Sya'ir Abdullah bin Rawahah Mengobarkan Semangat Jihad Para Tentara Muslim | Surau

Sya’ir Abdullah bin Rawahah Mengobarkan Semangat Jihad Para Tentara Muslim

Deal Score0

Abdullah bin Rawahah adalah sahabat Nabi yang mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Saat Perang Mu’tah melawan balatentara Romawi, Ibnu Rawahah berdiri di depan barisan pasukan muslim. Ia berdiri dalam keadaan siap bersama pasukkan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya;

“Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang setan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan mati syahid di medan perang…!!”

Balatentara Islam maju ke medan perang muktah. Orang-orang Islam dapat melihat musuh dari kejauhan telah dan memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar 200.000 orang. Barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya.

Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam. Di antara mereka ada yang menyeletuk:

“Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi”.

Namun Ibnu Rawahah bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berkata:

“Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan kekuatan atau banyaknya jumlah. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena mempertahankan agama kita yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah. Ayohlah kita maju! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai; kemenangan atau syahid di jalan Allah!”

Dengan bersorak-sorai kaum muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: “Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah!”

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000. Kedua pasukan itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.

Pasukan Islam awalnya dipimpin oleh Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang Mu’tah. Namun Zaid gugur sebagai syahid, kemudian digantikan oleh oleh Ja’far bin Abi Thalib sebagai panglima perang kedua. Ja’far menyusul Zaid sebagai seorang yang mati syahid.

Setelah kedua panglima tersebut wafat, Abdullah bin Rahawah meraih panji perang dari tangan Ja’far dan terus memimpin pasukan dan menerjang barisan tentara musuh. Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, Ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan peduli. Ia membangkitkan seluruh semangat dan kekuatannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:
“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada)

Abdullah bin Rahawah akhirnya gugur juga dalam pertempuran Mu’tah. Posisinya sebagai panglima perang kemudian digantikan oleh Khalid bin Walid atas persetujuan seluruh anggota pasukan dalam pertempuran Mu’tah.

Nabi Muhammad yang mendengar kabar kematian tiga panglima perang dalam perang Mu’tah merasa sangat sedih hingga air mata beliau jatuh yang disebabkan rasa duka dan belas kasihan. Seraya memandang berkeliling ke wajah para sahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata:

“Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula. Beliau berdiam sebentar, lalu diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia-pun syahid pula”.

Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula: “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga.”

Baca juga: Abdullah bin Rawahah; Sosok Penyair Islam yang Jujur

Surau
Logo
Register New Account
Reset Password
Shopping cart