al- Laits bin Sa’ad seorang ahli fiqih Mesir (meninggal tahun 175 H). Abu abdullah adalah seorang mujtahid mutlak. Yahya bin yahya menganggapnya sebagai seseorang yang paling alim tentang ilmu Imam Malik dikalangan sahabatnya, dan orang yang paling amanah terhadap ilmunya.

2. Abu Muhammad, Abdullah bin Wahb bin Muslim (dilahirkan pada tahun 125 H dan meninggal tahun 197)

Dia belajar dari Imam Malik selama 20 tahun, Setelah itu, dia mengembang madzhab Maliki di Mesir. Dia telah melakukan usaha yang serius untuk membukukan madzhab Maliki. Ia pernah menulis surat kepadanya dengan menyebut gelar “Fiqih Mesir” dan “abu Muhammad al-Mufti”. Dai juga pernah belajar ilmu fiqih dari al-Laits bin Sa’ad. Dia juga seorang ahli hadits yang dipercaya dan mendapat julukan “Diwan Ilmu”.

3. Asyhab bin Abdul Aziz al-Qaisi,

dilahirkan pada tahun yang sama dengan imam syafi’i, yaitu pada tahun 150 H, dan meninggal pada tahun 204 H. Kelahirannya terpaut sebilan belas hari setelah imam Syafi’i lahir. Dai telah mempelajari ilmu fiqih dari Imam Malik dan al-Laits bin Sa’ad.

4. Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam, Meninggal pada tahun 214

Guru-guru beliau yang juga meriwayatkan dari Imam Malik, diantaranya;

  • Muhammad bin Muslim bin Syihab Az Zahrani
  • Yahya bin SA’id Al Anshari
  • Paman beliau, Abu Sahl Nafi’ bin Malik

Dari kalangan teman sejawat beliau adalah;

  • Ma’mar bin Rasyid
  • Abdul Malik bin Juraij
  • Imam Abu Hanifah, An Nu’man bin Tsabit
  • Syu’bah bin al Hajaj
  • Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri
  • Al Laits bin Sa’d

Karya Imam Malik

Diantara karya-karya beliau antara lain;

  • Risalah Ila Ibn Wahb fi al-Qadr,
  • Kitab An-Nujum,
  • risalah fi al-Aqdhiyah,
  • tafsir li Gharib Alquran,
  • risalah Ila Lais bin Sa’ad,
  • Kitab Syiar,
  • Kitab al-Manasik,
  • Risalah Ila Abu Hasan, dan
  • Kitab al-Muwaththa’

Itulah dia biografi Imam Malik yang merupakan salah satu imam mazhab ke dua dari empat mazhab fiqih. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang selalu diberkahi olehnya. Amiin!