Sawad bin Ghaziyah, Sahabat yang Meminta Qishash kepada Rasulullah SAW

Surau.co – Usai melaksanakan Haji Wada’ (haji terakhir) selama beberapa pekan, Rasulullah SAW lalu pulang ke Madinah. Kepulangan Rasululullah SAW ini disambut oleh ratusan ribu umat Islam di Madinah dengan penuh gembira, senang, dan suka cita. Perjuangan mereka bertahun-tahun, mengorbankan tenaga, mengorbankan harta, menumpahkan darah bahkan menyumbangkan nyawa, berhasil membuahkan dengan disempurnakan agama Islam.

Kebahagiaan para sahabat ini sebab menyambut ayat yang disampaikan Rasulullah SAW yang dibacakan juga saat pidato ketika melaksanakan haji wada’:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapi karunia nikmat-Ku atasmu serta telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Maidah: 3)

Kesedihan Di Balik Kegembiraan

Di tengah kegembiraan para sahabat setelah menyimak ayat tersebut, ada satu sahabat mendengar ayat ini bukannya senang tapi malah sedih. Dialah sahabat Abu Bakar yang tidak kuat menahan kesedihan lalu buru-buru pulang ke rumah. Bukan berhenti menangis, justru tangis Abu Bakar di rumah malah semakin menjadi-jadi.

Tidak lama berselang, sebagian sahabat ada yang menyusul lantaran Abu Bakar terburu-buru pulang sambil menangis. Di antara sahabat yang ikut adalah sahabat Ali bin Abi Thalib. Sahabat Ali bertanya, “Abu Bakar, mengapa Anda menangis? Bukankah diturunkannya ayat ini seharusnya kita senang sebagai umat Islam karena agama kita telah disempurnakan dan Allah ridha dengan agama Islam. Kenapa Anda menangis ketika orang-orang sedang bergembira?”

Mendapat pertanyaan tersebut, Abu Bakar menjawab, “Saudara-saudara ketahuilah, ketika suatu perkara telah disempurnakan, maka akan nampaklah kekurangan-kekurangan yang lainnya. Kalau Islam telah disempurnakan oleh Allah, itu artinya tugas kenabian dan kerasulan Muhammad telah dianggap selesai.”

“Dan sebentar lagi, Muhammad kekasih saya akan meninggalkan saya selama-lamanya. Itu yang menyebabkan saya sedih dan menangis. Hari-hari ke depan saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya tanpa kekasih saya Muhammad.”

Mendengar penuturan Abu Bakar bahwa Rasulullah SAW sudah menyelesaikan syiar Islam, para sahabat waktu itu langsung terdiam, sedih dan menangis. Lalu Rasulullah SAW tiba di kediaman Abu Bakar, maka para sahabat langsung menundukkan kepala dan diam menahan tangis. Rasulullah SAW bertanya,“Wahai sahabat-sahabat, kenapa kalian pada menangis?” Ali bin Thalib memberanikan diri seraya berkata, “Kami mendengar dari Abu Bakar, katanya ketika suatu perkara telah disempurnakan, maka akan nampaklah kekurangan-kekurangan yang lainnya. Kalau Islam telah disempurnakan oleh Allah, kata Abu Bakar tugas kenabian dan kerasulan Anda sebentar lagi telah dianggap selesai. Dan Anda akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Apa benar perkataan Abu Bakar, wahai Rasulullah?”

Rasulullah SAW pun tersenyum, lalu berkata, “Saudara-saudara, apa yang tadi disampaikan Abu Bakar itu benar. Itu sebabnya Abu Bakar bergelar ‘As-Shidiq’, yang artinya orang terpercaya, orang yang jujur, perkataannya bisa dipegang. Apa yang tadi disampaikan Abu Bakar itu benar, tugas dan kenabian dan kerasulan saya sebentar lagi sudah selesai. Dan saya akan berjumpa dengan kekasih saya, Allah SWT.”

Sawad Menuntut Rasulullah Di Tengah-tengah Perkumpulan

“Kebetulan sekali, kalian berkumpul di sini. Kalau dalam pergaulan hidup sehari-hari, saya pernah berbuat salah kepada saudara-saudara, maafkan kesalahan saya. Kalau saya pernah menzalimi saudara-saudara, balaslah kezaliman tersebut kepada saya sekarang juga. Sebab, saya tidak sanggup menanggung pembalasan kezaliman di akhirat nanti.”

Mendengar permohonan maaf Rasulullah SAW, justru membuat para sahabat semakin diam tidak ada yang bicara sama sekali. Tiba-tiba ada seorang sahabat perawakannya tambun, warna kulitnya hitam, yang bernama Sawad bin Ghaziyah memberanikan diri bicara kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah…”

“Ada apa Sawad?” tanya Rasulullah SAW

“Saya hendak menuntut balas” jawab Sawad

“Memang kenapa?” tanya Rasulullahh SAW

“Waktu Anda mengadakan inspeksi perang, Anda sedang menata barisan. Saat itu Anda membawa tongkat, saya tidak tahu Anda sengaja atau tidak, badan saya terpukul oleh tongkat Anda.” ucap Sawad

Pada waktu itu sedang berlangsung pertempuran Badar, ketika sedang mempersiapkan pasukan, Rasulullah SAW mengatur barisan dan meluruskan seperti ketika meluruskan shaf-shaf shalat. Saat tiba di tempat, Rasulullah SAW melihat posisi Sawad agak bergeser tidak lurus dengan anggota pasukan lainnya.

Kemudian beliau memukul perut Sawad sambil berkata, “Luruskan barisan barisanmu, wahai Sawad!” ujar Rasulullah.

Tanpa diduga oleh siapapun, tiba-tiba Sawad berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku, maka berilah kesempatan kepadaku untuk membalasmu!”

Para sahabat terkejut, dan sebagian besar marah dengan ucapan Sawad ini, apalagi Umar bin Khattab. Rasulullah SAW sendiri sebenarnya terkejut dengan sikapnya itu, tetapi beliau berusaha untuk menenangkan para sahabat.

“Jadi apa yang hendak kamu inginkan?” tanya Rasulullah SAW

“Ya saya menuntut balas” jawab Sawad

“Ali, tolong ambilkan tongkat di rumah bawa kesini” perintah Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib

Tidak lama berselang, sahabat Ali membawa tongkat yang diambil dari rumah Rasulullah SAW, “Sawad, ini tongkat saya. Sekarang balaslah. Waktu itu saya pernah memukulmu sebelah mana?” tanya Rasulullah SAW

“Ya Rasulullah, waktu itu saya ingat sekali, saya tidak memakai baju” jawab Sawad

“Jadi bagaimana?“ tanya Rasulullah SAW

“Agar impas, Anda juga harus membuka baju” pinta Sawad kepada Rasulullah SAW

Sebagai wujud akhlak Rasulullah SAW, beliau tanpa segan membuka bajunya bagian atas, sehingga sampai telanjang dada. Maka terlihat bentuk badan beliau yang sangat putih. Begitu Rasulullah SAW melepas bajunya, tongkat yang sudah ada di tangan Sawad langsung dilemparkan. Sawad dengan sigap memeluk badan Rasulullah SAW sekencang-kencangnya seraya berkata, “Ya Rasulullah, maafkan saya”

“Kenapa Sawad?” tanya Rasulullah SAW

“Saya sengaja berbuat begini, agar kulit saya yang hina bersentuhan dengan kulit Anda yang mulia. Kalau di dunia kulit saya yang hina tidak bisa bersentuhan dengan kulit Anda, karena di akhirat Anda sudah pasti ada surga paling atas. Maka izinkan dan ridhakan badan saya yang hina bertemu dengan kulit Anda yang mulia di dunia.”

Rasulullah tersenyum mendengar jawaban Sawad, karena apa yang dilakukannya adalah ekspresi kecintaan kepadanya. Segera beliau mendoakan kebaikan dan ampunan bagi Sawad.

Rasulullah SAW sontak berkata, “Saudara-saudara, kalau kalian yang mau melihat salah satu penghuni surga, Sawad inilah orangnya. Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada dirinya. Maka Sawad merupakan salah satu penghuni surga, cinta kepada Allah dan Rasul di atas segalanya.”

Surau.co
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart