Sosok Berita
120 Views

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan), Biografi Singkat

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)
Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)

Siti Walidah atau lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan,  lahir pada tahun 1872 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Anak keempat dari tujuh bersaudara ini adalah keturunan dari Muhammad Fadil, pemuka Agama Islam dan Penghulu resmi Keraton.

Karena alasan adat yang ketat yang berlaku di lingkungan keraton ia menjadi puteri ‘pingitan’ hingga datang saatnya untuk  menikah. Karena pingitan ini, pergaulannya pun sangat terbatas. Ia tidak menempuh pendidikan di sekolah formal. Dengan bimbingan orang tuanya, Siti Walidah belajar Alquran dan kitab-kitab agama berbahasa Arab Jawa (pegon). Ia adalah sosok yang sangat giat menuntut ilmu, terutama ilmu-ilmu keislaman.

Pada 1889 Siti Walidah  menikah dengan sepupunya, Muhammad Darwis nama kecil Kyai Ahmad Dahlan. Dari perkawinannya Siti Walidah dengan KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. (Kutojo, 1991). Setelah menikah, ia mengikuti segala hal yang diajarkan oleh suaminya. Bahkan, ia kemudian mengikuti jejak KH Ahmad Dahlan menggerakkan Muhammadiyah, yang didirikan KH A Dahlan pada tahun 1912. Saat Ahmad Dahlan sedang sibuk-sibuknya mengembangkan Muhammadiyah saat itu, Nyai Ahmad Dahlan mengikuti suaminya dalam perjalanannya. Namun, karena beberapa dari pandangan Ahmad Dahlan tentang Islam dianggap radikal, pasangan ini kerap kali menerima ancaman. Misalnya, sebelum perjalanan yang dijadwalkan ke Banyuwangi, Jawa Timur mereka menerima ancaman pembunuhan dari kaum konservatif di sana.

Meskipun tak pernah mengenyam pendidikan umum, Nyai Ahmad Dahlan  mempunyai pandangan yang luas. Hal itu disebabkan karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan tokoh pemimpin bangsa lainnya. . Mereka antara lain adalah Jenderal Sudirman, Bung Tomo, Bung Karno, Kyai Haji Mas Mansyur, dan lainnya. Dia tidak merasa rendah diri terhadap mereka, bahkan pada berbagai kesempatan, ia selalu menyampaikan nasihat-nasihat yang sangat bernilai.

Keterlibatannya dengan Muhammadiyah dimulai saat ia turut merintis kelompok pengajian wanita Sopo Tresno, yang artinya ‘siapa cinta’ tahun 1914. Kegiatan Sopo Tresno berupa pengkajian agama. Dia dan suaminya bergantian memimpin kelompok tersebut dalam membaca Al Qur’an dan mendiskusikan maknanya. Segera ia mulai berfokus pada ayat-ayat Al Qur’an yang membahas isu-isu perempuan. Dengan kegiatan tersebut diharapkan akan timbul suatu kesadaran bagi kaum wanita tentang kewajibannya sebagai manusia, isteri, hamba Allah, serta sebagai warga negara. Kegiatan ini juga memperlambat Kristenisasi di Jawa melalui sekolah yang disponsori oleh pemerintah kolonial.

Kelompok pengajian ini berjalan lancar dan anggotanya terus menerus bertambah. Nyai Ahmad Dahlan kemudian berpikir untuk mengembangkan Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi kewanitaan berbasis Agama Islam yang mapan.  Akhirnya diadakan pertemuan di rumah rumah Nyai Ahmad Dahlan, yang dihadiri oleh Kyai Muhtar, Kyai Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusuma, KH Fakhruddin, dan pengurus Muhammadiyah lainnya.

Nama pertama sekali diusulkan adalah ‘Fatimah’ tetapi tidak disetujui oleh para tokoh yang hadir. Kemudian oleh almarhum Haji Fakhrudin dicetuskan nama “Aisyiyah”, diambil dari nama isteri Nabi Muhammad, yakni Aisyah. Dan usul tersebut disetujui dan diterima tokoh yang hadir.

Akhirnya dipilihlah nama Aisyah sebagai organisasi Islam bagi kaum wanita. Tepat pada malam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada 22 April 1917, organisasi tersebut resmi didirikan dan Nyai Ahmad Dahlan kemudian tampil sebagai ketuanya. Dan pada tahun 1922, Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Melalui Aisyiyah, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan. Kelompok ini menyebar sampai ke pelosok Indonesia yang kemudian mendorong berdirinya perwakilan organisasi ‘Aisyiyah. Ia bersama-sama dengan pengurus Aisyiyah, sering mengadakan perjalanan ke luar daerah sampai ke pelosok desa untuk menyebarluaskan ide-idenya. Ia pun kerap mendatangi cabang-cabang Aisyiyah seperti Boyolali, Purwokerto, Pasuruan, Malang, Kepanjen, Ponorogo, Madiun, dan sebagainya. Karenanya, meskipun sudah tidak duduk dalam kepengurusan Aisyiyah, organisasi itu menganggap Nyai A Dahlan adalah Ibu Aisiyah dan juga Ibu Muhammadiyah.

Nyai Ahmad Dahlan terus aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah, walaupun suaminya sudah meninggal (1923). Pada tahun 1926, ia memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Saat itu, dalam sidang ‘Aisyiyah yang dipandunya, duduk puluhan pria di samping mimbar. Mereka adalah wakil pemerintah, perwakilan organisasi yang belum mempunyai bagian kewanitaan, dan wartawan. Seluruh pembicara dalam sidang itu adalah kaum perempuan, hal yang tidak ‘lumrah’ pada masa itu.

Nyai Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta . Hadir pada saat pemakaman, sebagai wakil pemerintah, Sekretaris Negara, Abdoel Gaffar Pringgodigdo dan Menteri Agama, Rasjidi .

Untuk menghormati jasa-jasanya dalam menyebarluaskan Agama Islam dan mendidik kaum perempuan, pada Hari Pahlawan 10 Nopember 1971 di Istana Presiden Negara Jakarta, presiden menyerahkan secara resmi SK pengukuhannya sebagai Pahlawan Nasional. Penghargaan itu diterima salah seorang cucunya, Ny. M Wardan, isteri KHM Wardan, salah seorang ketua PP Muhammadiyah pada waktu itu.

Sebagai istri dari seorang pejuang dan ulama besar, Siti Walidah atau lebih dikenal dengan Nyi Ahmad Dahlan sangat berperan membantu suaminya KH Ahmad Dahlan dalam perjuangan kemerdekaan serta pengenbangan organisasi Muhammadiyah dia termasuk wanita pemberani dan tangguh. Beliau disahkan sebagai Pahlawan, ( SK Presiden Repoblik Indonesia No.042/TK/Tahun 1971 Tanggal 22 September 1971 ).

Di usianya yang ke 74 tahun tepatnya pada 31 Mai 1946 Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Yogyakarta. Ia kemudian dimakamkan di sana. Atas jasa-jasanya kepada Negara. Nyi H. Siti Walidah. Ahmad Dahlan diberi gelar pahlawan Nasional.

Mungkin dari sekilas tentang Nyi Ahmad Dahlan, di atas tadi dapat sebagai motivasi bagi kita yang ada pada masa sekarang, kalau kita lihat dari berbagai aspek ataupun situasi yang terjadi pada masanya, kita rasa tangtangan dan halangan sangat banyak dan tidak hanya ancaman akan dibunuh oleh masyaraka Bayuwangi saja, mungkin caci maki lebih banyak dari pada ancaman, dari pihak lain contohnya penjajah yang masih berambisi untuk menguasi Negara Republik Indonesia, susahnya mendapatkan informasi, makanan, dan lain sebagainya.

Semoga dengan tulisan singkat ini kita bisa berjuang lebih semanggat lagi pada masa sekarang, agar keberasilan yang telah diraih oleh Nyi Ahmad Dahlan terus tetap berjalan dengan sebagai mana yang dituangkan dalam sariat Islam semestinya.

About the author

Nurul Hidayat

Ketua Persatuan Pemuda Muslim Progresif Magelang, Pegiat kajian islam Nusantara