Safinah, Abu Bukhturi Maula Rasulullah Diselamatkan Seekor Singa Hutan

Surau.co – Safinah, Abu Abdurrahman atau dikenal juga Abu Bukhturi maula Rasulullah pada awalnya merupakan budak dari Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW yang kemudian ia dimerdekakan dengan syarat menjadi pembantu Rasulullah SAW dalam hidupnya. Safinah lahir di Arab, namun nasab keturunannya dari kalangan bangsa Persia.

Safinah menuturkan, “Nama asliku adalah Qoys kemudian Rasulullah menggantinya dengan Safinah.”

Ada yang bertanya, ‘Mengapa Anda dinamai Safinah (bahasa Indonesia: kapal)?’

Sahabat Rasulullah SAW ini pun menceritakan, “Suatu hari, Rasulullah berpergian bersama beberapa orang sahabatnya, dan mereka pun merasa keberatan membawa barang-barang mereka, lalu beliau berkata kepadaku ‘Bentangkanlah kainmu!’ Aku pun membentangkannya sesuai permintaan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menaruh barang-barang tersebut di kainku itu lalu membawakannya kepadaku sambil bersabda, ‘Bawalah! Sesungguhnya engkau adalah sebuah kapal.’ Lalu aku mengatakan, ‘Sekarang, apabila aku memikul (barang bawaan) seekor onta, dua ekor atau bahkan lima sampai enam ekor onta, aku tidak merasakan itu beban yang berat.” (HR. Hakim dalam Mustadrak-nya, 3: 701).

Safinah, seorang budak wanita pernah mengabdikan dirinya pada keluarga Rasulullah SAW. Ia membantu pekerjaan rumah dari menumbuk gandum, membuat roti, memasak, dan lain sebagainya. Meski berstatus budak, ia dianggap seperti keluarga sendiri. Karena itulah Safinah bahagia dapat melayani Rasulullah SAW dan keluarganya.

Bahkan, meski ia telah dibebaskan Rasulullah SAW dari statusnya sebagai budak, Safinah enggan dikenal orang kecuali sebagai budak Rasulullah SAW. Ia mengenalkan dirinya sebagai Safinah Maula Rasulullah, yakni bekas budak Rasulullah SAW. Kemana pun Safinah pergi, ia selalu menyebut dirinya Maula Rasulullah dengan bangga.

Diselamatkan Si Raja Hutan

Suatu hari, Safinah pergi ke kawasan pantai. Ia kemudian menumpang sebuah perahu. Diarunginya lautan tanpa menduga sebuah bencana ada di hadapannya. Tiba-tiba perahu yang ditumpanginya pecah terhempas ombak. Penumpangnya berhamburan ke lautan. Ada yang tenggelam, ada yang selamat. Safinah adalah salah satu penumpang selamat.

Saat perahu yang ditumpanginya pecah, Safinah sempat tenggelam. Namun dengan cekatan ia segera mengambil salah satu papan perahu yang pecah tersebut. Ia pun terapung-apung di atas papan kayu itu. Seorang diri, Safinah terapung di lautan. Ia hanya bisa pasrah mengikuti ke mana ombak akan membawanya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya bertawakkal.

Lalu tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Ombak di lautan menjadi sangat ganas. Tubuh Safinah terpelanting mengikuti arah angin. Tak terbayangkan bagaimana wanita itu bertahan hidup seorang diri di tengah lautan.

Allah SWT lah yang Maha Menyelamatkan. Ternyata angin itu justru membawa tubuh Safinah ke daratan. Safinah mendarat di sebuah pulau yang berisi hutan belantara. Ia pun memasuki hutan itu dengan keberaniannya.

Safinah merasa aman berada di dalam hutan. Ia tak lagi terombang-ambing di lautan. Ia terus menelusuri hutan itu mencari jalan keluar. Berharap ada sebuah kampung di balik hutan belantara yang lebat itu.

Namun Safinah terus berjalan dan berjalan. Ia tersesat tak menemukan jalan keluar. Alih-alih keluar dari hutan, Safinah justru bertemu dengan seekor singa. Sang raja hutan menghampiri Safinah hendak menerkam.

Namun Safinah ternyata sosok wanita yang sangat pemberani. Ia tahu semua hewan adalah hamba Allah SWT dan menghormati Rasulullah SAW. Ia pun menyeru kepada ‘Abu Haris’, julukan bangsa Arab untuk si raja hutan.

“Wahai Abu Haris, aku ini maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” kata Safinah.

Ternyata singa itu mengerti ucapan Safinah. Ia mengangguk-angguk lalu menahan diri dari menerkam Safinah. Namun singa itu tetap mendekat, bukan untuk melahap Safinah, melainkan ingin mengantar sang maula Rasulullah.

Dengan bahunya, singa itu mendorong-dorong tubuh Safinah. Ia ingin Safinah melalui suatu jalan yang ternyata adalah jalan keluar dari hutan. Singa itu mengantar Safinah hingga ke pinggir sebuah jalan menuju pemukiman.

Setelah mengantar Safinah, singa itu pun mengaum lalu kembali memasuki hutan. Safinah memaknai auman itu sebagai ucapan selamat tinggal dari si singa. Safinah begitu takjub, senang, sekaligus bersyukur atas kekuasaan dan rahmat Allah SWT.

Safinah pun selamat dari perjalanan yang sangat melelahkan lagi membahayakan itu. Saat kembali, ia senang mengisahkan pengalaman ajaibnya. Yakni pengalaman diselamatkan singa karena statusnya sebagai maula Rasulullah. Bahkan seekor singa pun menghormati dan menyayangi Rasulullah SAW, keluarganya, shahabatnya, bahkan maulanya.

Berikut cerita dari lisan Safinah yang termaktub dalam Kitab Al Isti’ab, “Ketika itu, aku menumpang perahu, tak kusangka perahuku pecah. Aku menyelamatkan diri dengan menaiki salah satu papan perahu itu. Tiba-tiba, angin kencang melemparkanku hingga aku berada dalam hutan yang dihuni seekor singa. Singa tersebut menghampiriku, maka aku berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Haris, aku ini maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.‘

Kemudian kepalanya mengangguk. Dia mendekatiku lalu mendorong-dorongku dengan bahunya hingga keluar hutan. Aku diantarkan sampai ke pinggir sebuah jalan. Setelah itu, singa tersebut mengaum. Sepengetahuanku, ia mengucapkan selamat tinggal. Demikianlah akhir pertemuanku dengan seekor singa.”

Safinah meriwayatkan beberapa hadits, salah satunya adalah hadits yang diriwayatkannya dari Ummu Salamah. Ummu Salamah mengatakan, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah musibah menimpa seorang hamba, lalu ia mengatakan

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اَللّهُمَّ آجِرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَاخْلِفْنِيْ خَيْرًا مِنْهَا

‘Sesungguhnya kami ini milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah balasan pahala atas musibahku ini (karena aku bersabar pen.), lalu gantilah dengan yang lebih baik.’

Pasti Allah SWT akan memberinya pahala dengan kesabarannya terhadap musibah tersebut dan mengganti kehilangannya dengan sesuatu yang lebih baik. Ummu Salamah melanjutkan, “Pada saat Abu Salamah (suamiku) wafat, aku berpikir, siapa lagi yang lebih baik dari Abu Salamah, namun Allah SWT menegarkan hatiku untuk mengucapkan,

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اَللّهُمَّ آجِرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَاخْلِفْنِيْ خَيْرًا مِنْهَا

Allah SWT pun menikahkan aku dengan Rasulullah SAW sebagai ganti suamiku.

Safinah wafat di zaman Hajjaj bin Yusuf memerintah kota Madinah.

Baca juga: Duel Abu Dujanah dalam Perang Uhud

Surau.co
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart