Tak Berkategori  

Biografi KH. Imam Zarkasyi, 1910-1985 M, Penggagas Pendidikan Pesantren Modern

Avatar
Google News
Biografi KH. Imam Zarkasyi, 1910-1985 M, Penggagas Pendidikan Pesantren Modern
Biografi KH. Imam Zarkasyi, 1910-1985 M, Penggagas Pendidikan Pesantren Modern

Surau.co – KH. Imam Zarkasyi lahir di Gontor, Jawa Timur pada 21 Maret 1910 M dan meninggal  pada  30 Maret 1985 M. Awalnya, Imam Zarkasyi menimba ilmu di sejumlah pesantren di dalam dan sekitar kampung halamannya. Ia mempelajari banyak ilmu  seperti bahasa Arab, politik dan sastra.

Setelah lulus dari Kweekschool Padang Panjang, ia ditawari posisi sebagai kepala sekolah, namun dalam waktu satu tahun, ia memenuhi permintaan dan kepercayaan tersebut. Memang, menurutnya, jabatan bukanlah tujuan utama di balik menuntut ilmu.  

Setelah melepaskan jabatannya itu, dia kembali ke Gontor, karena dia menemukan bahwa Gontor lebih membutuhkan kehadirannya. Di Gontor, Imam Zarkasyi dan dua saudaranya memperkenalkan program pendidikan baru bernama Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) dan dirinya sendiri bertindak sebagai direkturnya.

Riwayat Hidup

Terdapat sebuah desa terpncil, sekitar 11 kilometer dari arah Selatan kota Ponorogo. Di awal abad XX, tempat ini tidak banyak dikenal orang, kecuali oleh masyarakat sekitarnya. Walau begitu, di penghujung abad XIX, kawasan ini pernah terkenal karena keharuman pesantren di dalamnya. Desa di pinggir sungai itu bernama Gontor.

Bila di awal abad XX itu orang dating kedesa ini, niscaya dia dapat menyaksikan sebuah rumah berbentuk joglo atau bucu. Halamnnya yang luas, ditumbuhi pohon asam jawa, pohon sawo, dan pohon manga, mengesankan sebuah rumah kuno yang asri. Ruang tamu luarnya luas terbuka dengan pilar-pilar yang menonjol. Ruang tamu tengahnya lapang dan kamar tidurnya terletak di seluruh sudut, suatu tata ruang yang lazim dimiliki keluarga priyai kuno. Lantainya terbuat dari pelesteran semen yang diaci, agak mengkilat dan bersih.

Di sebelah barat rumah itu terdapat sebuah masjid kecil, didirikan oleh kyai Sulaiman Djamaludin sekitar tahun 1750-an. Dia adalah pendiri Pondok Gontor lama dan tokoh babad desa Gontor. Tembok- tembok di dalam masjid itu sudah mulai lapuk. Lantainya yang terbuat dari laur-lajur bamboo yang ditumpuk memperkuat kesan ketuaannya.

Di dalam rumah inilah Imam Zarkasyi dilahirkan sebagai putera bungsu Kyai Santoso Anom Besari, ragil dari tujuh bersaudara. Seperti saudara-saudaranya, Imam Zarkasyi dilahirkan di desa Gontor, di kompleks Pondok Gontor lama itu sendiri. Ia lahir pada tanggal 21 Maret 1910. Kakaknya enam orang, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Empat orang telah menikah. Kakak tertuanya tinggal di dalam kompleks Pondok, sedang tiga lainnya tinggal di Ponorogo.

Keenam saudara Imam Zarkasyi itu, secara berurutan, adalah R.H. Rachmat Sukarto (menjadi Kepala Desa Gontor); R. Ngt. Sumiyah Harjodipuro (menikah dan tinggal di kota Ponorogo); R. Ngt. Sukatmi Ibnu Hajar Imam Besari (menikah dan tinggal di kota Ponorogo); R.H. Ngt. Sumilah Imam Ngulama (istri seorang na’ib al-qadhi dan tinggal di Kawedanan Sampung, sebelah barat kota Ponorogo); RH. Ahmad Sahal, dan R.H. Zainudin Fananie.

Ayah mereka, Kyai Santoso Anom Besari, adalah kyai terakhir Pondok Gontor lama. Sikap wara’ nya sangat menonjol. Wataknya yang pendiam, zuhud dalam beribadah, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia lebih mencerminkan seorang keturunan Kyai yang berpengaruh ketimbang keturunan priyai atau bangsawan. Karena itu, meski kemampuannya dalam memimpin pondok tidak sebaik orang tuanya, ia tetap dihormati dan disegani.

Masa kanak-kanak Imam Zarkasyi bukanlah masa menyenangkan. Ia lahir dan dibesarkan pada zaman penjajahan, zaman paceklik. Dalam usia belum genap 10 tahun (sekitar 1918), Imam Zarkasyi menjadi yatim. Ayahnya meniggal dunia saat kondisi Pondoknya sangat mundur dan belum memiliki generasi penerus. Ia sama keenam saudaranya merasa sangat terpukul sebab ayahnyalah satu-satunya orang yang menjadi figure dalam keluarga dan masyarakat saat itu.

Keprihatinan yang sangat mendalam justru dirasakan oleh ibunya, Ibu Nyai Santoso. Selain kehilangan pendamping yang sangat berperan dalam hidupnya, ia juga harus menggantikan peran sang suami sebagai figure keluarga. Dengan demikian, ia harus menghidupi tujuh putera-puterinya, khususnya mereka yang belum menikah.

Sebelum Indonesia merdeka, ia memegang sejumlah posisi penting. Begitu pula setelah Indonesia merdeka, di tengah kesibukannya sebagai guru, ia juga menduduki jabatan penting lainnya.

Tenaga dan pikirannya tidak bisa lepas dari Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Imam Zarkasyi juga berpartisipasi di kancah internasional. Selain itu, Imam Zarkasyi juga aktif menulis sehingga karyanya dapat diapresiasi hingga saat ini (Nata, 2001:196-198). 

Kehadiran Imam Zarkasyi sebagai pembaharu dalam pendidikan anak meletakkan dasar bagi hama hari ini. Pesantren yang semula dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional modern, telah berkembang menjadi Pesantren modern, yang menghasilkan aparat-aparat konstruksi nasional yang berperan di Indonesia bahkan di luar negeri.

Baca Juga: Biografi Ibnu Taimiyah 1263-1328 M, Beserta Konsep Pendidikannya

Konsep Pendidikan KH. Imam Zarkasyi

Secara umum pemikiran KH. Imam Zarkasyi terdiri dari empat hal pokok, yaitu sistem dan metode pendidikan, materi dan program pendidikan, struktur dan manajemen, pemikiran dan kebebasan.

Empat pemikiran KH. Imam Zarkasyi  kemudian  diadopsi oleh banyak pesantren di Indonesia. Hal ini dilakukan karena sistem seperti ini dianggap layak dan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Di zaman sekarang ini, manusia membutuhkan pengetahuan dan keterampilan mempuni atas dasar iman yang saleh kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1. Sistem dan metode pendidikan

Sistem pendidikan yang dibangun di Gontor adalah sistem pendidikan klasikal dan sistem pesantren atau asrama. Kitab-kitab kuning dikemas sedemikian rupa  dalam  buku teks  yang sesuai dengan tingkat pendidikan siswa.

Sistem pendidikan klasik dikembangkan secara terorganisir dan berorientasi dalam bentuk jenjang kelas dalam kurun waktu tertentu. Sistem klasik ini merupakan bentuk kebangkitan karena berbeda dengan sistem poundok lama.

Pengajaran dengan sistem ini menjadi lebih efektif, karena dengan biaya dan waktu yang relatif rendah dimungkinkan untuk menghasilkan produk yang besar dan berkualitas. Perbaikan dalam sistem pendidikan memerlukan beberapa reformasi pada sistem pengajaran yang dianut oleh pesantren tradisional. 

Metode lebih penting daripada materi, tetapi kepribadian guru jauh lebih penting daripada metode itu sendiri. Beberapa metode pengajaran dan aturan proses belajar mengajar di kelas, selain itu perlu memulai pelajaran dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami, tidak terburu-buru untuk beralih ke pelajaran lain sebelum siswa memahami apa yang telah dipelajari.

Proses pengajaran harus teratur dan sistematis, latihan-latihan diulang setelah pelajaran dan latihan-latihan lainnya, yang semuanya dapat dipraktikkan oleh guru mana pun selama guru itu memiliki dan menguasai metode pengajaran.

Pembaharuan yang dilakukan oleh Imam Zarkasyi hanya mementingkan metode pengajaran di dalam kelas, sedangkan pokok-pokok ajaran agama yang menjadi fokus dalam kajian kitab kuning di pesantren tradisional masih ada dan bersifat tertutup serta menyesuaikan dengan tingkat belajar siswa.

Santri selalu berkesempatan membongkar dan menggali banyak koleksi kitab kuning dari berbagai disiplin imlmu agama. Dengan bekal bahasa Arab, siswa diharapkan  dapat membaca dan memahami kitab-kitab tebal sendiri tanpa harus dibantu dan diterjemahkan oleh kyai seperti yang telah dilakukan dalam metode tradisional seprti sorogan atau wetonan.

2. Materi dan kurikulum pendidikan

Kurikulum yang dianut Imam Zarkasyi adalah 100% umum dan 100% agama. Kurikulum kontemplatif tradisional lebih menitikberatkan pada materi agama yang tercantum dalam kitab klasik (kuning). Imam Zarkasyi selalu memelihara dokumen-dokumen keagamaan ini, sambil menambahkan materi pengetahuan umum ke dalam kurikulum lembaga-lembaga pendidikan di bawah asuhannya.

Materi dan program Pondok Modern Gontor pada hakikatnya merepresentasikan seluruh kehidupan pondok itu sendiri, dan tidak dapat dipisahkan antara materi satu dengan yang lainnya. Tidak ada perbedaan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum. 

Karena semua siswa memperoleh kedua keterampilan ini secara bersamaan tergantung pada tingkat kelas  masing-masing. Materi dan kurikulum yang dikembangkan terbagi menjadi dua bagian, yaitu materi intrakurikuler (akademik) dan materi ekstra kurikuler (non-akademik).

Untuk kurikulim intrakurkuler diselenggarakan oleh Kulliyat Al-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), sedangkan kurikulum ekstra kurikuler diselenggarakan oleh Organisasi Mahasiswa Pondok Pesantren (OPPM) dan Gerakan Pramuka.  

Mata pelajaran agama dan pendidikan umum merupakan program wajib yang harus dikuasai siswa. Selain itu, sejumlah keterampilan ditekankan dan harus menjadi ciri khas lembaga pendidikan, yaitu keterampilan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Kefasihan berbahasa Arab dan Inggris serta berbagai pengetahuan harus selalu didasarkan pada prinsip dan konsep lima jiwa untuk membantu pencapaian moralitas dan karakter yang mulia.

3. Struktur dan Manajemen

Demi pendidikan dan pengajaran Islam, Imam Zarkasyi mewakafkan Pondok Modern Gontor kepada sebuah organisasi yang dikenal dengan Majelis Wakaf Pondok Modern Gontor, agar tidak menjadi milik pribadi atau milik pribadi seperti yang biasa terjadi dalam pendidikan tradisional monopolistik-institusi.

Kemudian menjadi badan tertinggi yang bertanggung jawab untuk mengangkat kyai untuk masa jabatan lima tahun. Dengan demikian, kyai bertindak sebagai pemberi perintah dan bertanggung jawab kepada Dewan Wakaf.  

Dengan struktur seperti itu, kyai dan keluarganya tidak memiliki hak material atas pestreren. Pesantren menjadi lembaga publik yang terbuka dan objektif.

4. Pola Pikir dan Kebebasan

Keadaan pikiran dan kebebasan perhatian pada semua siswa. Setiap siswa menerima instruksi melalui rutinitas, contoh, dan kondisi lingkungan. Dengan konsep ini diharapkan siswa memiliki jiwa yang berdiri atau mandiri, siswa bebas menentukan masa depannya, memiliki jiwa ikhlas dan sederhana dalam hidup.

Semangat kemandirian dan kebebasan ditanamkan dalam diri siswa. Ini berarti bahwa siswa harus belajar dan berlatih merawat kepentingan mereka sendiri dan secara bebas membuat keputusan tentang kehidupan mereka di masyarakat. Lebih lanjut, pesantren sebagai lembaga pendidikan juga harus mandiri dan independen dari pihak lain.

Aplikasi Pemikiran Pendidikan KH. Imam Zarkasyi

1. Keunggulan Sistem Pendidikan KH. Imam Zarkasyi

Sistem pendidikan yang digagas oleh KH. Imam Zarkasyi terbukti memiliki banyak keunggulan dibanding dengan sistem pendidikan lainnya. Keunggulan tersebut terlihat dari kemodernan sistem yang diterapkan, kemodernan bukan ditonjolkan dari segi fasilitas, modern yang dimaksud adalah modern dalam hal sistem, konsep, dan metodenya. Keunggulan tersebut antara lain:

  1. Pengelompokkan siswa dengan kelas sesuai potensi yang dimiliki siswa. Pengelompokkan ini akan mempermudah guru dalam memberikan materi pelajaran.
  2. Penguasaan dasar-dasar bahasa (Arab dan Inggris). Dasar-dasar bahasa sangat diutamakan dengan mempraktikkannya, karena satu kata yang digunakan berkali-kali lebih baik daripada banyak kata tetapi tidak pernah digunakan. Kemampuan bahasa tersebut akan sangat mendukung bagi pengembangan keilmuan di masa yang akan datang.
  3. Asrama diisi dengan kapasitas besar. Jumlah santri yang menghuni satu kamar sangat banyak, hal ini sangat menguntungkan karena dengan demikian santri akan lebih banyak bersosialisasi dan dapat melakukan belajar bersama dengan sistem tutor sebaya.
  4. Tidak banyak mempelajari kitab kuning. Mempelajari kitab klasik (kitab kuning) bukanlah hal yang mudah, karena bahasa yang digunakan adalah Bahasa Arab, tetapi dengan kemampuan bahasa yang baik, kitab kuning juga akan mampu dikuasai dengan sendirinya.
  5. Kurikulum 100% umum dan 100% agama. Istilah ini mengisyaratkan bahwa kurikulum yang diberikan berimbang antara kurikulum umum dan kurikulum agama, artinya semua keilmuan dipelajari dengan porsi yang sama. Tidak ada dikotomi keilmuan, semua ilmu penting dipelajari sebagai bekal para santri untuk mengarungi kehidupannya nanti.
  6. Kurikulum yang dikembangkan dari awal berdiri tidak berubah, karena permasalahan pendidikan bukan terletak pada kurikulumnya, tetapi terletak pada sumber daya manusia pelaksananya. Berapa kalipun sering kurikulum diubah, tetapi bila tidak diikuti dengan peningkatan sumber daya manusianya maka perubahan kurikulum tersebut tidak akan mencapai hasil dengan perubahan yang signifikan.

Sumbangan pemikiran terbesar bagi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, meliputi:

  • Melengkapi kebutuhan sumber daya manusia yang harus segera dipenuhi,
  • Penyeimbangan paradigma dan prestasi generasi Indonesia dengan negara-negara maju dalam konsep pengetahuan agama dan umum,
  • Melengkapi intelektulisme calon generasi muslim intra maupun ekstra,
  • Menjadikan santri yang lebih sayang dan cinta dengan ilmu pengetahuan dan pesantren,
  • Mewujudkan generasi yang terampil, cakap, intelektual dan bermasyarakat,
  • Membentuk generasi muslim yang siap di era modern dan globalisasi.

2. Kiprah Lulusan Sistem Pendidikan KH. Imam Zarkasyi

Siswa lulus dari sistem pendidikan KH. Imam Zarkasyi telah aktif di dalam dan luar negeri. Yang jelas banyak dari mereka yang mampu melanjutkan pendidikan di Timur Tengah adalah lulusan sistem pendidikan yang dikembangkan oleh KH. Imam Zarkasyi.

Walaupun tidak semua lulusan dapat berpartisipasi, hal ini dapat dimaklumi karena dalam kelompok orang baik akan ada orang jahat, dalam kelompok orang jahat akan ada orang baik.

Jika Anda menanam padi, rumput akan tumbuh di sekitar Anda; jika Anda tidak menanam rumput, maka padi belum tentu padi tumbuh.

3. Kontribusi Pemikiran Pendidikan KH. Imam Zarkasyi

Pemikiran Pedagogis KH. Imam Zarkasyi banyak diadopsi oleh lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, seperti pondok pesantren modern, pesantren terpadu, pondok pesantren, dan juga ruang-ruang kelas, yang  menurut sistem klasikal, pembelajaran dimulai dari dokumen yang mudah hingga dokumen yang sulit.

Inilah yang saat ini sedang dikembangkan oleh lembaga pendidikan di Indonesia. Bahkan untuk mengatasi permasalahan yang sering muncul dalam dunia pendidikan seperti kasus-kasus yang menodai wajah pendidikan Indonesia, salah satunya dengan pendidikan generasi muda.

Pesantren masih merupakan lembaga pendidikan alternatif terbaik. Belum pernah ada kasus siswa tawuran antar siswa di sekolah yang sama, atau siswa asrama yang tidak bisa mengikuti ujian karena kekurangan uang, tidak ada siswa dari keluarga miskin yang ditolak masuk.

Pemikiran Pedagogis KH. Imam Zarkasyi sangat menghiasi model pendidikan di Indonesia. Hal ini terlihat pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan (KTSP), Pengembangan Pribadi dan Muatan Lokal, Pendidikan Pembentukan Karakter Bangsa (PPKB) yang dilaksanakan di Indonesia, semuanya oleh KH. Imam Zarkasyi dari sebelum kemerdekaan Indonesia.

4. Kaitan Pemikiran Pendidikan KH. Imam Zarkasyi dengan Kemandirian Bangsa

Sistem pendidikan dan konsep lima jiwa KH. Imam Zarkasyi telah menciptakan kemandirian institusional dan pribadi bagi murid-muridnya. Secara kelembagaan, lembaga pendidikan dikembangkan oleh KH. Imam Zarkasyi adalah organisasi independen dan tidak berafiliasi dengan kelompok manapun.

Sejak awal, siswa harus belajar hidup mandiri untuk mengurus segala kebutuhan hidup. Kemandirian inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat lembaga pendidikan ini tetap eksis, tanpa mengandalkan uluran tangan dari pemerintah.

Slogan tertanam kuat dalam sistem pendidikan KH. Imam Zarkasyi adalah Gontor di atas dan untuk semua golongan.

5. Kaitan Pemikiran Pendidikan KH. Imam Zarkasyi dengan Enterpreneurship (Kewirausahaan)

Konsep panca jiwa KH. Imam Zarkasyi menjadi dasar lahirnya wirausahawan muslim. Perintah yang baik melalui panca jiwa dalam proses pendidikan akan membantu siswa untuk dapat hidup mandiri secara mandiri, memiliki kemampuan dan keberanian untuk berwiraswasta.

Kesederhanaan dan keikhlasan selalu menjadi modal utama wirausahawan yang sehat. Prinsip belajarnya adalah Gontor tidak menciptakan karyawan, tetapi menciptakan majikan sendiri.

Karya-Karya Imam Zarkasyi

Karya tulis:

1. Senjata Penganjur

2. Pedoman Pendidikan Modern

3. Kursus bahasa Islam (No 1,2,3 tersebut ditulis bersama KH Zainuddin Fanani)

Adapun buku-buku yang beliau tulis sendiri adalah :

1. Ushuluddin (Pelajaran ‘Aqaid/Keimanan)

2. Pelajaran Fiqh I dan II

3. Pelajaran Tajwid

4. Bimbingan Keimanan

5. Qowa’idul Imla’

6. Pelajaran Huruf Al Qur’an I dan II

Dan dibantu oleh Ustadz Imam Subani, beliau menyusun buku:

1. Pelajaran Bahasa Arab I dan II (beserta Kamusnya)

2. At-tamrinat jilid I, II, III (beserta kamusnya)

3. I’rabu Amtsilati-Al Jumal,  jilid I &  II.

Itulah dia sederet kisah tentang KH. Imam Zarkasyi, khusunya tentang konsep pendidikan modern ala Gontor. Bukan tidak mungkin di masa sekarang dan akan datan akan lahir hamba tuhan yang memliki konsep pembaruandalam pendidikan dan lebih menjanjikan. Wallahua’lam!

Pewarta: EnolEditor: Nurul Hidayat
AvatarEnol
Mau tulisan kamu dimuat di Surau.co seperti Enol? Kirim Tulisan Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *