Sosok  

Biografi Abu Yazid Al-Bustami 874-947 M, Sufi yang Bertemu Tuhan Melalui Konsep Al-Ittihad

Biografi Abu Yazid Al-Bustami 874-947 M, Sufi yang Bertemu Tuhan Melalui Konsep Al-Ittihad
Biografi Abu Yazid Al-Bustami 874-947 M, Sufi yang Bertemu Tuhan Melalui Konsep Al-Ittihad

Surau.co – Biografi Abu Yazid Al-Bustami sebagai Sufi yang memiliki konsep penyatuan diri dengan Tuhan Melalui Konsep Al-Ittihad tentu sangat manarik.

Karena ketika berbicara tentang tasawuf, tentu tidak mungkin memisahkan citra tasawuf itu sendiri, yang menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya untuk menuntut ilmu, pendekatan, cinta, atau cinta kepada Allah SWT, tetapi tasawuf ibarat jalan utama menuju semakin kecil jalan yang mengalir darinya sesuai dengan pemahaman dan individu yang membuka jalan untuk memahaminya.

Oleh karena itu, bagi mereka yang ingin memilih jalan tasawuf sebagai jalan berpikir sekaligus jalan hidup, dapat memilih jalan mana yang benar menurut beliau.  

Para tokoh tasawuf memiliki banyak pendekatan yang berbeda kepada Tuhan, beberapa mengajarkan mahabbah (Rabiatul Adawiyah), Ma’rifah (Ghazali), dan lain-lain.

Tokoh yang akan saya soroti adalah dua sufi yang kontroversial dan fenomenal, yang gaya sufinya sesuai dengan tujuannya, dalam hal kedekatan atau lebih tepatnya kesatuan batin manusia dan Tuhan, tetapi dengan gaya yang berbeda. Konsep.  

Abu Yazid Al-Bustami, ia menerima gelar raja mistikus, karena apa yang dilihatnya di luar akal manusia biasa. Ini akan membahas kisah hidupnya dan ajarannya, yang dikenal oleh fana ‘baqa dan Ittihad, serta Al-Hallaj dengan jalan hidupnya dan konsepsi kontroversial terhadap pandangannya, ulama dan pemimpin saat itu. ia mengakhiri hidupnya di dunia, mendapatkan banyak pendukung darinya dari berbagai latar belakang, serta penjelasan dari Hulu.  

Penyajian artikel ini diharapkan dapat meluruskan perspektif dan memperluas pemahaman kita tentang  kehidupan dan pemikiran para pemimpin Muslim sejati, tanpa memandang mereka dari sudut pandang  lain.

Riwayat Hidup Abu Yazid Al-Bustami

Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan Al-Bustami dan yang lahir pada tahun 874-947 M. Al Bustami adalah nama yang diberikan untuk tempat kelahirannya, kota kecil di barat Bustan. Khurasan, Persia, atau tenggara Laut Kaspia.  

Namanya kecil Abu Yazid Al-Bustami adalah Taifur. Ayahnya Surusyan awalnya adalah pengikut orang Majusi, tetapi kemudian masuk Islam. Pendidikan dasar yang diterima Abu Yazid Al-Bustami, belajar dari Abu Ali al-Sindi para pengkut mazhab figih Hanafi, begitu juga dengan ilmu tauhid dan ilmu realitas, serta ilmu dunia fana.

Keluarga Abu Yazid termasuk orang-orang dari masyarakat setempat, tetapi dia lebih suka hidup sederhana. Abu Yazid dikatakan memiliki kelainan sejak lahir. Ibunya berkata bahwa Abu Yazid dalam kandungannya dan dia makan makanan halal atau meragukan, dia akan memberontak sampai dia muntah.

Setelah menginjak dewasa, Abu Yazid Al-Bustami dikenal sebagai murid dan anak yang baik yang mengikuti amanat agama dan berbakti kepada orang tuanya. Ketika gurunya menjelaskan sebuah puisi dari Surat Luqman: “Terima kasih untukku dan orang tuamu”.

Ayat ini sangat menyentuh hati Abu Yazid. Kemudian dia berhenti belajar dan pulang menemui ibunya. Sikap ini memperjelas bahwa ia selalu berusaha memenuhi semua panggilan Tuhan.

Butuh waktu puluhan tahun bagi Abu Yazid untuk menuju ke Sufi. Dia pertama kali menjadi seorang penganut fiqih Hanafi sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang Sufi. Salah satu gurunya yang terkenal adalah Abu Ali As-Sindi. Dia mengajarkan Abu Yazid ilmu tauhid, ilmu yang hakiki, dan ilmu lainnya.

Pengetahuannya yang mendalam tentang Fiqih Hanafi membuatnya menjadi penganut Syariah Islam yang kuat. Dia pernah mengatakan bahwa ini bisa dimengerti dari beberapa pernyataan yang dia buat. kalau kamu melihat seseorang telah mampu melakukan hal-hal keramat yang besar-besar, walau ia sanggup terbang di udara, namun janganlah kamu tertipu sebelum kamu melihat bagaimana ia mengikuti perintah dan menghentikan larangan dan menjaga batas-batas syari’at.

Namun demikian, Abu Yazid Al-Bustami wafat tanpa meninggalkan karya tertulis riwayat hidup dan pemikiranya hanya diketahui Isa B. Adam Musa b Isa dan Thufaur b Isa dan tokoh lain yang pernah berjumpa dengan Yazid Abu Musa Al-Dabili, Abu Ishak Al-Harawi dan lain-lain.

Pengikutnya tergabung kedalam tarekat Thaifuriyyah yang merupakan pelanjut dari ajarannya. Ia meninggal dunia tahun 261 H/ 874 M di kota kelahiranya Busthan.

Baca Juga: Biografi Nasruddin Hoja, Seorang Pelawak Sufistik Abad Ke-16

Ajaran Fana’, Baqa’ dan Al-Ittihad Abu Yazid

Ajaran al-fana’, al-baqa’, dan al-ittihad Abu Yazid adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Secara bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang artinya musnah atau raihb. Syai’ (sesuatu) negara tidak ada habisnya, yang berarti jika keberadaan negara telah berakhir, dikatakan telah mencapai fana.

Dalam hal ini, Abu Bakar Al-Kalabadzi (378 H/988 M) mendefinisikan “hilangnya semua nafsu, tanpa syarat yang melekat pada semua aktivitas manusia, sehingga ia kehilangan semua emosinya dan secara sadar dapat membedakan sesuatu, dan ia menghilangkan semua minat dalam melakukan sesuatu yang berbu duniawi.

Sebenarnya, dia masih ada dan makhluk lain juga, tetapi dia tidak lagi menyadari mereka atau dirinya sendiri.

Di antara para Sufi, beberapa orang mengklaim bahwa manusia dapat dipersatukan dengan Tuhan. Seorang sufi yang mencapai tingkat ma’rifah akan melihat Tuhan dengan mata hatinya.

Menurut al-Syathi, proses yang merusak sifat basyariah disebut Fana ‘al-alam dan proses yang menghancurkan irodahnya disebut Fana’ al-irodah dan proses yang menghancurkan keberadaan dirinya dan zat lain di sekitarnya disebut Fana ‘al-nafs.

Menurut Al-Thusi : Fana’ adalah berarti sirnanya pandangan seseorang terhadap tindankan-tindakannya yang berbau duniawi.

Fana dalam pengertian umum dapat dilihat dari penjelasan al-Junaidi, yaitu :

ذهاب قلب عن حسن المحسوسات بمشاهدة ماشاهد ثم يذهب عن ذهابه والذهاب عن ذهاب هذا مالا نهاية له. يعنى قد غابت المحاضر وتلفت الاشياء فليس شيء يوجد ولا يحس بشيء يفقد

Hilangnya daya kesadaran hati dari hal-hal yang bersifat inderawi karena adanya sesuatu yang dilihatnya. Situasi yang demikian akan beralih karena hilangnya sesuatu yang terlihat itu dan berlangsung terus secara slilih berganti sehingga tiada lagi yang disadaridan dirasakan oleh indera.

Sebelum sampai kepada tingkatan al-ittihad, seorang sufi terlebih dahulu menghancurkan dirinya sendiri, selama dia tidak bisa menghancurkan dirinya sendiri, dia tidak bisa menyatu dengan Tuhan.

Hal ini karena al-fana’adalah proses yang mula-mula dan kemudian berlanjut dengan al-baqa yang secara bersama-sama merupakan kembaran yang tidak dapat dipisahkan.

Hancurnya Ruh Suci bukan berarti kehilangan, melainkan kehancuran yang akan menyadarkan para sufi. Kesadaran ini disebut al-fana ‘alan nafs wa al baqa’ billah, yaitu kesadaran diri dihancurkan dan  kesadaran diri Tuhan muncul. Dengan munculnya fana, maka baqa dengan sendirinya akan terjadi dalam kondisi demikian, ittihad pun terjadi.

Abu Yazid Al-Bustami memiliki pemahaman yang berbeda dengan Junaid, terutama dalam kaitannya dengan sakit, yaitu tentang hasrat cinta Tuhan.

Abu Yazid al-Bustami menegaskan bahwa manusia pada hakekatnya adalah esensi Tuhan, mampu menyatu dengan-Nya jika ia dapat menyatukan keberadaan-Nya sebagai manusia sehingga ia sendiri tidak menyadarinya (fana an nafs).

Jika seorang sufi tiba di tingkatan Fana ‘al-nafs, yaitu dia tidak menyadari bentuk fisiknya, yang tersisa adalah bentuk spiritualnya dan kemudian dia secara spiritual menggabungkan dirinya dengan Tuhan.  

Dari berbagai uraian tersebut diketahui bahwa yang dimaksud Fana ‘dan Baqa’ adalah mencapai kesatuan spiritual dan ruhani dengan Tuhan, sehingga yang dicapainya hanyalah Tuhan dalam dirinya. .

Dengan demikian, materi manusianya tetap, sama sekali tidak rusak, seperti halnya alam sekitarnya, hanya kehilangan atau menghancurkan rasa kemanusiaannya, ia tidak lagi merasakan kesempatan apa pun.

Ketika seseorang menjadi Fana’ atau tidak lagi menyadari wujudnya sendiri dan wujud lain yang mengelilinginya, maka ia pergi ke Baqa’ dan melanjutkan ke Ittihad. Fana’ dan Baqa’ menurut para sufi adalah saudara kembar dan tidak terpisahkan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa yang membuang sifat-sifatnya, maka yang ada adalah sifat-sifat Tuhan”.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa realitas Abu Yazid Al-Bustami dalam tahap fana tercapai setelah ia meninggalkan semua keinginan selain dari Allah SWT.

Adapun salah satu jalan untuk mencapai fana’ fillah disamping mendalamnya cinta rindu, adalah dengan meditasi (pemusatan kesadaran) dengan perantaraan zikir, dalam kitab hikam diterangkan:

والذكر أعظم باب أنت داخله             

لله فأجعل له الأنفاس حراسا               

Zikir adalah sebuah pintu yang paling besar (untuk mencapai fana’ dan makrifah) pada Allah; maka masukilah, sertailah setiap keluar masuknya nafas dengan zikir, sebab Jalan menuju fana’ menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan.

la bertanya, “Bagaimana caranya agar aku sampai pada- Mu? Tuhan menjawab, “Tinggalkan diri (nafsu)mu dan kemarilah. “Abu Yazid sendiri sebenarnya pernah melontarkan kata fana’ pada salah satu ucapannya:

أعرفه بى حتى فنيت ثمّ عرفته به فحيّيْتُ

Artinya:

“Aku tahu pada Tuhan melalui diriku hingga aku fana’, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku pun hidup.”

Kehancuran (fana’) dalam ucapan ini memberikan 2 bentuk pengenalan (Al-Ma’rifat) terhadap Tuhan, yaitu :

  • Pengenalan terhadap Tuhan melalui diri Abu Yazid.
  • Pengenalan terhadap Tuhan melalui diri Tuhan.

Baqa’ berasal dari kata baqiya yang berarti tetap secara lnguistiknya. Sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti membangun sifat-sifat terpuji terhadap Allah.

Pengertian baqa ‘tidak terpisahkan dari pengertian manusia’ karena keduanya merupakan pengertian yang berpasangan. Jika seorang sufi mengalami fana’, dia juga mengalami baqa’.

Dengan realisasi Fana ‘dan Baqa’, seorang sufi dianggap telah mencapai tingkat ittihad atau menyatu dengan Yang Esa (Tuhan) yang oleh Abu Yazid Al-Bustami disebut “Tajrid Fana ‘fi at-Tawhid”, pemersatu dengan Tuhan, tanpa di dimediasi oleh apapun.  

Pemahaman Sufi tentang Fana ‘, Baqa’ dan Ittihad konsisten dengan konsep perjumpaan dengan Tuhan. Fana ‘dan Baqa’ juga dianggap sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi sebagai berikut:  

“Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya” (Q.S. al-Kahfi, 18 : 110)

Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia menempuhi tahapan fana dan baqa’.  Disebutkan oleh Abdul Razaq Al-Katsani:

التحاد هو شهود الوجود الحق الواحد المطلق الذى الكل به موجود بالحق فيتحد به الكل من حيث كون كل شيء موجوداً به معدوما بنهسه، لا من حيث أنّ له وجوداً خاصاً اتحد به فإنه محال

Artinya:          

Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya. Dalam ittihad identitas telah hilang dan identitas menjadi satu. Sufi yang bersangkutan, karena fananya tak mempunyai kesadaran lagidan berbicara dengan nama Tuhan.

Usaha untuk mencapai fana’, baqa’ dan ittihad Abu Yazid Al-Bustami menjalaninya sebagaimana para sufi pada umumnya, yaitu diawali dengan cara zuhud. Ia berkata ketika seseorang bertanya kepadanya, tentang perjuangan mencapai ittihad. Ia menjawab lebih dari 70 tahun lamanya.

Dengan kata lain, perjalanan sufi bagi Abu Yazid Al-Bustami ditempuh selama hidupnya hingga tujuh puluh tahun lamanya. Ia juga berkata hari pertama aku zuhud terhadap dunia dan segala isinya, pada hari kedua aku zuhud terhadap akhirat dan segala yang akan terjadi disana, dan pada hari ketiga aku zuhud terhadap apa saja selain kepada-Nya. 

Seorang sufi dianggap telah mencapai posisi ittihad adalah ketika ia dalam keadaan mabuk (sakr atau trance). Ucapan-ucapan seperti itu juga diucapkan oleh Abu Yazid, antara lain ia berkata: “manusia tobat dari dosanya, tetapi aku tidak, aku hannya mengucapkan tiada Tuhan selain Allah”

Pengalaman kedekatan Abu Yazid dengan Tuhan hingga mencapai ittihad disampaikannya dalam ungkapan,

“pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan, lalu Ia berkata;”

“Abu Yazid, makhluk-makhluk-Ku sangat ingin memandangmu.

Aku menjawab: “Kekasihku, aku tak ingin melihat mereka. Tetapi jika itu kehendak-Mu, maka aku tak berdaya untuk menentang-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-makhluk-Mu memandangku, mereka akan berkata: Kami telah melihat-Mu. Engkaulah itu yang mereka lihat, dan aku tidak berada di hadapan mereka itu.”

Pernyataan di atas menggambarkan bahwa Abu Yazid telah dekat dengan Tuhan, tetapi ittihad belum ia capai, ittihad tercapai ketika ia mengucapkan sebagai berikut:

“Tuhan berkata, Abu Yazid, mereka semua kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Aku pun berkata, aku adalah Engkau. Engkau adalah aku, dan aku adalah Engkau. Konversasi; terputus Kata menjadi satu, bahkan semuanya menjadi satu. Tuhan berkata kepadaku, Hai engkau. Aku dengan perantaraan-Nya menjawab, Hai aku. Ia berkata, “Engkaulah yang satu. Aku menjawab, akulah yang satu. Ia berkata, Engkau adalah engkau. Aku menjawab, aku adalah aku.”

Pernyataan di atas menunjukan bahwa Abu Yazid mengucapkan “aku” bukan sebagai gambaran dirinya, tetapi sebagai gambaran Tuhan. Hal ini terjadi karena Abu Yazid sedang mengalami ittihad.

Dalam ajaran ittihad, yang terlihat hanya satu wujud meskipun sebenarnya ada dua wujud, yaitu Tuhan dan manusia. Karena apa yang dilihat dan dirasakan hanyalah formalitas, ittihad ini bisa menjadi pertukaran peran antara manusia dengan Tuhan.

Dalam suasana ini, mereka merasa menyatu dengan Tuhan, sedemikian rupa sehingga yang mencintai dan yang dicintai menjadi satu, hingga orang-orang saling memanggil “Hai.”  

Dalam keadaan Fana’nya, Sufi yang bersangkutan tidak memiliki hati nurani sehingga dia berbicara atas nama Tuhan.

Louis Massignon menentukan bahwa ekspresi yang muncul dalam Sufi tanpa menyadarinya berarti bahwa dia adalah Fananya sendiri dan bahwa dia abadi dalam esensi Sejati, maka dia berbicara dengan kata-kata Yang Lebih Benar, bukan kata-katanya sendiri. Kata-kata yang dia katakan dalam keadaan ini tidak akan diucapkan dalam kondisi normal, dan bahkan akan ditolak oleh dirinya sendiri.

Hal ini sejalan dengan Firman Allah SWT pada surah Al-Kahfi ayat 110 :

Artinya: 

Katakanlah, Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertemu dengannya, bahkan karena merasa begitu dekat dengan Tuhan, Abu Yazid al-Bustami merasakan drinya telah bersama-Nya.