Tak Berkategori  

Biografi Abu Bakar al-Shiddiq 573 M, Khalifah Pertama yang Menjadi Kepercayaan Nabi

Avatar
Google News
Biografi Abu Bakar al-Shiddiq 573 M, Khalifah Pertama yang Menjadi Kepercayaan Nabi
Biografi Abu Bakar al-Shiddiq 573 M, Khalifah Pertama yang Menjadi Kepercayaan Nabi

Surau.co – Abu Bakar al-Siddiq merupakan salah satu sahabat Nabi Mauhammad SAW, yang selama hidupnya selalu mendampingi Rasul dalam memperjuangkan agama Allah.

Selain itu, Ia juga merupakan Khalifah pertama yang menggantikan kepemimpinan islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Lantas seperti apa sosok Abu Bakar dan bagaiman ia bisa menjadi orang kepercayaan Nabi? Berikut ulasan biografi dan juga perjalanan hidupnya dalam memperujuangkan agama Islam.

Riwayat Hidup

Nama lengkap Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Tayim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr bin Malik al-Qurasy al-Taimy (Syamsuddin Muhamamad bin Ahmad bin Utsman al-Dzahaby, 1996).

Secara garis keturunan, Abu Bakar al-Siddiq masih merupakan garis keturunan Nabi Muhammad SAW, pada Murrah bin Ka`ab dan berlanjut hingga keatas.

Sebelum masuk Islam, Abu Bakar al-Siddiq dikenal dengan panggilan Abdul Ka’bah. Namun demikian, ketika masuk Islam, Rasulullah SAW mengubah namanya menjadi Abdullah. Belakangan, nama ini semakin dikenal dalam berbagai riwayat oleh ulama Ahlu Sunnah sebagai Abu Bakar al-Shiddiq (Ali al-Tanthawy, 1986).  

Dalam beberapa literatur, julukan Abu Bakar al-Siddiq dan gelar lainnya diduga memiliki sebab tertentu. Bahkan kemudian, gelar-gelar ini lebih umum daripada nama aslinya, itulah sebabnya nama Abu Bakar al-Siddiq ditemukan di banyak riwayat.  

Ali al-Tanthawy menyebutkan bahwa nama Arab Abu Bakar berasal dari kata al-bakru yang berarti unta muda. Sedangkan bentuk jamak dari kata ini adalah bikarah.  

Dalam tradisi masyarakat Arab, ketika seseorang dipanggil dengan bakran, itu menunjukkan bahwa dia adalah pemimpin suku yang terhormat dan terpandang.  

Dari sini dapat dipahami bahwa ia dinamai Abu Bakar karena kedudukannya yang terhormat di kalangan kaum Quraisy, baik secara nasab atau maupun dalam kelas sosial karena ia seorang saudagar kaya.  

Setelah itu, Abu Bakar menerima beberapa gelar, yaitu Atiq dan al-Siddiq. Gelar Atiq yang dicetuskan olehnya memiliki beragam pendapat di kalangan ulama.

Beberapa dari mereka mengatakan bahwa dia menerima gelar ini karena wajahnya yang sangat atiq (jernih dan bersih). Telah disarankan bahwa dia dijuluki Atiq karena garis keturunannya yang murni dan tanpa cacat. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ibunya tidak melahirkan seorang putra.

Ketika Abu Bakar al-Siddiq lahir, ibunya menghadap Ka’bah dan berkata, “Ya Allah, ini benar-benar atiq (pembebasan) dari kematian, jadi berikanlah kepadaku.” Setelah beranjak dewasa, Abu Bakar al-Siddiq dijuluki Atiq (Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthy, 1408 H).

Namun ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa ia digelari dengan Atiq oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana riwayat yang menjelaskan bahwa; Artinya: “Dari Aisyah ra.ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang berhasrat untuk memandang wajah orang yang terbebas dari api neraka maka pandanglah wajah Abu Bakar”. (HR. Hakim).

Adapun gelar al-Shiddiq sebagian ulama juga berbeda pendapat, sebagian mereka mengatakan bahwa sebelum masuk Islam, Abu Bakar telah dikenal dengan sifatnya yang jujur dan dapat dipercaya. Bahkan orang-orang Quraisy tidak meragukan lagi tentang apa yang disampaikan oleh Abu Bakar, karena itulah ia digelari dengan al-Shiddiq.

Pendapat lain mengatakan bahwa ia digelari dengan al-Shiddiq karena sikapnya yang dengan segera membenarkan peristiwa Isra ` dan Mi`raj Rasulullah SAW. Perjalanan yang dilakkukan dalam satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan naik ke Shidratu al-Muntaha serta kembali lagi ke bumi dalam rangka menjemput perintah shalat dianggap sebagai bualan belaka oleh orang-orang Quraisy ketika itu.

Hal yang demikian dianggap sebuah perjalanan yang mustahil, Namun dengan tegas Abu Bakar berkata, Sungguh aku membenarkan sesuatau yang lebih dari itu (peristiwa Isra dan Mi`raj) dan dari segala khabar yang datang dari langit (Al-Imam Izzudin, 1409 H).

Kelahiran

Abu Bakar al-Shiddiq dilahirkan di Makkah pada tahun 573 M atau lebih kurang 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan setelah tahun Gajah.  Dari sini dapat dipahami bahwa Abu Bakar al-Shiddiq lebih muda dari Rasulullah SAW karena beliau lahir pada tahun gajah atau tepatnya pada tahun 571 M.

Ibu Abu Bakar al-Shiddiq bernama Salma binti Sakhar bin Amir bin Ka`ab bin Sa`ad bin Tayim bin Murrah. Ia digelari dengan Ummu al-Khair. Sedangkan bapaknya adalah Utsman bin Amir yang masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan kota Mekah) (Baca: Tarikh al-Umam wa al-Muluk,, Jilid 2)

Keluarga

Abu Bakar al-Shiddiq menikah dengan dua orang istri ketika ia masih di Makkah. Mereka adalah Qatilah binti al-`Azy dan Ummu Rumman binti Amir bin Uwaimar. Dari istrinya yang pertama ia dianugrahi 2 anak; Abdullah dan Asma, sementara dari istrinya yang kedua ia dianugrahi anak  laki-laki bernama Abdurrahman dan perempuan bernama Aisyah.

Setelah masuk Islam dan hijrah ke Madinah, Abu Bakar al-Shiddiq menikah kembali dengan dua orang isteri, yaitu Habibah binti Kharijah dan Asma’ binti Umaisy.

Dari Habibah ia dianugerahi anak Ummu Kultsum yang lahir setelah ia meninggal. Ummu Kultsum menikah dengan Thalhah bin Ubaidillah yang merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Sedangkan dari Asma’ ia dianugerahi satu anak bernama Muhammad.

Keistimewaan Abu Bakar al-Shiddiq

Abu Bakar al-Siddiq adalah sahabat Nabi yang semasa hidupnya senantiasa mendampingi Nabi Muhammad SAW dalam berjuang menyebarkan ajaran Islam baik dalam suka maupun duka.

Ia rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk mendukung dan menyebarkan pesan dakwah. Pengorbanannya tidak akan pernah terlupakan oleh sejarah. Maka Ia pun menempati tempat khusus di hati Nabi Muhammad SAW. dalam  sejarah Islam.

Ketulusannya dalam menyebarkan agama Allah SWT. dan keteguhannya dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dengan mengajak orang untuk berbuat kebaikan menjadikan dirinya memiliki tempat istimewa di antara para sahabat lainnya.

Baca Juga: Biografi Imam Abu Hanifah (696-767 M), Pendidikan, Guru, Karya Hingga Metode Istinbath

Di antara keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Bakar al-Shiddiq antara lain:

Namanya Diabadikan Dalam Al-Qur’an

Pengorbanan Abu Bakar al-Shiddiq dalam menyokong dakwah Rasulullah SAW mendapat apresiasi yang besar dan mulia dari Allah SWT. Sehingga dengan demikian, penghormatan Allah SWT terhadapnya diukirkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an, di antaranya:

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. Al-Taubah: 40)

Para ulama dan penafsir telah menyepakati apa yang dimaksud dengan “sahabatnya” dalam kalimat di atas, sebab, tidak mungkin ada seorang pun bersama Nabi SAW ketika bersembunyi di gua Tsur selama hijrahnya dari Mekah ke Madinah untuk bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy, kecuali Abu Bakar al-Siddiq. Pasalnya, beliau selalu menemani Rasulullah SAW dalam perjalanannya, baik senang maupun sedih.  

Dalam ayat lain Allah SWT. juga menghargai pengorbanan Abu Bakar al-Shiddiq. Penghargaan ini diberikan oleh Allah SWT. kepadanya ketika Ia membebaskan Bilal bin Rabbah dari tuannya. Orang-orang Quraisy pada saat itu berkomentar: ” Mengapa Abu Bakar membebaskan seorang budak yang tidak berguna baginya?” Pernyataan ini kemudian dijawab oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ ﴿ ١٩﴾ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ ﴿ ٢٠﴾ وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ ﴿٢١)

Artinya: “ Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, * tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.* dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al-Lail: 19-21).

Orang Pertama yang Masuk Surga

Abu Bakar al-Shiddiq merupakan manusia pertama yang masuk surga dari umat Rasulullah SAW. Hal ini diterangkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud sebagai berikut:

Artinya: “Dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Jibril mendatangiku dan mengajakku untuk melihat pintu surga yang akan dimasuki oleh umatku nanti. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku berharap ketika ia datang aku bersamamu sehingga akupun bisa melihat pintu surga.” Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang pertama kali masuk surga dari umatku.” (HR. Abu Daud)

Orang yang Senantiasa Bersegera Untuk Kebaikan

Abu Bakar al-Siddiq adalah sahabat Nabi Muhammad yang hidupnya penuh dengan cita-cita berbuat baik. Bahkan jika teman lain tidak melakukannya saat dia melakukannya. Hal ini terbukti ketika Nabi Muhammad mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa temannya dan jawabannya selalu Abu Bakar al-Siddiq. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

Artinya: “Dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapakan di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian berkata, “Siapakah di antara kalian pada hari ini mengiringi jenazah?” Abu Bakar kembali menjawab, “Saya.” Rasulullah SAW kemudian kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali menjawb, “Saya.” Rasulullah pun juga kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”Abu Bakar menjawab, “Saya.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Tidaklah terkumpul perbuatan ini pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR Muslim)

Sahabat yang Paling Dicintai Oleh Rasulullah SAW

Abu Bakar al-Shiddiq merupakan sahabat yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Hal ini tampak dalam sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang sahabat kepadanya. Dalam sebuah riwayat diceritakan,

Artinya: “Dari Anas Ra. Ia berkata bahwa ada yang bertanya kepada Rasululah SAW, “Wahai Rasulullah siapakah yang paling engkau cintai dari manusia?” Rasulullah SAW berkata, “Aisyah.” Mereka berkata, “Maksud kami dari kalangan laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar al-Shiddiq).” (HR. Ibnu Majah)

Orang Kepercayaan Rasulullah SAW

Abu Bakar al-Shiddiq adalah sahabat yang sangat menjaga rahasia Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

Artinya: “Dari Ibnu Syihab ia berkata bahwa Salim bin Abudllah memberitakan kepadanya dari apa yang ia dengar dari Abdullah bin Umar bahwa Umar bin Khattab menceritakan kepadanya (Abdullah bin Umamr) apa yang terjadi ketika Hafshah binti Umar ditinggal mati oleh Khunais bin Hudzafah al-Sahmy yang meninggal di Madinah.

Umar bin Khattab berkata, “Saya mendatangi Utsman bin Affan dan menawarkan Hafshah. Ustman pun menjawab saya akan pertimbangkan. Setetelah berselang beberapa hari iapun datang dan berkata bahwa ia tidak mau menikah dengannya (Hafshah).

Umar kembali berkata, “Saya kemudian menemui Abu Bakar dan berkata, jika engkau mau, saya akan nikahkan kamu dengan Hafshah binti Umar.”

Abu bakar diam dan tidak menjawab dengan satu kata apapun. Saya mengira ia lebih mau menikah dengan Hafshsah dari pada Utsman.

Beberapa haripun berselang ia kemudian dipinang oleh Rasulullah SAW dan dinikahinya. Abu Bakar kemudian menemuiku dan berkata, “Mungkin engkau merasa kesal ketika engkau menawarkan Hafshah untuk saya nikahi dan kemudian saya tidak menjawab dengan satu katapun.”

Umar menjawab, “Benar.” Abu Bakar berkata, Sesungguhnya aku tidak berhasrat untuk menolak tawaranmu hanya saja ketika itu aku tahu bahwa Rasulullah SAW juga telah menyebutkan keinginannya (untuk menikahi Hafshah). Tidak mungkin saya kemudian akan membukakan rahasia Rasulullah SAW meskipun ia tidak melarngnya.” (HR. Al-Bukhary)

Baca Juga: Biografi Imam Ahmad Bin Hambal, Mazhab Keempat yang Hidup Dipengasingan 164-241 H

Abu Bakar al-Shiddiq Sebelum & Sesudah Masuk Islam

Sebelum Masuk Islam

Abu Bakar dibesarkan di antara kaum Quraisy di kota Mekah. Dia adalah keturunan  terhormat dari klan Tayim. Sebelum masuk Islam, al-Shiddiq dikenal luas sebagai orang yang jujur, berakhlak mulia dan jauh dari sifat jahiliyah seperti bermain-main dengan wanita dan minum-minuman keras.

Abu Bakar al-Shiddiq tidak berasal dari keluarga miskin, namun sebaliknya, ia berasal dari keluarga kaya. Karena pekerjaan keluarganya adalah perdagangan, aktifitas keluarganya itu membuatnya mendarah daging di dalam dirinya.

Dia mengunjungi banyak rute perdagangan, termasuk musim panas ke Syam dan musim dingin ke Yaman. Di bidang perdagangan, Abu Bakar terkenal dengan kejujuran dan kebaikannya. Dengan demikian, hal ini membuatnya menjadi saudagar yang prestisius di antara saudagar-saudagar lain dari bangsa Quraisy.  

Dalam Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa al-Siddiq adalah orang yang sangat lembut dan sopan terhadap rakyatnya, mudah disukai orang lain, seorang pedagang ulung dengan kepribadian yang istimewa, ia sering dikagumi para pemimpin umat yang dikunjunginya.

Dengan begitu, banyak pendapat yang beragam karena pengetahuan yang luas, pengalaman bisnis yang panjang, posisi yang tinggi di hati orang dan rasa hormat yang besar dari orang lain.  

Ini adalah ringkasan kehidupan Abu Bakar al-Shiddiq sebelum  masuk Islam. Meskipun  ajaran Islam belum terungkap, tampaknya ia  mengamalkan ajaran tersebut dengan benar.  

Dia sangat terjaga dari moral keji kaum Quraisy, yang mengabaikan agama dan peradaban. Ketika risalah Islam datang dengan mudah, ia menerimanya hingga ia menjadi orang pertama yang masuk Islam. Tidak hanya itu saja, dengan segala upaya dan usahanya, ia menjadi salah satu pilar pendukung dakwah Nabi SAW.

Setelah Masuk Islam     

Sebagaimana dikemukakan di atas, Abu Bakar al-Shiddiq adalah sosok yang terbangun dari kemerosotan moral bangsa Jahiliyah. Seolah-olah dia telah menyerap ajaran Islam meskipun ajaran itu belum diturunkan.

Dia tidak mematuhi atau mengasimilasi moralitas jahat Quraisy, meskipun dia adalah seorang bangsawan dari salah satu suku yang paling dihormati di antara mereka.

Setelah masuk Islam, al-Shiddiq  menemani Nabi SAW dalam semua dakwahnya. Dia tidak segan-segan menghabiskan hartanya untuk menyebarkan firman Tuhan. Kedekatan Abu Bakar al-Siddiq dengan Nabi SAW dijelaskan dalam sebuah hadits:

Artinya, “Dari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah SAW ia pernah bersabda, “Jika seandainya aku dibolehkan untuk mengambil teman dekat dari ummatku maka sungguh aku akan memilih Abu Bakar. Akan tetapi ia adalah saudara dan juga sahabatku.” (HR. Bukhary)

Sebagai pendukung dakwah Nabi, Abu Bakar al-Siddiq juga aktif dalam kegiatan dakwah. Bahkan al-Siddiq mengarahkan dakwahnya kepada dua kelompok, yaitu: pertama, kelompok Quraisy, yang memiliki fitrahnya sendiri, memiliki pendapat dan tidak terpengaruh oleh kerusakan akhlak dan kebodohan. Kedua, kelompok fakir miskin di antara para budak dan kaum tertindas di antara non-Quraisy.  

Dahulu kala, Abu Bakar dinasehati oleh ayahnya untuk memerdekakan budak yang kuat yang bisa menjadi pelindungnya. Ia pun dengan tegas menjawab dengan mengatakan, “Sesungguhnya apa yang saya lakukan adalah apa yang diinginkan  Allah.

Melalui perjuangan dan pengorbanan, ia berhasil mengubah teman-teman yang dijanjikannya di surga menjadi Islam. Mereka adalah Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Sa`ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf (Hasan Ayyub, 2003).

Wafat

Abu Bakar al-Siddiq meninggal pada hari Jumadil Akhir, tahun 13 Hijriyah. Sebelum  meninggal, Abu Bakar al-Siddiq sakit selama kurang lebih  15 (lima belas) hari. Selama itu, dia hanya berbaring di tempat tidur dan tidak bisa shalat bersama para sahabatnya yang lain. Agar salat berjamaah di masjid tetap berjalan, Ia digantikan oleh Umar bin Khattab.  

Abu Bakar meninggal pada usianya yang ke-63, dan jenazahnya dimandikan oleh istrinya, Asma’ binti Amisy, hal itu sesuai wasiatnya sebelum kematiannya. Dan ketika ada hal-hal yang tidak bisa dia lakukan, dia meminta bantuan putranya; Abudurrahman bin Abu Bakar.  

Dalam Kitab al-Thabaqat al-Kubra, Jilid 3, diriwayatkan bahwa Abu Bakr al-Siddiq menderita penyakit keras akibat racun yang diberikan oleh seorang Yahudi, kala itu Ia bersama bersama al-Harist bin Kaladah dan al-Atab bin Usaid memamkan makanan yang diberi racun itu, sehingga mereka tertular penyakit yang sama dan meninggal pada hari yang sama.

Abu Bakar al-Siddiq memerintah selama kurang lebih 2 (dua) tahun, selama pemerintahannya itu, Ia banyak menorehkan hasil yang cukup gemilang, yang kemudian ditulis dengan tinta emas oleh sejarah, dan ini tidak akan  dilupakan oleh kaum muslimin sampai akhir zaman.

Semua perjuangan yang dilakukan oleh Abu Bakar al-Siddiq semata-mata karena rasa cinta terhadap Sang Khaliq dan juga Para Rasul. Dan dari sekian kisah perjuangannya dalam memperjuangkan agama Allah, semoga tetap mengalir bagi kita semua, amiiin. Wallahua’lam!

Pewarta: EnolEditor: Nurul Hidayat
AvatarEnol
Mau tulisan kamu dimuat di Surau.co seperti Enol? Kirim Tulisan Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *