Salim Maula Abu Hudzaifah, Tahfidz dari Golongan Budak | Surau

Salim Maula Abu Hudzaifah, Tahfidz dari Golongan Budak

Surau.co – Pada suatu hari Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Ambillah olehmu (riwayat dan bacaan) Alquran itu dari empat orang, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal!”

Suatu ketika, istri dari Abu Hudzaifah membeli Salim saat masih kecil di pasar perdagangan budak. Lalu Abu Hudzaifah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Kemudian setelah Salim baligh, Abu Hudzaifah mengangkatnya sebagai anak angkatnya. Namanya berubah menjadi Salim Maula Abu Hudzaifah. Kemudian Islam memperbaiki kedudukannya, hingga diambil sebagai anak angkat oleh salah seorang pemimpin Islam terkemuka. Abu Hudzaifah inilah yang setelah terang-terangan masuk Islam mengambil Salim sebagai anak angkat selepas Salim merdeka. Mulai saat itu, ia dipanggil Salim bin Abi Hudzaifah.

Dari Budak Menjadi Hamba Sahaya

Rasulullah SAW pun pernah mempunyai budak bernama Zaid bin Haritsah. Lalu dibebaskan oleh Rasulullah SAW. Suatu ketika, ayahnya Zaid datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta anaknya, Zaid kembali kepadanya. Kemudian Rasulullah SAW meminta Zaid untuk memilih. Dan pilihan Zaid jatuh kepada Rasulullah SAW untuk menjadi ayah angkatnya. Kemudian Rasulullah SAW mengubah namanya menjadi Zaid Ibn Muhammad.

Pada suatu hari, turunlah ayat yang membatalkan kebiasaan mengambil anak angkat. Maka setiap anak angkat kembali menyandang nama bapak aslinya. Misalkan Zaid bin Haritsah RA yang diangkat anak oleh Nabi SAW hingga dikenal oleh kaum Muslimin sebagai Zaid bin Muhammad SAW.

Ia kembali menyandang nama bapaknya Haritsah, namanya berubah menjadi Zaid bin Haritsah. Tetapi Salim tidak dikenal siapa bapaknya, maka ia menghubungkan diri kepada orang yang telah membebaskannya. Oleh karena itu, ia dipanggil Salim maula Abu Hudzaifah .

Firman Allah SWT:

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا {40}

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.al-Ahzab:40)

Ibn Katsir berkata, “Setelah turun ayat ini, Allah melarang ada panggilan Zaid bin Muhammad, yakni beliau bukanlah ayahnya sekali pun telah mengangkatnya sebagai anak (adopsi).

Firman Allah SWT juga turun saat Abu Hudzaifah mengangkat Salim sebagai anaknya :

”…….  Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.(QS.AlAhzab(33):5).

Tatkala Islam menghapus adat kebiasaan memungut anak angkat, Salim pun menjadi saudara, teman sejawat serta maula (hamba sahaya yang telah dimerdekakan) bagi orang yang memungutnya sebagai anak tadi, yaitu sahabat yang mulia bernama Abu Hudzaifah bin Utbah.

Itulah berkah karunia dan nikmat dari Allah SWT. Salim mencapai kedudukan tinggi dan terhormat di kalangan Muslimin, berkah keutamaan jiwanya, serta perangai dan ketakwaannya. Hal itu juga dikarenakan ia tergolong Muslim generasi pertama.

Sedangkan Hudzaifah bin Utbah adalah salah seorang yang juga lebih awal dan bersegera masuk Islam. Hudzaifah adalah seorang yang terpandang di kalangan kaumnya, karena bapaknya telah mengkader dia untuk menjadi pemimpin Quraisy masa depan.

Baik Salim maupun Abu Hudzaifah, mereka beribadah kepada Allah SWT dengan hati yang tunduk dan khusyuk, serta menahan penganiayaan Quraisy dan tipu muslihat mereka dengan hati yang sabar tiada terkira.

Sampai akhir hayat mereka, keduanya melebihi saudara kandung. Ketika ajal tiba, mereka meninggal bersama-sama, nyawa melayang bersama nyawa, dan tubuh yang satu terbaring di samping tubuh yang lain.

Itulah keistimewaan luar biasa dari Islam, bahkan itulah salah satu kebesaran dan keutamaannya. Salim telah beriman sebenar-benar iman, dan menempuh jalan menuju Ilahi bersama-sama orang-orang yang takwa dan budiman.

Bersama-sama, Syahid dalam Peperangan

Di awal peperangan, kaum muslimin tidak bermaksud hendak menyerang. Tetapi setiap Mukmin telah merasa bahwa peperangan ini adalah peperangan yang menentukan, sehingga segala akibatnya menjadi tanggung jawab bersama. Mereka dikumpulkan sekali lagi oleh Khalid bin Walid yang kembali menyusun barisan dengan cara dan strategi yang mengagumkan.

Kedua saudara itu, Abu Hudzaifah dan Salim, berpelukan dan berjanji siap mati syahid bersama demi Islam. Lalu keduanya pun menerjunkan diri ke dalam kancah yang sedang bergejolak.

Abu Hudzaifah berseru, “Hai pengikut-pengikut Alquran, hiasilah Alquran dengan amal-amal kalian!” Dan bagai angin puyuh, pedangnya berkelibatan dan menghunjamkan tusukan-tusukan kepada anak buah Musailamah.

Sementara itu, Salim berseru pula, “Amat buruk nasibku sebagai pemikul tanggung jawab Alquran apabila benteng kaum Muslimin bobol karena kelalaianku.”

“Tidak mungkin demikian, wahai Salim. Bahkan, engkau adalah sebaik-baik pemikul Alquran!” ujar Abu Hudzaifah. Pedangnya bagai menari-nari menebas dan menusuk pundak orang-orang murtad, yang bangkit berontak hendak mengembalikan jahiliyah Quraisy dan memadamkan cahaya Islam.

Salim berteriak mengumandangkan ayat Alquran, “Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran: 146).

Sekelompok orang-orang murtad mengepung dan menyerbunya, hingga pahlawan itu roboh. Tetapi rohnya belum juga keluar dari tubuhnya yang suci, sampai pertempuran itu berakhir dengan terbunuhnya Musailamah.

Setelah pertempuran usai, para sahabat mencari syuhada yang gugur di medan pertempuran. Ketika kaum muslimin mencari-cari korban dan syuhada tersebut, mereka temukan Salim dalam keadaan sakaratul maut. Ia sempat bertanya kepada mereka, “Bagaimana nasib Abu Hudzaifah?”

“Ia telah menemui syahidnya,” ujar mereka.

“Baringkan aku di sampingnya,” kata Salim.

“Ini dia di sampingmu, wahai Salim. Ia telah menemui syahidnya di tempat ini.”

Mendengar jawaban itu, Salim menyunggingkan senyum terakhirnya. Setelah itu, ia tidak berbicara lagi. Ia dan saudaranya telah menemukan apa yang mereka dambakan selama ini; masuk Islam bersama, hidup bersama, dan mati syahid bersama pula.

Persamaan nasib yang amat indah. Mereka berdua menemui Tuhannya, namun namanya tetap dikenang. Ketika menjadi khalifah, Umar bin Khathab pernah berujar mengenang Salim, “Seandainya Salim masih hidup, pastilah ia menjadi penggantiku nanti.”

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart