Abdullah bin Zaid, Sahabat Rasulullah SAW yang Bermimpi Seruan Azan | Surau

Abdullah bin Zaid, Sahabat Rasulullah SAW yang Bermimpi Seruan Azan

Surau.co – Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Ka’ab bin A’uf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghunm bin Mazin Al-Mazini Al-Anshari. Nama panggilannya ialah Abu Muhammad. Beliau terkenal juga dengan Ibnu Ummi ‘Amarah. Namun sangat terkenal dengan nama aslinya. Beliau adalah saudara Hubaib bin Zaid dan Tamiem bin Zaid.

Abdullah bin Zaid adalah anak dari Zaid bin Ashim bin Tsalabah, ibunya bernama Nusaibah binti Ka’ab, salah seorang sahabiyah yang terkenal. Abdullah bin Zaid termasuk dalam 70 orang rombongan Yastrib yang pertama-tama masuk Islam dan melakukan baiat dengan Rasulallah di Aqabah. Kesetiaan dan kecintaannya kepada beliau tidak perlu diragukan lagi. Dirinya telah ia gadaikan untuk Allah SWT dan Rasul-Nya.

Di awal kedatangan kaum Muslimin di Madinah, belum ada satu pun penanda yang digunakan sebagai masuknya waktu salat. Orang-orang pada masa itu hanya memperkirakan kapan waktu tibanya shalat kemudian berkumpul bersama untuk melaksanakannya.

Penyalaan api, suara lonceng, tiupan terompet pun sempat diusulkan para sahabat. Namun, Rasulullah dengan tegas menolak hal itu karena merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai orang-orang kafir).

Kemudian Umar bin Khattab mengusulkan, “Apakah tidak sebaiknya kita mengutus seseorang untuk meyerukan panggilan shalat?”.

Rasulullah pun menyetujui usulan tersebut, lalu memanggil Bilal dan menyuruhnya mengumandangkan seruan untuk salat. Namun ketika itu Bilal belumlah menyerukan panggilan salat sebagaimana yang kita kenal sekarang, yakni azan.

Untuk sementara, usulan Umar bin Khattab dipakai sebagai penanda waktu shalat.

Setelah itu, pulanglah para sahabat ke rumahnya masing-masing. Namun, pertemuan tadi masih menjadi ganjalan di hati salah seorang sahabat, yakni Abdullah bin Zaid. Ia terus memikirkan kegelisahan Rasulullah. Hingga ketika kembali ke rumahnya lalu tertidur, dalam tidurnya itulah ia mendengarkan azan.

Mengutip dari Sirah Nabawi (Ibnu Hisyam, 2018), _Ibnu Zaid bercerita bahwa ia baru saja bermimpi melihat seruan azan pada malam sebelumnya.

Dalam mimpinya tersebut, Abdullah bin Zaid didatangi oleh seorang berjubah hijau yang membawa lonceng. Abdullah bin Zaid berniat membeli lonceng milik seorang berjubah hijau tersebut untuk memanggil orang-orang agar salat. Tetapi, seseorang yang berjubah tersebut memberikan saran padanya untuk mengucapkan serangkaian kalimat sebagai penanda waktu salat tiba.

Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Abdi Rabbihi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Waktu saya tidur (saya bermimpi) ada seseorang mengelilingi saya seraya berkata, ‘Ucapkanlah ‘Allahu akbar, Allahu akbar’ lalu ia mengucapkan azan empat kali tanpa pengulangan dan mengucapkan iqamah sekali kecuali ‘Qad qaamatish sholaah’.” Ia berkata, “Ketika telah Shubuh, aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar’.” Al-Hadits. (Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Daud. Hadits ini sahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah). [HR. Ahmad, 26:402; Abu Daud, no. 499; Tirmidzi, no. 189; Ibnu Khuzaimah, 3 hal hal 2 * Peringatan: Harap buletin ini disimpan di tempat yang layak karena berisi ayat Al-Quran dan Hadits Nabi no. 371. Tirmidzi mengatakan bahwa g hadits ini hasan sahih. Imam Bukhari menyatakan hadits ini sahih]

Esok harinya, Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya kepada Rasulullah. Ia juga memberitahukan bahwa Umar bin Khattab pun telah bermimpi yang sama selama 20 hari, namun Umar tidak menyampaikannya.

Rasulullah pun menanyakan perihal ini kepada Umar bin Khattab, “Apa yang menghalangimu untuk menceritakan mimpimu kepadaku?” tanya Rasulullah.

“Sesungguhnya Abdullah bin Zaid telah mendahuluiku, karenanya aku pun menjadi malu.”

Kemudian Rasulullah meminta Bilal mempelajari bacaan azan dari Abdullah bin Zaid. Setelah itu Bilal pun mengumandangkan azan.

Menurut pendapat kebanyakan ulama, ucapan takbir di awal adalah empat kali. Ada juga ucapan takbir awal itu dua kali sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Mahdzurah.

Imam Ahmad meriwayatkan pula pada sebuah hadits tentang kisah ucapan Bilal dalam azan fajar, ‘Ash-sholaatu khoirum minan naum’ (shalat itu lebih baik daripada tidur). [HR. Ahmad, 26:399; Ibnu Majah, no. 716; ‘Abdur Rozaq, 1:472. Makna hadits ini sahih yang menunjukkan adanya tambahan ash-shalaatu khoirum minan nauum. Hadits ini punya syawahid yaitu penguat]

Letak ash-shalaatu khoirum minan nauum adalah pada azan pertama yang tidak ada iqamah. Sebagaimana hal ini disebutkan oleh As-Sindi dalam Hasyiyah ‘ala An-Nasai. Lafazh ash-shalaatu khoirum minan nauum disebut dengan bacaan attatswib. At-Tatswib itu berasal dari tsawwaba – yutsawwibu yaitu artinya raja’a (kembali). Disebut demikian karena muazin mengulang untuk mengingatkan shalat setelah selesai dari menyebutnya. Hadits ini menunjukkan disyariatkannya azan untuk menampakkan syiar-syiar Islam dan menandakan waktu shalat sudah masuk. Panggilan azan ini untuk mengajak umat muslim pergi ke masjid mendirikan shalat fardhu.

Baca juga: Abdullah bin Al Za’bari, Penyair Terbaik Quraisy yang Masuk Islam

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart