Abu Thalhah al-Anshari: Veteran Perang Uhud yang Dermawan dan Bersemangat dalam Jihad

  • Bagikan
Abu Thalhah al-Anshari, Veteran Perang Uhud yang Dermawan dan Bersemangat dalam Jihad - Surau.co
Ilustrasi: Pinterest

Surau.co – Abu Thalhah al-Anshari adalah sahabat yang pernah mendapat pujian dari Rasulullah SAW karena suaranya yang sangat lantang, “Sungguh, suara Abu Thalhah dalam pasukan perang lebih baik daripada kekuatan seribu orang.”

Keberanian Abu Thalhah di medan jihad untuk membela agama Allah tak di ragukan lagi. Semenjak memutuskan memeluk Islam, jiwa dan raga Abu Thalhah dipasrahkan untuk kejayaan Islam. Ia sungguh-sungguh berkhidmat dalam keislamannya.

Rasulullah bahkan pernah menunjuk Abu Thalhah menjadi salah satu kepala dari 12 regu yang mendapat tugas mengislamkan Yatsrib. Karena cintanya yang tinggi kepada Nabi SAW, Abu Thalhah ikut serta ditiap peperangan yang dipimpun Rasulullah. Bahkan jika Abu Thalhah berdua saja dengan Rasulullah, maka dia akan bersimpuh di hadapan Kekasih Allah ini seraya berkata:

“Inilah diriku, kujadikan tebusan bagi dirimu, dan wajahku menjadi pengganti wajahmu.”

Keberanian Abu Thalhah al Anshari

Pada perang Uhud, ketika pasukan muslim terpecah, Abu Thalhah tetap bersama Nabi. Bahkan saat di mana pasukan musyrikin berhasil menerobos pertahanan muslimin, dekat Rasulullah,  Abu Thalhah tetap tegak pasang badan melindungi Nabi SAW.

Waktu itu, pasukan musuh melukai pertahanan muslimin dan mematahkan gigi dan melukai bibibr Rasul. Darah mengucur membasahi wajah Baginda Nabi. Saat itu pula, kabar bahwa Rasulullah wafat diteriakkan musyrikin. Syahdan, itu membuat kaum muslim kecut, porak-poranda.

Hanya tersisa beberapa orang saja yang tetap bertahan. Abu Thalhah adalah salah satu dari yang bertahan, tetap teguh mengawal dan melindung Rasulullah SAW. Dengan keberanian dan iman yang kokoh, Abu Thalhah menjadi salah satu yang berdiri di barisan paling besar.

Hidup Abu Thalhah telah dipasrahkan penuh dalam Islam. Alhasil, dia mendapatkan apa yang dimimpikan tiap orang-orang beriman: syahid di jalan Allah. Dia meninggal ketika berpuasa dan berperang di jalan Allah, kira-kira 30 tahun setelah wafatnya Rasul SAW.

Semangat berjihad Abu Thalhah tak hanya berkobar kala usianya muda. Hingga berumur lanjut, Abu Thalhah masih senantiasa berjihad fi sabilillah. Ketika Khalifah Utsman bin Affan memimpin kaum Muslim, dia pun ikut terjun di medan perang. Saat itu, Khalifah Utsman berperang di lautan.

Melihat usia Abu Thalhah yang telah lanjut, anak-anaknya berkata ketika dia berniat ikut berperang:  “Wahai ayah, engkau sudah tua, engkau sudah ikut berperang bersama Rasulullah, bersama Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kini, ayah harus istirahat, biarlah kami yang berperang.”

Namun, tak ada kata pensiun dalam berjihad, bagi Abu Thalhah. Ia adalah veteran yang tangguh. Abu Thalhah pun menjawab pernyataan protes anak-anaknya, “Bukankah Allah telah berfirman, ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.’(QS At-Taubah: 41).”

Namun, takdir telah Allah gariskan untuk hambanya yang bersungguh-sungguh dalam jihad ini. Ketika berada di atas kapal di tengah lautan lepas bersama kaum muslimin, Abu Thalhah jatuh sakit kemudian wafat dalam kemuliaan. Setelah enam hari perjalanan laut, rombongan muslimin baru menemukan daratan. Jenazah Abu Thalhah disemayamkan sementara di atas kapal. Meski telah enam hari, jenazahnya tak berubah, dia hanya telihat seperti seseorang yang sedang tidur sangat lelap. Khalifah Utsman menjadi imam dalam salat jenzahnya.

Kedermawanan Abu Thalhah al Anshari

Nama lengkap Abu Thalhah, yaitu Zaid bin Sahl bi al-Aswad bin Haram bin Amr bin Zaid bin Manah bin Amr bin Malik bin Adi bin Amr bin Malik bin  an-Najjariyah al-Anshari al-Khazraji. Dia adalah sahabat dari kalangan Anshar yang meriwayatkan sekitar dua puluh hadis.

Perlu diketahui, bahwa semangat Abu Thalhah tak hanya dalam hal berjihad. Dia juga terkenal sebagai sahabat yang sangat dermawan. Waktu itu, seorang musafir datang ke masjid Nabawi untuk menunaikan salat di masjid Rasulullah.

Setelah melaksanakan salat, musafir itu hendak berkunjung ke rumah Rasul. Sesampainya di kediaman Nabi SAW, dia bertanaya, adakah makanan di rumah Rasul. Ternyata, sudah beberapa hari musafir itu belum makan.

Rasulullah pun bertanya kepada istrinya, “Adakah persediaan makanan untuk hari ini wahai istriku?” Dan istri Rasul menjawab, “Tidak ada.”

Nabi Muhammad SAW pergi ke rumah istrinya yang lain untuk menanyakan hal yang sama. Namun, sama saja, tak ada sesuatu yang bisa diberikan kepada musafir yang lapar ini. Kemudian Rasul pergi ke masjid dan menanyakan pada sahabatnya. Lalu, berdirilah Abu Thalhah, dia berkata, “Saya bersedia menjamu tamu ini wahai Rasul. Biarlah musafir ini makan malam bersama keluargaku.”

Kemudian, ia pulang membawa tamu itu. Sampai rumah, ia bilang ke istrinya, “Jamulah tamu nabi ini.”

Mendengar itu, istri Abu Thalhah sontak menjelaskan, bahwa kondisi keluarga saat itu tak memiliki banyak makanan. Di sana, hanya tersisa makanan sisa makan malam anak-anaknya. Kala itu, Abu Thalhah dan istrinya belum makan. Meski dengan kondisi demikian, Abu Thalhah tetap bilang ke istrinya untuk menyiapkan makanan yang ada, kemudian penerangan rumah dimatikan.

Makanan pun telah siap. Selepas menidurkan anak-anak mereka, istrinya berdiri seakan sibuk memperbaiki penerangan yang rusak. Dalam keadan gelap, mereka menjamu musafir itu makan malam. Mereka menemani tamu itu. Namun, makanan yang terbatas membuat mereka hanya bisa berpura-pura ikut makan dan membiarkan tamu itu menghabiskan semuanya.

Keesokan harinya, ketika Rasulullah bertemu Abu Thalhah, Rasul pun bersabda, “Wahai, Zaid. Allah sangatlah bangga dan ridho dengan apa yang telah kamu lakukan semalam.” Lalu, turunlah QS Al-Hasyr ayat 9 yang berbunyi:

“Dan  orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),  mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipeliara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Baca juga: Abu Sufyan bin Harits Pemuda Surga Pembela Rasulullah

  • Bagikan