Haritsah bin al-Nu’man, Masuk Surga Buah Bakti Kepada Ibunya | Surau

Haritsah bin al-Nu’man, Masuk Surga Buah Bakti Kepada Ibunya

Surau.co – Haritsah bin al-Nu’man adalah anak dari al-Nu’man bin Nafi’, buah pernikahannya dengan Ja’dah binti ‘Ubaid bin Tsa’labah. Haritsah bin al-Nu’man lahir di Yatsrib (Madinah). Ia termasuk golongan Anshar yang menyambut kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabat dari Mekkah (kaum Muhajirin).

Haritsah adalah kuturun Bani al-Najjar, salah satu kabilah terbesar suku Khazraj yang tinggal di sekitar masjid Nabawi, bahkan masjid tersebut dibangun di atas tanah milik mereka. Haritsah bin al-Nu’man mendapat julukan (laqab), Abu Abdillah.

Haritsah bin al-Nu’man menikah dengan Ummu Khalid dari klan Malik bin Najjar dan dikaruniani putra dan putri, Abdullah, Abdur Rahman, Saudah, Umrah dan Ummu Hisyam. Sedangkan pernikahannya dengan perempuan dari keturunan Banu Abdillah Bin Ghatfaan dan Amatullah yang ibundanya dari Banu Jundu dikaruniai putri lainnya, diantaranya Ummi Kultsum.

Haritsah bin an-Nu’man tergolong sahabat karib Rasulullah saw. Ia ikut serta pada Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah saw.

Aisyah radiallahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah saw sangat menghormati Haritsah. Dalam riwayat lain, Aisyah berkata, “Haritsah senantiasa memperlakukan orang tuanya dengan perlakuan terbaik.”

Rasulullah saw pun bersabda, “Kalian pun harus melakukan kebaikan seperti itu.” (al-Birru wash shilah – al-Jauzi).  Maksudnya berbuat baik terhadap kedua orang tua.

Sang shahabat merupakan anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Ia melayani ibunya dengan cinta kasih meski sang ibu telah lanjut usia. Dengan telaten ia menyuapi ibunya dengan tangannya sendiri. Suapan demi suapan makanan diberikan kepada ibunya.

Tak hanya itu, Haritsah juga gemar membersihkan rambut ibunya, menyisirnya dan merapihkannya. Saat sang ibu memintanya melakukan sesuatu, Haritsah segera dan selalu mematuhinya. Jangankan menolak, mempertanyakan perintah itu pun tidak.

Jika ada seseorang yang menyampaikan perintah sang ibu, Haritsah akan bertanya, “Apa yang diinginkan ibuku?” Ia ingin memenuhi setiap keinginan ibunda. Karena itu, ia pun selalu menaati perintah ibunda selama perintah itu tak melanggar syariat agama.

Karena Bakti Tulusnya, Rasulullah Memimpikan Haritsah Berada di Surga

Bakti Haritsah ini ternyata sampai di telinga para shahabat. Ia pun kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling berbakti kepada orang tua. Apalagi setelah Rasulullah memimpikannya di suatu malam. Makin teranglah sikap bakti Haritsah yang begitu menginspirasi dan patut diteladani.

Rasulullah menceritakan mimpi tersebut kepada Ummul Mukminin Aisyah,“Aku pernah tidur, lalu aku bermimpi diriku berada di surga. Lalu aku mendengar suara seorang yang sedang membaca (Al Qur’an). Kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah Haritsah bin Al Nu’man’.”

Rasulullah lalu bersabda, “Demikianlah ganjaran dari berbakti, ia adalah orang yang paling berbakti terhadap ibunya.” (HR. Ahmad).

Sikap bakti Haritsah kepada ibundanya kelak berbuah surga. Lebih dari itu, ia melantunkan ayat suci di sana. Bahkan lisan Rasulullah saw sendiri yang mengabarkannya bahwa ia menjadi shahabat yang dijanjikan surga karena baktinya kepada ibu.

Haritsah dikenal di antara sahabat-sahabat Nabi yang paling berbakti kepada ibunya (abarru bu ummihi). Rasulullah saw pernah bersabda mengenai dirinya, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat beberapa surga dan Haritsah akan berada di surga Firdaus yang tertinggi.”

Suatu hari terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan yang dialami oleh Haritsah bin an-Nu’man yang diceritakan oleh Ibnu Abbas. Ibnu Abbas meriwayatkan Haritsah Bin Nu’man berkata, “Saya lewat di dekat Rasulullah saw dan saat itu Jibril tengah berada bersama Rasulullah saw.” (Musnad Ahmad ibn Hanbal)

Lalu Jibril bertanya,  “Kenapa orang itu tidak mengucapkan salam?” Rasulullah saw bertanya kepada Haritsah setelah itu. Rasulullah saw bertanya, “Ketika kamu lewat tadi, kenapa tidak mengucapkan salam?”

Haritsah menjawab, “Saat itu saya melihat ada seseorang yang tengah bersama dengan Rasulullah saw. Anda tengah berbicara kepada orang itu dengan suara pelan. Saya merasa tidak pantas untuk memotong pembicaraan Rasulullah saw saat itu dengan mengucapkan salam.”

Rasulullah saw bertanya lagi, “Apakah kamu kenal orang yang tengah duduk bersama saya itu?” Haritsah menjawab, “Tidak.”

Rasulullah saw bersabda, “Orang itu adalah Jibril alaihssalaam. Jibril mengatakan bahwa jika Anda (Haritsah) mengucapkan salam, akan ia jawab salamnya.”

Setelah itu Jibril berkata, “Orang ini (Haritsah) termasuk diantara 80 sahabat yang terus bertahan bersama dengan Anda (Rasulullah saw) pada perang Hunain. Allah Ta’ala yang bertanggung jawab atas rezekinya dan rezeki keturunannya di surga.”

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart