Kisah Nu’man bin Basyir, Sahabat yang Ahli Ilmu | Surau

Kisah Nu’man bin Basyir, Sahabat yang Ahli Ilmu

Surau.co – Jika ‘Abdullah bin az-Zubair bin al-‘Awwâm adalah anak yang pertama kali terlahir di muka bumi ini dari kalangan Muhâjirin pasca hijrah di Madinah, maka Nu’mân bin Basyîr merupakan anak yang pertama kali dilahirkan dari kalangan Anshâr setelah Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Ia dilahirkan pada bulan Jumadil awal tahun ke-2 H, 14 bulan setelah Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Maka, saat Rasulullah SAW wafat, ia baru berusia 9 tahun atau menurut ungkapan Imam Ibnul Atsiir, “Ia dilahirkan 8 tahun 7 bulan sebelum wafatnya Rasûlullâh SAW.“‘

Abdullah bin az-Zubair pernah berkata, “Nu’mân bin Basyîr lebih tua dariku enam bulan.” Secara lengkap, nasab Nu’mân bin Basyîr adalah Nu’mân bin Basyîrbin Sa’d bin Tsa’labahbin Julâs bin Zaid bin Maalik al-Agharr al-Anshâri al-Khazraji. Nu’man mendapat julukan Abu ‘Abdillah atau Abu Muhamad. Nu’mân bin Basyîr dan sang ayah termasuk sahabat Rasûlullâh SAW. Sang ayah, Basyîr bin Sa’d termasuk pasukan Islam yang berjihad fi sabilillah dalam Perang Badar. Sedangkan ibundanya bernama ‘Amrah binti Rawaahah, saudara perempuan ‘Abdullah bin Rawâhah Radhiyallahu anhu salah seorang panglima kaum Muslimin di Perang Mu`tah. Nasab Ibu dan ayah Nu’mân bin Basyîrg menyatu pada kakek yang bernama Mâlik al-Agharr.

Imam ibnu Katsir menyebutkan bahwa ibu Nu’mân pernah membawa bayi Nu’mân bin Basyîr ke hadapan Rasûlullâh SAW. Rasulullah SAW kemudian mentahniknya dan memberi kabar gembira kepada sang ibu bahwa putranya akan hidup dalam keadaan terpuji. Jumlah hadits yang diriwayatkan seperti sudah diungkapkan di atas, meskipun Nu’mân bin Basyîr termasuk kalangan yang berusia kanak-kanak saat Rasulullah masih hidup, ia ternyata sudah dapat menangkap apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Imam adz-Dzahabi mengatakan bahwa riwayat haditsnya berjumlah 114 hadits. Imam al-Bukhâri dengan sanadnya membawakan salah satu hadits riwayat Nu’mân bin Basyîr. Dalam hadits tersebut, Nu’mân bin Basyîr mengatakan, “Aku mendengar Rasûlullâh SAW bersabda: الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشَبَّهَاتٌ

Perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas. Dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar [HR. Al-Bukhâri no.52 dan Muslim no.1599] Dalam hadits di atas, Nu’mân menunjukkan bahwa dirinya mendengar hadits dari Rasûlullâh SAW. Sementara murid-muridnya, putranya sendiri, Muhammad, asy-Sya’bi, Simaak bin Harb, Abu Qilâbah, Abu Ishâq as-Sabî’i dan lain-lain. Baca Juga Meneladani Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengutip dalam Fathul Bâri (1/154, tahqiq ‘Abdul Qadir Syaibah al-Hamd) dari Abu ‘Awwanah dalam Shahihnya bahwa asy-Sya’bi, salah satu murid Nu’man bin Basyîr, menyatakan bahwa Nu’mân bin Basyîr menyampaikan hadits di atas dalam khutbah di Kufah dan di Homs. Nasehat dari Nu’mân bin Basyîr Nu’mân bin Basyîr al-Anshâri pernah berkata: إِنَّ الْهَلَكَةَ كُلَّ الْهَلَكَةِ أَنْ تَعْمَلَ السَّيْئَاتِ فِي زَمَنِ الْبَلَاءِ  Sesungguhnya kebinasaan yang paling buruk, engkau melakukan berbagai dosa saat musibah tiba.

Diriwayatkan dalam hadits yang cukup panjang dari Nu’man bin Basyir:

عَنْ النُّعْمَانِ قَالَ: سَأَلَتْ أُمِّي أَبِي بَعْضَ الْمَوْهِبَةِ فَوَهَبَهَا لِي، فَقَالَتْ: لاَ أَرْضَى حَتَّى أُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَأَخَذَ أَبِي بِيَدِي وَأَنَا غُلاَمٌ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمَّ هَذَا ابْنَةَ رَوَاحَةَ طَلَبَتْ مِنِّي بَعْضَ الْمَوْهِبَةِ، وَقَدْ أَعْجَبَهَا أَنْ أُشْهِدَكَ عَلَى ذَلِكَ، قَالَ: يَا بَشِيرُ، أَلَكَ ابْنٌ غَيْرُ هَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَوَهَبْتَ لَهُ مِثْلَ مَا وَهَبْتَ لِهَذَا؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَلاَ تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنِّي لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ

Dari an-Nu’man (bin Basyir), beliau berkata, “Ibu saya meminta hibah kepada ayah, lalu memberikannya kepada saya. Ibu berkata, ‘Saya tidak rela sampai Rasûlullâh SAW menjadi saksi atas hibah ini.’ Maka ayah membawa saya, saat saya masih kecil kepada Rasûlullâh SAW dan berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, ibunda anak ini, ‘Amrah binti Rawahah memintakan hibah untuk si anak dan ingin engkau menjadi saksi atas hibah.’ Maka Rasulullah SAW bertanya, ‘Wahai Basyir, apakah engkau punya anak selain dia?’ ‘Ya.’, jawab ayah. Rasulullah SAW bertanya lagi, ‘Engkau juga memberikan hibah yang sama kepada anak yang lain?’ Ayah menjawab tidak. Maka Rasûlullâh SAW berkata, ‘Kalau begitu, jangan jadikan saya sebagai saksi, karena saya tidak bersaksi atas kezhaliman.’ ” (HR. al-Bukhâri)

Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ أَبَاهُ أَتَى بِهِ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنِّي نَحَلْتُ ابْنِي هَذَا غُلَامًا كَانَ لِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَكُلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَهُ مِثْلَ هَذَا؟» فَقَالَ: لَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَارْجِعْهُ» (صحيح مسلم، 3/ 1241)

Dari Nu’man bin Basyir dia berkata, Suatu ketika ayahnya membawa dia menemui Rasulullah SAW sambil berkata, ‘Sesungguhnya saya telah memberi anakku ini seorang budak milikku.’ Kemudian Rasulullah SAW bertanya: ‘Apakah setiap anakmu kamu beri seorang budak seperti dia?’ Ayahku menjawab, ‘Tidak’. Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Kalau begitu, ambillah kembali.’ (HR. Muslim).

Dalam redaksi lain disebutkan:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبَعْضِ مَالِهِ، فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «اتَّقُوا اللهَ، وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ»، فَرَجَعَ أَبِي، فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ (صحيح مسلم، 3/ 1242)

Dari An Nu’man bin Basyir dia berkata, ‘Ayahku pernah memberikan sebagian hartanya kepadaku’, lantas Ummu ‘Amrah binti Rawahah berkata, ‘Saya tidak akan rela akan hal ini sampai kamu meminta Rasulullah SAW sebagai saksinya.’ Setelah itu saya bersama ayahku pergi menemui Rasulullah SAW untuk memberitahukan pemberian ayahku kepadaku, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya: ‘Apakah kamu berbuat demikian kepada anak-anakmu?’ dia menjawab, ‘Tidak’. Beliau bersabda: ‘Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu.’ Kemudian ayahku pulang dan meminta kembali pemberiannya itu. (HR. Muslim).

Dalam redaksi lain disebutkan:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: انْطَلَقَ بِي أَبِي يَحْمِلُنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، اشْهَدْ أَنِّي قَدْ نَحَلْتُ النُّعْمَانَ كَذَا وَكَذَا مِنْ مَالِي، فَقَالَ: «أَكُلَّ بَنِيكَ قَدْ نَحَلْتَ مِثْلَ مَا نَحَلْتَ النُّعْمَانَ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَأَشْهِدْ عَلَى هَذَا غَيْرِي»، ثُمَّ قَالَ: «أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟» قَالَ: بَلَى، قَالَ: «فَلَا إِذًا» )صحيح مسلم، 3/ 1243)

Dari An-Nu’man bin Basyir dia berkata,”‘Ayahku pernah membawaku menemui Rasulullah SAW, ayahku lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, saksikanlah bahwa saya telah memberikan ini dan ini dari hartaku kepada Nu’man.’ Beliau bertanya: ‘Apakah semua anak-anakmu telah kamu beri sebagaimana pemberianmu kepada Nu’man?’ Ayahku menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Mintalah saksi kepada orang lain selainku.’ Beliau melanjutkan sabdanya: ‘Apakah kamu tidak ingin mereka berbakti kepadamu dengan kadar yang sama?’ ayahku menjawab, ‘Tentu.’ Beliau bersabda: ‘Jika begitu, janganlah lakukan perbuatan itu lagi.;” (HR. Muslim).

Dari beberapa hadits diatas, disimpulkan bahwa hibah kepada anak ini harus adil.

Nu’man bin Basyir pernah diberi tanggung jawab memegang kendali mahkamah Qadha di Damaskus setelah Fadhâlah bin Ubaid, dan kemudian memimpin kota Homs. Karena itulah, Imam adz-Dzahabi menjuluki Nu’mân bin Basyîr sebagai al-amîr al-‘âlim (seorang gubernur yang ahli ilmu). Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Nu’man menjabat Gubernur di wilayah Hims. Kemudian pada masa pemerin-tahan Yazid bin Mu’awiyah kekuasaan beliau diberikan lagi. Beliau terbunuh di sebuah kampung di negeri Himsh, karena menyerukan bai’at kepada Abdullah bin Zubair, pada tahun 56 H.

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart