Sa’ad bin Abi Waqqash, Penakluk Daratan China, Tiongkok | Surau

Sa’ad bin Abi Waqqash, Penakluk Daratan China, Tiongkok

Surau.co – Seiring waktu pengabdiannya di Islam, Sa’ad terkenal di berbagai pertarungan karena jasanya. Bahkan, dia dijuluki sebagai pemanah yang doanya selalu terkabul, terlebih, karena perannya dalam menaklukan Irak dan membebaskan Kota Kisra (Persia).

Dalam banyak peperangan, kisahnya tersebar, dari mulai orang pertama yang melepaskan anak panah di perang fisabilillah, berjuang di Perang Badar hingga membuka Perang Qadisiyah. Karena berbagai jasanya itu, dia juga pernah menjadi amir Kufah, meski akhirnya gelar itu dicopot.

Tak ada yang menyangkal perjuangan syiar dan peperangan Sa’ad yang mahsyur. Bahkan, perjuangannya menaklukkan berbagai daerah, termasuk menjadi sahabat yang menyebarkan Islam di Tiongkok pada 651 H, ketika menjelang akhir hayatnya.

Akulturasi Budaya; Strategi Sa’ad Dalam Syi’ar Islam

Sekitar 20 tahun setelah meninggalnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan mengirim delegasi untuk menyebarkan Islam di Tiongkok. Sahabat Rasulullah, Sa’ad bin Abi Waqqash, menjalankan tugas tersebut dengan baik, bahkan, dia diterima Kaisar Gaozong, penguasa Dinasti Tang saat itu dengan tangan terbuka.

Perjalanannya ke Tiongkok yang berjalan mulus itu, ia mulai dengan percampuran kedua budaya. Dikatakan, pada saat itu, budaya Tiongkok telah jauh lebih maju dari daerah lainnya, termasuk Arab yang masih dalam proses pematangan.

Dalam perjuangannya, selain mendirikan masjid, ia juga mendirikan komunitas muslim. Yang kemudian, komunitas itu memainkan peran kunci dalam bidang perekonomian. Pasalnya, mereka menguasai perdagangan di Jalur Sutra dengan memegang berbagai pelabuhan besar.

Mengutip buku History of China karangan Ivan Taniputera, pada masa penyebaran awal Islam di Tiongkok oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, rombongan muslim yang diterima dengan sangat baik diperbolehkan mendirikan tempat ibadah.

Bahkan, penguasa Dinasti Tang saat itu juga memperbolehkan muslim untuk tidak melakukan penyembahan terhadap kaisar, karena dia paham bahwa muslim tak diperkenankan menyembah manusia.

Masjid Huaisheng Menjadi Saksi Sejarah Syiar Islam

Upayanya dalam menyebarkan Islam di dataran Tiongkok, kini masih berjaya. Hal itu terbukti dengan bertahannya Masjid tua di sana, Masjid Huaisheng, yang dibangunnya sekitar tahun 627 M.

Masjid dengan luas lima hektar itu menjadi salah satu masjid tertua di Tiongkok. Bahkan kini telah berusia ribuan tahun.

Selain dikenal sebagai Xian Xian Qingzhensi (masjid kehormatan utama), masjid tua itu juga disebut memiliki makam Sa’ad bin Abi Waqqash. Konon, Sa’ad bin Abi Waqqash menyebarkan Islam kepada masyarakat China hingga akhir hayatnya. Meski, ada versi lainnya yang menyebut bahwa Sa’ad wafat dan dimakamkan di Baqi.

Seiring perjuangan syiar Sa’ad bin Abi Waqqash, pemerintahan dan kekaisaran Tiongkok juga berganti. Begitu pula komunitas muslim setelah meninggalnya Sa’ad yang kesulitan, terlebih karena banyaknya larangan dari Kekaisaran Dinasti Ming. Termasuk, larangan menyembelih hewan kurban dan larangan ibadah haji serta membangun masjid pada saat itu.

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar, perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin.

Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart