Niat Umair bin Wahab Membunuh Rasulullah Justru Membuatnya Masuk Islam

Surau.co – Umair bin Wahab al-Jumahi adalah salah seorang Sahabat mulia yang telah banyak mendedikasikan hidupnya untuk mensyiarkan agama Islam di tanah Hijaz. Awalnya sebelum memeluk Islam, beliau sangat benci terhadap Rasulullah SAW dan para pengikutnya. Tidak jarang masyarakat muslim Makkah dicemooh, diolok–olok hingga diuji secara fisik oleh Umair dan komplotannya. Selain itu, Umair bin Wahab dikenal sebagai tokoh di balik meletusnya perang Badar.

Kabur Setelah Kalah dalam Perang Badar

Saat kemenangan Badar sudah berada di depan mata umat Islam, pasukan Quraisy yang sudah tidak berdaya mencoba untuk melarikan diri. Satu di antara yang lolos waktu itu adalah Umair bin Wahab.

Umair bin Wahab al Jumahi pulang dari Badar dengan selamat, namun ia meninggalkan putranya, Wahab bin Umair di belakangnya. Wahab bin Umair pun ditangkap oleh Rifa’ah bin Rafi’ dari Bani Zuraiq dan Wahab pun dijadikan tawanan perang.

Umair pun khawatir jika kaum muslimin akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap putranya atas dosa-dosa bapaknya, menyiksanya dengan siksaan terburuk sebagai balasan atas penderitaan yang telah ia timpakan kepada Rasulullah SAW dan sebagai hukuman atas siksaan yang telah ia timpakan kepada para sahabat Rasulullah SAW.

Merencanakan Pembunuhan Rasulullah

Dikisahkan dalam Tarikh Ibnu Hisyam, suatu hari pasca kekalahan di perang Badar, Umair berkunjung ke Ka’bah untuk melakukan sembahyang. Saat menuju masjid untuk thawaf di Ka’bah dan memohon keberkahan kepada berhala-berhalanya itu, ia melihat Shafwan bin Umayyah sedang duduk di sisi Hijir. Shafwan adalah salah seorang pentolan Quraisy yang juga membenci dakwah Rasulullah SAW. Umairpun berjalan ke arah Shafwan dan mengucapkan, “Im shabahan. Wahai sayid Quraisy.”

Shafwan menjawab, “Im shabahan wahai Abu Wahab. Duduklah, kita berbicara sebentar. Kita menghabiskan waktu dengan berbicara.”

Umair pun duduk di depan Shafwan bin Umayyah. Keduanya pun bercengkrama membahas soal korban wafat dan prajurit Quraisy yang berakhir sebagai tawanan. Mereka menghitung tawanan-tawanan yang jatuh di tangan Rasulullah SAW dan para sahabat, berduka cita atas kematian para pemuka Quraisy di ujung pedang kaum muslimin yang dilemparkan jasad mereka ke dasar sumur Badar.

Shafwan berucap, “Demi Tuhan, tidak ada kebaikan dalam hidup setelah kematian mereka.” Umair menyahut, “Demi Tuhan, Anda benar. Jika saja aku tidak memiliki utang yang harus aku bayar dan kekhawatiran akan kemiskinan yang akan menimpa keluargaku sepeninggalku, tentu aku akan pergi menemui Muhammad dan membunuhnya. Sesungguhnya aku punya alasan untuk itu, mereka telah menawan putraku.”

Shafwan kemudian mengajukan tawaran. “Aku akan melunasi utangmu. Dan menanggung seluruh kebutuhan hidup keluargamu. Tidak ada yang menghalangi dan melemahkanku untuk membiayai mereka.” Umair menyepakati tawaran tersebut dan ia meminta agar pertemuan di antara keduanya tidak diumbar ke publik agar tidak ada yang mengetahui soal rencana buruk mereka berdua. “Sembunyikanlah urusanku dan urusanmu ini!” pinta Umair. “Baik, akan aku lakukan.” timpal Shafwan.

Umair mulai mengasah dan melumuri pedangnya dengan racun. Kemudian ia memacu kudanya menuju Madinah.

Umair tak Berdaya Menghadapi Kerasulan Muhammad

Saat itu Rasulullah SAW bersama Umar bin Khattab dan beberapa Sahabat tengah singgah di sebuah masjid. Mereka sedang membicarakan soal perang Badar dan bagaimana heroiknya kemenangan muslimin. Tiba – tiba Umar melihat seseorang menenteng sebilah pedang hampir mendekati pintu utama masjid. Umar mengetahui sosok yang satu ini. Ia adalah Umair bin Wahab, gembong Quraisy yang acap kali menyusahkan umat Islam.

Umar segera melapor kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, Umair si musuh Allah telah datang dengan membawa sebilah pedangnya.” “Biarkan ia masuk untuk menemuiku.” ucap Rasulullah SAW. Umar pun segera melaksanakan titah Rasulullah SAW. Sebagai orang yang mengetahui seluk beluk Umair, Umar bin Khattab begitu ketat menjaga setiap gerak geriknya. Saking hawatirnya, Umar meletakan sarung pedangnya di leher Umair sambil membawanya masuk. Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Lepaskan dia wahai Umar.” Umar pun segera menuruti perintah Rasulullah SAW sambil tetap berjaga–jaga.

“Ani’mu Sabahan.” salam Umair mengawali perbincangan. Ini adalah ungkapan salam khas masyarakat Jahiliah. Rasulullah SAW berkata, “Allah telah memuliakan kami dengan ucapan salam yang lebih mulia dari itu. Yaitu ucapan salam para ahli surga. Apa tujuan kedatanganmu kemari wahai Umair?” tanya Rasulullah SAW.

Umair menjawab, “Aku datang untuk putraku yang ditawan, perlakukanlah dia dengan baik.” Rasulullah SAW pun merespon, “Lalu untuk apa sebilah pedang yang kamu bawa itu?” Umair berkata “Semoga Allah menghinakan pedang ini. Apa ada hal lain yang anda inginkan dari kami?” Rasulullah SAW bertanya lagi, ”Jujurlah apa yang membuatmu datang kemari?” “Tidak ada apa apa, hanya itu yang aku inginkan.” sangkal Umair.

Lalu Rasulullah SAW membongkar rahasia Umair yang telah disembunyikan rapat–rapat. “Kamu duduk bersama Shofwan bin Umayyah di Hijr, kalian berdua membicarakan korban perang Badar dari suku Quraisy. Lalu kamu berkata, jika bukan karena utangku dan keluargaku, tentu aku telah pergi untuk membunuh Muhammad. Kemudian Shafwan bersedia menanggung seluruh utangmu dan keluargamu asal kamu bisa membunuhku. Sesungguhnya Allah menjadi penghalang antara dirimu dengan tujuanmu itu.”

Mendengar penjelasan Rasulullah SAW, Umair bin Wahab pun kaget. Padahal Umair yakin bahwa tidak ada yang mengetahui rencananya itu kecuali Shafwan. Berawal dari peristiwa itu, Umair semakin meyakini keberadaan Allah SWT dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT. Umair pun masuk Islam, ia mengucap dua kalimat syahadat di depan Rasullah SAW. “Ajarkanlah agama Islam kepada saudara kalian ini, bacakanlah Al Qur’an dan lepaskan tawanannya.”

Kaum muslimin pun berbahagia dengan masuknya Umiar bin Wahab ke dalam agama Islam, sampai-sampai Umar bin Khattab berkata, “Seekor babi lebih aku cintai daripada Umair bin Wahab ketika ia datang kepada Rasulullah SAW, namun sekarang ia lebih aku cintai daripada sebagian anakku sendiri.”

Umair pun terus menyucikan dirinya dengan ajaran-ajaran Islam. Ia mengisi hatinya dengan cahaya Alquran, menghidupkan hari-harinya yang paling mengagumkan dan paling sarat kebaikan. Hal ini membuatnya melupakan Mekkah dan siapapun yang tinggall di sana.

Sementara itu, Shafwan bin Umayyah menggantungkan harapan kepada Umair. Ia melewati sekumpulan orang-orang Quraisy sambil berkata, “ Bergembiralah kalian, sebuah berita besar akan datang kepada kalian dalam waktu dekat, berita yang membuat kalian melupakan kekalahan di Badar.”

Shafwan bin Umayyah menunggu dan menunggu, penantiannya berjalan lama, akhirnya kecemasan mulai menggelayuti benaknya sedikit demi sedikit sampai dia seperti berguling-guling di atas bara api yang paling panas. Dia mulai bertanya-tanya kepada para rombongan musafir yang lewat tentang Umair bin Wahab, namun dia tidak menemukan jawaban yang memuaskan.

Sampai datanglah seorang musafir yang berkata kepadanya, “Umair telah masuk Islam.”

Berita yang terdengar di telinga Shafwan bak halilintar yang menyambar di siang hari karena sebelumnya dia yakin bahwa Umair tidak akan masuk Islam sekalipun seluruh penduduk bumi masuk Islam.

Umair bin Wahab Setelah Masuk Islam

Umair bin Wahab terus mendalami agamanya, ia meghafal kalam Allah SWT yang bisa ia hafal sehingga ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, aku telah melewati suatu zaman, selama itu aku selalu berusaha untuk memadamkan cahaya Allah, sangat keras terhadap mereka yang menyembah Allah. Maka aku ingin menebus kesalahanku dengan berdakwah di Makkah. Jika mereka menerimanya dariku maka apa yang mereka lakukan adalah sebaik-baik perbuatan, namun jika mereka berpaling maka aku akan melakukan terhadap mereka seperti dulu aku akan melakukan terhadap orang-orang yang masuk Islam.” Rasulullah mengizinkan Umair untuk berdakwah di Makkah.

Salah satu riwayat dalam kitab Tarikh Tabari mengisahkan bahwa dakwah Umair berbuah manis. Banyak masyarakat Makkah yang tertarik dengan Islam kemudian bersyahadat. Sementara Shafwan berjanji tidak akan berbicara lagi dengan Umair setelah mengetahui Umair telah berikrar kepada Rasulullah.

Umair pun datang ke rumah Shafwan dan berkata, “Wahai Shafwan, sesungguhnya kamu adalah salah seorang pembesar Mekkah, salah seorang Quraisy yang berakal. Apkah menurutmu apa yang kalian yakini selama ini, yaitu menyembah batu dan menyembelih untuknya adalah hal benar dalam akal sehingga ia patut dijadikan sebagai agama? Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Kemudian Umair terus berdakwah atas nama Allah SWT di Mekkah sehingga banyak orang yang masuk Islam atas ajakannya tersbeut.

Baca juga: Umair bin Sa’ad, Gubernur yang Sangat Peduli dengan Rakyatnya

Surau.co
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart