Kisah Abu Ibrahim Bertemu Ulama yang Cacat | Surau

Kisah Abu Ibrahim Bertemu Ulama yang Cacat

Surau.co – Suatu ketika, di tengah pada pasir, Abu Ibrahim berjalan sendirian. Ia tidak tahu arah tujuan setelah mengambil keputusan meninggalkan tempat sebelumnya yang penuh dengan rupa-rupa fitnah dunia. Dalam perjalanan yang tidak terasa sudah meninggalkan jauh dari tempat semula, dia tersesat tidak bisa pulang.

Setelah beristirahat sejenak, dia melanjutkan perjalanan. Abu Ibrahim belum memutuskan akan menamatkan langkahnya di daerah mana. Yang ada di pikirannya ketika itu, berjalan saja sampai kaki tidak bisa dilangkahkan.

Setelah beberapa langkah, Abu Ibrahim melihat sebuah tempat kumuh (tenda). Dari kejauhan dia telah memperhatikan, setelah kakinya hampir mendekat ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang. Tapi, mulutnya bergerak-gerak halus, seperti sedang melafalkan kata-kata yang diulang-ulang terus menerus.

Setelah melihat keseluruh bagian tubuhnya, Abu Ibrahim melihat bahwa orang tua itu memiliki dua kaki dan tangan yang tidak sempurna, serta matanya buta. Dia hidup sendirian tanpa sanak saudara di tempat itu.

Setelah Abu Ibrahim mendekatkan telinga ke mulutnya, ternyata ia mengulang-ulang kalimat yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.”

Abu Ibrahim heran mendengar ucapannya. Melihat kondisi fisiknya yang tidak sempurna, matanya buta, dan tidak memiliki apa-apa, tapi mengapa pujian tersebut muncul dari kedua bibirnya?

Karena penasaran, Abu Ibrahim mendekatinya. Namun, baru saja mulut Abu Ibrahim hendak berucap dia sudah lebih dulu bertanya. Meski buta, dia mengetahui ada orang lain yang sedang mendekatinya.

“Siapa? Kamu siapa?” tanyanya kepada Ibrahim.

“Assalaamualaikum. Aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini,” katanya.

“Nah, sekarang kamu sendiri siapa?” Tanya Abu Ibrahim menetralkan perasaannya.

Karena belum dijawab, Abu Ibrahim kembali bertanya. “Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana istri, anak, dan kerabatmu?”

Karena tidak ada pertanyaan lagi setelah ditunggu beberapa detik, Abu Qilabah menjawab. “Aku seorang yang sakit. Semua orang meninggalkanku dan kebanyakan keluargaku telah meninggal.” kata lelaki renta itu.

“Kudengar kau mengulang-ulang perkataan, ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia!’ Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, fakir, buntung kedua tanganmu, dan sebatang kara?” desak Abu Ibrahim penasaran.

“Aku akan menceritakannya kepadamu, tapi aku punya satu permintaan kepadamu. Maukah kamu mengabulkannya?” ujar Abu Qilabah.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu,” kata Abu Ibrahim.

Abu Qilabah mengalah. “Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat yang dengannya aku bisa memahami dan berpikir?”

“Betul,” kata Abu Ibrahim.

Abu Qilabah berkata, “Berapa banyak orang yang gila?”

“Banyak juga,” kata Abu Ibrahim. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia,” jawab Abu Qilabah.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran yang dengannya aku bisa mendengar azan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” katanya lagi. Tanpa pikir panjang, Abu Ibrahim menjawab meski singkat, “Iya benar.”

Abu Qilabah memberikan jawaban hampir sama, “Maka, segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut.”

“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?” kata Abu Qilabah lagi. “Banyak juga,” jawab Abu Ibrahim. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut,” kata Abu Qilabah lagi.

Abu Qilabah kembali menyela pertanyaan sebelum Abu Ibrahim menyampaikan pertanyaan selanjutnya. “Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanya Abu Qilabah.

“Iya benar.”   “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?” ujar Abu Qilabah.

“Wah, banyak itu,” kata Ibrahim menjawab, kali ini nadanya lebih akrab.

“Maka, segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut. Bukankah Allah telah menjadikanku seorang Muslim yang menyembah Allah SWT, mengharap pahala dari Allah SWT, dan bersabar atas musibahku?” ujar Abu Qilabah.

“Iya benar,” jawab Abu Ibrahim.

Lalu, Abu Qilabah menyambung, “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat!”

“Banyak sekali.” jawab Abu Ibrahim.

“Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut,” kata Abu Qilabah

Akhirnya, setelah percakapan yang hanya berisi tanya jawab itu selesai, Abu Ibrahim merasakan kekaguman atas kekuataan iman yang ada di dalam dada Abu Qilabah. Abu Ibrahim menilai bahwa Abu Qilabah memiliki keyakinan yang mantap dan rela atas apa yang telah Allah SWT berikan.

Betapa banyak kondisi seperti Abu Qilabah, tapi tidak sebanyak musibah Abu Qilabah. Mereka juga ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengarannya, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi, bila dibandingkan dengan Abu Qilabah, maka mereka tergolong sehat. Namun, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya. Aku melihat mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar,” kata Abu Ibrahim dalam hatinya.

Abu Ibrahim menyelami pikirannya hingga jauh. Nmaun akhirnya khayalan Abu Ibrahim terputus saat Abu Qilabah menanyakan permintaanya yang sempat Abu Ibrahim janjikan.

“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang dan maukah kamu mengabulkannya?” desak Abu Qilabah. “Iya. Apa permintaanmu?” kata Abu Ibrahim

Abu Qilabah menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.

“Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dialah yang memberiku makan dan minum serta mewudhukan dan mengurusi segala keperluanku. Namun, sejak tadi malam anak tersebut keluar mencari makanan dan belum kembali hingga kini. Aku tidak tahu apakah anak itu masih hidup dan bisa diharapkan kepulangannya ataukah telah tiada. Dan, kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta yang tidak bisa mencarinya,” keluhnya.

Meski tidak tahu harus mencari ke mana dan seperti apa ciri-ciri anak itu, Abu Ibrahim berjanji akan mencarikannya sampai ketemu. Setelah lama, Abu Ibrahim berjalan menelusuri beberapa rumah dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, tampaklah olehnya dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah Abu Qilabah.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak mengerumuni sesuatu. Di pikiran Abu Ibrahim terbesit bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai atau sisa makanan. Akhirnya, Abu Ibrahim mendaki bukit itu dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.

Tatkala dia mendatanginya, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya, seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung.

Sebenarnya, Abu Ibrahim tidak tega menyampaikan berita tersebut kepada Abu Qilabah. Karena Abu Ibrahim orang yang cerdik, dia memberikan pertanyan-pertanyaan singkat kepada Abu Qilabah. Sebelum melemparkan pertanyaan, Abu Qilabah kembali menyela pertanyaan Abu Ibrahim.

“Di mana si bocah?”

Abu Ibrahim menjawab. “Jawablah terlebih dahulu pertanyaanku, siapakah yang lebih dicintai Allah; engkau atau Nabi Ayyub AS?”

“Tentu Ayyub AS,” jawab Abu Qilabah .

“Lantas, siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanya Abu Ibrahim kembali.

“Tentu Ayyub,” jawabnya. “Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya,” jawab Abu Ibrahim.

Mendengar kabar tersebut, Abu Qilabah tersedak seraya berkata, “Laa ilaaha illallaaah….”

Abu Ibrahim berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya, tapi batuknya semakin keras hingga akhirnya meninggal dunia.

Abu Ibrahim meminta bantuan kepada tiga musafir yang sedang lewat di sekitar situ membantu mengurus jenazah Abu Qilabah. Kebetulan, para musafir itu bersedia. Namun, di antara mereka saling berteriak kaget dan berkata.

“Abu Qilabah…. Abu Qilabah…!”

Ternyata Abu Qilabah adalah ulama terkemuka yang menyendiri akibat musibah yang menderanya.

Sehari setelah itu, Abu Ibrahim bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah. Ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau. Dalam mimpi itu Abu Ibrahim bertanya tentang keadaannya yang sempurna itu.

“Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah dan dikatakan kepadaku di dalamnya,” kata Abu Qilabah.

Baca juga: Anas bin an-Nadhar, Sahabat Rasulullah SAW yang Gigih Mencapai Syahid

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart