Sosok  

Mengenal Muadz bin Jabal (605 M), Sahabat yang Masuk Surga Sebelum Para Ulama

Mengenal Muadz bin Jabal (605 M), Sahabat yang Masuk Surga Sebelum Para Ulama
Mengenal Muadz bin Jabal (605 M), Sahabat yang Masuk Surga Sebelum Para Ulama

Surau.co – Muadz bin Jabal lahir di Madinah, Arab Saudi, tahun 605 M (18 tahun sebelum Nabi Saw. dan para Sahabat ra. hijrah ke Madinah).

Nama lengkapnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus bin Aidz bin Adiy bin K’ab bin Uday bin Sa’d bin Ali bin Asad bin Saridah bin Yazid bin Jusyam bin Khazraj.

Atau Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus Al Khazraj. Dia keluar. berasal dari suku Khazraj, Madinah, bangsawan  golongan Ansar

Mu’āz juga dikenal dengan (kunyak) Ab ‘Abd al-Rahmān al-Ansar dan termasuk golongan Banî Salmah di jalan ‘Ud, karena ‘Ud adalah seseorang saudara Salmah bin Sa’ad adalah salah satu suku dari kelompok Ansar. Atas dasar itu, Mu’āz dikatakan sebagai anggota kelompok Ansar dari suku Bani Salmah.

Pendapat lain mengatakan bahwa Mu’āz termasuk dalam suku atau kelompok Banì Salmah menurut cara Sahal ibn Muhammad, karena Mu’āz ibn Jabal adalah saudara dari Sahal ibn Muhammad ibn al-Jaddî ibn Qais. Sedangkan Sahal sendiri merupakan bagian dari kelompok Banì Salmah.

Namun, pandangan yang paling relevan menurut Ibn Sa’ad dan Ibn al-Atsr adalah yang pertama mengatakan bahwa itu dikaitkan dengan Bani Salmah dari jalur Uddi, bukan dari jalur  Sahal.

Muadz bin Jabal memeluk agama Islam dalam usianya yang ke 18 tahun dan termasuk di antara 70 orang yang ikut dalam peristiwa ‘Aqabah dari kalangan Anshar.

Rasulullah SAW, mempersaudarakan Muadz bin Jabal dengan ‘Abdullah ibn Mas’ud. Mu’as juga memiliki peran aktif dalam beberapa peperangan bersama Rasulullah SAW, di antaranya ikut dalam perang Badar dalam usianya yang baru 20 atau 21 tahun, dan juga ikut Perang Uhud yang merupakan dua  peperangan besar antara umat Is1am dan kafir Quraysi.

Selain itu, Muadz bin Jabal merupakan orang yang menghancurkan berhala-berhala yang menjadi sesembahan golongan Banì Salmah, bersama Tsa’labah ibn ‘Unmah dan ‘Abdullah ibn Unaisy.

Muadz bin Jabal sangat dikenal sebagai pribadi yang elok dan rupawan, dalam urusan interaksi sosial dengan masyarakat sangat dikenal sebagai orang yang sangat beretika dan bermoral, serta pribadi yang dermawan, sehingga karena kedermawanannya itu Muadz memiliki banyak hutang.

Bahkan tatkla Muadz diutus ke Yaman, ia masih meninggalkan hutang, sampai-sampai Rasulullah berdo’a agar Allah memberikan kecukupan harta dan melunasi hutangnya. Abù Bakar lah yang pada akhirnya melunasi dan membayarkan semua sisa hutang Muadz.

Dalam hal pengumpulan Al-Qur’an, kedudukan Muadz bin Jabal sangat penting, selain menjadi empat orang yang berkontribusi dalam pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan Nabi pernah melihat sebagai sumber pemulihan Quran. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Muadz bin Jabal adalah qari utama Al-Qur’an.

Muadz bin Jabal adalah seorang  ahli fatwa yang kemampuan dan bakatnya diakui pada zaman Nabi SAW, dan dia juga dikatakan paling berpengetahuan dalam hal halal dan haram.

Dalam catatan lain, Muadz bin Jabal dikatakan sebagai orang yang paling memahami masalah neraka dan Surga.

Umar berkomentar, mereka yang ingin mengetahui Tentang fiqh (hukum Islam) harus bertanya kepada Muadz bin Jabal. Jika Mu’àz berbicara, maka para sahabat lainnya mendengarkan dan memperhatikan dengan penuh perhatian dan rasa hormat. Jika terjadi perselisihan di antara para sahabat, mereka akan bertanya kepada Mu’àz dan mengikuti nasihatnya.

Setelah Fathu Mekah, Rasulullah SAW, meninggalkan Mu’àz di Makkah untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Makkah. Kemudian Nabi mengangkat Muadz sebagai hakim di wilayah Yaman.

Tugas dan fungsinya adalah untuk menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di masyarakat Muslim di wilayah Yaman dan Hadramaut.

Muadz bin Jabal adalah sahabat yang tidak hanya dikagumi dan dihargai oleh sahabat lainnya. Tapi Nabi juga memuji kepribadiannya.

Rasulullah SAW, mengklaim bahwa Muadz bin Jabal adalah Imam para ulama dan bahwa pada Hari Kebangkitan dia akan satu atau dua langkah di depan para ulama lainnya.

Tidak hanya bernubuat Beberapa sahabatnya juga memuji karakter Mu’āz. Di antara para sahabat yang memuji Mu’āz ibn Jabal adalah ‘Abdullah ibn Mas’ūd.

Ibn Mas’ūd memuji Mu’āz dengan Nabi Ibrahim  mengatakan bahwa Mu’āz bin Jabal adalah orang yang paling sempurna pengetahuannya tentang kebaikan dan paling taat kepada Allah.

Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa banyak sahabat menerima laporan dari Muadz, termasuk Umar ibn Khattab, putranya ‘Abdullah, Abu Qatadah, Anas ibn Mālik, Abu Umāmah al-Bāhil, Abu Lailah al-Anshar dan banyak lainnya dari Lainnya Sahabat, baik dari Muhajirin maupun Ansar.

Sementara itu, di antara tabi’in ada nama-nama seperti Junadah bin Abî Umayyah, ‘Abd al-Rahmān ibn Ghanam, Abū Idrîs al-Khulūb, Abū Muslim al-Khulūb, Jābir ibn Nāfir, Mālik ibn Yughabir, dan lain-lain.

Muadz bin Jabal merupakan pemuda yang memiliki kedudukan besar di hati Nabi. Di antara hal yang menunjukkan hal itu adalah Nabi pernah memboncengnya. Pernah memegang tangannya sambIl berkata,

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ

“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Akhir hayat Mu’āz masih menjadi polemik di kalangan sejarawan. Ibn al-Atsir mengakui bahwa ada kontroversi di antara para sejarawan tentang tahun kematian Mu’āz ibn Jabal.

 Namun pendapat yang paling relevan dan didukung oleh Ibn Sa’ad adalah pendapat  bahwa Mu’āz ibn Jabal meninggal dunia dalam wabah (thhā’ān ‘uPawās) yang melanda wilayah Syam pada tahun 18 Hijriah dalam usia yang sangat muda. usia, khususnya 38 tahun. , bahkan anaknya  meninggal akibat  wabah ini.

Meski usia Muadz masih sangat muda, ia memiliki pandangan yang luas tentang Islam. Buktinya Nabi mengutusnya untuk berdakwah di Yaman setelah perang Tabuk. Dia membawa Muadz berjalan kaki ke ujung jalan, sementara Muadz berkuda.

Di antara anak-anaknya adalah Abdurrahman, Umm Abdullah dan lain-lain yang namanya tidak disebutkan oleh para sejarawan.

Tentang Abu Muslim al-Khaulani, dia berkata: “Saya memasuki masjid Damaskus. Ternyata saya melihat sebuah halaqah besar yang dipimpin oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad. Ternyata dia adalah seorang pemuda. Ini menarik. Gigi depan putih bersih. Jika orang tidak setuju pada sesuatu, mereka bertanya kepada pemuda itu. Saya bertanya kepada orang-orang di sebelah saya, ‘Siapa dia?’ “Mereka menjawab, ‘Ini Muadz bin Jabal. (Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 813).

Baca Juga: Biografi Shuhaib bin Sinan (587 M), Sahabat Setia Nabi yang Bermula Dari Seorang Budak

Kedekatan dengan Nabi

Sejak Nabi hijrah ke Madinah, Muadz giat belajar kepada Nabi (mulazamah). Dia belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Syariah langsung dari sumbernya. Hingga ia menjadi pembaca Al-Qur’an yang paling mahir di antara para sahabatnya. Dan termasuk yang paling sadar hukum agama.

Muadz adalah salah satu dari enam penghafal Quran terbaik di zaman Nabi, Muadz bin Jabal r.a. berkata: “Suatu hari Rasulullah memegang tanganku. Dia berkata, “Hai Muadz, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu.”

Aku menjawab, “Ibu dan ayahku menjadi tebusan, demi Allah sungguh aku juga benar-benar mencintaimu.”

Beliau bersabda,

“Hai Muadz, aku ingin memberi wasiat padamu. Jangan sampai kau lewatkan untuk membaca di setiap usai shalat, ‘Allahumma A’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).” (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud).

Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Muadz bin Jabal hendak bersafar.

Muadz berkata, “Wahai Nabi Allah, beri aku wasiat.” Nabi bersabda, “Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan dengan sesuatu apapun.”

Muadz kembali berkata, “Wahai Nabi Allah, tambahkan lagi.” Beliau bersabda, “Jika kau meminta (bertanya), lakukanlah dengan baik.” “Tambahkan lagi”, pinta Muadz. “Istiqomahlah dan perbaguslah akhlakmu.” (Shahih Ibnu Hibban, Kitab al-Bir wa al-Ihsan, No: 529).

Diutus Ke Yaman

Dari Ashim bin Humaid bahwa Muadz bin Jabal menceritakan, “Ketika Rasulullah mengirim saya ke Yaman, Rasulullah keluar untuk mengawal saya dan melaksanakan wasiat. Muadz berada di atas tunggangannya. Sementara Rasulullah mengiringinya dan bersabda;

‘Hai Muadz, bisa jadi kau tak akan berjumpa lagi denganku selepas tahun ini. Engkau lewat di masjidku dan di sini kuburku.’

Muadz pun menangis, Ia takut berpisah dengan Nabi. Kemudian Nabi berbalik ke arah Madinah. Beliau bersabda,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُوْنَ ، مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا

“Sesungguhnya orang-orang yang paling utama disisiku adalah orang yang bertakwa, siapapun dan dimanapun mereka.” (HR. Ahmad).

Pujian Para Sahabat

Ash-Sha’bi (tabi’in) berkata: “Faurah bin Naufal al-Ashja’i menyampaikan kepadaku bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata: ‘Sesungguhnya Muadz bin Jabal adalah orang yang taat kepada Allah ( qanit) dan jujur. mengatakan,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.” [Quran An-Nahl: 120].

Aku tidak lupa. Apakah kau tahu apa yang dimaksud dengan umat? Dan apa juga makna Qanit? Faurah berkata, “Allahu a’lam.” Ibnu Mas’ud berkata, “Umat adalah yang mengetahui kebaikan. Sedangkan qanit adalah yang tunduk patuh kepada Allah Azza wa Jallah dan Rasul-Nya.

Dan Muadz bin Jabal adalah orang yang paling mengetahui kebaikan. Dan dia juga seorang yang patuh kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” (Tafsir ath-Thabari)

Syahr bin Hausyab berkata, “Apabila para sahabat nabi berbicara (menyampaikan hadits), mereka melihat ke arah Muadz sebagai penghormatan padanya.” (Hilyatul Awliya’ oleh Abu Nu’aim)

Zuhud dan Wara’

Malik ad-Dari mengatakan bahwa Umar bin al-Khattab menerima uang jumlah hingga 400 dinar. Lalu  masukkan ke dalam  bungkusan. Umar berkata kepada putranya: “Silakan! Berikan ini kepada Abu Ubaidah bin al-Jarah. Berhentilah sejenak, lihat apa yang akan dia lakukan.  

Anak itu pergi. Ketika dia tiba, dia berkata: Amirul Mu’minin berkata kepada putranya. sahabat Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah merahmatinya.” Dia kemudian memanggil pelayannya, “Kemarilah Jariyah (hamba).” Bawa 7  uang ini ke Fulani. Tahun untuk Fulani. Lima lagi untuk Fulani. Sampai tidak ada lagi uang yang tersisa. “

Budak  Umar  kembali ke tuannya. Kemudian, Umar juga menyiapkan jumlah yang sama untuk Muadz bin Jabal. Dia berkata: “Bawa ini ke Muadz bin Jabal. Berhenti sebentar. Perhatikan apa yang dia lakukan.

Budak pergi membawa uang itu, sesampainya di tempat Muadz bin Jabal, dia berkata: “Amirul Mu’minin menasihati Anda bahwa sebagian dari uang ini harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan Anda.” Muadz berkata, “Semoga Allah merahmatinya dan mengejarnya.

Kemarilah Jariyah (budak). Bawa  uang ini ke rumah Fulan. Datanglah ke  Fulan dengan uang yang sedikit ini. “Lalu istrinya datang. Dia berkata, “Demi Allah, saya juga  orang yang membutuhkan. Selalu berikan padaku. “Saat itu, dengan tidak membawa apa-apa selain dua dinar, Muadz memberikan dua dinar kepada istrinya. Kemudian budak itu kembali ke Umar.  Umar berkomentar: “Mereka adalah saudara. Beberapa dari mereka adalah bagian dari satu sama lain. (Siyar A’lam an-Nubala, 1/456). Begitulah asketisme Muadz terhadap dunia.

Yahya bin Said berkata: “Muadz punya dua istri . Jika dia tinggal di  rumah istrinya, dia tidak akan minum air  rumah lain. ” (Hilyatul Aulia oleh Abu Nu’aim No: 823). Ini adalah bentuk hati-hati (wara’) Muadz. Dia tidak ingin menyakiti salah satu istrinya bahkan jika itu hanya mencicipi air di rumah tanpa gilirannya.

Yahya bin Said juga mengatakan bahwa Muadz bin Jabal memiliki dua  istri. Pada  hari  salah satu istrinya, dia tidak melakukan aborsi di rumah  lain. Kemudian dua istrinya meninggal karena wabah di Syam. Semua orang sibuk. Dia menguburkan mereka berdua dalam satu kuburan. Kemudian dia memilih, siapa pun yang dicalonkan akan dimasukkan ke dalam kubur. “(Hilyatul Auliya).

Nasihat-Nasihat Muadz

Dari Muawiyah bin Qurah, Muadz bin Jabal berkata kepada putranya: “Anakku, ketika kamu berdoa, berdoalah seolah-olah itu adalah yang terakhir bagimu. Jangan berpikir Anda akan mendapatkan kesempatan untuk melakukannya lagi nanti. Ketahuilah anakku, seorang mukmin meninggal di antara dua kebajikan. Kebaikan yang telah dia lakukan dan kebaikan yang akan dia lakukan. (Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 824).

Menurut Abu Idris al-Khaulani, Muadz bin Jabal berkata: “Setiap kali Anda bersama orang-orang, mereka pasti akan membicarakan sesuatu. Jika kamu melihat mereka lalai, segeralah menghadap Tuhanmu. “(Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 834).

Artinya ketika orang lalai, kamu selalu mengingat Tuhanmu. Karena ada kelebihan mengingat Allah  tatkala banyak orang yang melupakannya.

Tentang Asy’ats bin Sulaim, Raja ‘bin Haiwah, Muadz bin Jabal berkata: “Kamu telah dicobai kesulitan, kamu bisa bersabar. Maka kamu akan diuji dengan senang hati. Dan yang paling aku takuti darimu adalah ujian wanita. Anda ditutupi dengan emas dan  wanita memakai Riyath (jenis pakaian) dari Syam, dan kain Yaman. Mereka melelahkan orang kaya. Dan membebani orang miskin. “(Hilyatul Auliya oleh Abu Nu’aim, No: 839).

Muadz bin Jabal Sakit dan Wafat

Tariq bin Abdurrahman mengatakan telah terjadi wabah kolera di Suriah. Distribusinya begitu merata sehingga orang-orang berkomentar, “Itu adalah banjir. Hanya saja tidak ada air.”

Pernyataan ini sampai ke telinga Muadz, yang bahkan berkhotbah: “Aku telah mengirimkan kepadamu apa yang telah kamu katakan. Tapi, ini adalah rahmat dari Ulamamu dan doa dari Nabimu. Seperti kematian orang benar di depanmu. Mereka takut akan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Artinya, seseorang meninggalkan rumah di pagi hari tanpa mengetahui apakah dia beriman atau munafik. Dan mereka takut dengan kepemimpinan anak-anak (yang tidak kompeten).” (Shifatu ash-Shafwah, 1/189).

Abdullah bin Rafi’ berkata: “Ketika Abu Ubaidah bin al-Jarah meninggal karena kolera. Orang-orang menunjuk Muadz bin Jabal sebagai pemimpin mereka.

Sakitnya semakin parah, orang-orang berkata kepada Muadz: “Semoga Tuhan menghapus sampah (penyakit) ini”. Muadz menjawab, “Itu bukan kotoran. Tapi itu adalah doa nabimu. Dan kematian orang-orang saleh dan para syuhada sebelum kamu. Allah menyukai orang-orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya di antara kamu. Sobat, ada empat hal yang jika Anda mampu untuk tidak mengalami salah satu dari empat hal ini maka lakukanlah”.

Mereka bertanya, ‘Apa itu?’

Muadz menjawab, ‘Akan datang suatu masa dimana kebatilan begitu dominan. Sehingga seseorang di atas agamanya bertemu dengan yang lain, orang itu berkata, ‘Demi Allah, aku tak tahu sedang sakit apa aku ini. Aku tidak merasakan hidup di atas petunjuk. Tidak pula mati di atasnya. Seseorang memberi orang lain harta dari harta-harta Allah dengan syarat mereka mengucapkan kedustaan yang membuat Allah murka. Ya Allah, datangkanlah untuk keluarga Muadz ketentuan untuk mereka. Dan sempurnakanlah rahmat ini’.

Anak Muadz berseloroh, ‘Bagaimana kau anggap (wabah) ini sesuatu yang ingin segera didatangkan dan rahmat?’

Muadz berkata, ‘Wahai anakku (beliau nukilkan firman Allah),

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” [Quran Al-Baqarah: 147].

Anaknya menjawab, ‘Aku (ia menukil firman Allah

“Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” [Quran Ash-Shaffat: 102]

Kemudian kedua istrinya terjangkit wabah. Keduanya sudah mati. Sedangkan Muadz, terjangkit wabah jempol ini. Dia menyeka mulutnya, berkata: “Ya Allah, itu sangat kecil. Diberkahi. Sungguh, kamu sangat penyayang kepada anak-anak kecil. “Muadz juga meninggal karena wabah ini.  

Sejarawan sepakat bahwa Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu meninggal karena tha’un (kolera.) Dia meninggal di suatu daerah Yordania (Syam) pada tahun 28 H. Adapun usia kematiannya, sejarawan berbeda.

Pendapat pertama adalah bahwa ia meninggal pada usia 38 tahun. Dan ulasan lain mengatakan 33 tahun. Semoga Allah merahmati dan merahmati Muadz bin Jabal, pemimpin para ulama di akhirat. Wallahua’lam!