Abdullah bin Umar Enggan Berpolitik & Menolak Menjadi Khalifah | Surau

Abdullah bin Umar Enggan Berpolitik & Menolak Menjadi Khalifah

Ibnu Umar adalah sosok yang tidak tertarik pada politik, meski ayahnya pernah menjabat sebagai Khalifah. Ia cenderung menjauhi dunia politik, meskipun ia sempat terlibat konflik dengan Abdullah bin Zubair yang pada saat itu telah menjadi penguasa Makkah. Kendati berulang kali mendapat tawaran berbagai kelompok politik untuk menjadi khalifah, dia menolaknya.

Hasan RA meriwayatkan, tatkala Utsman bin Affan terbunuh, sekelompok umat Islam memaksanya menjadi khalifah. Mereka berteriak di depan rumah Ibnu Umar, “Anda adalah seorang pemimpin, keluarlah agar kami minta orang-orang berbaiat kepada anda!”

Namun, Ibnu Umar menyahut: “Demi Allah, seandainya bisa, janganlah ada darah walau setetes pun tertumpah disebabkan aku.” Massa di luar mengancam: “Anda harus keluar, atau kalau tidak, kami bunuh di tempat tidurmu!”

Diancam begitu Ibnu Umar tak tergerak. Massa pun bubar. Sampai suatu ketika, datang lagi ke sekian kali tawaran menjadi khalifah. Ibnu Umar mengajukan syarat, yakni asal ia dipilih oleh seluruh kaum Muslimin tanpa paksaan.

Jika baiat dipaksakan sebagian orang atas sebagian yang lainnya di bawah ancaman pedang, ia akan menolak. Saat itu, sudah pasti syarat ini takkan terpenuhi. Mereka sudah terpecah menjadi beberapa kelompok, bahkan saling mengangkat senjata. Ada yang kesal lantas menghardik Ibnu Umar.

“Tak seorang pun lebih buruk perlakuannya terhadap manusia kecuali kamu,” kata mereka

“Kenapa? Demi Allah, aku tidak pernah menumpahkan darah mereka, tidak pula berpisah dengan jamaah mereka apalagi memecah persatuan mereka?” jawab Ibnu Umar heran

“Seandainya kau mau menjadi khalifah, tak seorang pun akan menentang. Aku tak suka kalau dalam hal ini seorang mengatakan setuju, sedang yang lain tidak.”

Ketika Muawiyah II, putra Yazid bin Muawiyah, menduduki jabatan khalifah, datang Marwan menemui Ibnu Umar. Ulurkan tanganmu agar kami berbaiat. Anda adalah pemimpin Islam dan putra dari pemimpinnya.

“Lantas apa yang kita lakukan terhadap orang-orang bagian Timur?” tanya Ibnu Umar

“Kita gempur mereka sampai mau berbaiat.” jawab Marwan

“Demi Allah, aku tidak sudi dalam umurku yang 70 tahun ini, ada seorang manusia yang terbunuh disebabkan olehku,” kata Ibnu Umar.

Penolakan Ibnu Umar ini karena ia ingin netral di tengah kekalutan para pengikut Ali dan Muawiyah. Sikap itu diungkapkannya dengan pernyataan: “Siapa yang berkata, ‘marilah shalat’, akan kupenuhi. Siapa yang berkata ‘marilah menuju kebahagiaan’ akan kuturuti pula. Tetapi siapa yang mengatakan ‘marilah membunuh saudara kita seagama dan merampas hartanya’, maka saya katakan, tidak!”

Berkatalah Abu al-‘Aliyah al-Barra: “Pada suatu hari saya berjalan di belakang Ibnu Umar tanpa diketahuinya. Maka saya dengar ia berbicara kepada dirinya, mereka letakkan pedang-pedang mereka di atas pundak-pundak lainnya, mereka berbunuhan lalu berkata: “Hai Abdullah bin Umar ikut lah dan berikan bantuan. Sungguh sangat menyedihkan.”

la amat menyesal dan berduka melihat darah kaum muslimin tumpah oleh sesamanya. Dan sekiranya ia mampu menghentikan peperangan dan menjaga darah tumpah, pastilah akan dilakukannya. Tetapi ternyata Allah tidak mengizinkan, oleh sebab itu dijauhinya. Sebetulnya hati kecilnya berpihak kepada Ali. Penolakannya berperang di pihak Ali yang sebenarnya mempertahankan haq dan berada di pihak yang benar. Meski begitu, Ibnu Umar tetap tidak memihak pada salah satu pihak, dilakukannya bukan dengan maksud hendak lari atau menyelamatkan diri. Namun, adalah karena tidak setuju dengan semua perselisihan dan fitnah serta menghindari peperangan yang terjadi. Hal itu dijelaskannya dengan gamblang ketika ia ditanyai oleh Nafi’:

“Hai Abu Abdurrahman, anda adalah putera Umar dan sahabat Rasulullah SAW. Tetapi apa yang menghalangi anda bertindak? maksudnya membela Ali.”

Maka ujarnya: “Sebabnya ialah karena Allah Ta’ala telah mengharamkan atasku menumpahkan darah Muslim. Perangilah mereka itu hingga tak ada lagi fitnah dan hingga orang-orang beragama itu semata ikhlas karena Allah. (QS 2 al-Baqarah: 193). Nah, kita telah melakukan itu dan memerangi orang-orang musyrik, hingga agama itu semata bagi Allah, tetapi sekarang apa tujuan kita berperang. Saya telah mulai berperang semenjak berhala-berhala masih memenuhi Masjid al-Haram dari pintu sampai ke sudut-sudutnya, hingga akhirnya semua itu dibasmi Allah dari bumi Arab. Sekarang, apakah saya akan memerangi orang yang mengucapkan لا اله إلا الله, tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah?”

Abdullah bin Umar Tutup Usia

Ibnu Umar adalah seorang pedagang sukses dan kaya raya, tetapi juga banyak berderma. Ketika remaja, Abdullah pernah bermimpi dan menceritakannya kepada Hafshah.

“Saya bermimpi seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang saya ingin di surga, maka beludru itu akan menerbangkanku ke sana.”

Hafshah, saudaranya, menceritakan mimpi tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berkata, “Abdullah akan menjadi laki-laki yang paling utama masuk surga, seandainya dia sering shalat malam dan banyak melakukannya.”

Sejak saat itu hingga ujung usia, dia tak pernah meninggalkan Qiyamul lail saat bermukim maupun menjadi musafir. Dia menghidupkan malam dengan shalat, membaca Alquran dan berzikir menyebut Allah hingga bercucuran air mata ketika mendengar ayat Alquran tentang peringatan.

Ibnu Umar hidup sampai 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Ia kehilangan pengelihatannya pada masa tuanya. Ia wafat dalam usia lebih dari 80 tahun, dan merupakan salah satu sahabat yang paling akhir yang meninggal di kota Makkah.

Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan, “Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar. Umar hidup pada masa banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibnu Umar hidup pada masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia”.

Baca juga: Tidak Ada Keraguan atas Abdullah bin Umar sebagai Pengikut Nabi Muhammad SAW

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart