Qais bin Saad bin Ubadah, Sahabat dan Ajudan Rasulullah SAW | Surau

Qais bin Saad bin Ubadah, Sahabat dan Ajudan Rasulullah SAW

Deal Score0

Surau.co – Rasulullah SAW dikelilingi oleh orang-orang yang istimewa. Orang-orang yang tidak hanya shaleh secara spiritual, tapi mereka juga memiliki keunggulan individual. Merekalah para sahabat yang mulia. Di antara mereka ada yang menjadi gambaran seorang pemberani. Ada yang bijaksana, tegas, dermawan, cerdas, sangat sabar, dll. Salah satu dari pribadi istimewa itu adalah Qays bin Saad bin Ubadah.

Qays adalah seorang tokoh Anshar. Saat usianya masih sangat muda, orang-orang Anshar sudah memandangnya sebagai seorang tokoh besar mereka. ditokohkan karena senioritas usia dan pengalaman adalah lumrah. Namun saat masih muda, ia telah menyandang kedudukan demikian, tentu istimewa. Namun sayang, secara penampilan, Qays belum komplit disebut pemimpin. Karena ia tak berjenggot. Jenggot kadung dianggap sebagai aksesoris seorang pemimpin. Rambut di dagu itu melahirkan aura wibawa yang tak dimiliki oleh dagu-dagu yang licin. Lihatlah pemimpin dunia yang melegenda. Dagu mereka tidak klimis. Ada rambut penanda bahwa mereka seorang laki-laki yang berwibawa. Orang-orang Anshar mengatakan, “Seandainya kami bisa membelikan jenggot untuk Qays dengan harta-harta kami, pasti kami lakukan.”

Qays adalah pembantu Rasulullah SAW. Ia menjadi sosok sahabat sekaligus panglima pasukan Rasulullah sAW. Qays adalah tokoh kabilah Khazraj, putra dari tokoh Khazraj dan Anshar, kakek dan buyutynya pun seorang tokoh Khazraj. Jiwa kepemimpinan yang seolah-olah terwarisi. Ayahnya adalah seorang sahabat yang mulia, Saad bin Ubadah bin Dulaim. Kakeknya adalah Ubadah bin Dulaim bin Haritsah as-Sa’idi al-Khazraji. Ibunya adalah Ummu Fukaihah binti Ubaid bin Dulaim al-Khazrajiyah.

Keluarganya adalah keluarga terpandang di tengah bangsa Arab. Karena terkenal dengan kedermawanannya. Adapun ayahnya adalah Abul Fadhl. Ada juga yang mengatakan Abu Abdullah. Atau Abu Abdul Malik.

Amr bin Dinar mengatakan, “Qays adalah seorang yang besar badannya. Kepalanya kecil. Tidak berjenggot. Kalau ia menunggangi keledai, kakinya terseret-seret menyentuh tanah. Ia pernah datang ke Mekah, lalu ada orang yang berkata, ‘Siapa yang ingin membeli daging onta?’ (mengungkapkan besarnya badan Qays).”

Walaupun berbadan besar dan tak berjenggot, tapi Qays adalah seorang yang tampan.

Suatu ketika, ayah Qays, Sa’ad bin Ubadah, memeluk Islam, ia memegang tangan putranya dan membawanya ke hadapan Rasulullah SAW. “Ini adalah pembantumu wahai Rasulullah.”, kata Sa’ad. Rasulullah SAW pun memandangi Qays dan melihat aura kebaikan pada dirinya. Kemudian Rasulullah SAW mendekatkan Qays di sisinya. Qays pun menempati kedudukan mulia sebagai orang yang dekat dengan Rasulullah SAW.

Diriwayatkan oleh at-Turmudzi, Abu Nu’aim al-Ashbahani, dan selain keduanya banyak hadits yang menjelaskan tentang khidmat Qays bin Saad di rumah kenabian. Seperti hadits:

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ: أَنَّ أَبَاهُ دَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَخْدِمَهُ، قال: فَأَتَى علىَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم، وقَدْ صَلَّيْتُ، قال: فَضَرَبَنِي بِرِجْلِهِ، وَقَال: “أَلا أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ؟”، قُلْتُ: بَلَى، قال: “لا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ

Dari Qays bin Saad bin Ubadah, ayahnya menyerakan Qays kepada Rasulullah SAW untuk menjadi pembantu beliau. Qays berkata, “Rasulullah datang menemuiku, saat itu aku baru selesai dari shalat. Beliau menyentuhku dengan kakinya. Kemudian bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan engkau dengan pintu di antara pintu-pintu surga?’ ‘Tentu’, jawabku. Beliau bersabda, ‘(ucapkanlah dzikir) laa haula walaa quwwata illaa billaah’.” (HR. at-Turmudzi dan al-Albani berkomentar ‘Hadits ini shahih’).

Dari Maimun bin Abi Syabib, dari Qays bin Saad, ia berkata,

“دَفَعَنِي أَبِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْدُمُهُ”

“Ayahku menyerahkanku kepada Rasulullah agar aku membantu beliau.”

وَعَنْ مَرْيَمَ بْنِ أَسْعَدَ، قَالَ: “كُنْتُ مَعَ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ، وَقَدْ خَدَمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

Dari Maryam bin As’ad, ia berkata, “Aku pernah bersama Qays bin Saad. Ia berkhidmat (menjadi pembantu) Rasulullah selama 10 tahun. Ia menyiapkan wudhu dan mengusapkan sepatu beliau.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin  Malik, bahwasanya Qays bin Saad bin Ubadah bagi Rasulullah kedudukannya bagaikan pemiliki syarat di sisi pemimpin. Karena dia diserahkan beberapa urusan. Ketika Kota Mekah berhasil dibebaskan pada tahun 8 H, Saad berkata kepada Rasulullah agar Qays digeser dari posisi yang beliau berikan. Sang ayah khawatir anaknya mengutamakan sesuatu. Lalu Rasulullah pun menepikannya.

Ibnu Syihab mengatakan, “Yang membawa bendera Anshar bersama Rasulullah adalah Qays bin Saad bin Ubadah.” Rasulullah memberinya bendera (kepemimpinan) pada saat pembebasan Kota Mekah, setelah Rasulullah mencopot ayahnya karena berkata (kepada Abu Sufyan), “Hari ini adalah hari pembalasan. Hari saat yang haram dihalalkan. Dan hari ini Allah menghinakan kaum Quraisy”. Lalu Rasulullah membantahnya dengan sabdanya, “Hari ini adalah hari kasih sayang. Hari dimana Allah muliakan orang-orang Quraisy”.

Mereka, Allah muliakan dengan memeluk Islam. Siapa yang memeluk Islam, maka ia mulia dan tidak lagi menyembah kepada sesama makhluq (sesama ciptaan). Tapi berganti menyembah sang Khaliq (sang Pencipta). Mereka menjadi merdeka karena terbebas dari penghambaan kepada selain Allah.

Dari ‘Ashim bin Amr bin Qatadah, Rasulullah menugaskan Qays bin Saad bin Ubadah mengambil zakat. Qays bin Saad bin Ubadah adalah seorang pemimpin yang ditaati, kaya, dermawan, salah seorang sahabat yang utama, orang Arab yang paling berani dan paling dermawan. Ia juga memiliki pemikiran yang bijak dan tepat. Juga pandai dalam strategi perang. Dan keluarganya adalah keluarga yang terpandang.

Abu Umar al-Waqidi mengatakan, “Qays bin Saad bin Ubadah merupakan salah seorang sahabat Rasulullah yang paling dermawan dan paling pemberani. Ia merupakan singanya bangsa Arab. Seorang cendekiawan yang pandai dalam strategi perang. Tak terbantahkan lagi, ia adalah pemuka kaumnya. Dia, ayahnya, dan kakeknya adalah tokoh kaumnya. Dia, ayahnya, dan saudara laki-lakinya, Said bin Saad bin Ubadah adalah sahabat Rasulullah.”

Baca juga: Nu’man bin Muqarrin, Pemimpin Bani Muzaynah yang membawa 400 Penunggang Kuda untuk Masuk Islam

Surau
Logo
Register New Account
Reset Password
Shopping cart