Sosok  

Riwayat Hidup Ubadah bin Shamit (586-655 M), Sang Diplomator Handal Utusan Nabi

Riwayat Hidup Ubadah bin Shamit (586-655 M), Sang Diplomator Handal Utusan Nabi
Riwayat Hidup Ubadah bin Shamit (586-655 M), Sang Diplomator Handal Utusan Nabi

Surau.co – Ubadah bin Shamit atau lengkapnya Abul Walid Ubadah bin ash-Shamit bin Qais al-Anshari al-Khazraji, adalah salah seorang Sahabat Nabi yang terkemuka dari kalangan Bani Khazraj. Ubadah adalah salah seorang pemimpin kaum Anshar dalam Baiat Aqabah I.

Pada masa hijrah di Madinah, Ubadah dipersaudarakan dengan Abu Martsad al-Ghanawi dari kalangan kaum Muhajirin. Ubadah turut serta dalam perang Badar, Uhud, dan seluruh peperangan pada zaman Nabi Muhammad. Pada peristiwa pengusiran Bani Qaynuqa, Ubadah bertindak sebagai pengawal dan mengantarkan rombongan Bani Qaynuqa hingga ke Dhubab.

Ubadah merupakan salah seorang panglima yang memimpin pasukan Arab Muslim dalam penaklukan Mesir. Peristiwa mesir menjadi bukti bahwa ia adalah seorang yang memliki keterampilan tinggi khusunya menjadi seorang diplomator ulung.

Ia kemudian dikirim sebagai hakim (kadi) ke wilayah Palestina. Ia juga  salah satu penyusun Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad. Dia meriwayatkan 181 hadits, 6 di antaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim.

Ubadah bin Shamit meninggal di Ramlah pada usia 72 tahun selama Kekhalifahan Utsman bin Affan. Ia menikah dengan Umm Haram binti Milhan al-Anshariyyah dan meninggalkan beberapa keturunan.

Riwayat Hidup Ubadah bin Syamit

Umar bin Khattab pernah mengangkat Ubadah bin Syamit sebagai guru untuk  mengajarkan pelajaran agama kepada penduduk Syam bersama Abu Darda dan Muadz bin Jabal.

Tugas itu diberikan lantaran Ubadah adalah salah satu dari lima sahabat Ansar yang belajar Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW.  

Nama lengkap Ubadah bin Shamit adalah Ubadah bin Shamit bin Qais al-Anshari al-Khazraj. Dia pernah dipanggil Abu Walid, wajah cantik dan tubuh tinggi dan besar.

Hadits-hadits Ubadah bin Shamit

 In Great Figures of Islam Through History karya Syekh Muhammad Sa’id Mursi, diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, Ubadah menjelaskan 181 hadits. Diantaranya ada hadits di mana Nabi SAW bersabda: “Tidak ada shalat kecuali orang yang membaca Al-Fatihah.” (HR Bukhari)

Hadits lain yang diriwayatkan Ubadah, yaitu tentang keutamaan Tauhid. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه،ُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْه،ُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَق،ٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَق،ٌّ

Maka Allah akan memasukkan ia ke dalam Surga melalui salah satu dari delapan pintu Surga yang dia kehendaki.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits lain yang diriwayatkan Ubadah bin Shamit;

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِيهِ الْوَلِيدِ عَنْ جَدِّهِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَكَانَ أَحَدَ النُّقَبَاءِ قَالَ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْعَةَ الْحَرْبِ وَكَانَ عُبَادَةُ مِنْ الِاثْنَيْ عَشَرَ الَّذِينَ بَايَعُوا فِي الْعَقَبَةِ الْأُولَى عَلَى بَيْعَةِ النِّسَاءِ فِي السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي عُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَمَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَلَا نُنَازِعُ فِي الْأَمْرِ أَهْلَهُ وَأَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah bercerita kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq telah bercerita kepadaku ‘Ubadah bin Al Walid bin ‘Ubadah bin Ash Shamit dari ayahnya, Al Walid dari kakeknya, ‘Ubadah bin Ash Shamit ia adalah salah seorang pemimpin, ia berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaiat kami untuk berperang dan ‘Ubadah adalah satu dari duabelas orang yang berbaiat ‘aqabah pertama yang membaiat kaum wanita untuk mendengar dan taat baik saat susah atau pun senang, saat giat atau pun malas, tidak menentang sesuatu yang sudah diwewenangi ahlinya, mengatakan kebenaran dimana saja kami berada dan tidak takut celaan orang karena menjalankan perintah Allah”.

حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنِ الْمُغِيرَةِ عَنِ الشَّعْبِيِّ أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ رَجُلٍ يُجْرَحُ فِي جَسَدِهِ جِرَاحَةً فَيَتَصَدَّقُ بِهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ مَا تَصَدَّقَ بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu’man telah bercerita kepada kami Husyaim dari Al Mughirah dari Asy Sya’bi, bahwa ‘Ubadah bin Ash Shamit berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidaklah seseorang yang terluka di jasadnya lalu menyedekahkannya melainkan Allah akan menghapus dosanya seperti yang ia sedekahkan.”

Ubadah bin Syamit adalah mitra yang ikut serta dalam pembebasan Mesir dan memainkan peran strategis dalam proses pembebasan. Dia juga sangat menentang pemerintahan Muawiyah ketika Muawiyah memimpin Suriah sebagai Gubernur.  

Muawiyah berkata kepada Ubadah: “Demi Tuhan, aku tidak akan membiarkanmu memerintah wilayah mana pun selamanya.” Hal ini kemudian diketahui oleh Umar bin Khattab, kemudian Umar mengirimkan surat kepada Muawiyah yang berisi: “Kamu tidak memiliki wewenang atas Ubadah bin Syamit.”  

Ubadah adalah orang pertama yang menjadi hakim di Palestina pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Beliau wafat di Ramallah, Palestina pada tanggal 24 Hijriah.

Baca Juga: Kisah Sahabat Ammar bin Yasir (570-657) dan Perjuangannya Dalam Membela Islam

Kisah Ubadah Semasa Menjadi Diplomator

Salah satu perosalan yang juga dihadapi Ubadah bin Shamit ialah ketika ia menghadapi persoalan rasisme yang sudah menjadi permasalahan utama umat manusia sejak ribuan tahun silam.

Tidak hanya soal agama, melainkan juga soal warna kulit, nasab sering kali dijadikan tolak ukur tingginya derajat seseorang. Kalangan putih lebih tinggi derajatnya dibanding hitam. Majikan lebih tinggi derajatnya dibanding budak.

Dalam sejarah Islam, khususnya dalam proses penaklukan Mesir, sudah mulai muncul penghinaan terhadap ras kulit hitam. Nasib malang juga menimpa orang kulit hitam, mereka dipandang begitu buruk sehingga seolah-olah mereka pantas dijual belikan sebagai budak.  

Saat itu Amr bin Ash mengirim 10 utusan untuk berunding dengan Raja Muqauqis, penguasa Mesir. Delegasi ini dipimpin oleh Ubadah bin Shamit, yang juga merupakan perwakilan. Ubadah sendiri merupakan tokoh Ansar yang ikut dalam beberapa peristiwa penting bersama Nabi Muhammad SAW.

Diejek Karena Berkulit Hitam

Kisah Ubadah bin Shamit yang diejek oleh raja Mesir dicatat oleh Wahbah Zuhaili dalam karyanya Ubadah bin Shamit Sahabi Kabir wa Fatih Mujtahid.

Dalam riwayat Wahbah, ia digambarkan sebagai sosok Ubadah bin Shamit, yang menunjukkan sikap tenang, cerdas dan tegas serta menahan diri dari mengingkari iman dan kepercayaan. Meskipun ia dihadang oleh seorang raja besar Mesir.  

Ketika Ubadah bin Shamit menghadapi Raja Muqauqi, raja tampak terkejut melihat sosok berkulit gelap dengan postur menjulang. Kemudian dia berkata, “Jauhkan pria kulit hitam itu dariku, agar seseorang selain dia bisa datang dan berbicara denganku.”

Kemudian delegasi lain menjawab: “Sesungguhnya, orang kulit hitam ini adalah yang terbaik di antara kami dalam hal pengetahuan dan pendapat. Dia adalah pemimpin kami. Amir menyuruhnya melakukan sesuatu yang diperintahkan kepadanya, dan kami diberitahu agar tidak bertentangan dengan pendapatnya dan kata-katanya.”

Muqauqis menjawab: “Bagaimana Anda ingin orang kulit hitam ini menjadi yang terbaik dari Anda?”.  

Para penasehat menjawab: “Sungguh, meskipun dia adalah orang kulit hitam, seperti yang Anda lihat, dia adalah yang terbaik posisinya di antara kami, dia juga yang terbaik dalam pikiran dan penglihatan, dan kami tidak memiliki masalah dengan kulit hitamnya”.

Kemudian Muqauqis berkata: “Kemarilah, orang kulit hitam, dan bicaralah dengan lembut. Sungguh, aku takut dengan kegelapanmu, jika kata-katamu kasar, ketakutan itu bertambah.

Menurut Wahbah Zuhail, warna kulit Ubadah bin Shamit sebenarnya bukan hitam, tetapi cokelat, dia adalah pria yang tampan Itu hanya terlihat hitam karena pada saat itu ia menempuh perjalanan jauh.

Negosiasi dilanjutkan, Ubadah bin Shamit menjelaskan misi tentara Muslim yang  berjuang untuk menaklukkan Mesir. Dia mengatakan bahwa dia dan teman-temannya tidak menginginkan kekayaan atau kekuasaan politik, tetapi jihad di jalan Allah.

Oleh karena itu, mereka tidak peduli apakah akan mendapat barang rampasan sedikit atau banyak karena itu bukanlah tujuan.

Ubadah bin Shamit menjelaskan, bahwa dunia dicukupkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terutama dalam perjalanan, sekiranya tidak kelaparan. Karena bagi kami, kesejahteraan di dunia tidak ada apa–apanya dibanding kenikmatan di akhirat kelak. Begitulah pandangan mereka terhadap kehidupan.

Dikagumi Muqauqis, Dicoba untuk Disuap

Mendengar penjelasan Ubadah bin Shamit, Raja Muqauqis terkejut. Jika cara berpikir yang diperlihatkan Ubadah diterapkan, tentara ini memiliki potensi besar untuk menguasai seluruh wilayah.

Kemudian Muqauqis khawatir akan tentara Muslim dalam bahaya karena tentara Romawi yang sangat besar akan segera memasuki Mesir.  

Menurut Muqauqis, pasukan Muslim kelelahan dan pasti mengalami kelelahan dan kelaparan ketika mereka tinggal di luar daerah selama beberapa bulan.

Oleh karena itu, dia menawarkan untuk mengirim tentara Muslim pulang dan tidak melanjutkan pembebasan.  

Sebagai imbalannya, setiap prajurit menerima dua dinar, komandan seratus dinar, dan khalifah seribu dinar. Dengan propagandanya, dia menyarankan Ubadah bin Shamit untuk memanfaatkan kesempatan sebelum terlambat.  

Tapi keputusan Ubada bin Samith tetap bulat. Dia tetap berpegang pada tiga opsi yang diberikan kepadanya. Tiga pilihan orang Mesir adalah masuk Islam, di mana hal dan kewajibannya sama dengan Muslim lainnya, berdamai dan terus memeluk ajaran agama mereka dengan membayar pajak, atau jika tidak keduanya, maka perang sebagai jalan terakhir. Pemimpinnya, Amr bin Ash, memintanya untuk tidak memberikan pilihan lain selain hal tersebut.  

Ubadah bin Shamit menolak pertanyaan tentang klaim bahwa pasukan Muslim telah habis. Menurutnya, kekuatan Islam berada dalam situasi sebaliknya.

Jika pasukan Romawi datang, alih-alih takut, Ubadah akan senang jika demikian. Tanah jihad lebih terbuka. Bahkan kematian tentara Muslim tidak perlu ditakuti karena surga menanti mereka.  

Raja Muqauqis belum mengambil keputusan atas tiga opsi yang diajukan. Kemudian dia bertanya “Apakah tidak ada penawaran lain selain tiga opsi sebelumnya?”.

“Tidak,” kata Ubadah, seraya mengangkat tangannya.

Setelah berdiskusi dengan rekan-rekannya, Muqauqis memutuskan untuk tidak memilih apapun yang ditawarkan Ubadah bin Shamit.

Muqaiqis Pun Menyerah

Setelah berunding secara alot, kedua belah pihak kemudian tidak menemukan titik temu, melainkan berdebat. Muqauqis dan prajuritnya bergegas menyelamatkan diri, pasukannya tidak bisa menahan serangan pasukan Muslim.

Dan pada akhirnya, ia memutuskan untuk berdamai dan membayar pajak, seperti opsi kedua yang ditawarkan Ubadah bin Shamit.  

Berdasarkan kisah ini, Ubadah dinobatkan sebagai salah satu eksponen terbaik dalam sejarah politik Islam. Sebagian besar ulama Mesir mengklaim bahwa Mesir dibebaskan oleh perjanjian damai.  

Peran Ubadah bin Shamit sangat signifikan, terutama karena ia dipercaya sebagai diplomat Muslim untuk berunding dengan Raja Muqauqis. Kebijaksanaan dan ketelitiannya dalam mengambil keputusan dan sikapnya yang elegan tidak lepas dari pemahamannya yang mendalam tentang ajaran Islam. Wallahua’lam!