Kesakitan Pedang Zulfikar dalam Perang Khandaq

Please log in or register to like posts.
Perang khandaq ALi bin Abi Thalib

Surau.co – Perang Khandaq menjadi perang yang besar dalam sejarah kaum Muslimin, yang diserang oleh sekitar 10 ribu kaum musyrikin dari berbagai suku dan kabilah di Madinah. Allah SWT menurunkan Surat Al-Ahzab untuk menjelaskan perang ini. Dinamai Perang Khandaq atau Perang Parit, karena strategi yang diterapkan kaum Muslimin untuk melawan dalam perang adalah dengan menggali parit-parit yang dalam dan lebar.

Tokoh yang mengawali ide ini adalah Salman Al Farisi, yang dibantu oleh kemampuan dan ketangkasan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib. Sahabat Ali bertanding secara langsung dengan ‘Amr bin Abdu Wudd Al’Amiri yang merupakan tokoh Quraisy yang hebat dan ulung. Dalam buku “Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib RA” karya Al Hamid Al Husaini digambarkan ‘Amr merupakan sosok prajurit yang memiliki kapasitas gesit serta lincah dalam memainkan pedang dan tombak. Meski begitu, ‘Amr lemah karena sikap sombong dan congkak yang dimilikinya.

Dengan bangga dan angkuh, ‘Amr menunjukkan kebolehan dalam berkuda untuk menyeberangi parit yang dibuat diam-diam oleh pasukan muslimin. Dia juga berteriak secara lantang: “Apa tak ada yang berani keluar bertanding hai kalian pasukan Muhammad?!” Kecongkakannya ini dibalas dingin dan tak ditanggapi oleh kaum Muslimin.

Sebab merasa geram akan tingkah laku ‘Amr bin Abdu Wudd, Ali pun meminta izin pada Nabi Muhammad untuk menandingi ‘Amr yang dikenal jago dalam duel satu lawan satu. Bahkan masyhur pula terderngar jika ‘Amr telah banyak makan garam dalam perang tanding. Padahal saat itu usia Ali belum genap 30 tahun, dan Rasulullah melarang Ali dan meminta Ali untuk duduk.

Sebab merasa tak ditanggapi ‘Amr kembali berkoar dengan suara tinggi lagi dan berbicara dengan sombong meragukan surga berkata:”Jika kalian mati terbunuh, ada surga yang akan kalian masuki, hah!?” ucapnya. Perkataan ini berhasil membuat kaum Muslimin yang sebagian besar terdiri dari pasukan berdarah muda geram. Termasuk ejekan sembilu tersebut dirasakan pula oleh Sayidina Ali, dia pun kembali meminta izin pada Rasulullah untuk bertanding melawan ‘Amr, “Ya Rasulullah, biarkan saya yang menghadapi dia!” kata Ali dengan terbakar dan bernada gemas. Rasulullah tetap kekeuh meminta Ali untuk bersikap tenang, duduk, dan diam. Rasulullah menyadari jika ‘Amr kemampuannya tak main-main. Namun Ali tak putus arang dan kembali mendesak mertuanya itu.

Tekad Ali bin Abi Thalib ini pun membuat Rasulullah luluh, bahkan membangkitkan kekuatan pasukan muslimin, sehingga izin itu pun diperolehnya. Rasulullah SAW pun berdoa, agar Allah SWT tak membiarkan baginda sendiri tanpa misannya itu. Ali dengan semangat dan keyakinannya pun maju menggunakan baju besi sembari membawa pedang yang diberi nama Zulfiqar. Moment saling hadap berhadapan itu pun tiba, Ali menghadapi ‘Amr tanpa gentar. Terjadilah dialog antara dua orang ini. Nyaris semua mata bertumpu pada sosok yang saling berhadapan ini.

“Engkau pernah berjanji ‘Amr, akan menerima ajakan seorang dari Quraisy guna memilih satu dari dua jalan hidup,” kata Ali.

“Ya!”

“Masuklah ke jalam Islam, ke jalan Allah beserta Rasul-Nya. Aku mengajak engkau.”

“Aku tak butuh itu!” jawab ‘Amr dengan garang, cepat, tanpa keraguan.

“Mari kita bertarung kalau begitu,” Ali menantang.

“Tak sudi aku menumpahkan anak dari kawan karibku sendiri,” ‘Amr menolak.

“Demi Allah, aku ingin membunuhmu!” tanggap Ali. ‘Amr pun mendidih darahnya dan perang terjadi. Dengan pedang zulfiqarnya, Ali melakukan gerakan-gerakan gesit yang membuat ‘Amr keteteran. Ketika keseimbangan badan ‘Amr hilang, ‘Amr pun jatuh dari kuda atas tebasan di bahu kanan ‘Amr oleh pedang zulfiqar. Pasukan pun terkesima tak menyangka akan dikalahkan secepat itu. Ali pun mengumandangkan takbir yang diikuti oleh para pasukannya.

“Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai kapan pun dia tidak akan menjadi orang berani.” ~ Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib kemudian bertemu dengan Rasulullah. Terbunuhnya ‘Amr bin Abdu Wudd pun mengakhiri jalan Perang Khandaq, meskipun terjadi goncangan ketika musuh menyerbu parit. Meski Allah memberikan kuasanya karena situasi alam yang menyulitkan musuh. Pasukan Muslimin pun bersyukur atas terhindarnya dari mara bahaya yang mengintai mereka.

Baca juga: Kisah Utsman bin Affan Membeli Sumur dari Yahudi Pelit