Nu’man bin Muqarrin, Pemimpin Bani Muzaynah yang membawa 400 Penunggang Kuda untuk Masuk Islam

Please log in or register to like posts.
Nu’man bin Muqarrin, Pemimpin Bani Muzaynah yang membawa 400 Penunggang Kuda untuk Masuk Islam - Surau.co

Surau.co – Nu’man bin Amru bin Muqarrin al-Muzani adalah sahabat Rasulullah SAW dan termasuk golongan kaum Anshar. Nu’man bin Muqarrin berasal dari Bani Muzaynah yang tinggal antara Madinah dan Mekkah. Ia dan kesembilan saudaranya menyatakan keislamannya setelah mendengar kebenaran ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Nu’man tidak mengikuti pertempuran Badar dan Pertempuran Uhud, karena pada saat itu dirinya belum memeluk Islam.

Berita kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah menyebar dengan cepat dan terdengar luas. Berbagai kabilah di kota yang dulu bernama Yatsrib itu ramai menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabat, tidak terkecuali Bani Muzaynah. Meskipun jarak antara Madinah dan tempat Bani Muzaynah bermukim cukup jauh, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Nu’man merupakan kepala suku Bani Muzaynah. Dia menjadi bagian dari kelompok Anshar yang pertama memeluk Islam, sehingga membuat banyak orang ketika itu takjub kepada Islam. Pada suatu malam, Nu’man bin Muqarrin berkumpul bersama kelompoknya dan tetua suku mereka. Nu’man mengajak anggotanya untuk menyambut kedatangan Rasulullah SAW sekaligus mendengarkan ajarannya yang penuh kebaikan, rahmat, dan keadilan.

Nu’man berencana berangkat pada pagi, keesokan harinya. Siapa pun yang ingin ikut bersamanya, mereka harus bersiap siap. Keesokan harinya, dia bersama 10 saudara laki-lainya dan empat ratus penunggang kuda dari Muzaynah pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah SAW.

Namun, di tengah perjalanan, hatinya gundah. Ia merasa malu untuk menemui Rasulullah SAW karena tidak memiliki hadiah yang pantas untuk umat muslim. Maklum saja, tahun itu mereka sedang dilanda kekeringan dan kelaparan. Dampaknya, ternak dan panen pertanian mereka hancur.

Nu’man bin Muqarrin memang dikenal sebagai seorang pemimpin yang santun dalam bertutur kata. Sikap itu membuat masyarakat mengaguminya. Sikap seperti itulah yang membuat masyarakat mengangkatnya sebagai pemimpin. Mendengar berita keberangkatan Bani Muzaynah ke Madinah, Rasulullah SAW amat senang dengan kedatangan Nu’man bersama kelompoknya.

Bahkan, seluruh penduduk Madinah penuh dengan kegembiraan dengan kedatangan Bani Muzaynah. Belum pernah ada satu keluarga dengan 10 saudara laki-laki yang menerima Islam bersamaan dengan empat ratus penunggang kuda. Namun, Nu’man bersama kerabatnya bersyahadat ketika itu tanpa keraguan sedikit pun tentang kebenaran Islam.

Ketulusan Nu’man bin Muqarin dan keluarganya dalam menerima Islam diabadikan dalam Alquran Surah at-Taubah ayat 99. Setelah memeluk Islam, Nu’man mengabdikan dirinya kepada Rasulullah SAW. Dia menemani utusan Allah SWT itu dalam berdakwah dengan berani. Pada masa Abu Bakar, Nu’man memiliki peran penting dalam mengakhiri fitnah.

Suatu ketika, di bawah kekhalifahan Umar bin Khattab, Nu’man bin Muqarrin diberi kekuasaan dan kewenangan sebagai seorang Gubernur. Hal tersebut dapat menjadi sarana yang baik untuk melampiaskan nafsu apabila dia menghendakinya. Makmurnya wilayah yang dipimpinnya menjadikan kekayaan melimpah ruah di ujung jarinya. Kekuasaan dan kewenangan pun dapat menghindarkan dirinya dari segala macam tuntutan atau gangguan orang lain.

Namun, iman yang telah membaja telah menjadi benteng kokoh yang tidak mungkin dapat dihancurkan oleh nafsunya. Nu’man bin Muqarrin menyadari dia harus senantiasa memelihara keutuhan imannya dalam menghadapi godaan-godaan yang terbuka lebar. Disebabkan dirinya khawatir imannya tidak dapat membendung kemaksiatan dan kedurhakaan yang mungkin timbul, ia memutuskan untuk mengembalikan mandat kepemimpinannya kepada Khalifa umar bin Khattab.

Nu’man bin Muqarrin berkirim surat kepada Khalifah agar kembali ditugaskan sebagai prajurit di medan perang seperti sebelumnya, untuk dapat menjauhi kekuasaan di wilayah yang dipimpinnya. Ia lebih memilih kembali berjuang di lapangan sebagai mujahid, aksi yang tidak kenal lelah demi kebersihan dirinya.

Suatu ketika, terjadi perselisihan antara penguasa Persia dan umat Islam. Meskipun ada kekalahan dan kemunduran lainnya, Kaisar Persia Yazdagird menolak untuk menyerah dan terus-menerus mengorganisasi pungutan baru untuk menyerang umat Islam dan memicu pemberontakan di provinsi-provinsi yang berada di bawah kendali muslim.

Khalifah Umar telah menasihati agar umat Islam menjaga kesantunan. Pasukan muslim diperintahkan untuk tidak berjalan terlalu jauh ke Timur. Namun, Khalifah Umar mendapat kabar tentang mobilisasi Persia secara besar-besaran. Sebanyak 150 ribu tentara Persia melawan umat Islam. Khalifah Umar bin Khatab pun mencari komandan militer yang terampil.

Semua orang mengajukan nama Nu’man sebagai komandan perang. Khalifah Umar pun mengirim surat memerintahkannya memimpin perang. Nu’man pun kembali mendapatkan tugas untuk berjihad ke Nahawand mempimpin umat Islam meng-counter orang-orang Persia. Dalam penyebaran Islam ke Persia, ia dipercaya sebagai panglima perang dalam Pertempuran Nahawand. Namun, Nu’man diarahkan agar sebisa mungkin menghindari jatuhnya korban dari umat Islam. Nu’man pun mematuhi perintah Amirul Mukminin tersebut.

Nu’man bin Muqarrin memobilisasi pasukan dan mengirim pasukan kavaleri untuk mempercepat sampai ke kota. Tepat di luar kota Nahwand seluruh kuda berhenti meskipun penunggang kuda memaksa maju. Ternyata musuh telah memasang jebakan. Nu’man pun melakukan taktik perang untuk memancing musuh keluar.

Mereka berkemah di pinggiran kota. Dengan perintah takbir sebanyak tiga kali, perang pun dimulai. Meski kalah jumlah satu banding enam, tentara Persia kewalahan. Dalam kondisi terluka selepas pertempuran, beliau sempai menitipkan pesan untuk disampaikan kepada Khalifah Umar bahwa Islam mendapatkan kejayaannya. Dalam tugas itu pula lah, di akhir perjuangan, darah syuhada Nu’man mengalir. Nu’man mati syahid di perang tersebut. Ketika Umar mendengar syahidnya Nu’man, dia pun menangis sedih sambil menutup wajahnya.

Agar tidak mengendurkan semangat pasukan muslim, kematiannya ditutupi untuk sementara waktu oleh saudara-saudaranya yang kemudian melanjutkan memimpin pertempuran untuk meraih kemenangan.

Baca juga: Nu’man bin Malik, Sahabat yang Gugur dalam Perang Uhud