Hanzalah, Pengantin Baru yang Rela Meninggalkan Istrinya Demi Jihad | Surau

Hanzalah, Pengantin Baru yang Rela Meninggalkan Istrinya Demi Jihad

Surau.co – Hanzalah adalah putra dari Abu Amir bin Sify, pemuka suku Aus. Abu Amir seorang bangsawan dan hartawan, disegani dan dihormati oleh kaumnya. Apa yang ia katakan akan diamini oleh kaumnya.

Dalam usia yang begitu muda, ia begitu meyakini apa yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dalam dakwahnya. Dia rela memilih kesederhanaan bersama Rasulullah SAW, dengan cara meninggalakan segala kemewahan hidup yang mengitarinya. Bahkan sang ayahanda tercinta, Abu Amir, dan ibundanya ia tinggalakan setelah berbait kepada Rasulullah SAW. Bahkan kemudian ia dengan rela hati hendak membunuh sang ayah sendiri yang masih kafir.

Sehari sebelum perang Uhud pecah, yakni pada malam Jum’at, Hanzalah bin Amir, dinikahkan dengan Jamilah putri Abdullah bin Ubay sebagai istrinya. Padahal dipagi harinya dia akan membela kaum muslimin bertarung melawan kaum Kafir Quraisy. Memiliki niat untuk membahagiakan Jamilah, Hanzalah bin Amir meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk bermalam bersama isteri yang baru ia nikahi. Hanzalah sendiri tidak tahu apakah keputusannya untuk menemani isterinya itu merupakan awal atau akhir. Rasulullah SAW pun pada akhirnya memberinya izin untuk menginap bersama pengantin yang baru ia nikahi malam itu. Layaknya pasangan pengantin baru, Hanzalah dan Jamilah pun menghabiskan malam berdua. Mencurahkan segala macam rasa cinta dan suka dalam dekapan mesra yang meluap luap. Malam itu adalah malam yang sempurna, Hanzalah bin Amir merasa bahagia karena berhasil menikahi seorang yang dicintainya.

Baru sehari ia menginjakkan kakiknya ditaman surga dunia, serta baru beberapa saat dia merasakan kenikmatan bergaul dengan istrinya yang cantik jelita, keesokan harinya ia harus berpisah dengan teman hidupnya yang baru menikah dengan dirinya. Sebab bedug perang telah berbunyi.

Ketika genderang perang dibunyikan, Hanzalah lantas berdiri dan menuju medan perang. Saat suara tersebut sampai ke telinga Hanzhalah, tanpa berpikir dua kali, Hanzalah langsung melepas dekapannya dari sang istri. Mengambil zirah dan pedangnya, ia lalu keluar dan berjalan menuju jalan jihadnya.

Dengan hati-hati dan wajah yang tetap tenang, Hanzalah pamit dan mengucapkan selamat tinggal kepada sang istri. Sang istri merasa bangga melihat sang suami menggunakan pakaian perang karena terlihat gagah dan menawan. Selang beberapa menit, sepasang mata kekasih yang berhadapan itupun hilang bersamaan dengan berangkatnya sang suami dari halaman rumahnya. Jamilah yang menyadari suaminya menerima panggilan jihad, dengan tergesa-gesa langsung ikut keluar dari rumahnya. Sembari menatap punggung suami yang dinikahinya beberapa jam yang lalu, dia pun mendoakan kepada Allah jalan yang terbaik untuknya.

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart