Sosok  

Riwayat Hidup Utsman Bin Affan 573 M, Keistimewaan, Masa Kejayaan, Hingga Pengumpulan Mushaf Utsmaniyah 

Riwayat Hidup Utsman Bin Affan 573 M, Kestimewaan, Masa Kejayaan, Hingga Pengumpulan Mushaf Utsmaniyah 
Riwayat Hidup Utsman Bin Affan 573 M, Kestimewaan, Masa Kejayaan, Hingga Pengumpulan Mushaf Utsmaniyah 

Surau.co – Nama lengkap Utsman bin Affan adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan.

Ia dilahirkan di Makkah, tepatnya pada tahun kelima setelah Tahun Gajah 573 M. Sementara nama Kuyahnya adalah Abu Amr dan Ani Abdullah, ak-Quraish al-Umawi, Amirul Mu’minin dzun nurain, yang telah hijrah dua kali dan merupakan suami dari dua putri Nabi Muhammad SAW.  

Nama ibunya adalah Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah bin Hubaib bin Abdusy Syams, dan nama nenek dari pihak ayah adalah Umm Hakim al-Baidha binti Abdul Muththalib, bibi kandung Nabi.  

Dia adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang diyakini telah masuk surga dan salah satu dari enam anggota Syura serta salah satu dari tiga calon Khalifa dan akhirnya terpilih sebagai khalifah dengan kesepakatan Muhajirin dan Ansar.  

Selain itu, menurut buku yang ditulis oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir, Perjalanan Hidup Empat Nabi Besar Khalifah, Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga dan salah satu penguasa yang menerima petunjuk yang harus kita ikuti jejak mereka.  

Dia adalah pria yang tampan dan lembut, dengan janggut tebal, perawakan sedang, dengan rambut tebal, mulut yang indah, kulit kecokelatan.

Dikatakan bahwa dia memiliki noda cacar di wajahnya. D’az-Zuhri berkata: “Dia (Utsman) memiliki wajah yang tampan, mulut yang indah, bahu persegi, dahi yang lebar dan  kaki yang lebar. Dia memiliki akhlak yang mulia, sangat pemalu, dermawan dan terhormat.

Dia mengutamakan keluarga dan cintanya yang sedang berjalan di jalan Tuhan, sebagai bentuk menjinakkan hati mereka dengan harta fana dunia, dengan harapan hal ini dapat mendorong mereka untuk memprioritaskan ‘keabadian dalam kaitannya dengan manusia, seperti yang dilakukan Nabi, di mana ia kadang-kadang memberikan barang kepada satu ras dan bukan kepada ras lain, karena takut Tuhan akan mengirim mereka ke neraka.

Dia masuk Islam atas undangan Abu Bakar dan menjadi salah satu teman dekat Nabi. Dia sangat kaya tetapi bertindak sederhana dan sebagian besar kekayaannya digunakan untuk tujuan Islam.

Dia dijuluki sebagai zun nurain, yaitu, satu dengan dua cahaya, karena dia telah menikah berturut-turut dua putri Nabi setelah kematian satu. Dia juga merasakan penderiaan yang dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap Muslim Mekah dan bermigrasi ke Abenasia dan istrinya. Selain itu, Ustman memiliki sifat perangai dan sangat pemalu.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Rasulullah bersabda :

“Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah berbaring di rumahku dalam keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau, kemudian Abu Bakar meminta izin menemui beliau, beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau masih dalam keadaan masih terbaring.

Lalu Abu Bakar berbincang dengan beliau, kemudian Umar datang meminta izin untuk masuk, beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau tetap demikian keadaannya, mereka pun berbincang-bincang.

Kemudian Utsman bin Affan datang minta izin untuk menemui beliau, beliau pun langsung duduk dan membenahi pakaiannya, Utsman pun masuk dan berbincang-bincang.

Ketika Utsman pulang, Aisyah bertanya: “Abu Bakar masuk menemuimu, namun engkau tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya, begitu pula Umar masuk menemuimu, engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya pula, kemudian ketika Utsman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu!” Rasulullah menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?”. (HR. Muslim: 6362)

Maka jelaslah bahwa Utsman bin Affan R.A. begitu berhiaskan rasa malu sehingga rasa malu ini lahir dari rasa hormat orang-orang yang melihatnya yang  sangat ia kagumi selain kekurangan yang ia rasakan pada dirinya sendiri, seolah-olah  Utsman dikalahkan olehnya. kekaguman dan rasa hormatnya.

Ya Tuhan, dan melihat diri mereka dengan tatapan hina dan celaan itulah yang menjadi ciri khas hamba-hamba yang mendekati Tuhannya, bahkan para malaikat pun malu kepadanya, maka Nabi SAW pun malu kepada Utsman bin Affan dan saat itu ia menutupi pahanya. dan segera menanggalkan pakaiannya ketika usman datang menemuinya.

Keistimewaan Khalifah Utsman bin Affan r.a

Setiap khlaifah memiliki masa kejayaannya masing-masing, dan hal itu tergantung situasi yang dia hadapi selama masa jabatan kepemimpinannya. Dalam hal ini, salah satu keistimewaan khalifah Utsman bin Affan diantaranya adalah sebagai berikut.

Utsman Bin Affan adalah Penduduk Surga

Abu Musa al-Ashary menceritakan bahwa Rasulullah (SAW) memasuki sebuah taman dan memerintahkan saya untuk menjaga pintu gerbang taman. Jadi seorang pria datang untuk meminta izin untuk masuk, dia berkata, “Biarkan dia masuk dan katakan padanya dia telah masuk Surga.” Ternyata pria itu adalah Abu Bakar.

Kemudian seorang pria lain datang dan meminta izin untuk masuk, dan dia berkata, “Biarkan dia masuk, lalu katakan padanya dia telah masuk surga.” Pria tersebut ternyata adalah Umar bin Khaththab.

Kemudian datanglah seorang laki-laki meminta izin untuk masuk, dia terdiam beberapa saat lalu berkata: “Biarkan dia masuk dan katakan padanya bahwa dia telah masuk Surga dengan cobaan yang menghadangnya.” Pria tersebut ternyata adalah Utsman bin Affan.

Hammad berkata: Setelah memberitahu kami Ashim al-Ahwal dan Ali bin al-Hakam, keduanya mendengar bahwa Abu Utsman al-Hindy meriwayatkan dari Abu Musa sebagai hadits dan Ashim menambahkan bahwa Nabi SAW sedang duduk di tempat dengan air memperlihatkan betisnya. – atau lutut – ketika Utsman bin Affan keluar, melangkah masuk, dia menutupi lututnya.

Kabar Gembira Bahwa Beliau Mati Syahid

Diriwayatkan dari Qatadah bahwa Anas bin Malik berkata, “Rasulullah SAW memanjat gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman lantas gunung tersebut bergetar. Beliau bersabda: “Tenanglah wahai Uhud! -aku perkirakan beliau menghentakkan kakinya- tidak ada siapa-siapa di atasmu melainkan hanya seorang Nabi, Ash-Shiddiq dan dua orang syahid.“

Tingkat Keistimewaan Beliau, diriwayatkan dari Ibnu Umar berkata, “Pada zaman Rasulullah SAW kami tidak menyamakan Abu Bakar dengan sahabat yang lain kemudian Umar dan kemudian Utsman bin Affan. Setelah itu kami tidak mengistimewakan antara satu sahabat dengan sahabat yang lain.”

Persaksian Ibnu Umar tentang Keistimewaan Utsman bin Affan dan Pembelaannya Terhadap Beliau, Diriwayatkan dari Utsman bin Mauhab ia berkata, “Seorang lelaki datang dari Mesir untuk melaksanakan haji, lantas ia melihat suatu kaum sedang duduk-duduk, ia bertanya, “Siapa mereka?‟ Mereka mengatakan, “Mereka adalah kaum Quraisy.”

Ia bertanya lagi, “Siapa yang paling alim di antara mereka?‟

Mereka jawab, “Abdullah bin Umar”

Kemudian ia berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, aku ingin bertanya sesuatu kepada anda maka tolong dijawab! Apakah anda tahu bahwa Utsman lari meninggalkan pasukan pada perang Uhud?‟

Ibnu Umar menjawab, “Benar.”

Ia kembali bertanya, “Apakah anda tahu bahwa ia tidak ikut dalam perang Badar?‟

Ibnu Umar menjawab, “Benar.”

Ia kembali bertanya, “Apakah anda tahu bahwa ia tidak ikut pada Bai’at Ridhwan?‟

Ibnu Umar menjawab “Benar.”

Lelaki itu berkata, “Allahu Akbar.”

Ibnu Umar berkata, “Kemarilah aku akan jelaskan kepadamu tentang permasalahan tersebut.”

Adapun mengenai larinya beliau dari perang Uhud sesungguhnya ia telah mendapat ampunan dari Allah, ia tidak dapat ikut serta dalam perang Badar karena ia sedang disibukkan mengurus istri beliau yakni putri Rasulullah yang sedang sakit dan Rasulullah bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau mendapatkan pahala seorang yang ikut serta dalam perang Badar dan engkau juga mendapatkan bagian pada harta rampasannya.”  

Adapun ketidak ikut sertaan beliau pada Bai’at Ridhwan, kalaulah sekiranya ada seorang yang lebih terhormat di Kota Makkah selain Utsman, tentunya Rasulullah akan menggantikan Utsman bin Affan dengan orang tersebut.  

Namun Rasulullah tetap mengirimkan Utsman bin Affan ke Makkah dan Bai‟at Ridhwan terjadi setelah kepergian Utsman ke Makkah, Rasulullah mengisyaratkan dengan tangan kanannya seraya bersabda, “Ini adalah tangan Utsman.” Lantas menepukkannya dengan tangan beliau dan bersabda, “Ini adalah bai’at Utsman.” Ibnu Umar berkata kepada lelaki itu, “Nah bawalah berita ini karena sekarang engkau sudah tahu.”

Baca Juga: Riwayat Hidup Umar bin Khattab 585 M, Tokoh Dibalik Layar Kesuksesan Islam

Proses Pengangkatan Kekhalifahan Utsman Bin Affan R.A

Beberapa hari sebelum kematian Khalifah Umar bin Khattab setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah. Beliau menunjuk enam orang calon untuk bakal menjadi sebagai kepala negara yang diajukan kepada majelis Syura. Enam calon tersebut adalah:

  • Utsman bin Affan
  • Ali bin Abi Thalib
  • Thalahah bin Ubaidillah
  • Zubair bin Awwam
  • Sa’ad bin Abi Waqqash
  • Abdur Rahman bin Auf
  • Dan Abdullah bin Umar bin Khattab anak umar sendiri.

Namun Umar menyiratkan bahwa Abdullah bin Umar hanya berhak memilih untuk tidak menjadi calon khalifah. Khalifah Umar berusaha menjauhkan pemimpin khilafah ini dari anak-anaknya agar tidak diwariskan sebagai pusaka kerajaan dari generasi ke generasi.

Selain itu, Umar berpesan agar para pemimpin masjid diserahkan kepada Suhaib al-Rumi, selama tiga hari dan pada hari keempat terpilih raja ketiga. Inilah pesan Umar bin Khattab. Ternyata saat itu terjadi persaingan dan adu mulut di antara mereka, namun hal ini ditepis oleh Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf berkata: “Siapa di antara kamu yang telah mengundurkan diri dari pencalonan khalifah dan siap untuk tunduk kepada seseorang yang lebih penting darimu?” Saat itu, tidak ada yang berani menjawab. Sebagaimana Abdurrahman bin Auf berkata: “Saya dibebaskan dari berdiri untuk khilafah.” Peserta rapat kemudian mendukung pernyataan Abdurrahman.  

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir bahwa pertemuan di kediaman al-Musawwir menghasilkan tiga calon, dimana ketiganya menyerahkan hak pilih untuk tiga orang lainnya. Menjelang subuh, orang-orang telah berkumpul di masjid dari kelompok Muhajirin dan Ansar.

Pertama, Abdurrahman bin Auf memanggil dua calon Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan dengan mengucapkan kata-kata yang mirip dengan ini; “berjanjilah kepadanya bahwa Anda akan benar-benar bertindak berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rumah Nabi Muhammad dan pada langkah-langkah yang telah ditetapkan. diambil alih oleh dua khalifah sebelumnya. Ali menjawab, “Saya harap saya akan bertindak sesuai dengan pengetahuan dan kekuatan saya.”

Kedua, Abdurrahman memanggil Utsman bin Affan dan memberikan pertanyaan yang sama kepada Utsman. Utsman menjawab: “Ya.” Lalu Abdurrahman membaiat Utsman bin Affan. Dengan demikian Utsman bin Affan terpilih menjadi Khalifah ke tiga.

Ia terpilih pada bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriah dan menjabat sebagai khalifah sejak bulan Muharram 24 H. Namun berdasarkan musyawarah Majelis Syura, mereka sepakat untuk memilih Utsman bin Affan pada tanggal 3 Muharram 24 H dan membacakan ayat tersebut setelah salat Zuhur dan Utsman menjadi yang pertama menjadi Imam shalat Ashar.

Setelah shalat, Ia kemudian berkhutbah; “Ketahuilah bahwa dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu. Jangan terbawa. Jangan biarkan penipuan ini membuatmu melupakan Tuhan. Belajarlah dari peristiwa masa lalu, lalu anggap serius dan jangan asal-asalan. Sungguh, Tuhan tidak pernah mengabaikanmu. Apakah manusia hidup dan menikmati hidup di dunia ini abadi? usir dunia ini, seperti yang diperintahkan, dapatkan kebahagiaan akhirat. (Utsman kemudian mengutip sebuah ayat dalam Al-Qur’an (al-Kahfi, 18:45) yang mengatakan bahwa kehidupan dunia seperti air hujan yang jatuh dari langit. Dengan jumlah air ini, pohon-pohon tumbuh besar. pohon-pohon layu tertiup angin).

Khutbah ini, tidak seperti dua khalifa sebelumnya, Utsman bin Affan tidak mengungkapkan visi politik yang jelas dalam menjalankan pemerintahannya, melainkan merupakan sebuah nasihat orang tua untuk anak-anaknya.

Masa Kejayaan Khalifah Utsman bin Affan R.A

Diantara kejayaan dari kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan adalah perluasan wilayah, pelebaran Masjid Nabawi, pendirian angkatan laut, hingga pengumpulan Mushaf. Berikut uraian terkait kejayaan dari Khalifah Ustman bin Affan.

Perluasan Wilayah          

Sepeninggal Khalifah Umar bin Khattab di Rahmatullah, ada daerah-daerah yang membelot ke pemerintahan Islam. Pembelotan tersebut dilatarbelakangi oleh para pendukung pemerintahan lama (pemerintah sebelum daerah tersebut masuk kekuasaan Islam) yang ingin memulihkan kekuasaannya.

Begitu pula Kaisar Yazdigard, yang mencoba menghasut Persia untuk berperang melawan penguasa Muslim. Namun, dengan kekuatannya, pemerintah Islam membasmi pemberontakan dan terus meluas ke negara-negara Persia lainnya, sedemikian rupa sehingga sejumlah kota besar seperti Hisrof, Kabul, Gasna, Balkh dan Turkistan telah jatuh ke wilayah Muslim.

Penyusupan kekuasaan Muslim meliputi: Barqoh, Tripoli Barat, bagian selatan negara Nubah, Armenia dan sebagian Tabaristan bahkan tentara Muslim menyeberangi Sungai Jihun (Amu Daria), negara Balkh (Amu Daria) Baktria), Hara, Kabul dan Gzaznah di Turkestan.  

Dengan demikian, enam tahun pertama pemerintahan Utsman bin Affan ditandai dengan perluasan kekuasaan Islam. Ekspansi dan perkembangan Islam pada masa pemerintahannya mencapai seluruh bagian Persia, Tebristan, Azerbaijan dan Armenia, kemudian menyebar ke Asia Kecil dan negara Siprus, serta Rhodes dan Trasoxania. Untuk melindungi pasukan Muslim, orang-orang Asia Kecil dan Siprus dan lainnya dengan rela membayar upeti seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya selama pemerintahan Romawi di wilayah tersebut.

Pelebaran Masjid Nabawi

Bentuk Masjid Nabawi pada zaman Nabi Muhammad sangat sederhana, alasnya bata, atapnya ilalang dengan daun lontar, tiang-tiangnya dari kayu lontar. Abu Bakar dalam pemerintahannya tidak menambahkan apapun ke Masjid Nabawi. Kemudian di bawah Khalifah Umar bin Khattab dipugar dan direnovasi kembali, namun gaya bangunannya tetap sama.  

Setelah Utsman bin Affan naik tahta, oleh Ahmad Abdul A’la ath-Thahthawi, dalam bukunya yang berjudul “the Great Leaders Kisah Khulafaur Rasyidin,” ia kemudian memperluas dan membangun masjid model baru. Dinding masjid terbuat dari batu berukir dan perak, begitu pula tiang-tiangnya. Atapnya terbuat dari kayu jati. Hanya saja gerbangnya tetap sama seperti pada masa Umar, tanpa ada tambahan apapun, yaitu  enam gerbang.

Pendirian Militer Angkatan Laut

Perkembangan angkatan laut dimulai dengan rencana Khalifah Ustman untuk mengirim pasukan ke Afrika, Mesir, Siprus dan Konstantinopel di Siprus. Untuk mencapai wilayah ini harus melalui jalur laut, oleh karena itu berdasarkan usulan para gubernur daerah, Ustman juga menyetujui pembentukan armada laut yang lengkap dengan personel dan fasilitasnya.

dalam buku Sejarah dan Kebudayaan Islam yang ditulis oleh A.Syalabi, 1995, dsiebutkan bahwa, Pada saat ini, Muawiyah, gubernur Syria, sedang menghadapi serangan oleh angkatan laut Romawi di daerah pesisir provinsinya. Maka dia mengirim permintaan kepada Khalifah Utsman bin Affan untuk membangun angkatan laut dan diberi izin oleh Khalifah.

Sejak saat itu, Muawiyah berhasil menginvasi Roma. Untuk pembangunan armada sendiri, Muawiyah tidak membutuhkan tenaga asing sama sekali, karena Koptik, seperti Punisia Levant, sibuk menyediakan diri untuk membangun dan memperkuat armada. Ini adalah pembangunan armada pertama dalam sejarah dunia Muslim.

Pengumpulan Mushaf Utsmaniyah  

Penyebaran Islam dan orang-orang penghafal Al-Qur’an tersebar di berbagai daerah, sehingga perbedaan bacaan yang terjadi karena perbedaan antara qiro at dan qori’yang meraka tangkap pun bermacam-macam.  

Beberapa Muslim senang dengan perbedaan berdasarkan Rasulullah SAW. Namun keadaan seperti itu tidak berarti tidak menimbulkan kecurigaan pada generasi penerus yang belum bertemu langsung dengan Rasulullah.  

Jadi Utsman bin Affan mengirim surat kepada Hafsah yang mengatakan, kirimkan lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an kepada kami, kami akan menyalinnya sebagai manuskrip dan setelah selesai kami akan mengirimkannya kembali kepada Anda. Kemudian Hafsah mengirimnya ke Ustman.

Utsman memerintahkan para sahabatnya: Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Zubair, Sa’ad Ibn Al-‘Ash dan Abdurahman Ibn Harist Ibn Hisham untuk menyalin naskah-naskah yang dipinjam. Khalifah Utsman menasihati kaum Quraisy, jika Anda memiliki pendapat yang berbeda tentang Quran maka tulislah dengan kata-kata Quran karena Quran telah diturunkan kepada kaum Quraisy.  

Setelah menyalin beberapa naskah, Khalifah Ustman mengembalikan naskah asli ke Hafsah. Dia kemudian mendistribusikan manuskrip yang disalin ke seluruh wilayah dan memerintahkan semua manuskrip lainnya untuk dibakar. Lima naskah ditulis, empat dikirim ke wilayah Muslim untuk disalin dan diajar, satu disimpan di Madinah untuk Khalifah Ustman sendiri dan naskah ini dikenal sebagai naskah Al-Imam dan dikenal sebagai naskah Utsmaniyah.  

Tahap pengumpulan mushaf ini dengan demikian merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh Khalifah Ustman bin Affan, terutama dengan melanjutkan jejak Khalifah pendahulunya untuk menyusun dan mensistematisasikan ayat-ayat Al-Qur’an dalam sebuah naskah.

Karena pada masa pemerintahan Ustman banyak bacaan dan versi Al-Qur’an di berbagai wilayah Muslim yang disesuaikan dengan bahasa daerah masing-masing. Dengan bantuan Zaid bin Tsabit dan para sahabat lainnya, Khalifah berusaha mengumpulkan ayat-ayat otentik Al-Qur’an dari salinan Kitab Suci yang ditemukan di Siti Hafsah, salah satu istri Nabi telah diuji secara menyeluruh oleh para ahli. dan huffadz dari berbagai suku sebelumnya dikumpulkan bersama.

Dengan begitu maka masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan kemudian ditandai dengan terbentuknya mushaf yang kemudian disebut sebagai Mushaf Utsmany.

Berakhirnya Kekhalifahan Utsman bin Affan

Kufah adalah sumber utama pemberontakan di Kekhalifahan Utsman. Banyak warga yang mengeluhkan pejabat daerah dan pejabat kota. Mereka marah kepada Sa’ad bin Abi Waqqas dan menuduh Walid bin Uqbah meminum minuman keras.

Kemudian Utsman bin Affan mengangkat Sa’id bin al-As, dan ketika dia berada di Kufah, dia mengatakan kepada orang-orang dalam sebuah ceramah bahwa dia ragu untuk mengambil posisi kepemimpinan dan mengatakan bahwa bencana telah menunjukkan bayangannya.

Hal yang sama juga terjadi pada ceramah Utsman kepada penduduk Madinah, yang memberitahu mereka tentang situasi di Kufah dan memperingatkan mereka akan bencana.

Dia menyarankan mereka mentransfer rampasan ke tempat mereka tinggal di negara-negara Arab. Penduduk Madinah menyambut baik tawaran itu dan berkata: bagaimana kami bisa mengalihkan tanah yang telah kami peroleh? “Hijaz, Yaman dan tempat-tempat lain dengan menjualnya jika mereka mau”.

Ada beberapa tokoh yang mengambil kesempatan ini untuk membangkitkan kebencian dalam hati orang di kota-kota itu, di antaranya apa yang telah yang di lakukan Abdullah bin Saba‟ seorang Yahudi dari San‟a di Yaman pada masa Utsman kemudian masuk Islam. Yang mengunjungi sejumlah kota dalam kawasan Islam dengan berusaha membangkitkan kemarahan orang kepada Utsman.  

Smentara di Basra, orang-orang awam terpengaruh oleh panggilan itu. Setelah diketahui oleh Abdullah bin Amir, dia diusir dari kota. Kemudian dia pergi ke Kufah untuk menyiarkan panggilan yang sama. Setelah diusir dari Kufah, dia pergi ke Syam, tetapi Mu’awiyah segera diusir juga.

Kota-kota lain yang mengikuti jejak Kufah menyatakan ketidakpuasan dengan kebijakan Utsman dan para pejabatnya. Pada bulan Rajab tahun 35 H, rombongan besar bangsa Arab di Mesir tiba di Madinah. Mereka menyurati para pendukungnya di beberapa kota meminta mereka datang ke Medina.

Delegasi pemberontak berpura-pura kembali ke rumah mereka sambil menunggu kamp Midiana bubar. Mereka kemudian mengepung rumah Utsman dan mengumumkan bahwa  siapa pun yang mengangkat tangan akan selamat. Warga bahkan tidak keluar rumah.  

Segera setelah itu, para pemberontak menyerang rumah Utsman. Ketika pemberontak menyerang rumah Utsman, anak-anak sahabatnya bertempur dengan sengit. Mereka adalah Hasan bin Ali, Abdullah bin Zubair, Muhammad bin Tallahah, Marwan bin Hakam, Sa’id Ibnu Ash, dan  beberapa lagi yang datang untuk melindungi Utsman. Namun, Utsmanlah yang memanggil mereka dengan firman Allah SWT, “darahmu halal untuk menolongku”. Meski begitu, mereka masih menolak untuk mencari.

Ketika dua putra Usman datang untuk membelanya, dia bahkan melarang mereka melakukan apa pun. Bahkan, dia mengatakan bahwa mereka yang lolos dari  pemberontakan dibebaskan. Utsman berkata dengan tegas dan lagi dan lagi, “Saya telah memutuskan bahwa setiap orang yang masih menganggap saya khalifah dan menaati saya akan mengambil senjatanya.” Jadi dia tidak ingin lebih banyak pertumpahan darah dan bencana karena  dia adalah satu-satunya target.  

Pada detik-detik terakhir kekacauan, empat orang Quraisy terluka. Mereka adalah Hasan bin Ali, Abdullah bin Zubair, Muhammad bin Hathib dan Marwan bin Hakam. Para wali Utsman juga terbunuh. Mereka adalah Mughirah bin Akhnas, Niyar bin Abdullah al-Islami dan Ziyad al-Fahri. Namun Utsman masih mampu membujuk para pembelanya dan meyakinkan mereka untuk meninggalkan rumah, sedemikian rupa sehingga hanya keluarga Utsman yang tinggal di rumah, tanpa wali yang tersisa di dalam.

Utsman bin Affan yang sedang berpuasa hari itu, membuka mushaf dan membacanya. Ketika dia sedang membaca, tiba-tiba seorang pria mengepung rumahnya tetapi tidak jelas dia masuk ke rumahnya. Tetapi ketika dia melihat Utsman membaca Quran, dia berkata, “Antara aku dan kamu, terhalang oleh Al-Qur’an.” Kemudian dia meninggalkan Usman.  

Namun, segera setelah itu, seorang pria dari Bani Sadus yang dijuluki al-Mautul Aswad (Maut Hitam) berhasil masuk, mencekiknya dan membunuhnya dengan pedang. Kemudian laki-laki itu berkata, “Demi Allah, aku belum pernah melihat leher selembut lehernya. Aku mencekiknya hingga aku melihat nafasnya seperti jin yang mengalir di sekujur tubuhnya. Lalu aku mengayunkan pedangku ke arahnya. Namun, tangan Utsman memegang tanganku sampai tangannya patah.

Kemudian Utsman bin Affan berkata, “Demi Allah, tangan ini yang pertama mencatat perkataannya. Allah langsung dari mulut Nabi Muhammad.” Padahal, darah dari tangan yang terpenggal mengalir ke pria di depannya dan jatuh langsung ke dalam firman Allah dalam ayat surat Al-Baqarah: 137:23.

Demikian uraian tentang keluarga Utsman bin Affan r.a, ia diangkat menjadi khalifah ketiga setelah Khalifah Umar bin Khattab r.a, serta puncak kekuasaannya seperti perluasan wilayah, kodifikasi Al-Qur’an yang dikenal sebagai Mushaf Ottoman dan pembentukan armada angkatan laut pertama dalam kisah Islam, hingga akhir hayat Khalifah Utsman bin Affan. Wallahua’lam!