KH. Abdurrahman Syamsuri (Pelopor Pesantren Muhahammadiyah di Lamongan), Biografi Singkat | Surau.co

KH. Abdurrahman Syamsuri (Pelopor Pesantren Muhahammadiyah di Lamongan), Biografi Singkat

KH. Abdurrahman Syamsuri (Pelopor Pesantren Muhahammadiyah di Lamongan)
KH. Abdurrahman Syamsuri (Pelopor Pesantren Muhahammadiyah di Lamongan)

Abdurrahman Syamsuri atau yang sering dipanggil Mbah Yai Man merupakan ulama kharsimatik sekaligus pendiri pondok pesantren Muhahammadiyah Karangasem. Beliau lahir pada tanggal 1 Oktober 1925 dari pasangan Kiai Syamsuri dan Nyai Walidjah. Kiai Syamsuri sehai-hari berprofesi sebagia petani, penggergaji kayu, dan sesekali menggergaji kapur sedangkan Ibu Nyai Walidjah sebagai pedagang kecil di pasar Payaman

Abdurrahman Syamsuri merupakan anak tertua dari enam bersaudara; Nyai Aminah, Nyai Musri’ah, KH. Abdurrahman Syamsuri, KH. Muhammad Yasin, KH. Umar Faruq. KH. Abdurrahman Syamsuri sejak kecil digembleng oleh kakeknya yaitu Kiai Idris yang terkenal sebagai pendakwah untuk memerangi kemusryikan.

Selain mendapatkan pendidikan langsung dari kakek dan ayahnya tentang Al Qur’an dan dasar-dasar agama Islam, KH. Abdurrahman Syamsuri bersekolah formal di Madrasah Islam Paciran pada tahun 1935. Setelah menamatkan pendidikan dasar Beliau melanjutkan mondok di Pondok Pesantren Kranji dibawah asuhan KH. Mustofa Abdul Karim sampai tahun 1938. Pencarian ilmunya berlanjut lagi ke  KH. Mohammad Amin Musthofa pengasuh Pondok Pesantren Tunggul Paciran. Di pondok ini, KH. Abdurrahman Syamsuri mempelajari nahwu, sharaf, tafsir, musthahalul Hadits, fiqih, dan aqidah. Beliau mondok di Pondok Pesantren Tunggul dari tahun 1938 hingga 1940. Setelah itu beliau melanjutkan lagi mondok di KH. Abdul Fatah Tulungagung (1944-1945), kemudian nyantri di KH. Hasyim Asyari Tebuireng Jombang selama setahun dan dilanjutkan nyantri lagi di KH. Ma’ruf Kedung Lo Kediri pada tahun 1946.

Setelah enam tahun  mengembara menuntut ilmu, KH. Abdurrahman Syamsuri diminta  Kiai Amin untuk membantu mengajar di Pondok Pesantren Tunggul Paciran. Selain itu beliau juga meneruskan dakwah kakeknya dengan mengajar di mushola peninggalan Kiai Idris dan mushola tersbeut yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Karangasem Paciran.

Selain mengajar ilmu agama, KH. Abdurrahman Syamsuri juga terkenal dalam perlawanan menghadapi penjajah. Beliau bersama sang Guru Kiai Amin  pernah tergabung dalam Laskar Hizbullah dan terlibat pertempuran menghadapi pasukan Brigade 49 Divisi 23 yang dibawah komando Brigardir Jenderal AWS Mallaby di sekitaran daerah Gresik, Surabaya, dan Cerme.

Sebagai murid kepercayaan Kiai Amin, KH. Abdurrahman Syamsuri juga diambil menantu oleh Kiai Amin dengan dijodohkan dengan putri beliau yang bernama Rahimah. Namun, pernikahan Nyai Rahimah dan KH. Abdurrahman Syamsuri tidak berlangsung lama karena Nyai Rahimah masih ingin melanjutkan mondok di Kranji dan KH. Abdurrahman Syamsuri ingin melanjutkan perjuangan menuntut ilmu seluas-luasnya.

Abdurrahman Syamsuri merasa cukup melanjutkan pendidikan di Pondok Tunggul, beliau melanjutkan mencari ilmu di Mangunsari Tulungagung pada tahun 1954. Beliau nyantri pada Kh. Abdul Fatah. Diceritakan setiap sebelum subuh, di pondok Mangunsari, ada seorang santri yang selalu mengisi bak mandi rumah Kiai Fattah dan tempat wudhu. Semula Kiai Fattah tidak mengetahui siapa yang melakukan amal baik seperti itu, hingga akhirnya Kiai Fattah mendapati seorang santri yang sedang mengisi bak mandinya di kegelapan malam. Santri itu tidak lain adalah KH. Abdurrahman Syamsuri. Kemudian Kiai Fattah berdo’a agar Kiai Abdurrahman mendapatkan sarung setiap tahun. Kiai Fattah tahu bahwa ada santrinya yang hanya memiliki selembar sarung ketika mondok di Tulungagung. Setiap kali sarung tersebut kotor, beliau mencucinya dan menunggu kering sambil berendam di sungai. Begitu kering, beliau segera mentas, keluar dan mengenakan kembali sarung tersebut.

Tahun 1997 merupakan tahun berduka bagi Pondok Karangasem berduka. Sang Sang Kiai Abdurrahman Syamsuri tidak lagi bisa berjuang menyiarkan Islam. Beliau meninggal pada hari kamis tanggal 27 Maret 1997, pada pukul 01.00 di rumah sakit Darmo Surabaya yang dikarenakan sakit yang Beliau derita. Sekitar pukul 12.30, keluarga, santri, alumni, dan ribuan orang mengantar jenazah KH. Abdurrahman ke tempat peristirahatan terakhir di makam umum Sluwuk desa Paciran.

Nurul Hidayat

Nurul Hidayat

Ketua Persatuan Pemuda Muslim Progresif Magelang, Pegiat kajian islam Nusantara

View all posts