Habib bin Zaid, Tak Gentar Mendekap Islam Meski Nyawa Diujung Tanduk | Surau

Habib bin Zaid, Tak Gentar Mendekap Islam Meski Nyawa Diujung Tanduk

Surau.co – Zaid bin Asim dan istrinya, Ummu Ammarah, menjalani kehidupan yang bahagia. Keduanya memiliki anak bernama Habib. Ketiga orang ini kelak dikenal sebagai pembela Islam yang gigih. Mereka pergi ke Makkah untuk bersyahadat, mengakui keesaan Allah SWT dan Rasulullah saw sebagai utusan Ilahi.

Ikrar itu disampaikan di Agabah dalam kegelapan malam. Habib yang masih kecil mengulurkan tangan kecilnya dan berjanji setia kepada Rasulullah saw. Habib bin Zaid harus melaksanakan apa yang diperintahkan dan diarahkan Rasulullah saw.

Setelah berislam, Habib belum mengikuti Perang Badar, karena saat itu ia masih terlalu muda. Ia juga tidak memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam Pertempuran Uhud karena dianggap belum berkompeten memegang senjata.

Meski demikian, Habib tetap setia mendampingi dan membantu perjuangan dakwah Rasulullah saw. Harta dan takhta selalu didermakan untuk kepentingan Islam. Bahkan nyawa dikorbankan demi tegaknya risalah Ilahiyah yang mengarahkan manusia kepada kebenaran.

Tantangan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dalam berislam. Habib bin Zaid menilai, berjuang demi Islam memang harus total, tidak setengah hati. Bukan hanya harta, tapi nyawa pun harus dikorbankan demi tegaknya Islam.

Habib bin Zaid merupakan salah satu pemuda yang ikut bai’at aqobah kedua. Ia bersama ayahnya, Zaid bin A’shim dan ibundanya, Nusaibah binti Ka’ab, ikut mengambil bagian dalam bai’at kepada Rasulullah saw. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa ia termasuk angkatan awal yang beriman kepada Islam.

Hijrah ke Madinah

Sejak Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Habib senantiasa mendampingi Rasulullah saw. Tidak pernah sekalipun ia absen dalam mengikuti peperangan di bawah panji Islam.

Dikisahkan, lahir dua pendusta yang menyatakan diri mereka sebagai Nabi Allah. Mereka menggiring umat kepada lembah kesesatan. Salah satunya adalah Musailamah Al Kadzab dari Yamamah. Ia membuat para kaumnya percaya padanya dan menghasut mereka untuk memusuhi orang-orang dari kalangan suku mereka yang beriman pada Rasulullah saw. Ia pun menolak utusan-utusan Rasulullah saw yang datang ke Yamamah.

Suatu ketika, Musailamah mengirim surat kepada Rasulullah saw. Isi suratnya berisi komplain tentang pembagian hasil bumi. Suratnya oleh Rasulullah saw dibalas dengan untaian kata penuh cahaya hidayah,

“Bismillahirrohmanirrahim.. Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah al Kadzab. Salam bagi orang yang mau mengikuti petunjuk.. Kemudian ketahuilah bahwa bumi itu milik Allah SWT, diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya, sedang akhir kesudahaan akan berada dipihak orang-orang yang taqwa!”

Namun, untaian kata penuh cahaya hidayah ini tak jua menyadarkan si Pembohong Musailamah. Justru ia dan kaumnya semakin sesat dan menyesatkan. Hingga akhirnya Rasulullah saw mengirim salah seorang utusan pilihan untuk mengakhiri segala penyimpangan, kesesatan, dan kebodohan. Ialah Habib bin Zaid.

Perjuangan Habib bin Zaid melawan Musailamah al-Kadzab

Sepertinya cahaya Islam yang dibawa Habib bin Zaid tak terlihat oleh Musailamah al Kadzab. Menerima surat dan utusan Rasulullah saw yang mulia, Musailamah malah murka. Ia menyiksa Habib bin Zaid dengan siksaan yang kejam. Tidak cukup disitu, ia pun ingin menghinakan Habib bin Zaid di hadapan kaumnya. Ia ingin melucuti keberanian dan keimanan Habib bin Zaid di hadapan khalayak umum. Habib bin Zaid disiksa dan diminta untuk mengakui kerasulan Musailamah.

Di tengah deraan siksaan yang diterima Habib bin Zaid, Musailamah bertanya, “Apakah kamu mengakui bahwa Muhammad itu utusan Allah?”

“Benar,” ujar Habib, “Saya mengakui bahwa Muhammad utusan Allah”.

Merah padamlah wajah Musailamah al Kadzab, “Dan kamu mengakuiku sebagai utusan Allah?” tanyanya lagi.

“Tidak pernah saya mendengar tentang itu!” kata Habib.

Hitam legamlah wajah Musailamah al Kadzab saking marahnya ia pada Habib bin Zaid. Musailamah pun bangkit memanggil algojonya dan menikam tubuh Habib bin Zaid dengan ujung pedangnya. Dengan buas ia juga menyayat dan memotong tubuh Habib bin Zaid. Habib yang tubuhnya sudah tak berdaya masih mendengungkan senandung sucinya, “Lailaha illallah, Muhammadur Rasulullah”.

Berita syahidnya sang utusan mulia ini sampai di telinga Rasulullah saw. Dengan hati tabah ia menyerahkan diri pada putusan Tuhannya. Karena dengan cahaya ilahi ia dapat melihat akhir kesudahan Musailamah al Kadzab di hari pembalasan.

Ibunda tercinta berjanji akan meneruskan perjuangan putra tercintanya, mengakhiri kesesatan yang ditimbulkan Musailamah. Saat yang dinanti pun tiba. Pada masa kepemimpinan Abu Bakar Shiddiq, beliau mengerahkan tentara Islam menuju Yamamah dimana Musailamah telah menyiapkan pasukan terbesarnya.

Nusaibah yang sudah berpengalaman ikut peperangan, tak ketinggalan ikut bagian dan terjun dalam kancah peperangan Yamamah kali ini. Tangan kanannya memegang pedang dan tangan kirinya menggenggam tombak. Sementara lisannya tak henti meneriakkan, “Dimana Musailamah musuh Allah itu?”

Dan tatkala Musailamah al Kadzab tewas, dan para pengikutnya berguguran bagai kapas yang bertebaran. Panji-panji Islam berkibar dengan megahnya. Nusaibah berdiri tegak dengan tubuh yang penuh dengan luka bekas tebasan pedang dan tusukan tombak. Tapi wajahnya tersenyum karena melihat wajah putra tercintanya yang terlebih dulu syahid, di panji-panji Islam yang berkibar megah. Bangga mengisi ruang kalbunya, putranya menjadi syuhada karena membela Islam dan memperjuangkan agama Allah yang mulia ini. Syahid dalam memeluk keimanan pada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah salah satu kisah pemuda yang bisa kita jadikan inspirasi. Pemuda yang teguh memegang keimanan walau nyawa jadi taruhan. Karena ia sadar akan akhir yang indah yang Allah berikan. Surga yang abadi dan nikmat tiada tandingan.

Surau
Logo
Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0
Shopping cart