Tak Berkategori  

Biografi Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi 864-925 M, dan Konsep Pemikiran Filsafatnya

Avatar
Google News
Biografi Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi 864-925 M, dan Konsep Pemikiran Filsafatnya
Biografi Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi 864-925 M, dan Konsep Pemikiran Filsafatnya
Daftar Isi

Biografi Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi 864-925 M, dan Konsep Pemikiran Filsafatnya

Surau.co – Pembahasan kali ini adalah tentang Biografi Abu Bakar Muhammad Bin Zakaria Al-Razi 864-925 M, dan sumbangsihnya terhadap dunia pendidikan Islam.

Dunia pendidikan Islam pada umumnya masih menghadapi berbagai permasalahan, mulai dari masalah penetapan tujuan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, hingga masalah metode dan kurikulum. Lebih dari itu, kenyataan juga menunjukkan adanya ketidakjelasan arah pendidikan Islam. Pendidikan Islam belum menemukan satu format dan bentuk yang sesuai dengan orientasi ajaran Islam.

Hoodbhoy (1996), berpendapat bahwa penyebab utama keadaan yang menyedihkan dunia Muslim adalah fundamentalisme dan ortodoksi, bahka dalam catatannya, setidaknya ada enam hal yang menjadi penyebab lemahnya karakter keilmuan, yakni sikap dan pandangan filosofis, konsepsi pendidikan, akibat kekhususan hukum Islam, kelemahan formasi sosial ekonomi, serta sebab-sebab yang timbul dari politik Islam. 

Upaya membangun kembali etos keilmuan masyarakat dapat dicapai melalui bidang pendidikan dengan merumuskan konsep-konsep pendidikan berdasarkan falsafah yang menjamin perkembangan yang dinamis dan kreatif.

Pemahaman tentang dasar-dasar pemikiran yang mendasari kinerja kegiatan pendidikan sangat penting dalam rangka memperjelas konsep dan pengetahuan pendidikan. Lebih lanjut, pendidikan itu sendiri tidak lepas dari filosofi yang melatarbelakanginya.  

Menurut Supriyadi (2009), Muhammad Ibn Zakariya Al-Razi atau biasa dikenal dengan Al-Razi adalah seorang ilmuwan Islam yang berprofesi sebagai dokter, dosen, fisikawan, kimiawan, dan filosof.

Dalam bidang filsafat, seperti halnya Miska Muhammad Amien (1983), ar-Razi memiliki pemikiran yang sangat orisinal dan mandiri, yang dalam beberapa hal berbeda dengan kebanyakan cendekiawan Muslim pada masanya.

Para pemikir dan filosof Islam kerap berusaha menyelaraskan pemikirannya dengan agama, sedangkan ar-Razi dikenal sebagai sosok yang memilih jalan filosofis untuk menyelesaikan berbagai persoalan termasuk persoalan agama.  

Secara teoritis, filsafat Al-Razi memungkinkan untuk dikembangkan sebagai platform yang dapat memunculkan ide-ide baru di bidang pendidikan. Model yang dapat diterapkan adalah dengan memanfaatkannya sebagai penunjang pemahaman dasar-dasar pendidikan, karena masalah utama filsafat juga merupakan masalah utama pendidikan.

Dalam hal ini, filsafat Al-Razi harus diposisikan sebagai way of life atau pandangan dunia yang mengandung konsep-konsep ideologis berdasarkan fakta atau kebenaran yang diyakini dan ditempatkan sebagai realitas yang sebenarnya.  

Pemahaman tentang realitas mendasari terbentuknya cita-cita hidup yang ideal dalam kerangka tujuan hidup yang diharapkan. Nilai-nilai kebenaran yang seharusnya dicari dapat ditanamkan ke dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam aspek kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, hukum dan lainnya dengan melalui berbagai cara, termasuk melalui proses pendidikan. 

Secara fungsional, filsafat Al-Razi juga dapat dijadikan dasar untuk merumuskan teori-teori pendidikan yang lebih spesifik. Studi pemikiran Al-Razi tentang hal-hal di balik dunia fisik memberikan pemahaman tentang sifat, makna dan tujuan hidup, yang merupakan bagian integral dari tujuan pendidikan.  

Filsafat Al-Razi juga memberikan pemahaman tentang sifat manusia, membantu memahami potensi spiritual. Dalam dunia pendidikan, pemahaman psikologi sangat penting untuk dapat memberikan perlakuan yang tepat kepada peserta didik dalam proses pendidikan. 

Pemikiran epistemologis Al-Razi memberikan wawasan tentang sumber, metodologi, dan jenis pengetahuan, termasuk sistem nilai yang perlu diajarkan. Hakikat ilmu atau pengetahuan yang merupakan hakikat pendidikan ditentukan oleh visi epistemologis yang digunakan.  

Oleh karena itu, pandangan ini relevan dengan filsafat moral yang menghadirkan konsep kebenaran pada sistem nilai, karena pada tataran praktis ilmu tidak dapat memisahkan nilai-nilai.

Biografi Al-Razi

Menurut Supriyadi (2009) bahwa nama lengkap al-Razi adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi. Al-Razi dikenal sebagai dokter, filsuf, kimiawan, dan pemikir bebas (250-313 H/864-925 M atau 320 H/932 M), oleh orang Latin dipanggil Rhazes, dilahirkan di Rayy, dekat Teheran (sekarang Iran). Menurut Amien (1983) bawha Al-Razi mempunyai hubungan darah dengan bangsa Parsi (Iran) dan lahir di zaman kejayaan Abbasiyah.

Menurut Syarif (1993), bahwa al-Razi belajar ilmu kedokteran kepada Ali ibn Rabban Ath-Thabari. Al-Razi belajar filsafat kepada Al-Balkhi. Al-Balkhi adalah orang yang banyak melakukan perjalanan, menguasai filsafat dan ilmu-ilmu kuno. Beberapa orang mengatakan bahwa Al-Razi menghubungkan dengan dirinya sendiri buku-buku filsafat Al- Balkhi.

Menurut Hadi (2009) bahwa di kota kelahirannya, Al-Razi terkenal sebagai dokter. Karena itu, ia memimpin sebuah rumah sakit di Rayy, ketika Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn Azad menjadi Gubernur Rayy, dari tahun 290-296H/902-908M.

Al-Razi merupakan seorang dokter yang memiliki jiwa dan pikiran yang didasarkan pada filsafat. Perpaduan filsafat dan kedokteran menjadikan kualitas keilmuan Al-Razi memiliki nilai plus dibanding para pendahulunya.

Baca Juga: Biografi Omar Khayyam 1048 M, Fulsuf yang Dikagumi Karena Kecerdasan dan Bahasanya yang Puitis

Filsafat Al-Razi

Filsafat Al-Razi meliputi: filsafat lima kekal, filsafat rasionalis, filsafat moral.

1. Filsafat Keabadian

Menurut Ali, lima ajaran abadi Al-Razi adalah: pertama, Al-Bari Ta’ala, Tuhan Pencipta yang tertinggi dan paling sempurna. Kedua, An-Nafsul-Kulliyah, jiwa universal yang hidup dari tubuh ke tubuh sampai suatu hari menemukan kebebasan sejati.

Ketiga, Al-Hayulal-Ula, materi pertama dari mana Allah menciptakan dunia. Bahan ini terdiri dari atom-atom dengan volume. Atom-atom ini mengisi ruang sesuai dengan kerapatannya. Atom bumi adalah yang terpadat, diikuti oleh air, udara, dan api.

Keempat, Al-Makanul-Mutlaq, ruang mutlak dan abadi tanpa awal dan akhir. Dan Kelima, Az-Zamanul-Mutlaq, waktu yang mutlak dan abadi tanpa awal dan akhir.

Pemikiran filsafat al-Razi tentang lima yang kekal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Al-Bari Ta’ala, Tuhan Pencipta Yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna.

Tuhan bersifat sempurna, maka tidak ada kebijakan yang tidak sengaja, karena itu ketidaksengajaan tidak bersifat kepada-Nya. Kehidupan berasal dari-Nya sebagaimana sinar datang dari matahari Tuhan mempunyai kepandaian yang sempurna dan murni.

Hidup ini mengalir dari roh. Tuhan telah menciptakan sesuatu dan tidak ada yang bisa menandinginya dan tidak ada yang bisa menolak kehendaknya. Tuhan Maha Bijaksana, segala sesuatu.

Tetapi jiwa hanya tahu apa yang muncul dari pengalaman dan Tuhan tahu bahwa roh itu materialistis dan membutuhkan kesenangan material.

2. An-Nafsul- Kulliyah, Jiwa universal yang hidup dari jasad ke jasad sampai suatu waktu menemukan kebebasan yang hakiki.

Tuhan tidak menciptakan dunia dengan tekanan apa pun tetapi Tuhan memutuskan ciptaan-Nya setelah awalnya tidak ingin menciptakannya, Begitu pula Tuhan menciptakan manusia untuk membangkitkan roh dan untuk itu melihat bahwa dunia ini bukan dunia nyata dalam arti esensial.

Manusia tidak akan mencapai hakikat kecuali dengan filsafat, mereka mempelajari filsafat untuk mengetahui dunia yang hakiki serta untuk memperoleh pengetahuan yang akan diselamatkan dari keadaan buruk mereka. Roh tetap berada di dunia ini sampai mereka dibangunkan oleh filsafat tentang rahasianya. Melalui filsafat, manusia dapat memperoleh dunia nyata, dunia nyata atau dunia yang hakiki.

3. Al-Hayulal-Ula, materi pertama yang dari padanya Tuhan menciptakan dunia.

Menurut Ar-Razi kemutlakan, materi pertama terdiri dari atom-atom, setiap atom mempunyai volum yang dapat dibentuk.

Dan apabila dunia ini dihancurkan, maka ia akan terpisah-pisah dalam bentuk atom-atom, sehingga dengan demikian materi berasal dari kekekalan, karena tidak mungkin menyatakan suatu yang berasal dari ketiadaan sesuatu.

4. Al-Makanul-Mutlaq, ruang yang absolut, abadi tanpa awal dan tanpa akhir.

Menurut Ar-Razi, ruang adalah tempat keberadaan materi, menurutnya materi itu abadi dan karena materi memiliki ruang abadi.

Bagi Ar-Razi, ruang dibagi menjadi dua, yaitu waktu universal (absolut) dan waktu spesifik (relatif), alam semesta tidak terbatas dan tidak bergantung pada dunia dan segala isinya, sedangkan ruang relatif itu sebaliknya.

5. Az-Zamanul- Mutlaq, masa yang absolut, abadi tanpa awal dan tanpa akhir.

Yang Abadi hanyalah Waktu. Ar-Razi membagi waktu menjadi dua kategori, yaitu waktu absolut dan waktu relatif (terbatas). Waktu mutlak adalah kontinuitas, keabadian dan gerak. Sedangkan gerak relatif adalah gerak medium, matahari dan bintang.  

Lima Filsafat Abadi Al-Razi, di mana pikiran memiliki inti yang disebut ide atau pemikiran, berupa daya nalar yang dianggap sebagai daya nalar, sebagai penjelmaan Jiwa Ilahi Semesta (an-Nafs al-Kulliyah). Dengan demikian, daya nalar membantu manusia mencapai kebenaran ilahi.

Doktrin Lima Keabadian (al-Qudama al-khamsah) menyajikan sejumlah studi berbasis luas tentang waktu, kekosongan, dan perpindahan jiwa yang dikembangkan sebagai dasar untuk memahami tema alam semesta.  

Memahami alam semesta sebagai kosmologi berarti melihat alam semesta sebagai satu kesatuan kosmis, sedangkan manusia sebagai individu termasuk materi dan ruh ditempatkan sebagai mikrokosmos, realitas tunggal yang merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem kosmis.  

Pemahaman tentang keduanya mendasari pemahaman tentang asal usul dan arah yang akan dituju oleh tujuan hidup. Pemahaman tentang masalah ini mendasari penentuan sikap terhadap kehidupan ini.

Filsafat Al-Razi membantu memahami konsep penciptaan berdasarkan pemahaman tentang hakikat Tuhan, alam semesta, dan manusia. Hal ini membuat pendapatnya mencerminkan visi teologisnya sendiri.

Dalam pandangan Al-Razi ruang semesta membentang sangat luas dan tak terbatas, di mana Tuhan merupakan sentralnya. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Mutlak yang memiliki kekuasaan tak terbatas. Kekuasaan Tuhan tidak terbatasi oleh ruang waktu.

Kehendak (iradah) Tuhan menyemarakkan kehampaan semesta  dengan menciptakan alam dari substansi sederhana menjadi substansi yang terbentuk, kemudian dengan pancaran kehendak-Nya pula Tuhan membangkitkan gerak dinamika alam.

Kehendak Tuhan memecah kegelapan dan kesunyian alam semesta dengan gerak dan keabsahan alam (sunnatullah).  

Manusia pada hakekatnya hanyalah kehidupan yang sangat terbatas (miniatur), hanyalah suatu bentukan materi dan ruh yang menempati ruang terbatas di antara ketidakterbatasan ruang dan waktu.

Seiring berjalannya waktu, unsur-unsur material dalam diri manusia berupa badan (materi) akan musnah, kembali ke materi semula, sedangkan ruh yang merupakan hakikat manusia akan kembali ke keadaan tidak nyata, kematian asal.

Semua ciptaan ini demi ruh yang telah ditolong untuk mengisi alam fisik dalam wujud manusia. Bagi manusia, gerak pikiran dari ketiadaan ruang tanpa batas ke dalam beberapa materi adalah proses persepsi (pendidikan) tentang ketidaktahuan yang telah menyimpang dari jalan yang benar dan bahagia.

Terjeratnya jiwa dalam materi adalah akibat dari ketidaktahuan akan hakikat kebahagiaan yang hakiki, yang telah diberikan Tuhan kepada jiwa rasional yang memancar dari jiwa semesta-Nya, agar manusia dapat memahami esensi kehidupan, dirinya, kebahagiaan dan kebutuhannya.

Di sisi lain, jebakan ini juga memberi kesempatan kepada pikiran untuk belajar melalui pengalaman. Karena kita dapat mengatakan bahwa kehendak Tuhan untuk menciptakan kehidupan ini tidak sia-sia (ma khalakta hadza bathila), tetapi kesempatan untuk belajar bagi manusia untuk memiliki kebahagiaan sejati.

Hidup adalah kesempatan untuk bangkit dari ketidaktahuan menuju kebahagiaan sejati melalui pembelajaran. Untuk mencapai kebahagiaan sejati, perlu dimulai dengan proses menyadari sifat alami Anda sendiri dan menjadi bahagia.

Kebahagiaan yang tidak didahului oleh proses sadar berarti kebahagiaan dalam ketidaktahuan atau ketidaktahuan, berpotensi mengarah pada penyimpangan, seperti jiwa bodoh yang tertarik pada materi.

Filosofi Al-Razi mengarahkan hidup menuju pencarian kebahagiaan sejati, yang dapat dicapai dengan membebaskan pikiran dari keterikatan material. Kebahagiaan yang ada dalam hidup ini bukanlah kebahagiaan yang hakiki melainkan hanya kebahagiaan yang palsu, meski diwarnai dengan rasa sakit.

Namun, ar-Razi melihat hidup bukan sebagai fantasi tetapi sebagai kesempatan yang sangat berharga. Kebahagiaan selanjutnya, yaitu pembebasan jiwa dari pengaruh material, dapat dicapai dengan mengembangkan pikiran yang optimis.

Untuk itu perlu didukung pikiran yang sehat, di mana semua urusan tubuh mendapat perhatian penuh, sehingga manusia dapat berfungsi secara normal. Upaya dapat dilakukan untuk memperlakukan setiap elemen jiwa secara seimbang.

