Kisah Keluarga Abu Dujanah Simak bin Kharasha yang Dibelikan Pohon Kurma oleh Rasulullah

Surau.co – Dikisahkan setiap hari usai melaksanakan salat subuh berjamaah bersama Rasulullah SAW, Abu Dujanah Simak bin Kharasha selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu Rasulullah SAW selesai berdoa setelah salat.

Melihat hal itu, suatu ketika Rasulullah SAW akhirnya mencoba meminta klarifikasi dari Abu Dujanah.

“Mengapa setiap hari kamu terburu-buru pulang dari jamaah subuh. Apakah engkau tak memiliki permintaan kepada Allah sehingga tidak pernah menungguku selesai berdoa. Ada apa?” tanya Rasulullah SAW

Lantas Abu Dujanah menjabarkan, “Begini Rasulullah, rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami,” cerita Abu Dujanah

Abu Dujanah lantas melanjutkan ceritanya jika anak-anaknya tidak boleh memakan kurma-kurma tersebut dan harus dikembalikan kepada pemiliknya.

“Ya Rasulullah, kami keluarga orang tak berpunya. Anakku sering kelaparan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat akan mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah lalu kami kembalikan kepada pemiliknya,” ujar Abu Dujanah.

Abu Dujanah menceritakan lagi saat ia pernah merogoh mulut anaknya sendiri karena kedapatan memakan kurma tersebut.

“Suatu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam

Mengetahui itu, lalu jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apapun yang ada di sana. Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan,” papar Abu Dujanah.

Cerita Abu Dujanah kembali dilanjutkan dan mengatakan jika ia tak rela meninggalkan harta haram dalam perut anak-anaknya.

“Wahai Rasulullah, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak,” begitu ceritanya.

Mendengar cerita itu, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca, air matanya mulai berderai begitu deras. Rasulullah SAW lantas mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah.

Abu Dujanah lantas mengatakan jika pohon kurma itu adalah milik seorang laki-laki munafik. Rasulullah SAW lalu mengundang pemilik pohon kurma dan menyatakan ingin membeli pohon kurma itu.

“Bisakah jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud warna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada,” tawar Rasulullah SAW.

Laki-laki munafik itu lantas menjawab tegas “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Kemudian tiba-tiba datanglah Abu Bakar As-Shiddiq. Ia lantas berkata kepada laki-laki munafik itu. “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”

Laki-laki munafik itu lantas kegirangan dan menerima tawaran Abu Bakar As-Shiddiq. “Ya sudah, aku jual,” kata pria munafik itu.

“Bagus, aku beli,” saut Abu bakar.

Setelah sepakat, Abu Bakar lalu menyerahkan pohon kurma yang sudah dibelinya dari laki-laki munafik itu kepada Abu Dujanah.

Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Rasulullah SAW ini, Abu Bakar  dan Abu Dujanah bergembira bukan main. Lalu laki-laki munafik itu pulang dan menceritakan kepada istrinya kisah yang baru saja terjadi.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun,” cerita laki-laki munafik kepada istrinya.

Yang mengejutkan saat malamnya laki-laki munafik tidur dan bangun di pagi harinya, ia terkejut dengan posisi pohon kurma yang tiba-tiba berpindah.

Pohon kurma itu menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah sekalipun pohon kurma itu tumbuh di atas tanah miliknya. Sementara tempat asal pohon kurma itu tumbuh justru rata dengan tanah, laki-laki munafik itu pun heran.

Baca juga: Shuhaib bin Sinan, Menggadaikan Seluruh Hartanya untuk Mengikuti Rasulullah

Surau.co
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart