Sosok  

Riwayat Hidup Hudzaifah bin Al Yaman (w. 656 M), Sahabat yang Memegang Rahasia Nabi

Riwayat Hidup Hudzaifah bin Al Yaman (w. 656 M), Sahabat yang Megang Rahasia Nabi
Riwayat Hidup Hudzaifah bin Al Yaman (w. 656 M), Sahabat yang Memegang Rahasia Nabi

Surau.co – Hudzaifah bin Al Yaman bin Husail bin Jabir bin Amr bin Rabi’ah bin Jarwah. Ayah beliau yang bernama Husail yang belakangan dikenal dengan al-Yaman merupakan penduduk asli Makkah dari Bani ‘Abbas. Hudzaifah bin al Yaman dikenal sebagai orang yang dipercaya oleh Nabi Muhammad dalam menyimpan rahasia dan dalam menyelidiki permasalahan yang terjadi.

Riwayat Keluarga

Nisbat Al Yaman adalah sebutan (laqab) untuk ayahnya, namun salah satu sumber menyebutkan Al Yaman adalah nama kakeknya, Jabir.

Asal usul penyematan gelar Al Yaman pada ayahnya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Atsir dalam kitab Usdul Ghabah adalah karena hutang darahnya kepada kaumnya, yang memaksanya meninggalkan tanah kelahirannya, Mekah menuju Yatsrib (Madinah).

Di sini, ia meminta perlindungan keluarga Bani Abdul Asyhal, teman-teman Ansar dan juga bersumpah setia kepada mereka dalam hal etnis dan kekerabatan.  

Sejak peristiwa Husail ini, ayah Hudzaifah disebut Al-Yaman, itu karena dia telah bersumpah setia kepada Bani Abdil Asyhal dan memiliki silsilah dari Yaman.  

Setelah mencapai usia dewasa, Husail menikahi seorang wanita dari suku Asyhal. Dari pernikahan ini lahirlah Hudzaifah bin Husail, yang kemudian lebih dikenal dengan Hudzaifah bin Al Yaman.  

Dengan kelahiran putra ini, penghalang untuk memasuki kota Mekkahnya hilang, sehingga ia sekarang dapat melakukan perjalanan dengan bebas  antara Yatsrib (Madinah) dan Mekah, meskipun ia menghabiskan sebagian besar waktunya di Yatsrib.  

Husail adalah salah satu dari sepuluh keturunan Bani Abbas yang bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. menyatakan keyakinan mereka di hadapan Rasulullah. Peristiwa ini terjadi sebelum hijrahnya Nabi ke Madinah pada tahun 622 M. Menurut tradisi nasab yang berlaku di Arabia, yaitu keturunan bapak.  

Dalam Buku “Sejarah Lengkap Sahabat Nabi” Abdurrahman bin Abdul Karim Nabi, menyebutkan bahwa Hudzaifah bin Al Yaman adalah orang Mekah yang lahir dan besar di Madinah.

Hudzaifah bin Al Yaman lahir dalam keluarga Muslim di masa awal Islam, dan dia masuk Islam sebelum bertemu Nabi Muhammad secara langsung. Sayangnya, penulis tidak dapat melacak data pasti tentang tahun kelahirannya.  

Namun, jika Anda melihat data kronologis di atas, ia lahir sebelum migrasi Nabi ke Madinah, karena ayahnya, Husail, mengaku percaya pada Nabi Muhammad sebelum Hijrah.  

Sedangkan data yang lain menyebutkan tahun kematiannya, antara 34 dan 35 tahun atau 656 M, tepatnya 40 hari setelah pembunuhan tragis sahabat Utsman bin Affan, sebagaimana dicatat oleh Ibnul Atsir dari Usdul Ghabah.

Perjalanan Memeluk Islam

Seperti sahabat lainnya, Hudzaifah bin Al Yaman banyak meriwayatkan hadits dari Nabi SAW. Karena kedekatan pribadi dan spiritualnya dengan Rasulullah SAW, hal inilah yang membuatnya banyak menerima cerita hadits dari Rasulullah SAW yang kemudian diriwayatkan oleh para sahabat Rasulullah lainnya.  

Beberapa nama keluarga Hudzaifah bin Al Yaman yang tercatat adalah Abu Ubaidah, anak kandungnya, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Qhais bin Abi Hazim, Abu Wail, Zaid bin Wahab dan lain-lain.

Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya Karakteristik Kehidupan 60 Sahabat Nabi mencatat informasi bahwa Imam Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan 8 Hadist dari Hudzaifah bin Al Yaman, dan Imam Muslim meriwayatkan hingga 12 Hadist.  

Riwayat yang lain juga menjelaskan sejarah juga mencatat bahwa Hudzaifah berpartisipasi dalam Perang Uhud, dan selama perang itu, ayahnya Husail tanpa disadari menjadi syahid oleh pasukan Muslim. Justru karena dalam pertempuran ini dia memakai helm sehingga teman-temannya mengira dia termasuk kelompok musyrik.  

Kesyahidan Hudzaifah bin Al Yaman ini sendiri terlihat dari jauh oleh Hudzaifah bin Al Yaman sendiri, yang melihat sebilah pedang menikam ayahnya, dan ia berteriak, “Ayahku..! Ayahku…! Tidak, dia ayahku! Namun, Qadha’ Allah  terjadi, dan ketika para sahabat menyadari apa yang telah terjadi, mereka hanya bisa berdiam diri dalam kesakitan.

Mengetahui itu adalah kesalahan, Hudzaifah bin Al Yaman kemudian berkata, “Doa. semoga Allah mengampuni Anda, memang ayah saya adalah yang terbaik dari belas kasihan.”Ikut Perang Bersama Nabi Muhammad SAW

Hudzaifah bin Al Ayaman selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.

Dalam Perang Uhud, Hudzaifah bin Al Yaman ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin. Kaum Muslimin tidak mengetahui jika Al-Yaman adalah bagian dari mereka, sehingga mereka membunuhnya dalam perang.

Baca Juga: Riwayat Hidup Abdullah Ibnu Mas’ud (594 M), Sahabat Nabi yang Meriwayatkan Hadits Sebanyak 848

Kisah Hudzaifah bin al-Yaman yang Pandai Membaca Wajah

Hudzaifah bin Al Yaman adalah sahabat Nabi Muhammad yang memiliki bakat istimewa. Salah satu kemampuan Hudzaifah bin Al Yaman adalah bisa membaca wajah atau dalam bahasa sekarang disebut membaca mimik wajah.

Bahkan Hudzaifah bin Al Yaman bisa membaca karakter seseorang secara sekilas. Dia mengetahui hati, kejelekan dan kemunafikan orang lain dari jauh.  

Alih-alih menggunakan kekuatan ini untuk kejahatan, Hudzaifah menggunakannya untuk menyebarkan agama Islam dan menghilangkan kemunafikan.

Khulafaur Rashidi Umar bin Khattab sering menanyakan pendapat Hudzaifah tentang karakter pejabat dan. Ketika Hudzaifah ditanya, dia selalu menjawab dengan jujur.

Karena Hudzaifah bin Al Yaman juga bertanggung jawab dan sangat handal dalam menjalankan berbagai tugas.  

Kemampuan mengetahui isi hati orang lain membuat Hudzaifah dapat dibagai pada empat jenis hati, yaitu:

  • Hati yang tertutup, yaitu hati orang kafir
  • Hati yang menolak, yaitu hati orang munafik
  • Hati yang bersih dan di dalamnya terdapat pelita yang menerangi, maka ini hati orang beriman
  • Hati yang berisi kemunafikan dan iman.

Suatu hari Hudzaifah datang kepada Nabi. Dia langsung mengatakan kepada nabi bahwa lidah dan kata-katanya tajam.  

“Ya Rasulullah, saya memiliki lidah yang sangat tajam untuk keluarga saya. Saya sangat takut lidah ini akan membawa saya ke Neraka,” kata Hudzaifah, seperti dikutip dalam “Biografi Nabi SAW 60 Sahabat” oleh Khalid Muhammad Khalid. .  

Setelah mendengar pidato ini, Rasulullah mengingatkan Hudzaifa untuk meminta pengampunan kepada Allah SWT.  

“Lalu dimanakah jarakmu? Sungguh, aku memohon ampun kepada Allah seratus kali sehari,” kata Rasulullah.

Pada kesempatan yang berbeda, Hudzaifa bin Al Yaman menerima misi khusus dari Rasulullah. Di tengah perang Khandaq, ketika kaum Quraisy dan Yahudi bersekutu, Nabi ingin mengetahui kondisi kubu musuh.

Namun, cuaca pada waktu itu sangat berangin, gelap, bergemuruh dan juga sangat mencekam, semantara para sahabat pada waktu itu sedang dalam keadaam kelaparan.  

Rasulullah memanggil Hudzaifah untuk tugas yang sulit menyerang kamp Quraisy. Hudzaifah mampu melakukan ini dan berhasil menyusup ke kamp Quraisy.  

Setelah misinya selesai, Hudzaifah segera menyampaikan informasi yang dia terima dari kamp musuh kepada Yang Mulia.  

Hudzaifah bin Al Yaman juga meminta semangat juang tentara Muslim. Berkat keahlian dan kecerdasannya, perang berakhir dengan kemenangan bagi kaum Muslimin dan kekalahan bagi Persia.

Gelar Hudzaifah bin Al Yaman

Pada masa pemerintahan sahabat Umar, Hudzaifah bin Al Yaman diangkat menjadi gubernur Nahawand dan tetap di sana sampai kematiannya. Ketika dia sakit parah, yang menyebabkan kematiannya, beberapa teman datang kepadanya di tengah malam. Hudzaifah bin Al Yaman bertanya,

“Jam berapa sekarang?”

“Fajar sudah dekat.” Jawab mereka.

“Aku berlindung kepada Tuhan fajar, yang membawaku ke neraka.” kata Hudzaifah.

“Siapa di antara kamu yang membawa kafan itu?” tanya Hudzaifah.

“Ya,” jawab mereka.

 “Saya tidak membutuhkan kafan yang mahal, jika saya baik menurut penilaian Tuhan, dia akan menggantinya dengan  kafan yang lebih baik untuk saya.”

“Tapi jika aku tidak baik di matanya, dia akan melepaskan kain kafan dari tubuhku.” kata Khudzaifah.

Kemudian dia berdoa: “Ya Tuhan! Anda tahu bahwa saya lebih suka miskin daripada kaya, saya lebih suka sederhana daripada kaya, dan saya lebih baik mati daripada hidup.”

Setelah doa seperti itu, Hudzaifah bin Al Yaman meninggal. Semoga Allah Ta’ala menjaga rahmat-Nya. Beliau wafat di kota Mada’in pada tahun 35/36 Hijriyah, 40 hari setelah wafatnya sahabat Utsman bin Affan).

Penjaga Rahasia Nabi

Abu Nasr as-Sarraj mengatakan dalam kitabnya Al-Luma’fi At-Tashawwuf  bahwa di antara para sahabat Nabi ada orang-orang yang menerima ilmu khusus yang hanya diberikan kepadanya.

Orang-orang ini termasuk Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra dan Hudzaifah . Ali bin Abu Thalib pernah bersaksi, “Rasulullah mengajariku tujuh puluh juz ilmu yang tidak pernah diajarkannya kepada siapa pun kecuali aku.”   

Hudzaifah bin al Yaman sementara menerima informasi khusus tentang nama-nama orang munafik, yang diberikan kepadanya hanya oleh Nabi. Sampai-sampai Umar bin Khattab RA pernah bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah saya termasuk  mereka?”  

Maksud dari cerita ini adalah bahkan Umar, yang kemudian menjadi khalifah kedua, sangat menghargai ilmu Hudzaifah dan mengandalkannya bahkan sebatas ilmunya.  

Ada surat dalam Al-Qur’an yang disebut al-Munafiqun. Ini berbicara tentang ciri-ciri orang munafik. Surat yang sama tidak menyebutkan siapa orang itu.  

Tentang orang itu, Rasulullah mengetahui melalui malaikat Jibril. Nabi kemudian menyerahkan daftar nama-nama orang munafik yang hidup pada waktu itu hanya kepada Hudzaifa dan memintanya untuk tidak pernah mengungkapkan nama-nama itu kepada siapa pun.  

Tentang pertanyaan Umar di atas, Hudzaifah tidak menjawab, dia tetap diam dan tidak bergerak. Hudzaifah tidak berbicara sampai kematiannya. Karena itulah Hudzaifa disebut sebagai penjaga rahasia Nabi.

Jenazah Hudzaifah bin Al Yaman Tetap Utuh

Salah satu artikel surat kabar Pakistan “Daily Jang” tertanggal 7 Juni 1970, menjelaskan tentang bagaiman keajaiban terjadi pada jasad Hudaifah bin Al Yaman.

Pada tahun 1932 M, atau 1351 Hijriah, Raja Shah Faisal I dari Irak bermimpi ditegur oleh Hudzaifah bin Al Yaman seraya memarahinya dan berkata:

“Ya raja! Ambil mayatku dan Jabir al-Anshar (juga salah satu sahabat Nabi) mayat dari tepi sungai Tigris dan kemudian menguburnya lagi di tempat tertentu, karena kuburan saya sekarang penuh dengan air; kuburan Jabir juga akan diisi dengan air.”

Mimpi yang sama terulang pada malam-malam berikutnya, tetapi Raja Faisal I tidak memperdulikan mimpi ini, karena dia merasa ada hal lain dalam hidupnya yang jauh lebih penting dalam bentuk urusan negara.

Pada malam ketiga, Hudzaifah muncul dalam mimpi Mufti Besar Irak. Hudzaifah berkata dalam mimpi mufti:  

“Dua malam yang lalu, saya memerintahkan raja untuk memindahkan tubuhnya, tetapi dia tampaknya tidak peduli. Katakan kepada raja bahwa dia ingin sedikit berbelas kasih untuk memindahkan kuburan kita.”  

Kemudian, setelah membahas masalah itu, Raja Faisal, dengan Perdana Menteri dan Mufti Agung, bermaksud untuk melaksanakan tugas ini.

Masyarakat kemudian diinformasikan bahwa rencana ini akan dilaksanakan pada hari ke 10 Dzulhijjah setelah shalat Dhuhur dan Ashar.

Makam kedua sahabat Nabi dibuka dan tubuh mereka (atau mungkin kerangkanya) dipindahkan ke tempat lain. Karena pada waktu itu sedang musim haji, maka para jamaah haji juga ikut berkumpul di kota Mekah.

Mereka meminta Raja Faisal I agar proses ekskavasi itu ditunda hingga mereka selesai beribadah haji. Akhirnya Raja Faisal setuju untuk menangguhkannya hingga tanggal 20 Dzulhijjah.

Setelah shalat Dzuhur dan Ashar, pada tanggal 20 Dzulhijjah tahun 1351 (Hijriah) atau tahun 1932 Masehi, orang-orang berdatangan ke kota Baghdad. Yang datang bukan saja kaum Muslimin melainkan juga kaum Non-Muslim.

Mereka berkumpul di kota Baghdad hingga penuh sesak. Ketika kuburan Hudzaifah bin Al Yaman dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di dalamnya.

Tubuh Hudzaifah bin Al Yaman diangkat dengan menggunakan katrol dengan sangat hati-hati agar tidak rusak dan kemudian jenazah yang tampak masih sangat segar itu dibaringkan di sebuah tandu.

Kemudian Raja Faisal beserta Mufti Besar, Perdana Menteri dan Pangeran Faruq dari Mesir mendapatkan kehormatan untuk mengangkat tandu itu bersama-sama dan kemudian meletakkan jenazah segar itu ke sebuah peti mati dari kaca yang dibuat khusus untuk menyimpan jenazah-jenazah itu.

Tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan ke peti mati dari kaca yang sama dengan cara yang sama hati-hatinya dan dengan segenap penghormatan.

Pemandangan yang sangat menakjubkan itu sekarang sedang dilihat oleh banyak orang laki-laki dan perempuan, muda dan tua, miskin dan kaya, Muslim dan Non-Muslim. Kedua jenazah suci dari sahabat sejati Nabi yang kurang dikenal kaum Muslimin ini kelihatan masih segar dan tak tersentuh bakteri pengurai sedikitpun.

Keduanya dengan mata terbuka menatap kedepan membuat para penonton terperangah dan tak bisa menutup mulutnya. Kebisuan mengharu biru. Mereka seolah tak percaya atas apa yang mereka saksikan pada hari itu.

Selain tubuh keduanya yang tampak segar bugar; juga pakaian yang mereka kenakan pada saat dikubur semuanya utuh dan kalau dilihat sekilas seolah-olah kedua sahabat Nabi dan pahlawan Islam ini masih hidup dan hanya terbaring saja.

Kedua jasad suci ini akhirnya dibawa dan dikebumikan kembali di kuburan yang baru tidak jauh dari kuburan sahabat sejati nabi lainnya yaitu Salman Al-Farisi yang terletak di Salman Park kurang lebih 30 mil jauhnya dari kota Baghdad.

Kejadian ajaib ini sangat mengundang kekaguman para ilmuwan, kaum filsafat, dan para dokter. Mereka yang biasanya sangat sering berkicau memberikan analisa sesuai dengan bidangnya masing-masing, kali ini tertunduk bisu terkesima dengan kejadian yang teramat langka.

Salah satu dari mereka ialah seorang ahli fisiologis dari Jerman yang kelihatan sekali sangat tertarik dengan fenomena ini. Ia sangat ingin melihat kondisi tubuh jenazah kedua sahabat Nabi itu yang pernah dikuburkan selama kurang lebih 1300 tahun lamanya.

Oleh karena itu, ia serta merta langsung mendatangi Mufti Besar Iraq. Sesampainya ia di tempat dimana peristiwa akbar itu terjadi, ia langsung memegang kedua tangan sang Mufti dengan eratnya sambil berkata:

“Bukti apalagi yang bisa lebih menguatkan bahwa Islam itu benar. Aku sekarang akan masuk Islam dan tolong ajari aku tentang Islam”

Seorang dokter Jerman mendakwahkan Islam di depan ribuan orang yang melihatnya. Untuk melihat bahwa banyak orang lain yang beragama Kristen atau Yahudi menyatakan diri sebagai Muslim pada waktu itu karena mereka melihat bukti yang benar-benar nyata di hadapan mereka.

Ini bukan yang pertama atau yang terakhir, karena masih banyak lagi orang-orang Kristen dan Yahudi dan agama-agama lain yang bersegera masuk Islam karena melihat atau mendengar peristiwa-peristiwa ajaib tentang jenzah Hudzaifah bin Al Yaman. Wallahua’lam!