Sosok  

Riwayat Hidup Umar bin Khattab 585 M, Tokoh Dibalik Layar Kesuksesan Islam

Riwayat Hidup Umar bin Khattab 585 M, Tokoh Dibalik Layar Kesuksesan Islam
Riwayat Hidup Umar bin Khattab 585 M, Tokoh Dibalik Layar Kesuksesan Islam

Surau.co – Umar Bin Khattab tidak hanya dikenal sebagai seorang kholifah, melainkan juga merupakan orang penting dalam tumbuh kembangnya agama Islam.

Kita tahu, bahwa Islam datang tidak secara tiba-tiba, akan tetapi butuh ratusan tahun lamanya untuk kemudian bisa diterima dan diyakini oleh umat manusia, khususnya di tanah Arab, kala itu.

Dan kehadiran Umar Bin Khattab dalam Islam tidak hanya menjadi angina segar bagi pemeluk agama Islam, melainkan juga tanda kemajuan dan perkembangan islam hingga saat ini.

Untuk itu, perlu kiranya kita tahu riwayat hidup, kepemimpinan dan juga perkembangan islam setelah masuknya Umar Bin Khattab dalam ulasan berikut ini.

Kelahiran & Nasab Umar bin Khattab

Nama lengkap Umar bin Khattab adalah Umar bin Khattab Ibn Nufail Ibn Abd al-Uzza Ibn Riyah Ibn Qurth Ibn Razah Ibn Adiy Ibn Lu’aiy al-Qurasyiy al-adawiy (Jalaludin as-Suyuthi, 2003). Umar tiga belas tahun lebih muda dari Nabi Muhammad SAW, karena Umar lahir tiga belas tahun setelah Tahun Gajah (tahun kelahiran Nabi Muhammad).  

Umar lahir dari seorang ibu bernama Hantamah binti Hasyim bin Mughiroh bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Sedangkan ayahnya bernama Nufail al-Quraisy, dari suku Bani Aidi (Abdul Wahhab an-Najjar, 1990). Silsilah Umar radhiyallahu anhu bertemu dengan silsilah Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wasallam di Ka’ab Ibn Luay.  

Menurut Encyclopedia of Islam, Volume 2, 1993, Umar berasal dari keluarga terkemuka dari suku Aidiy dan masih termasuk klan Quraisy. Sejak kecil Umar memiliki kecerdasan yang luar biasa, bahkan dengan kecerdasannya Umar bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.

Umar Bin Khattab juga terpilih sebagai duta sukunya selama periode Jahiliyyah. Jika terjadi perselisihan antar suku, Umar yang diutus untuk memisahkan dan mendamaikan. Ini membuktikan bahwa Umar memiliki kecerdasan, keadilan dan kebijaksanaan.

Meskipun nasab dan garis keturunan serta kedudukan umar yang prestisius dalam keluarga, pada masa Kaisar Umar dikenal sebagai seorang yang berwatak bengis dan kejam serta gemar minum-minuman keras. Umar juga menikahi banyak wanita, yang sebagian besar meninggal, dan memiliki banyak anak.  

Beberapa anaknya yang terkenal adalah Abdullah bin Umar dan Ummur Mukminin Hafshah. Anak-anaknya yang lain adalah Fatimah, Ashim, Abdurrahman al-Akbar, Abdurrahman al-Ausath dan Abdurrahman al-Ashghar.

Setelah menjadi Khalifah, Umar juga menikah dengan Umm Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, saudara perempuan Hasan dan Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Biografi Abu Bakar al-Shiddiq 573 M, Khalifah Pertama yang Menjadi Kepercayaan Nabi

Umar bin Khattab Masuk Islam

Sebelum masuk Islam, Umar Bin Khattab lebih dulu dikenal sebagai salah seorang yang paling menentang Nabi Muhammad. Pada tahun keenam kenabian itulah Umar masuk Islam, saat itu, Umar baru berusia 27 tahun.  

Umar mendengar bahwa adiknya Fatimah dan suaminya telah masuk Islam. Saat itu Umar sangat marah, ia langsung mendatangi adiknya. Di rumah saudara perempuannya, Umar marah dan menampar Fatima dan saudara perempuannya.

Dalam kemarahan, Omar melihat sebuah Quran yang, menurut beberapa dokumen, adalah awalan dari Surah Taha. Kemudian Umar membacakan ayat tersebut. Setelah membacanya, Umar merasakan kedamaian di hatinya. Untuk itulah Umar bertemu dengan Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wasallam di rumah al-Arqam yang melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi.  

Ketika Umar sampai di sana, selain Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wasallam, teman-teman di rumah al-Arqam semua ketakutan.  

Dengan tenang dan penuh wibawa, Nabi Muhammad menyambut kedatangan Umar, melihat sikap Nabi, Umar menjadi lemah dan ketakutan. Kemudian Umar diperintahkan oleh Nabi untuk masuk Islam. Omar menerima perintah Nabi, kemudian menyatakan masuk Islam dan mengucapkan dua syahadat.

Masuknya Omar bin Khattab ke dalam Islam memberikan kekuatan yang besar dan berharga untuk dakwah agama Islam. Umar berkontribusi kepada Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wasallam untuk menerapkan ajaran Islam secara terbuka, tidak sembunyi-sembunyi seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wasallam. Sejak itu, Islam telah menyebar secara terbuka.  

Sejak Umar masuk Islam, Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wasallam menjuluki Umar bin Khattab dengan nama “al-Faaruq” yang memiliki arti khusus. Karena dengan Umarlah Allah membedakan antara yang baik dan yang jahat (Muhammad Ali Quthbi, 1993). Umar bin Khattab juga menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wa sallam semasa hidup Nabi Muhammad Shalaullah Alaihi Wasallam.

Umar Bin Khattab Menjadi Khalifah

Setelah sekitar dua tahun Abu Bakar menjadi khalifah dan memipin umat Islam, kemudian Abu Bakar jatuh sakit, kondisi tersebut, membuat Umar khawatir jika tidak segera mengidentifikasi pengganti Abu Bakar sebagai khalifah.

Abu Bakar, kemudian berkonsultasi dengan para sahabat untuk menentukan siapa yang akan menjadi khalifah berikutnya. Abu Bakar memberikan sejumlah kriteria yang harus dimiliki seorang khalifah.  

Berdasarkan semua kriteria tersebut, kemudian para sahabat merasa bajhwa Umar bin Khattab yang paling memenuhi kriteria tersebu, hingga akhirnya dipilih oleh Abu Bakar untuk menggantikannya sebagai Khalifah.

Abu Bakar kemudian mengambil sumpah setia yang termasuk pengangkatan Umar bin Khattab sebagai penggantinya, dan dengan demikian para pengikutnya harus mematuhinya.

Sebagaimana pernyataan Az-Zuhri, bahwa Umar diangkat menjadi Khalifah pada hari kematian Abu Bakar, delapan hari sebelum bulan Jumada al-Akhirah.

Umar bin Khattab menjadi Khalifah selama sepuluh tahun, yaitu pada tahun 634-644 M, atau pada Rabu 25 Dzulhijjah 25 Dzulhijjah, 23 H/644 M.

Kematian Umar bin Khattab terbilang sangat tragis, disebabkan karena ia dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), yang merupakan seorang budak, saat akan memimpin shalat Subuh.  

Fairuz adalah salah satu warga Persia yang masuk Islam setelah Umar menaklukkan Persia. Pembunuhan ini dilatarbelakangi oleh hubungan pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati dengan kekalahan Persia yang saat itu merupakan negara yang kuat (Lukmansyah, Op. Cit, 1993).

Masa Pemerintahan Umar Bin Khattab

Selama Umar Bin Khattab menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar, Umar menghadapi banyak masalah yang menantinya. Seperti perang, dan banyak orang tidak mau membayar zakat dan masalah sosial lainnya. Masalah muncul pada saat itu mengenai keragaman bangsa Arab dan perluasan wilayah Muslim.

Kehidupan ekonomi masyarakat

Masa sebelum Islam dianggap oleh orang-orang Arab sebagai masa ketika ekonomi mereka terbatas. Pertanian, peternakan dan perdagangan merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan pada saat itu, ketiga sektor ekonomi itu menjadi satu-satunya penghidupan masyarakat pada saat itu.

Para memanfaatkan hewan ternak mereka untuk membajak sawah, mengagkut barang serta untuk kebutuhan perdagangan, sehingga menjadikan masyarakat begitu sangat tergantung pada sektor tersebut.

Selain itu, seperti ditulis oleh H. Asmuni Solihan Zamakhsyari “Fikih Ekonomi Umar bin al-Khattab”, 2003, bahwa di negara-negara Arab juga terdapat ekonomi industri selain ketiga industri di atas. Namun, bidang ini sangat lemah dan perannya sangat kecil. Sebagian besar sektor industri ditempati oleh budak dan orang Yahudi. Seperti baja, kayu, tekstil, manufaktur senjata dan industri lainnya.

Munculnya wabah Epidemi di tanah Suriah juga berdampak negatif. Saat itu, ledakan wabah itu memakan banyak korban, sementara orang-orang sibuk sendiri, dan melakukan bisnis, namun akibat wabah itu, mereka akhirnya harus berhenti.

Hal ini berdampak negatif pada perdagangan dari Syam ke Suriah, serta aktivitas perdagangan di Hijaz. Bahkan Hijaz juga terkena dampak kemiskinan dan kelaparan yang disebabkan oleh kekurangan pangan.

Namun, dia tidak menetapkan harga tertentu untuk makanan tersebut, melainkan Umar membawa makanan dari Mesir dan Suriah ke Hijaz. membuat gudang logistik yang berisi tepung, kurma, anggur, zaitun dan lain-lain yang dibutuhkan kaum muslimin, dimana Saad Al-jar menangani bantuan  dari Mesir melalui laut, kemudian menyimpannya di gudang logistik dan didistribusikan kepada mereka.

Pembagian makanan kepada pemegang hak dilakukan secara merata, dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ketika kapal tiba di Al-jar, Umar membagikan makanan kepada orang-orang dan menulis untuk mereka pergi ke Al-jar, di mana mereka keluar dan menerima makanan itu.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka membantu masyarakat yang kala itu terkena dampak krisis yang menyebabkan harga di pasaran semakin mahal.

Kegiatan ini terus dilakukan oleh Umar Bin Khattab agar masyarakat bisa membeli bahan pangan dengan harga yang tetap murah dibanding dari pasar.

Kehidupan moral dan sosial

Masyarakat Arab pra-Islam dikenal dengan nuansa fondasi budaya yang kuat, beberapa di antaranya tergolong sebagai akhlak dan moral yang rusak.

Hal itu kemudian dalam kajian sejarah islam klasik desebut sebagai masyarakat Jahiliyyah, karena ketidaktahuan mereka tentang moralitas dan etika. Secara sosial, masyarakat Arab memiliki beberapa kelas dan hierarki.

Ada orang-orang dari kelas atas yang memandang mereka rendaha dan tidak mau bersatu dengan kelas bawah. Ada juga kelas bawah, yaitu rakyat jelata dan budak. Kelas sosial yang berbeda ini telah menjadi norma dalam masyarakat Arab yang mengkaibatkan kesenjangan sosial diantara mereka.

Masa pemerintahan Umar bin Khattab merupakan masa yang gemilang bagi pertumbuhan dan kemajuan Islam. Meski baru sepuluh tahun Umar menjadi khalifah, Umar bin Khattab telah meraih banyak prestasi meliputi berbagai bidang seperti pemekaran daerah, mengatur penyelenggaraan administrasi negara bidang ekonomi, keamanan, ketertiban umum, dan bidang lainnya.

Karena banyaknya prestasi, bahkan ada yang mengatakan bahwa Omar bin Khattab adalah pendiri Negara Islam. Gelar ini tidak berarti bahwa Umar bin Khattab adalah khalifah pertama, karena Abu Bakar adalah khalifah pertama, setelah Nabi wafat.

Penyebutan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu sebagai pendiri negara Islam tidak dikaitkan dengan pendirian negara dan khilafah. Namun, tujuan utama berdirinya Islam adalah untuk memperkuat iman, bukan hanya untuk memperluas wilayah.  

Selama pemerintahannya, Umar melakukan banyak upaya untuk memperkuat posisi agama Islam. Umar bin Khattab juga dianggap sebagai pelopor dalam legislasi Negara Islam. pembentukan lembaga pemerintah, dewan negara, pengaturan administrasi dan manajemen peradilan, pembentukan lembaga keuangan (al-maal bait) dan lain sebagainya.

Prestasi Umar Bin Khattab

Beberapa prestasi yang diperoleh pada masa Umar bin Khattab oleh Sudarmadji 2003, disebutkan antara lain adalah:

Perluasan wilayah

Selama sepuluh tahun pemerintahan Umar Bin Khattab, banyak penaklukan wilayah teritorial penting dilakukan. Tak lama setelah Umar radhiyallahu anhuma berkuasa sebagai khalifah, pada tahun 14 H Damaskus dikuasai sebagian dengan kesepakatan dan kekuatan, Homs dan Balbalak dikuasai dengan kesepakatan, dan Basrah dan Ubullah bisa dikuasai dengan kuat.

Bidang Kemiliteran

Umar bin Khattab dicatat sejarah sebagai orang yang pertama kali mendirikan kamp-kamp militer yang permanen. Umar mendirikan pos militer di daerah perbatasan. Umar juga mengatur berapa lama seorang suami diperbolehkan pergi berjihad meninggalkan isterinya, yaitu tidak melebihi 4 bulan.

Selain itu, Umar bin Khattab juga orang pertama yang memerintahkan panglima perang untuk menyerahkan laporan secara terperinci mengenai keadaan prajurit.

Umar juga membuat buku khusus untuk mencatat para prajurit dan mengatur secara tertib gaji tetap mereka. Umar juga mengikutsertakan dokter, penerjemah, dan penasihat yang khusus menyertai pasukan.

Meningkatkan administrasi negara

  • Prestasi dalam bidang administrasi negara pada masa Khalifah Umar bisa dilihat dari terbentuknya beberapa departemen-departemen pemerintahan dan beberapa upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja pemerintahan.
  • Departemen logistik, yang bertugas mengatur perbekalan untuk prajurit
  • Pemisahan Yudikatif dengan legislatif dan eksekutif dengan mendirikan lembaga lembaga peradilan di daerah-daerah
  • Pembentukan jawatan kepolisian dan jawatan pekerjaan umum untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum.
  • Pembentukan dua lembaga penasehat, yaitu yang membahas masalah umum dan khusus.
  • Wilayah Negara dibagi menjadi 8 propinsi: Makkah, Madinah, Syiria, Jazirah, basrah, Kufah, palestian, dan Mesir. Masing-masing propinsi dipimpin oleh amir.
  • Mewajibkan para pekerja dan pejabat untuk melaporkan harta benda. Tindakan ini adalah sebagai bentuk pengawasan Umar terhadap pegawainya.
  • Mengadakan administrasi pengukuran tanah dan membatasi jaraknya
  • Membuat sebuah rumah untuk tamu guna menyambut para utusan
  • Membuat tempat peristirahatan di antara negeri- negeri di jalan-jalan.

Bidang Ekonomi

  • Pembentukan Baitul Maal (Bait al-Maal) untuk mengelola keuangan negara.
  • Uang dirham dibuat pecahannya dan ditentukan timbangannya.
  • Menentukan nafkah anak jalanan yang diambil dari Bait al-Maal
  • Kewajiban membayar Jizyahatas Ahlul Kitab disesuai dengan kemampuan ekonomi pribadi. Akan tetapi bagi Ahlul Kitab yang fakir dan lemah, kewajiban itu ditangguhkan.
  • Mengizinkan pemberian hutang kepada siapapun sebagai modal berdagang dari Bait al-Maal
  • Menghilangkan penimbun makanan.
  • Orang yang pertama kali meletakkan dasar-dasar hisbah, yaitu pengawasan terhadap perekonomian, dan pengendalian moral dan pasar.

Itu dia sekilas biografi Umar bin Khattab dalam lintas sejarah dan perkembangan Islam. Lagi-lagi keberanian dan juga tekadnya yang tulus dalam memperjuangkan agama Islam menjadikannya sebagai Khalifah yang senantiasa disegani pada saat itu. Wallahua’lam!