KH Bisri Syansuri, Biografi Singkat; Menulis dengan Keteladanan | Surau.co

KH Bisri Syansuri, Biografi Singkat; Menulis dengan Keteladanan

KH Bisri Syansuri
KH Bisri Syansuri

Surau.co – Bisri Syansuri dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Siti Rohmah ada pula yang menyebutkan Mariah dan ayah yang bernama Syansuri. Lahir di desa Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah, 18 September 1886 ada pula yang menyebutkan 23 Agustus 1887 atau bertepatan dengan 05 Dzulhijjah 1304 H. Namanya semula adalah Mustajab, Bisri Mustajab. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara.

Kedua orang tuanya mempunyai lima anak. Layaknya keluarga jawa, mengharapkan anak pertamanya laki-laki, itu pula yang didapati kedua orang tuanya mendapatkan anak pertamanya lelaki yang diberi nama Mas’ud. Kedua orang tuanya benar-benar diberi kebahagiaan oleh tuhan, layak orang tua pada umumnya menginginkan memiliki anak laki-laki dan perempuan, anak kedua lahir memang perempuan diberi nama Sumiyati. Sementara anak ketiga, tiada lain adalah, Bisri Syansuri, ada yang menyebutkan kecilnya Mustajab ada pula Bisri saja dan Bisri Mustajab. Nama Bisri dipakai oleh Mustajab ketika pulang dari haji. Rahmat dari tuhan terus terlimpah bagi kedua orang tuanya, ternyata setelah itu masih ada dua anak lagi yang dilahirkan dalam keluarga ini, yaitu Muhdi dan Syafa’atun.

Daerah kelahiran Bisri, Tayu, adalah kota kecamatan di kabupaten Pati, di pesisir utara jawa, yang letaknya kira-kira 100 km arah timur laut Semarang di Jawa Tengah. Daerah kelahirannya adalah bagian dari daerah yang membentang dari Demak di timur Semarang sampai Gresik di barat laut Surabaya. Latar belakang geografis ini mewarnai pandangan hidup kiai Bisri Syansuri di kemudian hari dan turut membentuk kepribadiannya.

Silsilah kiai Bisri Syansuri yang penulis dapatkan adalah sebagai berikut; Sunan Lawu (Brawijaya)→R. Fatah (Tajuddin Abd Hamid)→R. Trenggono (Syah Alam Akbar)→R. Bagus Mukmin→Ki Ageng Prawito Ngardin→P. Haryo Madi→P. Joyoprono→R. Dandang Kumbang→R. Karthi Noto→Kyai Nur Hadi (Sunan Mupus Pati)→Kiai Nur Syahid (Demak)→Kyai Yunus-Kyai Marchum (Nglau)→Kyai Hasan Bisri (Jebol)→Kiai Abdul Ghani→Kyai Muhammad Rois→KH. Syansuri→KH Bisri Syansuri.

Dari ibunya, Mariah ada pula menyebutkan Siti Rohmah merupakan keluarga ulama besar yang menurunkan beberapa tokoh, seperti KH Kholil Lasem dan KH Baidhowi Lasem.

Bisri kecil memperoleh pendidikan awal di keluarganya sendiri, ayahnya sendiri yaitu kiai Syansuri dan kiai Abdul Somad. Kemudian beliau belajar pada kiai Sholeh dan kiai Amin. Kiai Amin ini masih keturunan dari syekh Mutamakin. Kemudian berguru pada kiai Siraj pendiri pondok Wetan Banon. Pada kiai Sholeh di desa Tayu, Bisri Syansuri belajar agama secara teratur yang diawali dengan belajar membaca al-Qur’an secara mujawwad/dengan bacaan tajwid yang benar. Pelajaran membaca al Qur’an ini ditekuninya sampai Bisri berusia sembilan tahun.

Sejak kecil Bisri dipengaruhi oleh tradisi membaca atau pendidikan Qur’an. Tradisi membaca al-Qur’an seperti ini adalah tradisi yang sudah berumur ratusan tahun di kawasan nusantara. Kawasan atau masyarakat santri yang melingkupi kehidupan Bisri di masa kecil itu memiliki pandangan Al-Qur’an adalah inti dari pembuktian kebenaran ajaran yang dibawa Muhammad, karena itu ia harus dipelihara sebaik-baiknya, dari cara membacanya hingga cara memahaminya serta penerapan pemahaman itu pada kenyataan hidup. Pendidikan menguasai bacaan al-Quran dengan sempurna itu, yang kemudian hari akan menjadi salah satu perhatian khusus Bisri dalam mendidik para santrinya, ditempuhnya hingga usia sembilan tahun.

Layaknya santri yang memiliki tradisi berkeliling, berkelana, mencari ilmu terus menerus dan dimana-mana, Bisri juga berkeliling dari satu kiai ke kiai lain dari satu pondok ke pondok lain. Kemudian berlanjut ke beberapa pesantren lokal, seperti milik KH Abdul Salam di Kajen, pesantren Kasingan Rembang untuk belajar kepada kyai Cholil Harun, KH Fathurrahman bin Ghazali di Sarang Rembang/pesantren Sarang kepada kyai Suaib.

KH Abdul Salam ini adalah seorang yang hafal al-Qur’an dan memiliki penguasaan yang mendasar atas fiqh. Kyai Abdul Salam ini sebenarnya masih termasuk keluarga dekat KH Bisri Syansuri dan membuka pesantren di desa itu. Dibawah asuhan kyai Abdul Salam, Bisri Syansuri digembleng dengan keras, sehingga mewarnai corak kepribadiannya kelak. Dengan kyai Abdul Salam ini Bisri Syansuri memelajari dasar-dasar tata bahasa arab, fiqh, tafsir al-Qur’an dan hadis nabi.

Mbah Bisri memang tidak sempat menulis buku beraksara a, b, c maupun alif, ba, ta dan seterusnya, tapi beliau telah menulis dalam jiwa para santri, kader dan masyarakat melalui keteladanan selama hidupnya. Jadi, mbah Bisri tidak menulis buku, karena hidupnya adalah teks terbuka yang bisa dibaca oleh siapapun.

Nurul Hidayat

Nurul Hidayat

Ketua Persatuan Pemuda Muslim Progresif Magelang, Pegiat kajian islam Nusantara

View all posts