Rabiah bin Ka’ab, Menolak Menikah untuk Melayani Rasulullah SAW | Surau

Rabiah bin Ka’ab, Menolak Menikah untuk Melayani Rasulullah SAW

Surau.co – Rasulullah SAW terkenal dengan sikapnya yang begitu menghargai orang lain. Tidak hanya pada sahabatnya saja, sampai pada para pelayannya.

Tidak mengherankan jika para pelayan Rasulullah SAW melayani Sang Nabi sepenuh hati. Rasa cinta dan sayang kepada Rasulullah SAW membuat mereka selalu ikhlas dan gembira memberikan layanan.

Pun demikian dengan Rabiah bin Ka’ab. Sahabat ini bahkan sampai tidak mau menikah demi bisa terus melayani Rasulullah SAW. Di usia muda, jiwanya sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hatinya dipenuhi pengertian dan pemahaman tentang Islam.

Pertama kali berjumpa dengan Rasulullah SAW, ia langsung jatuh cinta dan menyerahkan seluruh jiwa raganya menjadi pendamping beliau. Kemana pun beliau pergi, Rabi’ah bin Ka’ab selalu berada di sampingnya.

Rabiah bin Ka’ab al-Aslami adalah salah seorang pelayan Rasulullah SAW. Tugasnya adalah mempersiapkan keperluan wudhu dan hajat Rasulullah SAW. Ia melayani Rasulullah SAW sepanjang hari. Meski demikian, Rabiah selalu siap siaga jika tiba-tiba Rasulullah SAW memanggilnya pada malam hari untuk melakukan ini dan itu.

Rabi’ah melayani segala keperluan Rasulullah SAW sepanjang hari hingga habis waktu Isya’ yang terakhir. Bahkan lebih dari itu, ketika Rasulullah SAW hendak berangkat tidur, tak jarang Rabi’ah mendekam berjaga di depan pintu rumah beliau. Di tengah malam, ketika Rasulullah SAW bangun untuk melaksanakan shalat, seringkali ia mendengar beliau membaca Al-Fatihah dan ayat-ayat Alquran.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw, jika seorang berbuat baik kepadanya, maka beliau pasti membalasnya dengan lebih baik lagi. Begitulah, beliau membalas kebaikan Rabi’ah dengan kebaikan pula. Melihat dedikasi Rabiah bin Ka’ab al-Aslami yang begitu tinggi, Rasulullah SAW mencoba untuk membalas budi. Beliau meminta Rabiah untuk mengutarakan permintaannya. Dan Rasulullah SAW akan mengabulkannya.

Keinganan Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami

Rabiah adalah sahabat yang miskin dan tidak memiliki rumah. Ia tinggal di emperan Masjid Nabawi bersama dengan Ahlus Shuffah lainnya. Masyarakat menyebut mereka “dhuyuful Islam” (tamu-tamu) Islam. Bila ada yang memberi hadiah kepada Rasulullah, maka biasanya beliau memberikannya kepada mereka. Rasulullah hanya mengambil sedikit saja. Meski demikian, dirinya tidak meminta harta benda, kekayaan, atau hal-hal yang bersifat duniawi ketika Rasulullah SAW memintanya untuk mengajukan suatu permintaan. “Wahai Rabi’ah bin Ka’ab, katakanlah permintaanmu, nanti kupenuhi!”

Setelah diam sejenak, Rabi’ah menjawab, “Ya Rasulullah, berilah saya sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu, akan kuberitahukan kepada Anda.”

“Baiklah kalau begitu,” jawab Rasulullah.

Dalam hati, Rabi’ah bin Ka’ab ingin meminta kekayaan dunia agar terbebas dari kefakiran. Ia ingin punya harta, istri, dan anak seperti para sahabat yang lain. Namun, hati kecilnya berkata, “Celaka engkau, wahai Rabi’ah bin Ka’ab! Kekayaan dunia akan lenyap. Mengapa engkau tidak meminta kepada Rasulullah agar mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu?”

Hatinya mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya mohon agar engkau mendoakan kepada Allah agar menjadi temanmu di surga.”

Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, “Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?”

“Tidak, ya Rasulullah. Tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaanku,” jawab Rabi’ah bin Ka’ab mantap.

Dia hanya ingin bisa terus bersama Rasulullah SAW, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Rabiah bahwasannya jika ingin bersama Rasulullah SAW di surga nanti, maka Rabiah harus banyak bersujud kepada Allah SWT. “Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri. Perbanyaklah sujud,” kata Rasulullah.

Sejak saat itu, Rabiah beribadah dengan sungguh-sungguh. Sehingga harapannya untuk terus bersama Rasulullah SAW hingga di akhirat kelak bisa tercapai. Rabiah juga sahabat yang belum berkeluarga. Rupanya keadaan ini membuat Rasulullah SAW prihatin dan kasihan. Beliau kemudian mendorong Rabiah bin Ka’ab untuk kawin agar memiliki teman hidup dan bercengkerama. Namun, Rabiah tidak bersedia. Dia berdalih, jika menikah maka tugasnya melayani Rasulullah SAW akan terganggu. “Aku tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu tugasku melayanimu, ya Rasulullah.” kata Rabiah, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad saw (Nizar Abazhah, 2018).

Rasulullah SAW pun tidak menyerah. Setelah beberapa waktu, Rasulullah SAW kembali menanyakan hal yang sama kepada Rabiah. Rasulullah diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau memanggil Rabi’ah kembali seraya bertanya, “Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi’ah?”

Dan Rabi’ah kembali menjawab seperti seperti semula. Hingga ketiga kalinya Rasulullah memanggil dan bertanya serupa. Rabi’ah menjawab, “Tentu, ya Rasulullah. Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi.”

“Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka bahwa Rasulullah menyuruhmu kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau.”

Dengan malu-malu Rabi’ah datang ke rumah mereka dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tuan rumah menjawab, “Selamat datang ya Rasulullah, dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!”

Rabi’ah bin Ka’ab kemudian menikah dengan anak gadis tersebut. Dan Rasulullah juga menghadiahkan sebidang kebun kepadanya, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Kebaikan Hati Rabi’ah

Suatu ketika, Rabi’ah sempat berselisih dengan Abu Bakar mengenai sebatang pohon kurma. Rabi’ah mengaku pohon kurma itu miliknya, sementara Abu Bakar juga mengakui hal yang sama.

Ketika perselisihan memanas, Abu Bakar sempat mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah sadar atas ketelanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, Abu Bakar menyesal dan berkata kepada Rabi’ah, “Hai Rabi’ah, ucapkan pula kata-kata seperti yang kulontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!”

Rabi’ah menjawab, “Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!”

“Akan kuadukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!” kata Abu Bakar, lalu pergi menemui Rasulullah SAW.

Rabi’ah mengikutinya dari belakang. Kerabat Rab’iah dari Bani Aslam berkumpul dan mencela sikapnya. “Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?” kata mereka.

Rabi’ah menjawab, “Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah “Ash-Shiddiq”, sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum Muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar. Kemarahan mereka berdua adalah kemarahan Allah. Akhirnya, aku yang celaka.”

Mendengar kata-kata Rabi’ah, mereka pun pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah SAW dan menuturkan apa yang terjadi. Rasulullah mengangkat kepala seraya bertanya pada Rabi’ah, “Apa yang terjadi antara kau dengan Ash-Shiddiq?”

“Ya Rasulullah, beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya,” jawab Rabi’ah.

Kata Rasulullah, “Bagus! Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi katakanlah, semoga Allah mengampuni Abu Bakar!”

Rabi’ah pun mengucapkan kata-kata itu. Mendengar kata-kata Rabi’ah, Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Rabi’ah.” Mereka pun hidup rukun kembali.

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart