Masjid  

Bengali Sunni Jameh: Masjid yang Berada di Pusat Kota Yangon, Myanmar

Bengali Sunni Jameh: Masjid yang Berada di Pusat Kota Yangon, Myanmar - Surau.co
Ilustrasi: Matakota

Surau.co – Masjid Bengali Sunni Jameh terletak di pusat kota, Yangon. Ini adalah salah satu dari banyak masjid yang didirikan di Yangon, dibangun selama era kolonial. Ada populasi Muslim yang signifikan di Yangon tetapi agama Budha adalah agama utama dan dominan di Myanmar.

Desainnya menampilkan arsitektur Islam, yang fasadnya dihias indah dengan potongan-potongan desain. Ini memiliki kubah dan menara yang spektakuler. Masjid ini dibangun oleh penduduk Muslim India, terutama orang-orang dari Bangladesh selama kolonial Inggris. Ini terletak di 32 nd Road, tepat di seberang Pagoda Sule yang terkenal.

Mencari tempat untuk berbuka puasa di kota Yangon, Myanmar tidaklah terlalu sulit. Salah satu lokasi yang bisa dijadikan alternatif  tempat berbuka puasa adalah di masjid Bengali Sunni Jameh. Berlokasi di pusat kota, salah satu masjid tertua di Yangon ini selalu dipadati umat muslim yang akan berbuka puasa. Selama ramadhan, masjid Bengali Sunni Jameh menyediakan 300 porsi makanan berbuka puasa.

Ruang atas masjid yang dijadikan lokasi berbuka puasa sudah dipadati oleh para jamaah. Kebanyakan umat muslim yang berbuka puasa di masjid itu adalah penduduk setempat, warga kurang mampu ataupun pendatang. Makanan untuk berbuka puasa yang disajikan pengurus masjid merupakan sumbangan dari  para jamaah. Menu khas berbuka puasa di masjid itu adalah bubur haleem, yang merupakan makanan muslim khas timur tengah.

Meskipun di lokasi yang sangat sentral di dekat pagoda Sule, saya melewati masjid ini beberapa kali tanpa menyadarinya. Mungkin perhatian Anda hanya tertuju pada pagoda megah berwarna emas di tengah bundaran. Juga toko-toko di depan fasad utama menyembunyikan bagian dari struktur di belakangnya.

Pokoknya arsitektur yang menonjol dengan menara masjid berukuran sedang dengan warna putih cerah menawan dan tidak mengesankan.

Masjid ini ramai dikunjungi warga Myanmar dengan latar belakang Islam Bengali. Ada tradisi panjang toleransi terhadap orang-orang dari latar belakang agama yang berbeda di Yangon, Semoga tetap seperti itu.

Masjid Pusat terletak tepat di seberang jalan dari Pagoda Sule dan sangat dekat dengan Masjid Mogul Shiah Jamay cukup “sederhana” sebagai perbandingan. Ini adalah bangunan yang cukup menarik yang akan lebih diperhatikan jika terletak di tempat yang berbeda. Interior gedung ini sangat besar. Sambutannya tulus dan termasuk akses lengkap ke ruang sholat dan area terbuka.

Terletak di sebelah Pagoda Sule. Kebanyakan pengunjung melewati tanpa menyadarinya sedikit tersembunyi. struktur dan arsitekturnya layak untuk dikunjungi. terawat dengan baik di luar.

Masjid Utama di Kota Yangon Myanmar

Pintu depan masjid itu tertutup dan terkunci dengan rapat, akhirnya sopir taxi carteran kami pun turun tangan dan mengantar kami melalui pintu belakang. Entah apa modusnya, pintu depan memang dikunci dari dalam. Begitu sampai melalui pintu belakang beberapa penghuni Masjid mempersilakan kami untuk mengambil air wudlu sebelum memasuki Masjid.

Mereka mmenganggap kami sebagai tamu jauh yang harus dijamu dengan baik, dan mempersilakan kami untuk segera sholat di bagian utama masjid. Setelah menunaikan ibadah tersebut aku pun dikenalkan dengan imam masjid Bengali Sunni Jameh yang sekarang aku lupa namanya. Tidak begitu banyak hal yang kami bicarakan dengan imam masjid tersebut karena beliau sedang melakukan dzikir.

Sembari menunggu, aku melihat-lihat bangunan masjid. Bapak yang begitu ramah mengantarkan kami mulai dari ketika berwudlu tadi mengajakku untuk berkeliling masjid dengan bahasa yang pas pasan.

Awalnya sempat ragu untuk mengambil foto masjid ini, tapi setelah minta izin beliau mengizinkanku untuk mengambil foto. Berikut penampakan ruang utama masjid yang digunakan untuk sholat.

Seperti masjid pada umumnya, terdapat waktu-waktu sholat yang bisa dicatat sehingga meskipun bepergian kita masih tetap bisa tahu jam waktu sholat di negara setempat. Berikut penampakan waktu sholat yang ada di Masjid Bengali Sunni Jameh Yangon

Ini masjid milik Sunni? Aku sih enggak ambil pusing dengan beragam aliran agama islam yang ada. Mau sunni, syiah, wahabi, muhammadiyah dan NU aku ora urusan. Itu urusan masing-masing pribadinya.

Masjid ini terdiri dari tiga lantai. dengan tangga yang melingkar di dalam mengantarkan kami ke lantai dua. Di lantai dua ini terdapat sebuah tempat dan meja-meja lesehan TPQ. Ternyata setiap jam 5 sore ada TPQ untuk anak-anak yang dilaksanakan di tempat ini.

Bapak penjaga masjid yang mengantarkan kami juga menunjukkan tempat dimana teman-teman perempuan kami melakukan sholat. Tidak jauh dari tempat mengaji anak-anak yang pada saat itu masih kosong.

Di lantai tiga kami bertemu dengan seseorang yang terbangun dari tidurnya. Dia tinggal di masjid ini entah sebagai apa. Dengan bahasa inggris yang sama-sama pas pasan aku enggak tau kenapa dia tinggal di tempat ini.

Lantai tiga masjid ini hanya digunakan ketika sholat jum’at. Karena dua lantai dibawahnya tidak dapat menampung semua jamaah yang ada di sekitar tempat ini. Dari tempat ini aku bisa melihat pemandangan ala-ala new york gitu deh waktu menengok ke jendela.

Setelah para kaum wanita selesai menyelesaikan sholatnya, kami pun bergegas untuk pamit. Ketika kami mau keluar melalui pintu belakang, penjaga masjid yang tadinya meninggalkanku di lantai 3 meminta kami untuk keluar dari pintu depan. Semua sandal dan sepatu kami juga sudah disiapkan di pintu depan. Pintu depan yang tadinya terkunci juga sudah terbuka dengan lebar.

Baca juga: Masjid Azhar – Vientiane, Masjid Bersejarah di Laos