Nu’man bin Malik, Sahabat yang Gugur dalam Perang Uhud | Surau

Nu’man bin Malik, Sahabat yang Gugur dalam Perang Uhud

Deal Score0

Surau.co – An-Nu’man bin Malik Al-Khazraj berasal dari Bani Khazraj, Kaum Anshar. Ia mengikuti pertempuran dalam membela Islam, seperti Pertempuran Badar dan gugur syahid dalam pertempuran Uhud. Ayahnya, Malik bin Tsa’labah dinamakan juga Naufal sehingga ia disebut An-Nu’man bin Naufal. Ibu, Amrah binti Ziyad adalah saudara perempuan Mujdzar bin Ziyad. Jadi Nu’man memeluk Islam bersama dengan kaum Anshar yang lain.

Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Samurah r.a. bahwa An-Nu’man bin Malik menemui Rasulullah SAW dan bertanya: Ya, Rasulallah, jika aku mengerjakan solat wajib, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, aku dapat masuk surga, Rasulullah SAW menjawab: Ya.

Hadits ini terbilang singkat, namun di dalamnya terkandung makna yang sangat dalam, yaitu jalan menuju surga. Ada beberapa poin penting yang dapat kita ambil dari hadits ini. Pertama, Allah SWT telah menerapkan rambu-rambu yang pasti dalam hidup berupa ketentuan yang teraplikasikan dalam konteks halal dan haram. Barangsiapa yang melanggarnya, maka ia akan tersesat dan tidak akan sampai pada tempat yang dituju.

Kedua, rambu-rambu tersebut pasti sesuai dengan kapasitas dan kemampuan manusia untuk menjalaninya. Tidak ada satu pun beban yang diberikan Allah SWT kepada manusia, entah berupa kewajiban, larangan, atau ujian- kecuali manusia sanggup memikulnya.

Dalam QS Al-Baqarah ayat 286 disebutkan, Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Hal ini mengandung sebuah pelajaran bahwa semua yang diperintahkan Allah, dan semua yang dilarang Allah, pasti telah disesuaikan dengan kemampuan diri, sehingga setiap kita akan sanggup melaksanakannya. Semuanya berpulang pada kesiapan hati kita, seberapa kekuatan niat dan azzam dalam hati kita untuk melaksanakan perintah tersebut.

Karena itu, Rasulullah SAW dengan mudahnya ‘menjanjikan’ surga kepada Nu’man, walaupun sekadar melaksanakan hal-hal wajib yang dibebankan Allah. Asalkan ia menjalankannya dengan sebaik mungkin.

Ketiga, dalam hadits ini tercermin kecintaan dan kerinduan terhadap surga. Lihatlah, bagaimana kecintaan dan kerinduan Nu’man terhadapnya. Ia pun berusaha mengetahui jalan untuk mendapatkannya, dan menegaskan tentang amalan yang ia lakukan yang dapat mengantarkannya menuju surga.

Kerinduan terhadap surga hakikatnya memperlihatkan pula tumbuh suburnya keimanan dalam jiwa. Biasanya, kerinduan terhadap surga akan diikuti oleh ketakutan yang sangat terhadap azab neraka.

Keempat, surga akan didapat bila kita istiqamah dalam berbuat kebaikan. Seandainya komitmen kita telah maksimal dalam menjaga hal-hal yang wajib, maka hal itu sudah cukup memasukkan kita ke surga. Walaupun demikian, sangat ideal bila kita melengkapinya dengan ibadah-ibadah sunnah.

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Tidak ada amalan-amalan yang akan mendekatkan seorang hamba kepada-Ku, kecuali ia melakukan kewajiban-kewajiban yang telah Aku perintahkan kepadanya.” Sikap istiqamah di sini termasuk pula dalam melaksanakan yang halal dan menjauhi semua yang haram

Nu’man bin Malik turut serta dalam perang Badar. Ia menyumbang saham amat signifikan dalam kemenangan kaum muslimin kala itu. Dengan harapan syahid, sahabat tersebut masih dikaruniai kehidupan nan mulia hingga akhirnya bergabung dengan kafilah perang Uhud beberapa tahun kemudian.

Waktu itu, setelah bermusyawarah dengan para shahabat, Rasulullah SAW memutuskan untuk menyambut serangan kaum kuffar Makkah dan sekitarnya diluar Madinah. Sebelum berangkat, Rasulullah SAW membagi pasukan menjadi tiga regu dan masing-masing diberi bendera. Bendera regu Muhajirin diserahkan kepada Mush’ab bin Umar yang selanjutnya diganti oleh Ali bin Abu Thâlib setelah Mush’ab wafat sebagai syahid di medan tempur. Kemudian bendera Aus dibawa oleh Usaid bin Hudhair sementara satu bendera lagi yaitu bendera Khazraj dipercayakan kepada al Habbab bin al Mundzir.

Rasulullah SAW meninggalkan Madinah pada hari Jum’at disertai dengan seribu pasukan. Diantara mereka ada 100 orang yang mengenakan baju besi. Rasulullah SAW sendiri pada saat itu mengenakan dua lapis baju besi. Sebelum meninggalkan Madinah, Rasulullah SAW memberikan amanah kepada Abdullah bin Ummi Maktûm untuk mengimami shalat kaum muslimin di Madinah. Ketika sudah melewati bukit Wadâ’, Rasulullah SAW melihat sekelompok orang yang bersenjata lengkap. Rasulullah SAW bertanya: “Siapa mereka ?” Para shahabat menjawab : “Itu adalah Abdullah bin Ubay ibnu Salul beserta teman-temannya orang-orang Yahudi Bani Qainuqâ’, kelompoknya Abdullah bin Salam yang berjumlah enam ratus. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apakah mereka sudah memeluk agama Islam ?” Para shahabat menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda : “Suruhlah mereka pulang! kita tidak akan minta bantuan kepada orang-orang musyrik dalam rangka menghadapi orang-orang musyrik juga.”

Jika riwayat ini benar, berarti pengusiran terhadap Bani Qainuqa’ itu terjadi setelah perang Uhud.

Kemudian Rasulullah SAW dan kaum muslimin melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di as-Syauth (nama tempat), tokoh munafik Abdullah bin Ubay ibnu Salul diikuti oleh tiga ratus munafik lainnya membelot, kembali dan tidak mau ikut berperang. Mereka beralasan bahwa peperangan tidak akan terjadi. Pembelotan ini juga sebagai bentuk protes terhadap Rasulullah SAW yang memutuskan untuk menyambut kedatangan musuh di luar Madinah. Dalam merespon tindakan buruk yang dilakukan orang-orang munafik ini, para shahabat terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok memandang agar kaum muslimin menyerang dan memberi pelajaran kepada orang-orang munafik ini sementara satu kelompok lagi memandang tidak perlu menyerang mereka.

Pertempuran Uhud terjadi sangat sengit. Pada Perang Uhud kaum muslimin megalami kekalahan sebab pasukan pemanah yang berada di atas bukit turun untuk mengambil harta rampasan perang yang berada di lembah, padahal perang belum usai. Akhirnya mereka terkepung oleh pasukan kafir Quraisy dan banyak sahabat yang gugur dalam perang Uhud.

Dalam perang Uhud, harapan Nu’man bin Malik menjadi nyata. Saat perang berkecamuk, dengan amat lantang ia berseru, “Aku bersumpah demi Engkau, wahai Rabb al-‘Izzah”, lanjutnya berapi-api, “tidak akan sampai matahari tenggelam dan terlipat di peraduannya,” pungkasnya penuh keyakinan, “melainkan aku telah berada di kehijauan surga.”

Qadarullah, harapan positifnya bertemu dengan pengabulan dari-Nya. Ia gugur dengan gagah sebagai syuhada’ yang harum darahnya beraroma surga.

Lepas itu, Rasulullah SAW bersabda, bahwa sahabat tersebut telah berprasangka baik kepada Allah Ta’ala, dan ia mendapati hal baik terkait prasangka baiknya itu.

Sabda Rasulullah SAW seraya memuji, “Sungguh, aku telah melihatnya berkeliling dan tinggal di kehijauan surga.”

Nu’man bin Malik dimakamkan bersama dengan Ubadah bin Al-Khasykhasy dan Mujadzar bin Ziyad dalam satu liang lahat di Pemakaman Gunung Uhud, Madinah.

Surau
Logo
Register New Account
Reset Password
Shopping cart