Umair bin Sa’ad Mendapat Pembenaran Melalui Firman Allah

Surau.co – Namanya adalah Umair bin Sa’ad. Kaum muslimin memberinya gelar “tokoh yang tak ada duanya”. Cukup meyakinkan kiranya, bahwa gelar ini diberikan secara bulat oleh para sahabat Rasulullah SAW yang sama-sama mempunyai kelebihan, pengertian dan cahaya kebenaran. Ayahnya adalah Sa’ad Al-Qari, salah seorang sahabat yang ikut menyertai Rasulullah SAW dalam Perang Badar dan peperangan-peperangan lain sesudahnya. Serta setia memegang janjinya, sampai ia kembali menemui Allah SWT karena gugur sebagai syahid di pertempuran Qadisiah melawan Persia. Sa’ad membawa anaknya, Umair bin Sa’ad sewaktu datang kepada Rasulullah SAW, hingga anak itu pun turut berbaiat dan masuk Islam.

Semenjak Umair bin Sa’ad memeluk Islam dan menjadi ahli ibadah yang tidak berpisah dari mihrab masjid, ia meninggalkan segala kemewahan dan pergi bernaung ke bawah sakinah atau ketenangan. Ia selalu ingin menjadi yang terdepan. Pada shalat Jumat, ia selalu berada dalam barisan pertama. Di medan jihad, ia selalu bergegas mengejar barisan terdepan, karena ia selalu mendambakan diri untuk mendapatkan syahid. Selain itu, ia tetap tekun memperbanyak amal kebaikan, kemurahan, keutamaan serta ketakwaan. Ia seorang yang cepat menyadari kesalahan dan sering menangisi dosanya.

Usia Umair bin Sa’ad baru sekitar 10 tahun dan ia sudah menjadi yatim ketika umat muslim mempersiapkan perang Tabuk. Ketika itu Rasulullah SAW menyerukan kepada seluruh umat Islam di Madinah untuk ikut serta berperang dan menyumbang apa saja yang dimiliki untuk persiapan perang melawan pasukan Romawi.

Saat itu keadaan sedang genting. Di tengah musim kemarau, umat muslim harus megumpulkan logistik dan menempuh perjalanan jauh ke Utara untuk memecah belah persatuan umat Islam Madinah.

Salah satu tokoh kaum munafik yang melakukan hal tersebut adalah Julas bin Suwaid bin Shamit. Ia adalah orang yang merawat Umair semenjak ayahnya, Sa’ad wafat. Saking akrabnya, Julas sudah menganggap Umair sebagai anak sendiri. Begitupun sebaliknya. Di tengah persiapan Perang Tabuk, Julas mengatakan sesuatu yang tidak pantas tentang Rasulullah SAW, bahkan perkataannya itu bernada merendahkan.

Saat itu Julas telah memeluk Islam, namun karena terbawa ‘arus’, mengingat banyak penduduk Madinah yang masuk Islam setelah Rasulullah SAW hijrah ke sana maka ia ikut agama yang dianut banyak masyarakat Madinah secara berbondong-bondong tersebut.

“Jika yang diucapkan Muhammad itu benar, niscaya kita lebih buruk dibandingkan keledai.” kata Julas. (Dikutip dari buku Sahabat-Sahabat Cilik Rasululullah {Nizar Abazhah, 2011).

Mendengar perkataan Julas seperti itu, Umair bin Sa’ad menjadi begitu marah kepada ayah angkatnya tersebut. Ia tidak terima dengan perkataan Julas yang meragukan kebenaran Rasulullah SAW. Julas yang merasa keceplosan meminta kepada Umair agar tidak melaporkan perkataannya itu kepada siapapun terutama kepada Rasulullah SAW.

Di sini, Umair pun merasa bimbang. Apakah ia menyimpan saja ucapan munafik yang dikatakan ayah angkatnya itu atau melaporkan kemunafikan Julas kepada Rasulullah SAW. Setelah berpikir cuku lama, akhirnya Umair menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan kemunafikan Julas kepadanya.

Julas pun dipanggil untuk mengklarifikasi ucapannya tersebut. Namun, dia menyangkalnya dan menganggap bohong laporan Umair. Julas bahkan bersumpah atas nama Tuhan untuk menguatkan penyangkalannya itu hingga posisi Umair pun terpojok. Semua orang hampir percaya dengan Julas dan menganggap Umair lah yang berbohong. Namun, beberapa saat kemudian Rasulullah SAW menerima wahyu berupa Quran surah ata Taubah ayat 74,

“Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan nama Allah SWT, bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu (yang menyakitkan hatimu). Padahal mereka telah mengucapkan kata-kata kufur dan mereka telah kafir sesudah Islam, serta mereka mencita-citakan sesuatu yang tak dapat mereka capai. Dan tak ada yang menimbulkan dendam kemarahan mereka hanyalah lantaran Allah dan rasul-Nya telah menjadikan mereka berkecukupan disebabkan karunia Nya. Seandainya mereka bertaubat, maka itulah yang lebih baik bagi mereka dan seandainya mereka berpaling, Allah akan meyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat. Mereka tidak akan mempunyai pembela maupun penolong di muka bumi.”

Turunnya ayat tersebut menjadi kabar gembira bagi Umair bin Sa’ad. Apa yang dilaporkannya tentang kemunafikan Julas telah dibenarkan langsung oleh Allah SWT sehingga Julas bin Suwaid tidak dapat mengelak lagi. Dia kemudian mengaku bersalah lalu bertaubat.

“Telingamu bisa dipercaya wahai anak muda. Tuhan membenarkanmu.” ucap Rasulullah SAW kepada Umair.”

Baca juga: Umair bin Hammam, Syahid dalam Perang Badar Melalui Dua Butir Kurma

Surau.co
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart