Kisah Malik bin at Tayihan, Sahabat yang Mengikuti Bai’at Aqabah II | Surau

Kisah Malik bin at Tayihan, Sahabat yang Mengikuti Bai’at Aqabah II

Surau.co – Malik bin at Tayihan termasuk salah seorang yang ikut dalam dua baiat Aqabah. Saat baiat Aqabah II, ia terpilih untuk memimpin Bani al Asyhal. Ia pun ikut bergabung dalam Perang Badar dan perang-perang lain bersama Rasulullah SAW. Malik bin at Tayihan biasa dipanggil dengan Abu al Haytsam.

Suatu hari setelah kaum muslimin dari Yatsrib sebanyak 75 orang (73 orang laki-laki dan 2 orang wanita) berkumpul di Mina, di bukit Aqabah dan Rasulullah SAW juga telah berada di sana dengan pamannya yang bernama ‘Abbas, walaupun pada saat itu ‘Abbas masih memeluk agama kaumnya dan belum masuk Islam, tetapi karena cintanya kepada Rasulullah SAW dan hendak ikut menguatkan seruan beliau, maka dia ikut di tempat tersebut. Kemudian, sebelum bai’at dimulai, lebih dahulu ‘Abbas bangkit di hadapan mereka.

Adapun pesan ‘Abbas pada waktu itu adalah sebagai berikut, “Hai sekalian golongan Khazraj, kamu sekalian telah mendengar dan mengerti bahwa Muhammad itu adalah dari golongan kami (Quraisy) dan dari keturunan kami. Dan kami telah memelihara diri Muhammad dengan pemeliharaan yang sebaik-baiknya dari orang-orang yang memusuhinya, dia sudah kami jaga benar-benar, sehingga sekarang tidak ada seorang pun yang dapat menunjukkan permusuhannya terhadap dia. Maka dari itu jikalau kamu semua bersungguh-sungguh supaya Muhammad mengabulkan segala apa yang kamu minta, yaitu agar pindah ke negerimu, itu tidak ada halangan, asal kamu semua dapat menepati kesanggupanmu masing-masing dan dapat menjaganya dengan penjagaan yang sebenar-benarnya dari orang yang memusuhinya. Adapun jika sekiranya kamu semua tidak dapat menepati janjimu dan merasa tidak akan bisa menjaga dirinya dimana saja ia berada dari ancaman atau bahaya dari orang yang memusuhinya, maka lebih baik kamu tinggalkan dan lepaskan dia, biarlah ia hidup atau mati di negerinya sendiri”.

Demikianlh kata-kata ‘Abbas kepada kaum muslimin dari Yatsrib. Selanjutnya Rasulullah SAW membai’at 75 orang tersebut.

Adapun yang dibai’atkan oleh beliau, adalah sebagaimana yang telah dibai’atkan pada bai’at yang pertama, hanya saja dalam bai’at ini sebagai penutupnya Rasulullah SAW bersabda :

وَ اَنْ تَنْصُرُوْنِى فَتَمْنَعُوْنِى اِذَا قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ مَا تَمْنَعُوْنَ بِهِ اَنْفُسَكُمْ وَ اَزْوَاجَكُمْ وَ اَبْنَاءَكُمْ وَ لَكُمُ اْلجَنَّةُ.

Dan supaya kamu sekalian menolongku, lalu kamu menjaga diriku bilmana akan datang (pindah) kepadamu, sebagaimana kamu menjaga dirimu dan menjaga wanita-wanitamu dan anak-anakmu dan bagi kamu sergalah balasanya dari Tuhan.

Setelah Rasulullah SAW bersabda demikian, seketika itu ada seorang dari pemuka golongan Khazraj yang bernama Baraa’ bin Ma’rur mengangkat tangannya lalu memegang tangan beliau seraya berkata, “Saya ya Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan haq, sungguh kami akan menjaga engkau sebagaimana kami menjaga wanita-wanita kami, anak-anak kami dan diri kami sendiri. Kami bersumpah di hadapan engkau sekarang ini. Demi Allah, kami adalah keturunan dari orang-orang yang ahli menjalankan peperangan, lantaran itu, kami mendapat pusaka dari orang-orang tua kami tentang hal itu, maka kami tidak akan takut menjaga dirimu dari bahaya yang diperbuat oleh orang-orang yang nyata-nyata memusuhi engkau”.

Kemudian ada seorang dari kepala golongan Aus yang bernama Abu al Haytsam bin At-Tayihan berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, diantara kami (kaum Aus) ada mempunyai pertalian kokoh dengan kaum Yahudi, dan mulai sekarang kami putuskan, karena kami telah berbai’at kepadamu. Apabila kamudian kelak engkau memperoleh kemenangan (mengalahkan mereka yang memusuhi engkau), maka jika sudah begitu, bagaimana bila dengan tiba-tiba kelak engkau kembali pulang ke negerimu dan meninggalkan kami semua? Jika terjadi begitu, kelak kami yang akan menderita kerugian.”

Mendengar kata-kata demikian itu, Rasulullah SAW tersenyum sambil bersabda,

بَلِ الدَّمُ، الَدَّمُ! وَ الْهَدَمُ، اَلْهَدَمُ! اَنَا مِنْكُمْ وَ اَنْتُمْ مِنّى، اُحَارِبُ مَنْ حَارَبَكُمْ وَ اُسَالِمُ مَنْ سَالَمْتُمْ.

Tidak begitu, tetapi darah, darah ! binasa, binasa ! Aku bagian daripada kamu dan kamu bagian daripadaku, aku memerangi orang yang memerangi kamu, dan aku berdamai dengan orang yang berdamai dengan kamu.

Selanjutnya sebelum acara bai’at tersebut diakhiri oleh Rasulullah SAW, ‘Abbas berkata pula kepada mereka, “Kamu sekalian hendaklah menepati segala apa yang telah kamu ucapkan tadi, karena semua yang telah kamu bai’atkan itu tadi adalah menjadi tanggungan Allah. Padahal tanggungan Allah itu tanggungan kamu, dan perjanjian Allah itu perjanjian kamu, dan tangan Allah diatas tangan kamu semua. Sekarang ini kita berada di bulan haram dan di negeri yang haram. Sungguh kamu semua akan dapat menolong Muhammad, dan sungguh kamu semua akan menjaganya”.

Dengan serentak mereka menjawab, “Ya”. Lalu ‘Abbas berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, bahwa sesungguhnya Engkau lah yang Mendengar lagi yang Melihat. Bahwa anak laki-laki saudaraku (Muhammad) telah minta penjagaan kepada mereka dan tanggungan mereka masing-masing, penjagaan untuk dirinya. Ya Tuhan, Tuhan lah yang menjadi saksinya”.

Kemudian bai’at itu ditutup oleh Nabi SAW dengan selamat, dan bai’at yang inilah yang disebutkan dalam kitab-kitab tarikh dengan sebutan Bai’atul ‘Aqabah Ats-Tsaniyah (bai’at ‘Aqabah yang kedua) atau Bai’atul ‘Aqabah Al-Kubra (bai’at ‘Aqabah yang terbesar).

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah kisah dari Abu Hurairah. Suatu hari, Rasulullah SAW keluar dan tidak ada seorang pun yang menemui beliau. Saat itu Abu Bakar datang, maka Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang membuatmu datang ya Abu Bakar?”

“Aku datang untuk bertemu Rasulullah SAW dan dan melihat wajahnya serta mengucap salam kepadanya.” jawab Abu Bakar

Kemudian Umar pun datang. Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu datang, wahai Umar?”

Umar menjawab, “Saya sedang lapar ya Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW berkata, “Saya juga merasakannya sedikit.”

Kemudian mereka pergi ke Malik at Tayihan. Namun ketika sampai di rumahnya, Malik sedang tidak berada di rumah. Rasulullah SAW pun bertanya kepada istri Malik bin at Tayihan, “Ke mana perginya suamimu?”

“Ia sedang mengambil air minum ya Rasulullah.” jawab istri Malik.

Meskipun Malik bin at Tayihan memiliki banyak sekali pohon kurma, tetapi ia tidak memiliki pembantu sehingga semua pekerjaan ia kerjakan sendiri.

Ketika Malik pulang, ia segera menemui Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya tersebut. Kemudian Malik mengajak mereka ke kebun kurma miliknya. Ia hamparkan tikar di tanah, lalu menyuguhi para tamunya itu dengan setandan kurma matang.

Rasulullah SAW berkata, “Bukankah sebaiknya kamu bersihkan dulu kurma yang matang nan segar ini?”

Malik bin at Tayihan menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ingin agar Rasulullah memilihnya terlebih dahulu.”

Mereka pun makan dan minum bersama. Rasulullah SAW berkata, “Demi Zat yang menguasai diriku, ini adalah kenikmatan yang akan ditanyakan pada kalian kelak di hari kiamat; tempat yang teduh, kurma yang masak dan baik, serta air yang segar.”

Malik bin at Tayihan hidup hingga masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Ia wafat pada tahun 20 Hijriyah. Pendapat lain menyebutkan ia wafat pada tahun 21 Hijriyah.

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart