Sosok
44 Views

Sumayyah binti Hayyat, Syahidah Pertama yang Tegar Mempertahankan Akidah

Sumayyah
Ilustrasi: Gana Islamika

Surau.co – Sebuah kisah inspiratif dari sosok perempuan luar biasa dalam memperjuangkan keimanannya kepada Allah SWT. Dialah Sumayyah binti Hayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah.

Al-kisah, Sumayyah hidup sebatang kara, hal itu membuatnya serbakesulitan. Apalagi, berada di bawah aturan-aturan yang berlaku pada masa jahiliyah. Hak-hak perempuan kala itu sangat tidak diperhatikan. Hampir tidak ada kabilah yang sudi membelanya.

Begitu juga dengan suaminya ‘Yasir’, sebagai seorang pendatang yang miskin, dia juga berlindung pada Bani makhzum yang hidup dibawah kekuasaan Abu Hudzaifah. Dari hasil pernikahannya dengan Sumayyah-lah lahir dua orang anak, yakni Ammar dan Ubaidillah.

Seiring berjalannya waktu, Ammar pun kian dewasa. Hingga pada suatu hari, Ammar mendengar dakwah yang diajarkan nabi Muhammad SAW, sang al-Amin putra Abdullah. Ia-pun tertarik dengan ajaran yang disampaikan sang Rasul.

Sebagaimana orang-orang Makkah yang merindukan keadilan dan kasih sayang Tuhan, Ammar bin Yasir merasa terpanggil untuk mendalami ajaran tersebut. Amar merasa agama ini selaras dengan fitrah kemanusiaan. Ia sepakat, bahwa tidak ada penghambaan yang lebih hakiki selain seorang manusia kepada Tuhan.

Ammar pun mendapat hidayah dan memutuskan untuk memeluk Islam. Kepulangnya ke rumah kala itu, ia telah berstatus sebagai seorang Mu’min. Ia menemui kedua orang tuanya dan bercerita tentang pertemuannya dengan Rasulullah SAW. Ammar bercerita tentang agama Islam yang begitu menyentuh hatinya.

Amar menawarkan Islam kepada kedua orang tuanya yakni Yasir dan Sumayyah. ternyata kedua orangtua dan adiknya menyambut gembira ajakan itu. Walhasil seluruh keluarganya pun mengikuti ajaran Muhammad bin Abdullah.

Dengan demikian, kabar yang dibawa anaknya menjadikan Sumayyah orang ketujuh yang ikut ajaran Rasul. Sumayyah beserta keluarganya memeluk Islam ketika Nabi Muhammad SAW pada taraf awal menyiarkan dakwahnya.

Tanpa diduga, ternyata kabar tentang Sumayyah dan keluarga kecilnya yang memeluk islam, mengundang kemarahan kaum kafir Quraisy, termasuk Bani Makhzum. Mereka pun berencana untuk menyiksa seluruh keluarga Sumayyah.

Ketika keluarga Sumayyah disiksa, di hadapan Bani Makhzum, mereka tetap teguh mempertahankan iman dan Islam di dada.

Hingga suatu hari, bani Makhzum pun menangkap keluarga Sumayyah. Penyiksaan pun tak terelakkan lagi.  Bermacam-macam siksaan diberikan kepada keluarga ini agar  mereka keluar dari agama Islam.

Pernah juga suatu hari, keluarga Sumayyah dipaksa keluar ke padang pasir ketika keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka bahkan membuang Sumayyah ke sebuah tempat yang jauh.

Tak hanya itu, mereka juga Kembali menyiksanya dengan menaburi pasir yang sangat panas pada Sumayyah. Tidak berhenti disitu, para kafir Qurais juga meletakkan sebongkah batu yang sangat berat di atas dadanya.

Namun, tak terdengar sedikitpun rintihan dan ratapan dari Sumayyah. Melainkan ucapan, “Ahad … Ahad ….”, ungkapan tentang keteguhan akan tauhid yang terus keluar dari mulut Sumayyah binti Khayyat. Ia terus mengulang kata-kata itu. Begitu pula yang dilakukan oleh Yasir, Ammar, dan Ubaidullah.

Suatu ketika, Rasulullah SAW pun menyaksikan keluarga Muslim ini tengah disiksa dengan kejam. Beliau kemudian menengadah ke langit dan berseru, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Ternyata, ditengah siksaan yang menimpnya, sumayyah mendengar seruan Rasulullah SAW tersebut. Bukan mengalah pada rasa sakit, melainkan bertambah tegar dan optimis menghadapi berbagai macam siksaan.

Bahkan dengan berani terus mengulang sebuah kalimat, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Begitulah, Sumayyah binti Khayyat telah merasakan kelezatan dan manisnya iman sehingga baginya kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah SWT. Maka, dia menganggap kecil setiap siksaan yang diberikan oleh para tagut yang zalim. mereka tidak akan dapat menggeser keimanan serta keyakinannya. sekali pun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya. Sumayyah binti Khayyat telah memastikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah SAW.

Tatkala para tagut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan kemarahannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah.

Terbanglah nyawa Sumayyah dari raganya yang beriman dan suci bersih. Dia adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam, gugur setelah memberikan contoh yang sangat baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Sumayyah telah mengerahkan semua yang ia miliki dan menganggap remeh kematian dan siksaan dunia.

Sumayyah telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Allah SWT. mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanannya. walau mendapatkan siksaan yang bertubi-tubi Sumayyah tetap tegar menerima cobaan. ia menghadapi Abu Jahal layaknya seorang pejuang.

begitulah kisah Sumayyah dan Yasir. Sumayyah adalah wanita hebat yang sangat menginspirasi bagi orang-orang muslim sepanjang masa. Sikapnya teguh dalam mempertahankan akidah, meski mengalami siksaan yang sangat keji. Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Wallahu a’lam ..

About the author

Nurul Hidayat

Ketua Persatuan Pemuda Muslim Progresif Magelang, Pegiat kajian islam Nusantara