Gus Dur dan Pasukan Berani Mati Saat Akan Dilengserkan

Gus Dur dan Pasukan Berani Mati
Gus Dur dan Pasukan Berani Mati

KH. Abdurohman Wahid atau biasa disapa Gus Dur selain menjadi presiden, beliau merupakan ulama berpengaruh yang memiliki banyak massa. Para kiai maupun santri pada mendukungnya ketika menjadi presiden. Perjalanannya menjadi presiden menuai beberapa goncangan.

Salah satunya ketika beliau hendak dilengserkan dari kursi kepresidenan oleh para elit politisi. Tahun 2001 menjadi catatan sejarah perpolitikan di Indonesia yang mengalami prahara besar. Presiden resmi Gus Dur hendak dilengserkan oleh Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dengan permasalah yang tidak begitu jelas.

Sidang istimewa MPR yang awalnya akan dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus dipercepat menjadi tanggal 23 Juli. Tentu saja hal ini membuat publik menjadi curiga atas percepatan sidang istimewa MPR ini. Sekaligus menjadi bukti bahwa ada ketidakberesan di dalam perpolitikan di Indonesia.

“Marilah kita  bangun bangsa dan hindari pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.”Quotes Gus Dur

            Berbagai isu terus digaungkan oleh para politisi agar bisa melengserkan Gus Dur. Seperti contoh Gus Dur telah diisukan kasus korupsi dana Yanatera Bulog dan bantuan Sultan Brunei, yang pada akhirnya tidak terbukti kesalahannya sama sekali.

Lalu pemecatan Jendral Bimantoro yang digantikan oleh Jendral Chairudin Ismail sebagi pimpinan polri. Kasus yang terakhir ini menjadi sasaran empuk bagi para politisi yang ingin melengserkan Gus Dur, dikarenakan beliau telah mengambil keputusan tanpa melibatkan DPR maupun MPR. Atas adanya kasus ini para politisi mendorong MPR untuk mempercepat berlangsungnya sidang istimewa.

Gus Dur dan Pasukan Berani Mati Saat Akan Dilengserkan 2
Gus Dur dan Gus Miek

Mengetahui percepatan sidang istimewa ini, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan wakil sekjen PBNU yaitu KH. Masduki Baidlowi dengan tujuh ulama sepuh di Istana Negara.

Pertemuan ini menimbulkan keharuan bagi siapa saja terlebih lagi Gus Dur sendiri. Beliau tidak kuasa menahan air mata yang terus mengalir sambil berkali-kali meminta maaf karena merasa tidak berterus terang mengenai situasi politik yang dihadapinya.

            Mendengar berita Gus Dur hendak dilengserkan, membuat para kiai, santri dan pendukung setia beliau dari berbagai daerah geram dengan penuh emosi yang membara.

[wpsm_ads2]

Bentuk emosi para pendukung beliau ini ditujukan atas kedholiman para politisi terhadap Gus Dur. Tanpa adanya suatu pelanggaran yang dilakukan oleh Gus Dur kenapa harus dilengserkan.

Mereka sempat mengepung gedung MPR/ DPR di Senayan, Jakarta. Kemarahan mereka memuncak paska percepatan akan dilangsungkannya sidang istimewa MPR.  Beberapa para pendukung Gus Dur mendeklarasikan terbentuknya Pasukan Berani Mati (PBM) yang siap untuk membelanya.

            Pada tanggal 23 Juli dalam sidang istimewanya MPR yang memutuskan untuk menurunkan Gus Dur dari jabatannya. Mengetahui bahwa hal ini akan menimbulkan kericuhan yang sangat besar, Gus Dur menghadapi keputusan MPR dengan santai dengan dibuktikannya beliau keluar dari sidang tersebut mengenakan celana pendek.

Sebelum berlansungnya sidang istimewa MPR, Gus Dur sempat mengirim pesan kepada para Kiai, santri maupun pendukungnya dari berbagai daerah untuk tidak datang ke Jakarta mengikuti aksi protes.

Beliau mengatakan “Jangan sampai hanya karena urusan jabatan, pertumbahan darah antar anak bangsa terjadi di ibu kota”. Gus dur secara resmi menyudahi masa jabatannya sebagai presiden tepat pada tanggal 26 Juli 2001.

Selain mengirimkan pesan, Gus Dur waktu menghadiri peringatan 100 tahun berdirinya Pondok Pesantren Futtuhiyah Mranggen, Demak, beliau berpesan secara langsung agar para ulama tidak terpancing amarahnya atas permasalahan pelengseran beliau.

Atas nama persaudaraan umat Islam seharusnya ulama tidak boleh terlarut dalam permasalahan politik. Gus Dur dengan tegas meminta kepada para ulama, kiai dan santri di lingkungan NU untuk tidak melakukan unjuk rasa dan kegaduhan di Jakarta. Beliau juga meminta agar semua pendukung setianya tetap menyakini bahwa pemerintah mampu menyelesaikan permasalah politik ini.