Romantika Cinta Gus Dur dan Nuriyah

Gus Dur dan Hj. Nuriyah
Gus Dur dan Hj. Nuriyah

Surau.co – Sepenggal kisah Cinta Gus Dur dan Nuriyah. Gus Dur sejak remaja memiliki hobi membaca buku. Bacaannya sangat beragam mulai dari buku-buku novel sampai buku-buku pergerakan. Karena kesibukannya membaca buku, membuat Gus Dur ketika berusia remaja tidak pernah merasakan berkencan, apalagi memiliki pacar. Fokusnya teralihkan pada pemikiran yang liar dan bebas melalui beberapa buku bacaannya. Ditambah lagi beliau termasuk penggila sepak bola dan film.

            Gus Dur merupakan lelaki yang serius tetapi juga pemalu. Mengetahui sifat ponakannya yang seperti itu, membuat KH. Fatah merasa khawatir. Apalagi Gus Dur sudah mendapatkan tawaran untuk kuliah di Kairo, Mesir. Kekhawatiran pamannya ini disebabkan ketika nanti Gus Dur sudah di Mesir sedangkan belum mempunyai calon istri, maka bakal kesulitan untuk mencarinya. Akhirnya sang paman menyarankan agar Gus Dur mencari istri terlebih dahulu sebelum berangkat ke Mesir.

“Soalnya, jika menunggu pulang dari Mesir terlebih dahulu, kamu akan menemukan perempuan tua dan cerewet.” Ujar KH. Fatah kepada Gus Dur yang ditulis oleh M. Hamid dalam buku Gus Gerr: Bapak Pluralisme serta Guru Bangsa.

Gus Dur tertegun mendengar perkataan pamannya ini. Beliau menjadi khawatir jika perkataan pamannya menjadi kenyataan. Untung saja KH. Fatah tidak sekedar memberikan anjuran atau saran, melainkan mencarikan calon istri buat keponakannya ini. Lalu ditawarkan putri seorang pedagang terkenal di Jombag yaitu H. Abdullah Syukur yang bernama Sinta Nuriyah. Mendapat tawaran dari pamannya ini membuat Gus Dur tidak bisa menolaknya.

Sayangnya, Nuriyah tidak bisa langsung menerima Gus Dur. Terdapat keraguan dalam diri perempuan tersebut mengenai pasangan hidupnya itu. Di samping itu Gus Dur tidak ingin terbang ke Kairo dengan status lajangannya. Kepada Greg Barton, Gus Dur bercerita ketika bertahun-tahun di Kairo beliau terus menjalin komunikasi lewat surat kepada Nuriyah. Suratnya secara tertib dibalas oleh Nuriyah membuat Gus Dur semakin yakin kalau beliau tidak benar-benar ditolak.

Di dalam buku Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid, Barton menyebutkan jika keduanya mulai saling percaya terjadi menjelang tahun 1966. Demi meyakinkan dirinya sendiri mengenai pemuda bernama Abdurrahman Wahid ini, Nuriyah pernah menemui tukang ramal. Kata peramal tersebut bahwa pemuda ini benar-benar cocok untuk dirinya. “Jangan mencari-cari lagi. Yang ada saat ini kelak yang akan menjadi teman hidup kamu,” ucap Nuriyah kepada Barton, menirukan perkataan tukang ramal yang ditemuinya.

Walaupun begitu, Nuriyah masih belum seluruhnya percaya. Gus Dur sesungguhnya tidaklah salah satunya pemuda yang tertarik kepadanya. Banyak pemuda lain yang menyimpan hati dan berupaya meminangnya. Namun individu yang memiliki kepribadian lembut serta pemikiran yang tajam ini sebagaimana nampak dari surat-suratnya, membuat Gus Dur mempunyai nilai lebih dibanding lainnya di hadapan Nuriyah.

Pertengahan tahun 1966, Gus Dur mengirimi sepucuk surat kepada Nuriyah. Akan tetapi isi suratnya kali ini sangat berbeda dengan isi surat sebelum-sebelumnya. Gus Dur mencurahkan segenap perasaan pilunya lantaran kegagalan studinya di Mesir. Mengatakan rasa putus asa atas segala kegagalannya di negara tersebut.

“Kenapa harus gagal dalam segala hal ?, kamu boleh gagal studi, namun paling tidak kamu berhasil dalam kisah cinta.” Balasan surat dari Nuriyah menjadi obat penyembuh kesedihan Gus Dur. Kesedihan yang bertubi-tubi mengenai studinya kini tergantikan oleh kebahagian kisah asmaranya. Tidak perlu menunggu lama Gus Dur segera menulis surat kepada Ibunya yang ada di Jombang untuk meminang Nuriyah.

Gus Dur dan Sinta Nuriyah
Gus Dur dan Sinta Nuriyah

Pada tahun 1968, Nuriyah diterima di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sebelum masuk dan mondok di kota pelajar dan budaya tersebut, orang tua Nuriyah memutuskan supaya putrinya melaksanakan pernikahan terlebih dahulu dengan Gus Dur. Namun ada sedikit hambatan, waktu itu Gus Dur belum bisa pulang ke tanah air dikarenakan baru separuh perjalan menempuh pendidikan di Baghdad, Irak.

Baca juga: Kisah Gusdur Dipuji Israel

Setelah dimusyawarahkan lalu menemukan jalan keluar bahwa kedua belah pihak keluarga menyetujui pernikahan berlangsung pada bulan September (ada yang menyebut bulan Juli). Kemudian bagaimana solusinya mengenai Gus Dur yang berada di luar negeri ?, maka di sinilah keunikan pernikahan Gus Dur dengan Nuriyah.

“Pemecahan permasalahan ini memunculkan spekulasi yang kurang mengenakan untuk mereka yang tidak mengetahui apa sebenarnya maksud rencana ini,” ungkap Barton. Gus Dur tidak dapat meninggalkan studinya yang seenaknya pulang ke tanah air. Akhirnya Gus Dur diwakilkan oleh Kiai Bisri Syansuri, kakeknya yang menikah dengan Nuriyah. Hal ini membuat para tamu bertanya-tanya yang melihat seorang kiai berumur 80 tahun menikahi gadis yang masih belia.

“Meskipun secara aturan Gus Dur dan Nuriyah sudah menikah, tetapi bagi mereka ini hanya sebuah pertunangan. Mereka juga telah menyepakati kalau nanti ingin hidup bersama setelah keduanya menyeselesaikan studinya masing-masing.” Ungkap Barton.

Pada tahun 1971, setelah gagal melanjutkan studinya di Eropa, Gus Dur pulang ke Indonesia, khususnya ke Jawa. Pasangan sah suami istri yang selama tiga tahun terakhir melakukan hubungan jarak jauh akhirnya bertemu juga. Bulan September 1971 mereka mengadakan resepsi pernikahan serta mengawali hidup berumah tangga. Nuriyah juga sering menemani Gus Dur dalam banyak kegiatan, seperti pergi ke Jombang secara tertib. (NH)