Ini berarti memiliki hubungan dengan gaya hidup yang benar. Al-Razi menjadikan sifat-sifat Tuhan sebagai acuan dalam kehidupan. Tuhan adalah yang paling cerdas, paling adil, dan paling baik, yang sifat-sifatnya harus diteladani oleh manusia.

Manusia harus belajar menjadi cerdas, mampu bersikap adil dan bijaksana dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, serta berbelas kasih kepada orang lain.

Al-Razi mencela kehidupan para hedonis bernafsu, serta para biarawan dan ulama yang telah memilih jalan pelepasan keduniawian dengan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat-tempat ibadah dan mengabaikan kebutuhan hidup lainnya, (Iqbal, 2003: 79).

Kehidupan yang ideal didasarkan pada melihat kesehatan mental dan fisik sebagai standar hidup yang ideal. Untuk itu manusia wajib memelihara karunia Allah berupa pemeliharaan fisik dan psikis dengan perlakuan yang seimbang.

Keseimbangan ego manusialah yang nantinya akan membentuk manusia sempurna, yang tercermin dari perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan individu dalam menjalankan kontrol pribadi menandakan keberhasilan adaptasi terhadap norma-norma sosial dan agama.

Dalam hal ini akal memiliki beberapa fungsi: pertama, untuk mencari dan menemukan kebenaran sehingga dapat menentukan baik buruknya nilai-nilai yang ada, serta sebagai alat kontrol individu untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai atau kebenaran tersebut kami percaya.

Kedua, akal berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan menciptakan berbagai hal (teknologi) untuk memudahkan pemenuhan kebutuhan hidup.

Asas keseimbangan juga merupakan dasar dari hubungan sosial, di mana untuk kepentingan bersama anggota masyarakat perlu dibangun hubungan yang saling menguntungkan dengan saling membantu dan bekerja sama.

Oleh karena itu, kehidupan yang ideal membutuhkan keadilan dalam kerjasama sosial. Tidaklah tepat bila seseorang harus membayar terlalu mahal untuk suatu pelayanan, karena di satu pihak berarti kerugian, dan di pihak lain jasa itu terlalu besar untuk mendapatkan pahala seperti halnya perbudakan.

Filsafat Rasionalis

Nasution (2008:25) mengatakan bahwa Al-Razi adalah seorang filsuf yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya yang bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam, seperti tidak percaya wahyu; Al-Qur’an bukan mukjizat; tidak percaya nabi-nabi; tidak percaya adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan. 

Al-Razi adalah seorang rasionalis-religius, bukan rasionalis-liberal karena Al- Razi masih mengakui dan mendasarkan logikanya kepada agama dan kewahyuan, (Supriyadi, 2009:77) Rasionalis Al-Razi terhadap akal tampak dalam perkataannya:  

Tuhan, segala puji bagi-Nya, yang telah memberi kita akal agar dengannya, kita memperoleh sebanyak-banyak manfaat; inilah karunia terbaik Tuhan kepada kita. Dengan akal, kita melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik dengan akal, kita dapat mengetahui yang gelap, yang jauh, dan yang tersembunyi dari kita.

Dengan akal pula, kita dapat memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, suatu pengetahuan tertinggi yang dapat kita peroleh. Jika akal sedemikian mulia dan penting, kita tidak boleh melecehkannya; kita tidak boleh menentukannya, sebab ia adalah penentu, atau kita tidak boleh mengendalikannya, sebab ia adalah pengendali, atau memerintahnya, sebab ia adalah pemerintah; tetapi kita harus merujuk kepadanya dalam segala hal dan menentukan segala masalah dengannya; kita harus sesuai dengan perintahnya.

Ungkapan Al-Razi menunjukkan bahwa manusia dilahirkan dengan kemampuan yang sama untuk menyerap ilmu, yaitu bahwa manusia diberkahi dengan akal.  

Sehingga setiap manusia memiliki perbedaan dalam menggunakan kemampuan intelektualnya, ada yang menggunakannya untuk belajar, ada yang mengabaikannya dan ada yang menggunakannya untuk kehidupan praktis.  

Al-Razi adalah seorang rasionalis murni yang tidak menempatkan wahyu maupun intuisi mistik dalam perolehan pengetahuan. Hanya dengan penalaran yang logis orang dapat memperoleh pengetahuan dan perilaku yang terpuji. 

Dari perkataan Al-Razi terlihat bahwa Al-Razi adalah seorang filsuf rasionalis murni yang hanya percaya pada kekuatan akal dan tidak percaya pada wahyu dan keharusan para nabi.

Al-Razi meyakini bahwa akal manusia sangat kuat untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, untuk mengetahui Tuhan dan mengatur kehidupan manusia di dunia ini.

Manusia dalam pendapatnya, pada dasarnya mempunyai daya berpikir yang sama besarnya, dan perbedaan timbul karena berlainan suasana perkembangannya. Menurut al-Razi dalam Yusran Asmuni (1996: 111-112),”Manusia sejak lahir telah membawa pembawaan yang sama, hanya pendidikan dan lingkunganlah dapat mengubah seseorang menjadi baik atau buruk”.

Al-Razi menolak kehadiran nabi dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  • Manusia dengan akalnya mampu mengenal yang baik dan yang buruk, bahkan mampu pula mengenal adanya Tuhan.
  • Perbedaan seseorang dengan seseorang lainnya karena lingkungan dan pendidikan, bukan karena pembawaan atau hukum, manusia pada mulanya sama semuanya. Jadi tidak ada alasan memberikan hak istimewa kepada seseorang.
  • Bila Nabi itu membawa ajaran Tuhan, mengapa kenyataannya masing- masing agama selalu bentrokan (Yusran Asmuni, 1996: 112).

Menurutnya, para nabi membawa kehancuran bagi umat manusia, dengan ajaran-ajarannya yang kontradiktif. Bahkan, ajaran ini membangkitkan rasa benci dalam diri manusia yang terkadang berubah menjadi perang agama. Meski begitu, Al-Razi juga mengakui kenabian sebagaimana Al-Razi (dalam Dahlan, 2002:185) menyatakan:

Semoga Tuhan memberkati ciptaannya yang paling indah, Nabi Muhammad dan keluarganya, dan Tuhan memberkati Sayyid, kekasih dan penolong kita di hari kebangkitan, Muhammad, semoga Tuhan memberinya banyak berkah dan kedamaian selamanya.

Semua agama dikritik. Orang-orang tunduk pada agama, katanya, karena tradisi dan otoritas para pemimpin agama, dan karena mereka tertarik pada ritual yang mempengaruhi jiwa orang-orang yang berpikiran sederhana. Al-Quran dalam bahasa dan gaya konten apa pun bukanlah keajaiban.

Al-Razi lebih menghargai buku-buku filosofis dan ilmiah daripada buku-buku agama. Namun meskipun Al-Razi menentang agama secara umum, Al-Razi bukanlah seorang ateis, melainkan seorang monoteis yang meyakini adanya satu Tuhan, pencipta dan pendiri dunia ini (Amiens, 1983:46).

Dalam filosofinya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, Al-Razi melihat bahwa kebahagiaan manusia sebenarnya kembali kepada Tuhan dengan meninggalkan dunia material. Untuk kembali kepada Tuhan, jiwa harus disucikan terlebih dahulu, dan yang dapat menyucikan jiwa adalah ilmu dan pantang melakukan hal-hal tertentu. Pemahaman Al-Razi serupa dengan pemahaman para pertapa (د˚ اه) dalam kehidupan material.

Namun Al-Razi menyarankan untuk tidak terlalu mencari kesenangan. Manusia harus menghindari kesenangannya sendiri yang hanya dapat diperoleh dengan menyakiti orang lain atau bertentangan dengan akal. Tetapi di sisi lain, orang tidak boleh pergi makan tanpa berpakaian bagus, tetapi berdandan hanya untuk melestarikan diri.

Keyakinan Al-Razi terhadap daya nalar membuat pandangannya terhadap agama juga didasarkan pada pendekatan rasional. Ajaran agama tidak harus dipahami sebagai dogma mati dan harus diterima begitu saja. Keyakinan akan kebenaran dan urgensi agama didasarkan pada alasan yang dapat diterima oleh akal sehat.

Untuk itu, Al-Razi menyoroti banyak dogma agama yang dipandang bertentangan dengan akal sehat dan petunjuk Allah yang sebenarnya. Al-Razi mengajak manusia untuk membebaskan diri dari kemustahilan, karena tujuan awal kajian filsafat adalah menemukan kebenaran dan membebaskan manusia dari mitos supernaturalisme di bawah bendera rasionalisme.

Filsafat Moral

Mengenai moral al-Razi berpendapat bahwa orang jangan terlalu juhud akan tetapi juga jangan tamak, dengan kata lain jangan memanjakan nafsu, akan tetap juga jangan membunuh nafsu.

Adapun caranya ialah:

  • Secara maksimal memperoleh kesenangan itu dengan tidak menyakiti orang lain dan bertentangan dengan rasio.
  • Secara minimal memperoleh kesenangan dengan makan-makanan yang tidak mengandung penyakit dan berpakaian dapat menutup tubuh.

Menurut Aqbal (2003) Al-Razi memiliki bagian yang sangat penting dalam ilmu etika. Al-Razi menganggap kesenangan dan kesakitan sebagai dasar kehormatan dan penghinaan.

Kehormatan dapat dikatakan kehormatan karena kebaikannya lebih banyak daripada keburukan yang ditimbulkannya. Dengan kata lain, kesenangan yang dibawanya bisa lebih besar daripada kesengsaraan yang ditimbulkannya.

Kehormatan dan penghinaan tidak memiliki nilai khusus. Kebahagiaan diartikan sebagai kembalinya sesuatu yang hilang akibat kejahatan yang dicapai ketika pikiran berhasil mengendalikan berbagai kecenderungan jiwa secara seimbang.

Keseimbangan ini tercermin dalam cara hidup seseorang dalam komunitasnya yang tidak hanya mencari kesenangan duniawi (pleasure) dan tidak meluangkan waktu untuk kepuasan spiritual. 

Prinsip keseimbangan juga menjadi dasar hubungan sosial, mengingat manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup dengan baik tanpa bantuan orang lain.

Manusia hanya mampu melakukan jenis pekerjaan tertentu, oleh karena itu, kehidupan di antara anggota masyarakat hanya dapat diselesaikan dan diatur dengan baik oleh kemauan untuk saling membantu, bekerja sama, dan setia satu sama lain, kepada orang lain.

Menurut Hasyim Nasution (2005), pemikiran Ar-Razi tentang moralitas, yang dituangkan dalam bukunya Al-Thib al-Ruhani dan al-Sirah al-falsafiyyah, juga harus didasarkan pada petunjuk-petunjuk. Keserakahan harus berada di bawah kendali akal dan agama. 

Ia memperingatkan bahaya minuman keras yang dapat merusak pikiran dan melanggar ajaran agama, bahkan dapat menyebabkan penyakit mental dan fisik yang akan menghancurkan manusia.

Hasrat memanifestasikan dirinya sebagai kecenderungan alami manusia, dalam bentuk dorongan biologis dan psikologis untuk mencari kesenangan dan kehalusan tanpa mempertimbangkan berbagai konsekuensi yang mungkin muncul setelahnya.

Kecerdasan dapat memberikan solusi atas berbagai masalah dan dapat mengangkat derajat manusia ke tingkat yang paling tinggi. Kebijaksanaan berakar pada akal dan jiwa ilahi yang mempertimbangkan aspek material dan spiritual, sehingga mencapai konsekuensi yang berbeda di dunia dan masa depan.

Oleh karena itu, kebaikan golongan manusia terletak pada pengendalian hawa nafsu hingga jiwa yang bernafsu itu menjadi terbiasa menuruti dan mengikuti akalnya.

Kebaikan yang semata-mata didasarkan pada pemuasan kesenangan dan keinginan tubuh adalah kebaikan kepada hewan (al-bahaim). Hewan hanya membutuhkan kebebasan untuk memuaskan keinginan mereka tanpa tanggung jawab atau konsekuensi apa pun.

Jiwa yang berkembang pada hewan hanyalah jiwa keinginan. Keunggulan fisik hewan tidak memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan berpikir.

Jadi kebaikan tidak bisa hanya didasarkan pada memperoleh kesenangan fisik. Jika kebaikan diukur dengan mencapai kepuasan fisik, maka hewan lebih tinggi dari manusia, bahkan lebih tinggi dari Tuhan, yang tidak memiliki keinginan fisik.  

Menurut al-Razi dalam Hasyim Nasution, (2005), berbohong merupakan kebiasaan yang buruk. Kebohongan dibagi menjadi dua: untuk kebaikan yang terpuji, dan untuk kejahatan yang tercela. Jadi, nilai kebohongan terletak pada niat.

Begitu juga dengan mercenary, nilainya terletak pada alasan melakukannya. Jika teguran itu karena takut miskin dan takut akan masa depan, maka itu bukanlah hal yang buruk.  

Sehingga perlu dibenarkan bahwa jika perbuatan orang tersebut mempunyai alasan yang dapat diterima maka itu bukanlah suatu kejahatan, tetapi jika yang terjadi justru sebaliknya maka harus diperangi.

Karya-Karya Ar-Razi

Al-Razi banyak menulis buku tentang materi, ruang, nutrisi, waktu, gerak, optik, iklim, dan alkemi.10 (Hadi, 2003:14) Buku-buku Al-Razi menurut Ibn An-Nadim (dalam Syarif, 1993:36) adalah 118 buku, 19 surat, 4 buku, 6 surat, dan satu makalah, jumlah seluruhnya 148 buah. Ibn Abi Usaibi’ah menyebutkan 236 karyanya, tetapi beberapa di antaranya tidak jelas pengarangnya.

Buku-buku Al-Razi yang banyak jumlahnya dikolompokkan menjadi:

  • Ilmu kedokteran
  • Ilmu fisika
  • Logika
  • Matematika dan astronomi
  • Komentar, ringkasan, dan ikhtisar
  • Filsafat dan ilmu pengetahuan hipotesis,
  • Metafisika,
  • Teologi,
  • Alkimia,
  • Ateisme, dan
  • Campuran

Adapun karya-karya Ar-Razi yang masih dapat dinikmati sampai sekarang meskipun buku-buku tersebut dihimpun dalam satu kitab yang dikarang oleh orang lain adalah:

  • Al-Tibb al-Ruhani,
  • Al-Shirath al-Falasafiyah,
  • Amarat Iqbal al Daulah,
  • Kitab al-ladzdzah,
  • Kitab al Ibnu al Ilahi,
  • Makalah fi mabadd altalbiah,
  • Al Syukur ’Ala Proclas

Menurut Supriyadi (2009:72) di antara buku Al-Razi yang dapat disebutkan sebagai berikut:

  • Ath-Thib Ar-Ruhani,
  • Ash-Shirat Al-Falsafiyyah,
  • Amarat Iqbal Ad-Daulah,
  • Kitab Al-Ladzdzah,
  • Kitab Al-Ilm Al-Ilahi,
  • Maqalah fi Ma’bad Ath-Thabi’ah,
  • Al-Hawi fi Ath-Thibb,
  • Manshiri,
  • Kitab Sirr Al-Asrar,
  • Muluki, dan
  • Kitab Al-Jami Al-Kabir.

Itu dia beberapa ulasan seputar Al-Razi terkait pemikiran filsafatnya, tentu hal ini menjadi salah satu bentuk sumbagsih terhadap pemikiran islam baik pada masa itu hingga masa sekarang. Wallahua’lam!

Pewarta: EnolEditor: Nurul Hidayat
AvatarEnol
Mau tulisan kamu dimuat di Surau.co seperti Enol? Kirim Tulisan Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *