Dzul Bijadain, Seorang Syahid Bukan di Medan Perang

Please log in or register to like posts.
Dzul Bijadain, Seorang Syahid Bukan di Medan Perang - Surau.co

Surau.co – Dari Ibnu Ka’b al-Qurthubi berkata: “Abdullah yang dijuluki Dzul Bijadain berasal dari Muzainah. Seorang sahabat Nabi yang hatinya telah tertambat dengan kecintaan kepada Rasulullah SAW juga kecintaan kepada keimanan. Maka ia berangkat untuk bertemu Rasulullah.”

Mengetahui kejadian itu, ibu Abdullah pergi menuju pimpinan kabilahnya dan berkata, ‘Sesungguhnya Abdullah telah pergi menemui Muhammad. Susullah dia dan bawalah pulang kembali. Ambil pakaian-pakainnya, karena ia sangat pemalu. Jika kalian berhasil mengambil pakaiannya, tentu ia tidak akan bisa bergerak meneruskan keinginannya.’

Benar. Mereka lantas mengambil pakaian Abdullah dan membiarkannya telanjang. Maka Abdullah tinggal di dalam rumah dan mogok makan ataupun minum sebelum ia bertemu Rasulullah SAW.

Ketika ibunya melihat anaknya mogok makan dan tidak mau minum, ia kembali mendatangi kaumnya dan memberitahukan bahwa Abdullah bersumpah untuk mogok makan dan minum sebelum bertemu Rasulullah SAW. Ibunya berkata, ‘Tolong kembalikan pakaian Abdullah, karena aku takut ia akan mati.’ Tetapi kaumnya ternyata enggan memberikan pakaiannya itu.

Maka ibunya mengambil satu lembar kain kotak-kotak besar dan dipotong menjadi dua lembar. Salah satu lembar diberikan agar dipakai sebagai sarung dan satu lembar lagi sebagai penutup kepala. Lalu sang ibu berkata, ‘Sekarang, pergilah!’

Abdullah pun pergi, menempuh perjalanan dengan mendaki dan menuruni lembah, sehingga ia tiba di kota Madinah.

Suatu hari usai melaksanakan sholat subuh berjamaah di Masjid Nabawi, Rasulullah SAW seperti biasa menyalami para sahabatnya. Tidak lama berselang, pandangan Rasulullah SAW tertuju kepada seorang pria yang wajahnya sangat asing.

“Engkau siapa?” tanya Rasulullah SAW kepada pria sederhana berpakaian kasar dengan bahan dan warna kain yang sama.

Mendengar pertanyaan manusia paling mulia itu, lelaki tersebut lalu menceritakan asal usulnya. Dia mengaku bernama Abdul Uzza. Uzza hidup bersama pamannya di wilayah Muzaniyah.

“Cukup lama aku merahasiakan keislamanku. Hingga kemarin ketika pamanku mengetahui, ia mengusirku. Ia meminta kembali seluruh pemberiannya, bahkan baju yang aku kenakan. Aku serahkan bajuku saat itu juga. Lalu aku pulang ke ibuku dan ia memotong kain kasar ini menjadi dua. Satu untuk sarungku, satu untuk baju.” ucap Abdul Uzza.

“Kalau begitu namamu adalah Abdullah Dzul Bijadain, hamba Allah yang mengenakan dua kain kasar.” kata Rasulullah SAW menimpali.

Dzul Bijadain bernama lengkap Abdullah bin Abdu Nahm bin ‘Afif bin Sahim bin ‘Adwy bin Tsa’labah bin Sa’ad al-Muzany. Abdul ‘Uzza adalah nama yang disandangnya sebelum masuk Islam. Rasulullah SAW pun mengganti namanya dengan nama Abdullah. Adapun gelar Dzul Bijadain yang disematkan oleh Rasulullah SAW sendiri .

Dari ibn Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimy berkata: ”Abdullah (Dzul Bijadain) berasal dari Muzaniyah. Tinggal di rumah pamannya. Selama tinggal di sana dia sangat patuh dan baik dengannya. Suatu hari pamannya mendengar bahwa ia memeluk Islam. Maka pamannya marah sehingga semua barang yang diberikan supaya dikembalikan. Bahkan pakaian yang menutupi badannya disuruh melepaskannya. Ia pun pulang menemui ibunya. Melihat anaknya tidak memakai pakaian, ibunya terus mengoyak kain penutup tebal miliknya menjadi dua.”.

Karena itulah ia dipanggil Dzul Bijadain (artinya: yang memilki dua helai pakaian). Ia dibesarkan di kabilahnya, Muzainah. Kabilah ini berada di dekat gunung Warqon, dekat Madinah. Orangtua Dzul Bijadain sangatlah miskin. Hingga menginjak dewasa, ia belum mendengar tentang ajaran Islam. Maka setelah hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah, Dzul Bijadain mulai mengenal Islam. Ia mulai tertarik dengan ajaran Islam dan selalu ingin mempelajarinya.

Abdullah Dzul Bijadain adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang sangat setia. Ia bahkan tinggal di Masjid Nabawi karena memang tidak memiliki rumah. Kondisi itu jelas membuatnya lebih dekat dengan Rasulullah SAW hingga hari-hari bersama Rasulullah SAW digunakannya untuk menyerap ilmu-ilmu agama Islam.

Dzul Bijadain juga dikenal memiliki semangat jihad luar biasa. Seperti saat menjelang perang Tabuk pada tahun ke-9 hijrah, ia meminta doa kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, doakan aku terbunuh pada perang ini hingga memperoleh mati syahid,”

“Tidak. Engkau tidak akan terbunuh. Tetapi jika engkau sakit demam lantas wafat, engkau mati syahid,” jawab Rasulullah SAW kala itu.

Benar saja, dalam perang Tabuk kaum muslimin berhasil memenangkan perrang tersebut tanpa pertempuran. Akan tetapi, saat hendak kembali ke Madinah, Abdullah Dzul Bijadain mengalami demam. Hingga akhirnya pada suatu malam, salah seorang sahabat yakni Abdullah ibnu Mas’ud mendengar suara seperti orang menggali tanah. Saat itu terlihat cahaya menyilaukan dari tempat yang agak jauh dari kemahnya.

Abdullah ibnu Mas’ud kemudian menghampiri lokasi tersebut untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Saat itu, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan para sahabat lain terlihat sedang menggali liang lahat. Kemudian, Rasulullah SAW mengusung jenazah seorang pria dan memasukkannya sendiri ke liang lahat seraya berdoa, “Ya Allah, hari ini aku ridho kepadanya, maka ridhoilah ia.”

Doa itu merupakan doa istimewa yang keluar dari lisan Rasulullah SAW manakala memakamkan jasad pria yang ternyata adalah Abdullah Dzul Bijadain.

Abdullah ibnu Mas’ud yang mendengar doa istimewa Rasulullah SAW lantas merasa iri, seraya berujar, “Seandainya jenazah itu adalah jenazahku.” gumam salah satu ahli tafsir terkemuka di zaman Rasulullah SAW itu.

Baca juga: Dihyah Al Kalabi, Sahabat yang Diutus Mengislamkan Raja Romawi