Mengenal Lebih Dekat Ali bin Abi Thalib | Surau

Mengenal Lebih Dekat Ali bin Abi Thalib

Deal Score0

Surau.co – Ali bin Abi Thalib RA lahir Makkah pada 15 September 601 dan meninggal di Kufah, Mesopotamia pada 29 Januari 661. Lahir dari ayah yang bernama Abu Thalib¬† bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abd Manaf dan ibu yang bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Ayah Ali merupakan kakak dari ayah Nabi SAW, Abdullah bin Abdul Mutthalib. Beliau merupakan khalifah keempat, berkuasa pada 656-661. Masa kekuasaan yang cenderung singkat, sekitar 4-5 tahun. Bagi kalangan Bani Hasyim, Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah pertama.

Ali adalah menantu dari Nabi Muhammad setelah menikahi Fatimah az-Zahra. Sayyidina Ali menikah dengan putri baginda Nabi Muhammad SAW, Fatimah az-Zahra ketika umur Fatimah berumur 15 tahun. Dalam pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat anak, dua putra yaitu Hasan dan Husein; serta dua putri yakni Zainab dan Ummu Kultsum.

Ketika masih kecil, ibunya memberi nama Haidarah tapi ayahnya kemudian mengganti dengan nama Ali. Dia menjadi anak asuh Nabi Muhammad SAW saat usianya masih 6 tahun, dan ketika Nabi SAW diangkat menjadi Rasul, Ali baru berumur 8 tahun. Pengangkatan Ali sebagai anak asuh dari Nabi Muhammad lantaran, Nabi ingin meringkankan Abu Thalib yang saat itu memiliki banyak anak.

Sejak kecil, Ali sudah menunjukkan sifat kritisnya. Al-Quran menjadi sumber kecerdasan Ali, pada masa menjadi anak asuh ini, Ali mendapat banyak ilmu dari Rasulullah. Baik terkait ilmu tauhid, agama, etika, dan lain-lain. Menjadi sosok orang kedua yang menerima dakwah Nabi setelah istri Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah binti Khuwailid.

Sayyidina Ali mempunyai karakter zuhud dan sederhana. Baik ketika dia diangkat sebagai khalifah maupun tidak, kehidupannya tak banyak berubah. Dia dikenal pula sebagai orang yang cerdas dan berani. Keberanian itu tercermin ketika mengikuti perang dan menjadi panglima, suatu keberanian yang menggetarkan musuh. Nabi SAW pernah mewarisi sebilah pedang pada Ali yang diberi nama ‘Zulfikar’.

Sedangkan kecerdasan Ali ditunjukkan dengan begitu banyak ilmu agama yang dia kuasai dengan mendalam. Bahkan Rasulullah pernah bersabda: “Aku kota ilmu pengetahuan, sedangkan Ali adalah ilmu gerbangnya.” Sebab dalamnya ilmu pengetahuan inilah, fatwa Ali sering diikuti oleh umat. ¬†Bagi Ali, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.” Selain itu dia juga sosok ahli agama yang terkenal akal kemampuan sastranya. Terlebih dalam karya “Nahjul Balaghah”.

Meski begitu, selama masa kekhalifahan banyak cobaan pula yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib. Seperti konflik dengan beberapa sahabat yang dipimpin istri Rasulullah, Ummul Mukminin, Aisyah dalam Perang Jamal (Perang Unta). Di mana dalam perang itu, Aisyah mengendarai unta. Perang ini dilatarbelakangi atas kejadian terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, di mana Aisyah dan pengikutnya menginginkan pertanggungjawaban dan keadilan. Perang Jamal ini mengakibatkan Aisyah tertawan, serta sahabat di pihak Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam gugur.

Pecah pula Perang Shiffin yang terjadi pada 37H. Dalam perang ini, Ali memiliki pasukan berjumlah 95 ribu yang melawan golongan Muawiyah yang memiliki jumlah pasukan sebanyak 85 ribu. Dalam Perang Shiffin, Ali dan pasukannya hampir memenangkan perang, tapi perang dinyatakan damai ketika Amr bin Ash mengangkat mushaf Al-Qur’an. Ali meminta pasukan tidak melanjutkan perang, meski terjadi gencatan senjata.

Kebijakan tersebut membuat pasukan jadi terpecah belah, setidaknya menjadi tiga bagian: Kelompok Syiah, Kelompok Murjiah, dan Kelompok Khawarij dengan pemahaman serta pendukungnya masing-masing. Dari kelompok-kelompok pemberontak ini, mereka memprotes pengangkatan Ali sebagai khalifah. Ada pula rencana pembunuhan pada Ali yang dieksekusi oleh Abdurrahman bin Muljam yang berhasilan melakukan pembunuhan pada Ali, ketika menantu terkasih Rasulullah tersebut tengah menuju masjid. Saat itu usia Ali ialah 63 tahun, dan dia meninggal pada 19 Ramadhan 40H, sekaligus menjadi tanda berhentinya masa Khulafaur Rasyidin.

Surau
Logo
Register New Account
Reset Password
Shopping cart