Tak Berkategori  

Riwayat Hidup Khabbab bin al-Arat (36-37 H), Sahabat yang Hidupnya Penuh Dengan Siksaan

Avatar
Google News
Riwayat Hidup Khabbab bin al-Arat (36-37 H), Sahabat yang Hidupnya Penuh Dengan Siksaan
Riwayat Hidup Khabbab bin al-Arat (36-37 H), Sahabat yang Hidupnya Penuh Dengan Siksaan
Daftar Isi

Riwayat Hidup Khabbab bin al-Arat (36-37 H), Sahabat yang Hidupnya Penuh Dengan Siksaan

Surau.co – Khabbab bin al-Arat (خَبَّاب ٱبْن ٱلْأَرَتّ ) adalah sahabat nabi yang semasa awal Islam, ia menjadi salah satu sahabat yang jiwanya diberkahi karena telah melewati berbagai macam ujian semasa hidupnya.

Khabbab bin al-Arat lahir 36 tahun sebelum hijrah dan wafat 37 H, dan menjadi salah bagian dari kalangan anak muda yang masuk islam pada awal-awal islam berada.

Hampir sama dengan kisah pemeluk Islam pertama lainnya, Khabbab seringkali mengalami penganiayaan dan siksaan dari kaum Quraisy lantaran keimanannya.

Bahkan Khabbab disiksa dengan menggunakan besi panas oleh kaum Kafir Quraisy, termasuk Ummu Anmar, yang merupakan majikan Khabbab.

Biografi

Khabbab bin al-Arat adalah putra dari al-Arat bin Jandalah bin Sa’ad bin Khuzaimah bin Ka’ab bin Sa’ad bin Zaid Manat, dari suku Tamim, dan dikatakan bahwa dia berasal dari Khuza’ah.

Khabbab termasuk kelompok budak yang diperjualbelikan di Mekkah, Ia dibeli Ummu Anmar Al-Khuzaiyah, sekutu dari ‘Auf bin Abdi ‘Auf Az-Zuhry, ayahnya Abdurrahman bin Auf. Khabbab merupakan orang ke-6 atau 20 orang pertama yang masuk Islam.

Ia mendapat siksaan dari majikannya saat mengadu kepada Nabi Muhammad SAW, berdoa: Ya Allah tolong Khabab («اللهم انصر خبّابًا»).

Khabbab bin al-Arat berpartisipasi dalam semua pertempuran dengan Nabi Muhammad. Bahkan Setelah Nabi Muhammad SAW, wafat dan dimulainya masa penaklukan Islam, Khabbab pindah ke Kufah untuk melanjutkan perjuangannya dalam menyebar luaskan agama Islam.

Khabbab bin al-Arat meninggal di Kufah pada tahun 37 H, tepat pada usianya yang ke-73 tahun, dan diantara khalifah yang menyolatkan jenazah Khabbab adalah Ali bin Abi Thalib.

Dia adalah orang pertama yang dimakamkan di luar Kufah, dan telah Meriwayatkan hadits sebanyak 32 hadits, dua dalam Shahih Bukhari dan 1 dalam Shahih Muslim.

Baca Juga: Riwayat Hidup Ubadah bin Shamit (586-655 M), Sang Diplomator Handal Utusan Nabi

Kisah Khabbab bin al-Arat

Kitab Fadhilah Amal karya Maulana Zakariyya al-Khandahlawi meriwayatkan tentang, Khabab bin al-Arat RA menyebutnya sebagai sahabat yang tubuhnya penuh berkah karena melalui berbagai cobaan dan siksaan di jalan Allah.

Hal itu dialami oleh Khabbab bin al-Arat ketika awal-awal Islam masuk, dan kebetulan, Khabbab masuk Islam ketika pada saat itu hanya masih sedikit orang yang menerima Islam.

Karena itulah Khabbab berada dalam penderitaan yang lama sampai akhirnya terbebas dari segala macam siksaan itu.

Dalam riwayat Zakariyya, Khabbab bin al-Atar pernah mengenakan baju besi, lalu berbaring di bawah terik matahari. Keringat mengucur dari tubuhnya. Begitu lama dia tersiksa di bawah terik matahari, sampai daging di punggungnya melepuh lantaran panas yang desebabkan oleh besi.

Khabab bin al-Arat adalah seorang budak milik seorang wanita. Ketika tuannya mengetahui bahwa dia sering melihat Nabi Muhammad, dia menghukumnya dengan menusuk Khabab dari belakang dengan batang besi panas.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, dia meminta Khabbab bin al-Arat untuk menceritakan bagaimana penderitaannya di awal masuk Islam.

Dia menjawab, “Awasi punggungku!”  

Omar juga melihat ke punggungnya. Begitu dia melihatnya, dia berkata, “Saya belum pernah melihat bagian belakang seperti itu.”

Khabbab bin al-Arat kemudian melanjutkan ceritanya: “Saya diseret di atas tumpukan bara api sampai lemak dan darah yang mengalir dari punggung saya memadamkan api.”

Ketika Islam menang dan banyak gerbang kemenangan tercapai, Khabab berkata: “Sepertinya Allah SWT telah membayar penderitaan kita. Saya khawatir itu hanya di dunia ini dan di akhirat kita tidak akan mendapatkan imbalan apa pun.”

Khabbab meriwayatkan: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dalam waktu yang sangat lama, tidak seperti biasanya. Kemudian seorang sahabat bertanya kepadanya tentang shalatnya.

Nabi SAW menjawab: “Itu adalah shalat. penuh harapan dan ketakutan. Saya mengirimkan tiga permintaan kepada Allah SWT. Dua di antaranya diterima dan yang lainnya ditolak. Saya berdoa agar kelaparan tidak menghancurkan umat saya, doa itu terkabul. Kedua, saya berdoa agar musuh tidak menghancurkan umat saya, dan dia juga menjawab doa itu. Sementara itu, yang ketiga, saya meminta agar tidak ada perselisihan di antara umat saya, tetapi Dia tidak menerima permintaan ini.”

Khabbab meninggal pada usia 37 tahun. Dia adalah sahabat pertama yang dimakamkan di Kuffah.

Setelah kematiannya, Ali bin Abi Thalib, RA pernah melewati kuburnya dan berkata: “Ya Tuhan, kasihanilah Khabbab.” Dia dengan antusias menerima Islam dan bersedia menghabiskan waktunya untuk berhaji, berjihad dan menerima semua penderitaan dan kesulitan.

Orang yang selalu mengingat hari kiamat dan bersiap menerima kitab amalannya penuh dengan berkah, dia menjalani hidup ini dengan menerimanya apa adanya, dan dia sangat ridha kepada Tuhannya.

Lebih lanjut, Zakariyya menjelaskan arti dari cerita ini. Menurutnya, tujuan utama sahabat RA sebenarnya hanya ridha Allah. “Semuanya dilakukan hanya untuk kesenangan-Nya.”

Khabbab merupakan sahabat yang sangat zuhud dan memegang teguh prinsip hidup sederhana di masa awal Islam. Kemewahan yang dia dapatkan di akhir hidupnya membuatnya menjadi kerabat dan teman-temannya sendiri, dan sebelum dia menerima hadiah dunia, dia sudah berjalan di depannya dan merasa tidak nyaman. Ketika dia masih hidup, dia menerima kekayaan dunia.

Dia berkata: “Dengan nama Allah, saya tidak pernah menutupnya dengan seutas benang, dan saya tidak pernah menghalangi siapa pun yang meminta (harta miliknya).” Di akhir hayatnya, ketika dia melihat Air Mata mengalir di pipinya. saat dia menyelubungi kafan itu.

Dia berkata; “Lihatlah kain kafan saya. Kain kafan paman Hamzah Rasululalah pada waktu syahid itu bukan miliknya, hanya buda abu-abu dengan ujung kakinya ketika dia menutup kepalanya. Semuanya terbuka. Sebaliknya, ketika dia menutupnya. kaki, kepalanya terlihat?”

Khabbab Mengeluh Karena Siksaan

Sempat pada suatu saat, Khabbab bin al-Arat mengadu akan beratnya siksaan  yang dihadapi kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi bersabda: “Wahai Khabbab,  sebelum kamu, orang-orang kepala disisir dengan sisir besi sehingga dagingnya terlepas dari tulangnya, tapi mereka tidak menyimpang dari imannya. Bahkan Ada yang dipenggal lehernya sampai dipenggal kepalanya tetapi mereka tetap teguh dalam imannya. Sesungguhnya Allah SWT akan memenangkan pertempuran iman ini sampai suatu hari orang bepergian dari Shana’ ke Hadramaut tanpa rasa takut kecuali kepada Allah sampai serigala bisa hidup berdampingan dengan kambing (tanpa memangsa mereka). Sungguh kalian adalah orang-orang yang terburu-buru.”

Setelah mendengar perkataan Nabi, Khabbab bin al-Arat tulus dalam penderitaannya dan teguh dalam imannya. Ketika Islam mencapai kesuksesan dan berbagai kekayaan melimpah, Khabbab duduk menangis dan berkata: “Sepertinya Tuhan telah memberi kita pahala atas semua penderitaan yang kita alami. Saya khawatir kita tidak  lagi memiliki pahala yang akan kita raih di akhirat ketika kami menerima semua kemewahan!”  

Setelah itu, Khabbab menempatkan semua hartanya di bagian rumahnya yang terbuka dan mengumumkan bahwa siapa pun yang membutuhkannya dapat mengambilnya tanpa izin. Dia berkata, “Demi Tuhan aku tidak akan mengikatnya dengan tali, dan aku tidak akan menyangkal orang yang meminta/mengambil!”  

Ketika Khabbab bin al-Arat dibebaskan dari perbudakannya karena Abu Bakar menebus dan membebaskannya, ia mempelajari Al-Qur’an dan kemudian menjadi salah satu ahli dalam membaca Al-Qur’an. Dia mengajari Fatimah binti Khathtab dan suaminya Al-Qur’an ketika Umar memukul mereka berdua karena Islam. Namun peristiwa ini justru menjadi pendorong masuknya Umar ke Islam.

Pengabdian Khabbab bin al-Arat

Rasulullah, dan para sahabat lainnya berusaha membebaskan para budak yang beriman. Salah satunya adalah Khabbab bin al-Arat yang ditebus oleh Abu Bakar ra dari Ummi Anmar dengan uangnya sendiri dan kemudian membebaskannya.

Dibebaskan dari perbudakan, ia belajar Alquran dan akhirnya menjadi salah satu dari mereka yang tahu cara membaca Alquran. Dia mengajari Fatimah binti Khathtab dan suaminya Al-Qur’an ketika Umar memukul mereka berdua karena Islam. Namun peristiwa ini justru menjadi pendorong masuknya Umar ke Islam.

Khabab bin al-Arat senantiasa berpartisipasi dalam perang seperti perang Badar, perang Uhud (Pertempuran Uhud) dan Perang Khandaq (Pertempuran Khandaq).

Dia hampir tidak tertinggal dalam berbagai pertempuran di medan jihad. Dalam Perang Badar, dia bertanggung jawab untuk menjaga perkemahan Nabi pada malam sebelum pertempuran.

Setiap kali Khabbab ikut perang, dirinya senantiasa menemani Nabi dan menjaga keselematan Nabi dengan bersungguh-sungguh. Dan ketika ia diberi mandat, maka tak sedikitpun ia melalaikannya, bahkan walau nyawa menjadi taruhannya.

Dia memeluk Islam dengan rela dan antusias. Dia juga pindah ke Medina dalam ketaatan penuh. Dia kemudian menjalani hidupnya sebagai seorang mujahid. Dia melewati banyak cobaan yang sulit, tetapi dia menanggungnya dengan kesabaran dan ketabahan.

Itulah kisah tentang Khabbab bin al-Arat dalam memperjuangkan agama islam. Dari kisah Khabbab, tentu kita dapat mengambil pelajaran, khsusnya dalam prinsip hidup. Selain itu tentu apa yang telah para Nab hingga sahabat dan seterunya, akan memiliki dampak yang terus berkelanjutan kepada kita terutama syafaatnya kelak. Amiin!

Pewarta: EnolEditor: Nurul Hidayat
AvatarEnol
Mau tulisan kamu dimuat di Surau.co seperti Enol? Kirim Tulisan Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *