Haritsah bin Suraqah, Seorang Penyayang Terhadap Ibu yang Dijanjikan Masuk Surga | Surau

Haritsah bin Suraqah, Seorang Penyayang Terhadap Ibu yang Dijanjikan Masuk Surga

Surau.co – Haritsah bin Suraqah adalah seorang pemuda dari kalangan sahabat Anshar. Suatu pagi ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan beliau bersabda, “Wahai Haritsah, bagaimana keadaanmu pagi ini?”
“Pagi hari ini saya benar-benar menjadi seorang mukmin, Ya Rasulullah!” Kata Haritsah.

“Perhatikanlah perkataanmu, wahai Haritsah,” kata Rasulullah SAW, “Setiap kata yang engkau ucapkan itu harus  ada bukti sebenarnya…!!”

Maka Haritsah berkata menjelaskan, “Wahai Rasulullah, jiwaku jemu dengan dunia, sehingga saya bangun di malam hari (untuk ibadah) dan puasa di siang harinya. Sekarang ini saya seolah-olah berhadapan dengan Arsy Allah, dan saya melihat ahli surga saling kunjung-mengunjungi satu sama lainnya, dan juga ahli neraka sedang menjerit-jerit di dalamnya…!!”

Rasulullah SAW tersenyum mendengar perkataan Haritsah, seolah gembira dengan “pencapaian” rohaniah pemuda Anshar tersebut. Beliau bersabda, “Engkau telah melihat, maka tetapkanlah (istiqomahlah)!!”
Haritsah berkata lagi, “Ya Rasulullah, doakanlah saya agar bisa memperoleh syahid!!”

Maka, Rasulullah SAW pun mendoakannya.

Suatu ketika, Rasulullah SAW menyeru para sahabatnya untuk pergi ke Badar untuk berperang melawan kafir Quraisy. Mendengar seruan Rasulullah SAW tersebut, Haritsah bin Suraqah mendatangi ibunya, seorang wanita tua yang telah bungkuk punggungnya. Sang ibu sangat sayang kepada anaknya yang satu ini.

Suatu ketika sang ibu bersimpuh di hadapan anaknya. Dengan penuh harap ia memohon kepada Haritsah agar mau menikah. Ia amat merindukan lahirnya seorang cucu dari buah hatinya ini.

Dengan lembut Haritsah berkata,”Bunda..”

“Apa yang hendak kau perbuat wahai anakku?” tanya sang ibu.

“Saat ini Rasulullah sedang mengajak para sahabat untuk menyertai beliau ke Badar dan aku berniat untuk ikut bersama mereka,” kata Haritsah. 

“Wahai anakku, sungguh demi Allah, amat berat rasanya berpisah denganmu. Wahai anakku, tetaplah bersamaku dan janganlah pergi!” pinta sang ibu sambil memelas. Namun Haritsah tidak putus asa, ia terus menerus membujuk ibunya sambil menciumi kening sang ibu serta kedua tangan dan kakinya hingga ia merelakan keberangkatannya.

“Pergilah, anakku, nampaknya aku tak akan merasakan nikmatnya makan, minum, dan tidur hingga engkau kembali kepadaku,” kata ibunya. Perlahan sang ibu mengenakan pakaian bagi anaknya, menyelempangkan panah dan busurnya, kemudian mengecup keningnya, lalu melepas kepergiannya.

Haritsah Menjadi Korban Salah Sasaran

Tatkala kaum muslimin tiba di Badar, mereka bermarkas di sekitar sumur Badar. Setelah mereka bermarkas di sana, mulailah pasukan kafir tiba kompi demi kompi untuk mengambil posisi mereka. Sesaat sebelum genderang perang ditabuh, kedua pasukan telah siap berhadap-hadapan. Ketika itulah tiba-tiba Haritsah berlari menuju sumur Badar, tenggorokannya kering terbakar rasa haus. Bergegas ia ke sumur tadi untuk melepas dahaganya. Tatkala kedua tangannya menciduk air dari sumur untuk diminum, tiba-tiba ada seorang sahabat yang melihatnya. Ia adalah seorang muslim dari Bani Najjar. Rasulullah SAW menugaskannya untuk menjaga sumur Badar dari para penyelinap. Sebagai orang yang ditugasi untuk menjaga sumur, sahabat tadi khawatir jika ada seseorang dari pihak musuh yang ingin mencelakai kaum muslimin dengan mencemari air sumur itu.

Maka tatkala ia mendapati Haritsah hendak mengambil air di sumur tersebut, ia langsung waspada dan berkata, “A’udzubillah, orang kafir ini hendak mencemari sumur kita!?” Segeralah ia siapkan busurnya, lalu ia letakkan sebatang anak panah di atasnya. Dengan seksama ia bidikkan anak panah tadi ke arah Haritsah, lalu dipanahnya Haritsah sekuat tenaga dan kemudian, Bless..!! anak panah itu tepat mengenai kerongkongan Haritsah!! Dia pun berteriak kesakitan. Ia terkapar di tanah sembari teriak-teriak minta tolong. Anak panah tadi nyaris membuatnya tak bisa berbicara. Namun tak seorang pun datang menolong. Mereka mengira bahwa Haritsah adalah mata-mata musuh. Ia mencoba mencabut anak panah itu, namun apa daya, ternyata tubuhnya yang justru terkoyak karenanya. Darah pun mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia terus menerus mengerang kesakitan sambil meregang nyawa, dan akhirnya ia wafat.

Setelah terbunuh, si penjaga sumur menghampirinya untuk mencari tahu tentang orang itu. Alangkah kagetnya ia ketika mendapati bahwa yang terbunuh ternyata Haritsah bin Suraqah. “La haula wa la quwwata illa billah!!” serunya terperanjat. Ia segera mengabarkan kepada Rasulullah SAW akan apa yang terjadi, namun beliau memaafkannya.

Kebijaksanaan & Kejujuran Rasulullah Menenangkan Ibunda Haritsah

Usai peperangan, Rasulullah SAW dan para sahabatnya kembali ke Madinah. Kaum muslimin ke luar berbondong-bondong menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Wanita, anak-anak, dan orang tua sama-sama menunggu di gerbang kota, di tengah teriknya matahari dan gersangnya padang pasir. Para wanita menunggu kedatangan suami mereka, anak-anak menunggu kedatangan ayah mereka, dan orang tua menunggu kedatangan anak mereka. Di antara mereka yang menunggu tadi ialah ibunda Haritsah bin Suraqah seorang wanita tua yang jantungnya berdegup kencang menanti kedatangan anak tersayang. Tatkala pasukan kaum muslimin tiba di Madinah, anak-anak berlarian menghampiri ayahnya masing-masing, kaum wanita bergegas mencari suami mereka, demikian pula para orang tua menyambut anak mereka, sedangkan ibunda Haritsah masih duduk termenung menunggu kedatangan anaknya.

Namun, Haritsah tak kunjung tiba, sedangkan sang ibu tetap setia menantinya di tengah terik matahari yang membakar kulit. Ia takkan bosan menanti jantung hatinya itu, setelah selama ini ia selalu menanti kedatangan anaknya. Ia bertanya kesana kemari perihal anaknya. Namun lagi-lagi, ia kembali dengan tangan hampa. Hampir saja ia dihinggapi rasa putus asa akan anaknya. Berulang kali ia mencari-cari anaknya, namun sang anak tak terlihat juga diantara rombongan-rombongan itu. Maka dipegangnyalah seorang sahabat seraya bertanya, “Apakah engkau mengenal Haritsah bin Suraqah?”

“Ya, ibu siapa?” Tanya orang itu.

“Aku adalah ibunya, aku ibunda Haritsah,” jawab si ibu.

“Jika anda benar ibunya, maka tabahkanlah hati anda, sesungguhnya Haritsah telah terbunuh.” jawab orang itu. Mendengar kata-kata itu segeralah terbayang dalam hatinya akan Surga. Ia berteriak, “Allahu Akbar!! Anakku telah syahid!! Semoga ia akan memberiku syafaat di surga kelak.”

“Syahid? Kurasa ia tidak mati syahid.” sela orang itu.

“Apa yang terjadi?” tanya si ibu keheranan.

“Ia tidak mati di tangan orang kafir,” jawab lelaki itu.

“Lalu, apakah ia tidak terbunuh diantara barisan kaum muslim?” tanya si ibu.

“Tidak.” jawab lelaki tadi.

“Ia tidak terbunuh demi mempertahankan panji-panji Islam?” tanyanya lagi.

“Tidak,” jawab lelaki itu.

“Lantas bagaimana ia mati terbunuh? Di manakah Haritsah anakku?” tanyanya agak histeris. “Sesungguhnya Haritsah terbunuh sebelum perang dimulai, dan yang membunuhnya adalah salah seorang dari kaum muslimin. Jadi anakmu belum sempat berperang sedikitpun.” kata lelaki itu.

“Apa maksudmu?” tanya si ibu.

“Ia bukanlah seorang syahid menurutku. Akan tetapi, semoga saja Allah memasukkannnya dalam surga,” jawabnya sang lelaki. Setelah mendengar jawaban itu, sang ibu bertanya, “Kalau begitu di manakah Rasulullah SAW?”

“Itu dia, beliau sedang menuju ke mari.” katanya.

Maka bergegaslah perempuan ‘malang’ ini mendatangi Rasulullah SAW, ia mengayun langkahnya yang berat dengan hati yang diliputi kegalauan akan anaknya. Air matanya berderai membasahi pipinya, namun bukan air mata biasa, akan tetapi seakan ruhnya yang menetes. Di hadapan Rasulullah SAW, perempuan ‘malang’ ini berdiri dengan kepala tertunduk. Rasulullah SAW menatapnya dengan penuh rasa iba, wanita tua sebatang kara, tak punya tempat kembali untuk berbagi kesedihan. Beliau pun bertanya, “Siapa anda?”

“Aku ibunya Haritsah,” jawabnya.

“Apa yang anda inginkan, wahai ibunda Haritsah?” tanya Rasulullah SAW.

“Ya Rasulullah, engkau tahu betapa cintanya aku kepada Haritsah dan semua orang pun tahu alangkah cintanya ia kepadaku. Ya Rasulullah, aku mendengar bahwa ia telah terbunuh. Maka kumohon padamu kabarkanlah aku di mana anakku sekarang? Kalau ia berada di surga, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah Allah menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” serunya. Rasulullah SAW pun menatapnya dengan keheranan, “Apa yang anda katakan hai ibunda Haritsah?”

“Sebagimana yang engkau dengar tadi, ya Rasulullah, kalau ia berada di surga, aku akan sabar, namun jika tidak demikian, biarlah Allah menyaksikan apa yang kuperbuat nanti!!” jawabnya.

Maka Rasulullah SAW yang pengasih ini menatapnya dnegan iba. Ia tak ubahnya seperti wanita tua yang sedang kalut pikirannya. Hatinya dipenuhi kegalauan. Ia berangan-angan andai saja anaknya berdiri di depannya, kemudian ia mendekapnya, menciumnya, dan membelainya. Ia rela berkorban apa saja untuk itu semua, walau dengan nyawanya sekalipun. Kedua kakinya terlihat kaku, lisannya terdiam membisu. Ia berdiri sembari kedua matanya menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Kiranya jawaban apa yang akan didengarnya dari utusan Allah ini? Melihat kepasrahannya, ketundukkannya, dan keterkejutannya atas kematian anaknya, Rasulullah SAW berpaling kepadanya seraya berkata, “Apa yang ibu katakan?”

“Seperti yang engkau dengar sebelumnya, ya Rasulullah,” jawabnya.

“Celaka, bagaimana engkau ini, hai ibunda Haritsah, kau sedih kehilangan anakmu? Bukan cuma satu surga baginya, ada surga yang bertingkat-tingkat disana, dan Haritsah berada di Firdaus yang paling atas.” Tatkala mendengar jawaban ini, redalah tangisnya dan kembalilah akalnya, lalu ia berkata “ya Rasulullah, ia benar-benar berada di surga??”

“Iya,” jawab  Rasulullah SAW. Maka kembalilah perempuan ‘malang’ ini ke rumahnya, disanalah ia mengisi hidup sambil menanti datangnya kematian. Ia rindu untuk segera bersua dengan buah hatinya di surga. Ia tak meminta ghanimah maupun harta, tidak pula mencari ketenaran maupun popularitas.

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart